Naik-naik BBM

Kalo kenaikan BBM sepertinya sudah tidak bisa ditolerir lagi karena apa APBN sudah tidak kaut lagi memikul subsidi BBM seandainya BBM tetap dinaikan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengaku tidak akan menaikkan harga barang saat ada kenaikan harga BBM. Pasalnya, BBM yang digunakan industri saat ini sudah sesuai dengan harga BBM internasional.

Nah aman to untuk rakaya kecil yang notabene daya belinya yang kecil namun tentunya tetap berdampak pada harga barang dan jasa yang nantinya akan berakibat pada kenaikan inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat. Kalo inflasi lebih tinggi dari pada bunga bank yang pasti kenaikan bunga bank juga ikut serta… nah kenaikan bunga bank tentu berakibat pada sektor riil… ah sok tahu…

Nah dulu Bapak SBY pernah janji tidak akan menaikan BBM sampai tahun 2009 sekarang kita lihat apa Pak SBY akan ikut serta dengan pemikiran-pemikiran para ekonomnya atau ada opsi lain…

Iklan

Dana Untuk Hobi

Anda pasti memiliki hobi, apa pun jenisnya. Lantas, apa hubungan hobi dengan uang?

Sederhana saja. Secara umum, hobi pasti membutuhkan dana. Sebut saja, kalau hobi membaca buku, Anda mesti mengalokasikan dana untuk membeli buku baru. Kalau Anda hobi jalan-jalan, kebutuhan dana akan lebih besar lagi. Apalagi, kalau hobi Anda berbelanja. Ini tidak saja membutuhkan dana besar, tetapi juga bisa membahayakan stabilitas keuangan Anda jika tidak dikelola secara arif.

Itu konsekuensi yang akan terjadi bila Anda menganggap hobi identik dengan pengeluaran. Padahal, dalam realitasnya, hobi tidak selalu mesti menghabiskan uang banyak, tetapi bisa juga malah menghasilkan uang. Atau paling tidak, kalaupun membutuhkan uang, dana yang dikeluarkan bisa tidak terlalu besar. Dengan kata lain, Anda mesti melakukan upaya pengelolaan dana untuk kegiatan hobi melalui suatu perencanaan keuangan. Bagaimana konkretnya?

Utamanya, pahami bahwa alokasi pengeluaran Anda adalah maksimal 70 persen untuk konsumsi. Nah, hobi sebenarnya adalah bagian dari pengeluaran konsumsi. Kalau Anda membeli makanan, itu berarti konsumsi perut Anda. Kalau Anda membeli CD atau kaset dan radio, itu adalah konsumsi telinga Anda. Ada lagi konsumsi untuk mata Anda dan bahkan konsumsi perasaan Anda.

Jadi, kalau Anda hendak menjalani hobi, misalnya, belanja buku, koleksi CD, jalan-jalan, atau taruhan sepak bola, dananya harus menjadi bagian dari pengeluaran untuk membiayai konsumsi.

Sekarang, berapa persen yang layak dialokasikan untuk membiayai hobi Anda?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pahami dulu bahwa menjalani hobi adalah untuk memenuhi kebutuhan tersier, bukan kebutuhan primer atau sekunder.

Artinya, kalaupun Anda tidak menjalani hobi itu, tidak apa-apa juga. Paling-paling perasaan Anda terganggu. Misalnya, Anda suka menonton film lalu tidak menonton film di bioskop, apakah Anda akan menderita sakit? Atau apakah tidak bisa menonton televisi?

Artinya, cukup banyak alternatif dalam menjalani hobi yang sebenarnya bisa mengurangi pengeluaran. Dengan kata lain, kalaupun ada alokasi dana untuk membiayai hobi, dana itu bukanlah keharusan. Dana tersebut hanya layak dipergunakan jika kebutuhan lain yang bersifat primer dan sekunder sudah terpenuhi.

