TOP SCORES PIALA DUNIA 2010

TOP SCORES PIALA DUNIA 2010

TOP SCORES
Player Goal
Gonzalo Higuain 4
Luis Suarez 3
David Villa 3
Landon Donovan 3
Robert Vittek 3
Thomas Muller 3
Asamoah Gyan 3
Carlos Tevez 2
Samuel Eto’o 2
Tiago 2
Luis Fabiano 2
Brett Holman 2
Javier Hernandez 2
Kalu Uche 2
Lee Chung-Yong 2
Iklan

Diplomasi Burger ala Obama & Medvedev

Jumat, 25/06/2010 05:50 WIB
Diplomasi Burger ala Obama & Medvedev
Nograhany Widhi K – detikNews


Medvedev & Obama di resto burger (AFP)

Washington DC

Pertemuan antar kepala negara tak harus dalam suasana yang formal bin kaku. Seperti yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dengan Presiden Rusia Dmitri Medvedev, yang melakukan diplomasi di suatu restoran burger.

Melarikan diri dari formalitas dalam pertemuan tingkat tinggi antara AS-Rusia di Gedung Putih, Obama dan Medvedev menaiki mobil limousin Kepresidenan yang sama. Mereka pun lantas meluncur ke pinggiran Arlington, Virginia ke suatu restoran burger bernama Ray’s Hell burger, seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (25/6/2010).

Restoran burger ini memang favorit Obama. Tahun 2009 lalu, Obama pernah bersantap malam di restoran itu dengan wakilnya, Joe Biden.

Saat kedua pemimpin negara itu masuk, para pengunjung di restoran itu melemparkan senyumnya. Sebagian asyik dengan makan siangnya, selebihnya meninggalkan ruangan dan memberikan tempat bagi kedua pemimpin negara itu.

Obama dan Medvedev pun duduk semeja, berhadap-hadapan. Mereka pun bercakap-cakap santai didampingi penerjemah mereka. Saat makan, mereka menanggalkan jas mereka dan hanya mengenakan kemeja lengan panjang. Obama bahkan menggulung sedikit lengan kemejanya.

Obama memesan cheeseburger dengan keju cheddar, bawang bombay, lettuce, tomat dan acar. Sedangkan Medvedev memesan cheeseburger dengan bawang bombay, cabe jalapeno dan mushroom. Sebagai teman makan burger, Obama memesan es teh, sedang Medvedev minum cola bersoda. Tak lupa mereka juga memesan kentang goreng. Yummy!

(nwk/nwk)

Hanya untuk Pria: Perlukah Istri Anda Bekerja?

Hanya untuk Pria: Perlukah Istri Anda Bekerja?
oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 658/XIII

Banyak sekali pria yang merasa keberatan bila istrinya bekerja. Alasannya bisa bermacam-macam. Seringkali alasan tersebut memang ‘bisa diterima’, tetapi seringkali alasan tersebut bersifat psikologis yang seringkali sulit diterima oleh akal sehat.

Tulisan ini lebih dikhususkan kepada pria (terutama pasangan muda), walaupun tidak apa-apa bila wanita juga ikut membaca. Pertanyaan saya untuk Anda – para suami – yaitu apakah Anda adalah salah satu dari suami yang keberatan bila istri Anda bekerja? Bila ya, apakah alasan Anda memang bisa diterima oleh akal sehat? Atau apakah alasan-alasan Anda tersebut bersifat psikologis? Atau yang lebih parah lagi, apakah alasan Anda tersebut terkesan mengada-ada?

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Anda – para suami. Tulisan ini tidak saya buat untuk menyinggung alasan-alasan Anda, tetapi lebih kepada apa untung ruginya bila istri Anda bekerja. Saya akan berusaha untuk bersikap netral disini.