Konkretnya, dari 70 persen alokasi penghasilan untuk konsumsi, harus dipilah lagi berapa persen untuk kebutuhan primer dan sekunder, sisanya baru bisa dipakai untuk konsumsi tersier, termasuk membiayai hobi.

Efisiensi

Setelah memahami alokasi dana untuk membiayai hobi, lakukan efensiensi dalam menjalani hobi dimaksud. Seperti contoh di atas, misalnya, Anda suka membaca buku dan selama ini selalu membeli buku baru. Memang tidak salah karena hobi membaca termasuk positif.

Namun, apakah buku-buku tersebut harus selalu semuanya dibeli? Apakah Anda tidak bisa meminjam dari perpustakaan? Atau kalaupun beli, apakah harus semuanya? Ingat, hobi biasanya juga bisa membentuk komunitas. Cukup banyak kalangan yang hobi membaca buku lantas membentuk komunitas penggemar buku. Kenapa Anda tidak bergabung dalam komunitas tersebut dan bertukar buku di antara sesama anggota. Jika ini dilakukan, bayangkan berapa banyak penghematan yang Anda lakukan.

Anda mungkin akan mengatakan, cara semacam itu hanya berlaku untuk hobi-hobi tertentu saja. Anda keliru. Semua hobi sebenarnya memiliki komunitas tersendiri. Dan semua kebutuhan dana untuk menjalani hobi tersebut bisa dibagi.

Sebut saja, misalnya, Anda hobi melakukan perjalanan. Kalau Anda berwisata sendiri, biayanya akan lebih besar ketimbang beramai-ramai. Ringkasnya, apa pun hobi Anda, sebenarnya jika dicari peluangnya, akan Anda temukan cara untuk mengurangi pengeluaran demi membiayai hobi tersebut.

Produktif

Paparan di atas baru sekadar upaya mengurangi biaya konsumsi dalam membiayai hobi. Lebih dari itu, sebenarnya ada pula strategi menjadikan hobi sebagai kegiatan produktif yang malah bisa menghasilkan uang.

Prinsipnya, hobi tersebut mesti ditekuni sungguh-sungguh dan Anda lakukan eksplorasi terhadap hobi dimaksud. Apa maksudnya?

Begini, jika memiliki hobi memasak, tentunya Anda akan mampu membuat masakan yang enak. Selanjutnya masakan yang enak itu bisa Anda tawarkan kepada handai tolan Anda. Suatu ketika mereka menginginkan masakan itu, Anda bisa menjualnya kepada mereka.

Lebih jauh lagi, hobi memasak tersebut bisa menjadikan Anda koki profesional yang kemudian berdampak komersial, apakah itu dengan membuka bisnis jasa boga atau bisnis kue.

Contoh lain, Anda penggemar musik. Atau suka bermain musik. Suatu ketika Anda bisa membuat musik yang bagus dan kemudian malah bisa dijual. Atau katakanlah Anda penggemar golf. Anda tekuni hobi itu, lantas berprestasi dan menjadi juara di mana-mana. Implikasinya, Anda mendapat hadiah uang dan lain sebagainya.

Pendeknya, hobi sebenarnya tidak selalu menjadi biaya sepanjang ditekuni serius dan dikelola sedemikian rupa sehingga suatu ketika malah menghasilkan pendapatan tambahan. Selamat mencoba.

Pertanyaan dapat diajukan kepada penulis melalui alamat

Sumber: Kompas Minggu, 27 April 2008 | 01:44 WIB

Oleh: Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

100 TOP BLOG BISNIS menurut Technorati n Alexa

The blogs are listed in order of their Technorati rankings (T), their Alexa rankings (A) are show as well. The rankings are correct at the time of posting.

  1. Business Opportunities Weblog T: 12 A: 16,213
  2. Copy Blogger T: 36 A: 7,825
  3. Seth Godin T: 47 A: 10,314
  4. MicroPersuasion T: 169 A: 33,643
  5. How To Change The World T: 180 A: 14,709
  6. Duct Tape Marketing T: 215 A: 31,714
  7. Freelance Switch T: 312 A: 10,638
  8. A VC T: 1,226 A: 27,737
  9. Rough Type T: 1,253 A: 69,429
  10. Successful Blog T: 1,432 A: 44,935
  11. Small Business Canada T: 1,517 A: N/A
  12. David Allen, Getting Things Done T: 1,549 A: 53,592
  13. Springwise T: 1,913 A: 23,858
  14. Small Biz Trends T: 2,155 A: 63,364
  15. Fast Company T: 2,310 A: 12,141
  16. Instigator Blog T: 2,477 A: 58,816
  17. Occam’s Razor T: 2,548 A: 45,541
  18. Smart Wealthy Rich T: 2,879 A: 79,415
  19. eMoms At Home T: 3,443 A: 27,125
  20. Escape from Cubicle Nation T: 3,467 A: 202,751
  21. The Marketing Technology Blog T: 3,496 A: 47,038
  22. Business Pundit T: 3,724 A: 114,669
  23. The Engaging Brand T: 4,404 A: 433,644
  24. Influential Marketing Blog T: 4,779 A: 98,886
  25. Drew McLellan – The Marketing Minute T: 4,820 A: 129,669
  26. The Digerati Life T: 4,873 A: 53,353
  27. Success From The Nest T: 4,908 A: 95,008
  28. Business Blog Consulting T: 5,186 A:237,901
  29. Church Of The Customer T: 5,576 A: 250,201
  30. Todd And T: 5,643 A: 161, 019
  31. Net Business Blog T: 5,936 A: 36,107
  32. Don Dodge on The Next Big Thing T: 6,583 A: 92,784
  33. Bootstrapper T: 7,497 A: 50,304
  34. About.com Entrepreneurs T: 7,797 A: N/A
  35. Blogtrepreneur T: 7,897 A: 53,011
  36. Branding & Marketing T: 8,200 A: 710,326
  37. Simplenomics T: 10,252 A:288,753
  38. Freelance Folder T: 10,543 A: 63,590
  39. HELLO, My Name Is Blog T: 11,395 A: 422,218
  40. Self Made Minds T: 11,704 A: 39,719
  41. Sox First T: 12,894 A: 994,161
  42. Young Go Getter T: 14,239 A: 45,373
  43. Trust Matters T: 15,462 A: 58,403
  44. Small Biz Survival T: A: 18,074 A: 875,069
  45. The Personal MBA T: 19,207 A: 142,649
  46. The Entrepreneurial Mind T: 21,958, A: 155,166
  47. Blog Business World T: 23,025 A: 252,405
  48. Working At Home On The Internet T: 23,247 A: 423,900
  49. Biz Informer T: 24,631 A: 904,745
  50. EmpowerWomenNow T: 25,837 A: 117,085
  51. Biz Plan Hacks T: 27,048 A: 1,335,732
  52. CreateBusinessGrowth T: 32,949 A:197,290
  53. Business Opportunities and Ideas T: 33,205 A: 282,805
  54. The KISS Business T: 35,496 A: 621,082
  55. Startup Spark T: 35,747 A: 386,949
  56. Buzzoodle Buzz Marketing Blog T: 41,092 A: 467,418
  57. MindPetals T: 41,714 A: 128,487
  58. Marketing Deviant T: 43,764 A: 281,072
  59. Go Big Network T: 44,842 A: 25,303
  60. Cool Business Ideas T: 49,679 A: 187,126
  61. Neville’s Financial Blog T: 52,048 A: 140,296
  62. Atlantic Canada’s Small Business Blog :T 52,589 A: 795,253
  63. College Startup T: 53,143 A: 184,398
  64. Reflections Of A Biz Driven Life T: 79,365 A: 361,398
  65. Branding Blog T: 93,462 A: 1,110,518
  66. Carnival Of The Capitalists T: 93,462 A: 1,897,375
  67. Young Entrepreneur T: 104,933 A: 26,491
  68. Marketing Genius T: 132,066 A: 2,222,119
  69. Better For Business T: 137,774 A: 590,797
  70. The Small Business Blog T: 140,824 A: 577,490
  71. Focused Mind T: 162,356 A: 520,971
  72. Small Business Tips T: 166,367 A: 74,005
  73. Lifes Perspective T: 194,358 A: 179,801
  74. Business Opportunities Blog T: 199,700 A: 832,678
  75. The Savvy Entrepreneur T: 224,227 A: 391,147
  76. Egg Marketing Blog T: 231,062 A: 740,867
  77. The Franchise King Blog T: 273,240 A: 520,732
  78. Small Business Entrepreneur T: 317,977 A: 883,094
  79. The Great Startup Game T: 331,293 A: 421,492
  80. Work At Home Start Up Guide T: 345,597 A: 1,190,178
  81. Dorm Room Biz T: 360,865 A: 957,072
  82. Startup Blog T: 377,609 A: 2,552,189
  83. Open Innovators T: 395,824 A: 1,230,257
  84. Get Entrepreneurial T: 437,475 A: 446,085
  85. Bplans Blog T: 437,475 A: 1,373,525
  86. Stuff4Restaurants T: 461,534 A: 298,982
  87. Canadian Entrepreneur T: 484,461 A: 237,901
  88. Strategize T: 487,964 A: 2,856,731
  89. The Marketing Spot T: 587,893 A: 2,550,840
  90. The Ravings Of A Mad Entrepreneurial Scientist T: 587,893 A: 566,836
  91. More Than We Know T: 871,446 A: 2,964,420
  92. Solo Entrepreneur T: 1,212,405 A: 471,491
  93. Stuff4Business T: 1,391,575 A: 298,982
  94. Consultant Journal T: 4,262,598 A: 667,342
  95. Startup Addict Musings T: 4,446,976 A: 1,03390,690
  96. Edith Yeung T: 8,911,336 A: 125,290
  97. Boostrap Me T: 8,911,336 A: 550,348
  98. The Selling Sherpa T: Not Listed A: 772,292
  99. BizzBangBuzz T: Not Listed A: 1,484,797
  100. The Freestyle Entrepreneur T: Not Listed A: 1,519,518