Bertambahnya Penghasilan Keuntungan pertama sudah jelas, bahwa dengan istri Anda bekerja, penghasilan dalam keluarga Anda jelas akan bertambah. Bagi banyak keluarga yang lain, banyak istri yang bekerja juga ikut andil dalam membayar pengeluaran-pengeluaran keluarga. Mungkin suami meng-cover 50%, si istri juga 50%. Tetapi banyak juga istri (bekerja) yang lain, yang tidak ikut meng-cover pengeluaran keluarga. Artinya, uang suami adalah uang istri, tetapi sebaliknya uang istri bukan uang suami dan hanya menjadi milik istrinya sendiri.

Tetapi bagi banyak keluarga, alasan bekerja dari sang istri mungkin karena selama ini si istri merasa tidak enak terus menerus ‘dijatah’ dari suami, sehingga ia merasa lebih leluasa bila ‘uang sakunya’ didapat dari penghasilannya sendiri karena ia bekerja.

Apa yang Sebetulnya Terjadi?

Mari kita kembali kepada dasar-dasar dalam berkeluarga. Kodrat dari Tuhan kepada manusia yang tetap ada dari dulu hingga sekarang, adalah wanita yang mengandung, sedangkan pria yang keluar mencari nafkah.

Ketika belum menikah, mungkin saja si pria dan si wanita sama-sama bekerja. Lalu disusullah dengan pernikahan. Ketika si istri mengandung, maka bila sebelumnya si istri bekerja, si istri biasanya akan minta berhenti atau cuti dari pekerjaannya. Setelah melahirkan dan umur si anak sudah mencapai beberapa bulan atau beberapa tahun – dimana si anak dianggap sudah bisa ditinggal – sering muncul dilema dari si istri apakah ia perlu kembali bekerja atau tidak. Alasan untuk kembali bekerja bermacam-macam. Mungkin si istri rindu akan suasana ramai di kantor. Mungkin dia juga ingin mencari kegiatan di luar rumah yang bisa dilakukan setiap hari. Atau mungkin saja dia ingin mencari suasana baru yang bisa menyegarkan hatinya setelah merawat anak beberapa bulan atau beberapa tahun lamanya.

Tetapi, keinginan untuk kembali bekerja kadang-kadang muncul dari alasan ekonomi. Dua penghasilan mungkin dianggap lebih baik daripada satu penghasilan. Nah, keluarga yang hanya memiliki satu penghasilan saja biasanya akan memiliki jumlah Biaya Hidup yang lebih kecil dibanding apabila keluarga tersebut memiliki dua penghasilan. Uang yang bisa ditabung biasanya juga lebih kecil. Ini masuk akal: makin besar penghasilan, biasanya akan makin besar pula Biaya Hidupnya. Tetapi keuntungannya, dengan hanya satu orang yang bekerja, pihak yang satu lagi (biasanya si istri) bisa tinggal di rumah untuk menyaksikan anak-anaknya tumbuh.

Keluarga yang memiliki dua penghasilan – tentu saja – akan memiliki jumlah pendapatan yang lebih besar. Tetapi konsekuensinya akan lebih banyak hal baru yang harus dipikirkan oleh orang tua tersebut, seperti masalah baby sitter atau masalah-masalah lain yang akan sering muncul karena meninggalkan anak di rumah, sehingga disini, Biaya Hidup biasanya akan menjadi lebih besar.

Suami istri tentu punya sejumlah alasan untuk lebih memilih memiliki dua penghasilan daripada satu penghasilan. Tetapi satu hal yang harus disadari adalah: apakah dengan sama-sama bekerja akan menjawab permasalahan keuangan yang muncul?

Ketika Anda sedang berpikir untuk menjawab apakah Anda berdua perlu memiliki dua penghasilan atau tidak, pusatkan perhatian Anda untuk menjawab pertanyaan tentang berapa yang akan Anda hasilkan berdua secara bersih setelah dikurangi Biaya Hidup keluarga Anda dan Tabungan rutin. Setelah itu, lihat apakah jumlah tersebut memuaskan atau tidak. Lalu lihat lagi apakah jumlah tersebut sebanding dengan hal-hal non material yang dikorbankan, seperti waktu yang hilang bersama anak, kemudahan dalam merawat anak (Anda berdua tidak perlu lagi punya pengasuh), dan seterusnya dan seterusnya.