Sayang dari 1 sampai dengan 100 ada gak ya  yang dari Indonesia… ?

Untuk Kaya gak perlu jadi Pengusaha hehe…

Setelah membaca bukunya financial planer Safir Senduk yang berjudul “SIAPA BILANG JADI KARYAWAN NGAK BISA KAYA?”

INI LAH KESIMPULANNYA
Dari pengalaman saya memberikan materi perencanaan keuangan dalam
bentuk training dan seminar, termasuk ketika menulis di media cetak dan
berbicara di media elektronik tentang cara mengelola gaji, saya sering kali
menemukan satu kenyataan yang menyedihkan.
Apa itu? Sering kali orang di luar sana lebih senang membaca, mendengar, dan
menonton saya ketika memberikan saran-saran perencanaan keuangan, dibandingkan
dengan melakukan apa yang saya sarankan. Mereka kadang terlibat aktif dalam
mendengarkan atau membaca saran saya di berbagai media cetak, tapi banyak di
antara mereka yang masih juga tidak melakukan saran-saran yang saya berikan.
Kenapa bisa begitu?
Jawabannya sederhana:
“Karena ‘belajar’ dan ‘melakukan’ adalah dua hal yang sangat berbeda. Banyak
orang yang lebih senang belajar, belajar, dan belajar, tapi ketika harus melakukan apa
yang dipelajari, eit, nanti dulu. Udah enak-enak di kondisi yang sekarang, eeeh, malah
disuruh melakukan hal lain yang mengganggu rasa nyaman yang biasa didapat ….”
Betul, belajar dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Dengan buku ini,
misalnya, lebih mudah bagi Anda untuk “belajar” daripada “melakukan” lima kiat
yang sudah Anda baca. Padahal, saya sangat mengerti bahwa untuk menjalankan lima
kiat tersebut, Anda harus keluar dari kenyamanan Anda. Sebagai contoh, untuk mau
membiasakan diri membeli atau memiliki Harta Produktif, seseorang harus mengubah
cara pikir.

Mungkin yang tadinya biasa berpikir, “Nabungnya nanti aja deh kalau
penghasilannya bersisa
,” sekarang harus diubah menjadi, “Oke, sekarang saya nabung
dulu, invest dulu ke Harta Produktif, baru belanja ….”

Atau, ketika datang ke mall,
Anda yang mungkin biasa berpikir, “Apa yang bisa saya beli?” harus diubah menjadi,
“Apa yang bisa saya jual di mall ini?” Berat, kan rasanya?
Contoh lain adalah kebiasaan ngutang. Kalau Anda terbiasa ngutang, mungkin
sekarang kebiasaan itu harus Anda kurangi supaya cicilan utang Anda tidak
memberatkan gaji Anda
. Wah, buat mereka yang senang ngutang, saya tahu akan
berat sekali mengubah kebiasaan itu. Ya, kan?
Akan tetapi, dari pengalaman saya, keberhasilan sering kali sangat membutuhkan
pengorbanan. Salah satunya, mengubah cara berpikir, dan yang paling penting,
bertindak. Nah, kalau Anda ingat, sekali lagi ada lima kiat dalam mengelola gaji agar
Anda bisa kaya:

Kiat Nomor 1:
“Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif”
Kiat Nomor 2:
“Atur Pengeluaran Anda”
Kiat Nomor 3:
“Hati-hati dengan Utang”
Kiat Nomor 4:
“Sisihkan untuk Pos-pos Pengeluaran di Masa yang Akan Datang”
Kiat Nomor 5:
“Miliki Proteksi”


Sulitkah dilakukan? Sulit atau tidak, jelas ada pengorbanan! Saya tidak mau jika Anda
sekadar membaca apa yang saya tulis, tapi saya pun ingin Anda melakukannya.
Bukan untuk saya, bukan untuk orang lain, tapi untuk kesejahteraan Anda dan
keluarga Anda.
Sudah tiba waktunya saya mengakhiri buku ini, dan mengatakan kepada Anda,
“Selamat mengelola gaji Anda!” Selanjutnya, bila Anda pelan-pelan telah berhasil
menabung dan menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilan Anda dalam bentuk
tabungan, deposito, reksadana, atau dalam bentuk aset-aset lain, mari dengan lantang
kita katakan kepada orang-orang di luar sana …
“Siapa bilang jadi karyawan nggak bisa kaya?”
SEMOGA BERMANFAAT

Tips Berinvestasi di Apartemen

PEMBANGUNAN apartemen di DKI Jakarta dan sekitarnya yang demikian pesat belakangan ini memberi tambahan pasokan ruang apartemen yang amat besar. Diperkirakan sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2006 akan tersedia tambahan sekitar 25.000 unit baru, dari harga jual Rp 200 jutaan per unit sampai yang harganya miliaran rupiah per unit untuk ukuran yang sama. Penjualan apartemen lumayan baik, seiring menurunnya tingkat bunga deposito yang sudah mendekati angka 6 persen per tahun.

Di sisi lain, persediaan unit apartemen yang dibangun sejak tahun lalu, yang berjumlah puluhan ribu, masih banyak yang kosong alias belum berpenghuni meskipun telah terjual. Begitu juga yang masih belum terjual, jumlahnya masih dalam ribuan di Jakarta ini.

Masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jakarta khususnya mempunyai perilaku dalam berinvestasi, yakni mengikuti tren yang terjadi dalam masyarakat di sekelilingnya. Strategi pemasaran pebisnis apartemen sangat menarik. Ada yang menampilkan artis kondang di hotel berbintang lima, ada yang menyajikan program promosi yang meringankan cara pembayaran. Ini semua pada akhirnya memberi stimulan baru untuk membeli apartemen.