Untuk bisa menentukan apakah kedua dari Anda perlu sama-sama bekerja atau tidak, mari kita melihatnya dari dua faktor: Faktor ekonomi dan faktor non ekonomi.

FAKTOR EKONOMI

Ditinjau dari faktor ekonomi, bila kedua dari Anda bekerja, maka ada komponen-komponen Biaya Hidup yang akan meningkat secara drastis, dan ada juga komponen-komponen Biaya Hidup baru yang akan muncul, dibanding apabila Anda berdua hanya memiliki satu penghasilan.

  1. Perawatan anak. Sudah jelas, bila kedua dari Anda bekerja di luar, Anda tentu tak ingin meninggalkan anak Anda sendirian di rumah. Anda memerlukan seorang pengasuh anak, dan Anda harus membayar gajinya setiap bulan. Besar kecil gaji tersebut tergantung pada dimana Anda tinggal. Bila Anda tinggal di Jakarta, maka gaji yang harus Anda bayar tentu saja akan lebih besar dibanding apabila Anda tinggal di luar Jakarta yang memiliki Biaya Hidup yang lebih rendah.
  2. Hiburan dan mainan anak. Dengan anak yang berada sendirian tanpa Anda di rumah (kecuali dengan pengasuh), membuat Anda harus lebih banyak memberikannya hiburan dan membelikannya mainan agar ia tak bosan dengan kesendiriannya. Makan di luar. Dengan lebih sedikitnya waktu untuk memasak, Anda berdua juga akan lebih sering makan di luar, entah itu siang atau malam, dengan atau tanpa anak. Keberadaan pembantu rumah tangga tidak bisa selalu dijadikan patokan bahwa Anda akan lebih sering makan di rumah bersama anak Anda bila malam. Sedikit banyak, dengan kedua dari Anda bekerja, Anda pasti akan lebih sering makan di luar daripada kalau salah satu dari Anda tinggal di rumah. Terutama pada jam makan siang. Dan makan di luar, tentu saja, lebih mahal daripada bila Anda berbelanja sendiri, memasak dan makan di rumah.
  3. Transportasi pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Kalau tadinya hanya si suami yang mengeluarkan biaya untuk transportasi, sekarang dengan si istri yang juga ikut bekerja, si istri juga harus mengeluarkan biaya transportasi.
  4. Hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan. Si istri juga harus mengeluarkan uang untuk membeli busana kerja yang baru, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Jangan sekali-sekali Anda meremehkan biaya-biaya tersebut di atas. Sebelum si istri mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak, cobalah menghitung biaya-biaya tersebut dengan hati-hati di atas kertas, dan bandingkan dengan apabila si istri tetap berada di rumah.

Berkantor di Rumah, Kenapa tidak?

Berkantor di Rumah 

Tuntutan waktu, jarak, biaya dan kenyamanan mendorong orang khususnya ibu-ibu muda memilih bekerja dari rumahnya saja. Dengan semakin banyaknya orang yang berkantor didalam rumah maka bekerja didalam rumah sudah menjadi hal yang biasa dan perlu mendapatkan ruangan yang mendukung.
Meski letaknya menyatu dengan hunian pribadi, ada beberapa hal yang perlu dicermati sebelum akhirnya dapat bekerja dengan efisien dan efektif didalam rumah. Bila perlu, Anda bisa mempersiapkan ruangan ini seperti suasana di kantor pada umumnya. Anda dapat meminta saran tampilan interior dari arsitek, bantuan dari teknisi untuk memasang sambungan telepon. Sebelum Anda menghubungi mereka, sebaiknya jawab dulu pertanyaan berikut ini:

*   Perlukah mengatur tampilan ruang kerja?

*   Apa saja ide yang Anda butuhkan dan inginkan selama berada di ruang ini?

*   Sudah maksimalkah pilihan ruang kerja tersebut untuk membantu kinerja Anda?

*   Siapa saja yang akan berada di sini?