Beberapa alasan untuk membeli apartemen, di antaranya pertama, spekulasi membeli sebelum launching di lokasi dipengaruhi beberapa hal, misalnya faktor fengsui untuk lantai dan nomor berangka delapan atau berhadapan dengan arah timur dan aspek potongan harga yang menarik. Pada saat launching dan sesudahnya, ada calon pembeli yang berminat, harganya sudah berbeda, sehingga keuntungan yang diharapkan dapat terwujud. Dengan modal uang muka sebagai tanda jadi, dibelinya beberapa unit yang lokasinya bagus, kemudian dijual kembali dengan meraih keuntungan puluhan juta rupiah.

Kedua, investasi jangka panjang. Harga sewa unit apartemen lebih tinggi dari harga sewa rumah, dengan harga jual atau beli yang sama. Dengan investasi Rp 700 juta di sebuah rumah akan menghasilkan uang sewa sebesar Rp 15 juta sampai Rp 25 juta per tahun. Dengan uang yang sama, jika dibelikan apartemen akan menerima uang sewa Rp 50 juta sampai Rp 75 juta per tahun. Tingkat pengembalian rumah paling tinggi 3,5 persen, dan apartemen bisa mencapai lebih dari 10 persen sehingga masih jauh di bawah tingkat deposito.

Berinvestasi jangka panjang di apartemen, jangan mengharapkan akan mendapat keuntungan seperti membeli rumah/tanah, yang dapat naik harganya secara berlipat ganda.

Ada beberapa tips yang dapat menjadi acuan memilih apartemen sebagai investasi.

* Pertama, tanyakan terlebih dulu kelengkapan surat izin yang layak untuk berdirinya sebuah apartemen, seperti Blok Plan, Izin Pendahuluan, IMB, sertifikat atas tanah (hak guna bangunan/HGB), dan bank yang memberi kredit untuk pembangunan apartemen, biasanya akan memberi juga KPA. Jangan sampai pengembangnya berspekulasi membangun apartemen dengan uang dari konsumennya.

Apabila belum terjual dalam jumlah tertentu akan mempengaruhi pembangunan apartemen tersebut atau pembangunannya berhenti di tengah jalan. Akibatnya, uang muka cicilan yang telah diterima akan sulit ditarik kembali. Jangan sampai membeli apartemen dengan status kepemilikan tanah yang tidak jelas atau bukan HGB agar status kepemilikan unit apartemen yang dibeli tidak tersangkut masalah.

* Kedua, pengalaman pengembang dan tingkat kepercayaan untuk menyelesaikan pembangunan apartemennya. Dapat disaksikan sampai sekarang, kerangka apartemen di Menara Gading Tujuh di Kelapa Gading dan apartemen di Jalan Gajah Mada (eks Tjandra Naya) yang tak kunjung diselesaikan oleh pengembangnya.

Konsumen yang telah membayar uang muka untuk pembelian unit di sana tidak tahu bagaimana caranya agar uangnya dapat kembali. Atau sampai kapan pembangunannya akan diselesaikan oleh pengembangnya. Begitu juga dengan pengalaman pengembang, sangat menentukan kualitas bangunan dari apartemen tersebut, terutama daerah basah seperti kamar mandi, toilet, dan dapur yang sering mengalami kebocoran sehingga mengganggu kenyamanan bagi penghuni yang ada di bawahnya.

* Ketiga, lokasi. Pada umumnya yang tinggal di apartemen adalah orang asing, seperti Jepang, Korea, Australia, dan lainnya. Letak tempat kerja dan tempat mereka berkumpul untuk bersosialisasi ikut mempengaruhi lokasi yang akan mereka tinggali.

Oleh karena itu, lokasi yang dekat dengan pusat bisnis lebih diminati. Begitu juga dengan akses keluar masuk dari dan ke lingkungan apartemen sangat mempengaruhi para penghuni untuk tinggal lebih lama di sana. Setiap bangsa mempunyai anggaran untuk biaya sewa apartemennya.

Bangsa Amerika, Eropa, Australia, dan Jepang mempunyai anggaran uang sewa lebih tinggi daripada bangsa Korea, Singapura, dan Hongkong meski mempunyai jabatan yang sama di Jakarta. Carilah lokasi favorit dari masing-masing bangsa sesuai budget investasi yang akan dilakukan.

* Keempat, fasilitas yang tersedia, baik dalam jenis maupun ukurannya. Fasilitas yang lebih diperhatikan ialah fasilitas olahraga, seperti berapa jumlah lapangan tenis indoor atau outdoor yang tersedia, restoran dan kafe, ukuran kolam renang olimpik atau setengah olimpik, fasilitas club house, jumlah parkir penghuni dan tamu, taman, jumlah dan merek lift, serta ketersediaan lift-mempengaruhi waktu menunggu lift pada saat naik atau turun. Perlu diketahui merek lift, waktu pemakaian lift, dan kerusakan yang akan dialaminya.

Listrik emergency yang disediakan juga perlu diketahui apakah memenuhi kebutuhan listrik bagi operasi apartemen secara normal dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengoperasikan gensetnya apabila listrik PLN mendadak padam.

* Kelima, luas ruangan. Lebih baik membeli unit apartemen yang mempunyai dua atau tiga kamar tidur karena para penyewa orang asing kebanyakan membawa keluarganya. Lantai yang menjadi pilihan di atas lantai delapan karena suara bising dari luar dan nyamuk berkurang. Tipe studio atau satu kamar biasanya lebih sedikit peminatnya karena dapat bersaing dengan kamar hotel yang harganya relatif sama, tetapi pelayanan lebih baik.

* Keenam, pengelolaan atau properti manajemen dari apartemen sangat mempengaruhi pelayanan yang diberikan kepada penghuni maupun tamunya. Pengelolaan apartemen dapat juga memakai jasa pengelola hotel, seperti Mercure, Aston, dan lainnya. Pengelolaan ini mempengaruhi umur dari alat yang dipakai, kualitas kebersihan, keamanan, dan kenyamanan selama tinggal di apartemen tersebut.

* Ketujuh, apabila pembelian unit apartemen untuk disewakan, pilihlah lokasi yang disukai para pekerja asing. Biasanya para pekerja asing lebih senang berkumpul dengan sesama bangsanya di apartemen yang sama. Misalnya, apartemen Kintamani lebih banyak dihuni orang Korea. Di Pondok Indah, umumnya bangsa Jepang, begitu juga di Menteng, lebih banyak bangsa Eropa dan Amerika. Tingkat disiplin dari setiap bangsa berlainan satu sama lain. Biasanya bangsa Korea tidak sebersih warga dari Eropa dan Amerika dalam menggunakan barang yang ada. Kelebihannya, bangsa Korea tidak terlalu cerewet dengan kondisi barang yang ada di dalam unit tersebut.

* Kedelapan, dana yang dibutuhkan. Selain untuk membeli unit apartemen, harus pula disediakan dana untuk mengisi ruangan interior, yang sesuai dengan selera penghuninya. Perlu juga ditanyakan kepada para pengembang, jenis interior apa yang disediakan pengembang, seperti lemari pakaian, kitchen set, kompor, air conditioning, dan lainnya sehingga tidak perlu mengeluarkan modal lebih besar. Untuk penyewaan unit apartemen dalam kondisi full furnish, para penyewa hanya membawa koper pakaian saja.

Suwito Santoso Konsultan Properti

JANGAN PERNAH BAWA DRY ICE di KABIN MOBIL

JANGAN PERNAH BAWA DRY ICE di KABIN MOBIL

Saya punya pengalaman tak terlupakan baru t adi siang, di tol
jkt-bekasi,bawa ice cream, dan diisi/diselip dgn dry ice supaya tidak
lumer di jalan, lumayan sedikit, hanya 4 carton ice cream… dan
ditaroh di dalam mobiljok belakang. Saya menggunakan AC dan tutup kaca
spt biasa.