*   Seberapa lama bekerja disini, apakah dari pagi hingga malam hari? Atau pada saat tertentu, ex: Sabtu dan Minggu saja?

Dengan menjawab kelima pertanyaan ini, Anda bisa memulai membuat ruangan kerja yang nyaman dalam ruangan yang tepat. Dijamin, setelah menentukan ruangan yang tepat, Anda bebas mengaplikasikan gaya interior didalamnya. Bila Anda bingung mengisi perabot dan pernak pernik pendukungnya, terapkan saja kata kunci untuk ruangan ini yakni lampu, furniture, rak, material ruangan seperti pintu, jendela, skylight, dan alat komunikasi yang diperlukan seperti komputer, jaringan internet, telepon, mesin faks. Jika Anda akan menerima klien di ruangan ini, Anda bisa meminta saran menata ruangan dari interior desain. Jadi, ruangan ini nantinya tak hanya membantu Anda bekerja dengan baik dan nyaman, namun juga mendukung image pekerjaan/usaha Anda di depan orang lain (klien).

Variasikan material ruangan

Untuk material ruangan, Anda bisa membuat variasi dari bentuk pintu, jendela dan atapnya. Misalnya, bukaan pintu dibuat dengan bukaan sliding (geser) sehingga menghemat ruangan dan tentunya praktis.

Cara lain mencermati space, pasang rak buku di dinding. Anda bisa menggunakan besi penyokong rak untuk menyangga rak di dinding. Selanjutnya, ruangan tersisa di bawah rak bisa Anda manfaatkan untuk menaruh meja, komputer, mesin faks, frame foto, dan lampu.

Anda juga bisa membuat lemari dan rak berjalan seperti yang terlihat pada gambar. Lemari dan rak yang dilengkapi dengan roda dan dapat dibuka-tutup ini praktis, dan bisa dipindah-pindah sesuai kebutuhan.

Cermat memakai penerangan

Penerangan di siang hari dapat Anda ganti dengan membangun skylight. Sinar matahari yang langsung menerangi ruangan ini akan membuat ruangan terang secara alami dan menghemat listrik untuk penerangan.

Rumah Mungil juga bisa !

Bekerja di rumah tak hanya pas dilakukan dalam hunian yang besar tapi juga bisa diterapkan dalam rumah mungil. Yang perlu diingat, privasi dan ruangan yang terbatas ini tidak seluruhnya terjaga. Bisa saja karena letaknya di antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ataupun, dibelakang lemari hias ruang keluarga.

Ruangan seperti ini cocok bagi ibu-ibu muda yang memulai usahanya di rumah. Jadi sembari bekerja, si ibu masih bisa mengurus dan mengawasi balitanya.

Atau, Anda bisa membobok salah satu dinding ruangan dan membangun space baru didalamnya yang akan dijadikan ruangan bekerja. Lalu, Anda bisa menaruh meja, kursi dan rak buku (seperti pada gambar).

Letakkan dengan cermat

Peletakan perabot yang tepat mempengaruhi Anda seberapa betah di ruangan ini. Tentukan, apakah Anda akan bekerja sambil menulis, mengetik, mengerjakan desain, gambar, atau juga termasuk melaksanakan meeting dan tugas-tugas lain?

Hitung juga, berapa banyak orang yang akan berada di dalam ruangan ini? Hanya orang-orang tertentu atau akan bertambah setiap hari, misalnya dengan adanya klien? Jika akan lebih banyak orang setiap harinya, Anda bisa menambahkan jumlah telepon, komputer atau alat komunikasi lainnya.