Sejak masuk tol, saya masih nelpon temen dan ngobrol, selanjutnya
setelah itu, sepanjang perjalanan saya mulai agak susah bernapas, dan
saya pikir hanya karena buru2 dan ngos2an. Tapi bingung juga kok sudah
sejauh ini jalan, masih tetap ngos2an, dan semakin lama napas saya
bukannya makin enteng malah makin susah bernapas, semakin berat dan
cepat menarik dan membuang napas.

Hal itu terus b erlan gsung dan terus semakin dan semakin susah
bernapas, semakin berat dan semakin cepat menarik/membuang napas. Dan
menjelang pintu tol Jatibening, jalanan macet dan merayap, saya
semakin susah dan berat bernapas dan hampir tidak kuat bertahan lagi,
untung saja kebetulan saya melihat ambulance jalan tol, di lajur kiri
yang juga merayap, dan saya berhenti minta tolong kpd mereka, dan
kemudian saya ditolong dgn oksigen, duduk sebelah sopir, dan mobil
disopiri tenaga medis dan saya dibawa ke arah RS. Mitra Bekasi.
Ambulanmengikuti.

Menjelang pintu tol Bekasi Barat, jalanan macet juga dan merayap,
tenaga medis yang menyopiri saya merasa udara dalam mobil kurang bagus
dan merasa agak susah bernapas juga, namun dia kemudian membuka kaca
mobil hingga sampai di RS. Di RS sang tenaga medis memberitahukan saya
bahwa kemungkinan AC atau knalpot mobil bocor dan memperburuk udara
dalam mobil, sehingga membuat dia sesak napas juga sepanjang
perjalanan ke RS.

Di RS, saya dibantu dgn oksigen dan dicek jantung. Jantung dll ok, dan
napas juga kembali normal. Kesimpulan sementara: “something wrong with
the car!” Setengah jam di RS, Dr mengijinkan saya pulang. Karena
merasa mobil tidak beres, saya balik ke kantor tanpa AC dan kaca
dibuka.

Sesampai di kantor, baru saya ketahui dari teman yang sudah pengalaman
bahwa: “Dry Ice lah yang membuat saya sesak napas karena dry ice nya
ditaroh di jok belakang (dalam mobil), dan jika ditaroh di bagasi
enggak apa2.”

Saya ingin share pengalaman ini kepada semua teman2 yg belum pernah
mengalami hal ini agar kej adi an ini jangan sampai berulang pada mereka
yang tidak/belum mengerti. Namun alangkah baiknya jika kita semua yg
tidak mengerti diberikan pengetahuan/ pencerahan oleh bpk2/ibu2 yang
mengerti tentang mekanisme proses kimia: “Mengapa dry ice dapat
membuat kita sesak napas di dalam ruangan mobilyang ber AC?”

Jadi Dry Ice itu CO2 (zat asam arang = sisa pembakaran oksigen/zat
asam) yang jauh lebih mudah diikat oleh darah), makanya walaupun
bentuknya dan dinginnya mirip es tapi pada suhu ruangan langsung
menyublim j adi gas tanpa basah (karena memang tidak berair).

Yang terj adi di mobil itu adalah Dry ice di kabin mobil menyublim dan
gas CO2 yang terj adi memenuhi kabin serta ikut sirkulasi AC mobil.
Akhirnya kabin penuh CO2 sehingga supir sesek nafas. Untung saja gak
meninggal.

“Jangan sekali-sekali bawa dry ice di kabin mobil penumpang”, bawalah
selalu dalam mobil cool-box yang terisolasi/terutup rapat.

Sumber : milis….. yang disebarkan… kemana2
Tidak ada salahnya kalo berhati-hati bawa dry ice… saat beli ice cream di super market…
sekedar berbagi informasi… semoga bermanfaat

Keluarga baru Portalreksadana

Di keluarga baru ini tempat menimba ilmu reksadana banyak para suhu pakar reksadana ada disini….

keluarga baru

Kalo mau ikutan daftar aja http://portalreksadana.com Gratis .. anggotanya sampai saat ini udah 8500 an orang dari berbagai kota di indonesia