Ari Dwi Astuti/berbagai sumber

Tipe Hasil Investasi Properti

Tipe Hasil Investasi Properti

Pada dasarnya ada jenis hasil investasi properti yang biasanya diinginkan oleh investor. Tipe yang manakah Anda? Si pencari nilai atau si pencari penghasilan tetap? “Kami ingin mengoptimalkan uang kami agar tidak mengendap di bank. Bagaimana dengan investasi properti? Lalu sebaiknya beli rumah, apartemen atau ruko ya? Atau tanah saja?” Kalau Anda mempertanyakan sebaiknya membeli properti apa, bisa jadi Anda akan mendapatkan banyak jawaban yang berbeda. Bagi mereka yang biasa berinvestasi di sawah, tentu akan lebih memilih sawah, karena tiap tahun ada hasil dan tidak perlu membeli beras lagi. Dan buat mereka yang punya banyak link ke ekspatriat, lebih baik membeli apartemen saja karena uangnya lebih besar. Tapi buat para ibu yang biasa di rumah, lebih baik beli tanah saja biar tidak repot mengurusnya, dan nanti tinggal dijual. Setiap orang yang melakukan investasi tentunya menginginkan hasil yang cukup memuaskan. Entah itu berinvestasi di paper asset, bisnis atau properti. Agar tidak terlalu bingung jenis investasi properti apa yang sebaiknya Anda lakukan, Anda bisa menentukannya berdasarkan profil risiko dan hasil yang didapat.

Secara umum hasil investasi sendiri biasanya dibagi menjadi dua, yaitu hasil tetap dan bertumbuh. Lalu, hasil yang manakah yang baik untuk Anda? Sebelumnya mari kita lihat pengertian hasil tetap dan bertumbuh. –

Yang dimaksud dengan hasil tetap adalah ketika investasi Anda memberikan return yang cukup stabil dengan jangka waktu tertentu dan terus menerus. Contohnya adalah tabungan, deposito, saham dengan pemberian dividennya, atau obligasi dengan kuponnya. Dalam properti hasil investasi tetap biasanya didapatkan dengan cara menyewakan atau mengontrakkan. Karena saat itu properti akan memberikan hasil yang rutin. Investasi dengan tipe hasil tetap ini biasanya akan lebih banyak memberikan keamanan dan keteraturan.

– Lalu yang dimaksud dengan hasil bertumbuh adalah investasi yang memberikan penambahan pada nilainya. Contohnya adalah nilai pasar saham, obligasi dan reksadana yang bisa naik/turun. Properti juga memiliki hasil seperti ini seiring dengan perubahan nilainya.

Pada dasarnya sebagian besar investasi dengan hasil bertumbuh memiliki risiko yang lebih besar. Karena selain memungkinkan untuk tumbuh dengan cepat, nilainya juga bisa turun dengan cepat. Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa ketika berinvestasi pada properti maka sebenarnya investasi tersebut bisa diarahkan pada dua hasil sekaligus, baik hasil tetap maupun hasil bertumbuh.

Investor properti yang mencari hasil tetap biasanya akan mendapatkan hasil bertumbuh secara tidak langsung. Investor jenis ini juga biasanya lebih memperhitungkan biaya-biaya pemeliharaan properti. Ini berbeda dengan investor properti yang mencari hasil bertumbuh. Investor ini belum tentu bisa mendapatkan hasil tetap, karena sejak awal memang sudah berniat untuk menjual kembali atau menyimpan asetnya selama beberapa waktu. Kalau dari penjelasan di atas, pandangan mengenai jenis hasil investasi ini mungkin terlihat sepele.

Tapi pandangan ini merupakan salah satu dasar untuk mengatur portfolio keuangan Anda. Setelah mengetahui jenis hasil investasinya, Anda bisa menyesuaikan dengan profil risiko dan membentuk portfolio aset. Misalnya, ketika kondisi pribadi lebih membutuhkan keamanan seperti pensiunan, maka akan lebih disarankan untuk memilih investasi dengan hasil tetap, karena Anda akan bermain di zona yang cukup stabil.

Sedangkan investasi properti dengan fokus hasil bertumbuh akan lebih cocok diterapkan untuk pribadi yang masih muda atau pribadi dengan tingkat keamanan keuangan yang sudah cukup baik. Nah, sekarang setelah membaca penjelasan diatas, tipe investor properti dengan hasil seperti apakah yang cocok untuk Anda?

Properti Dan Rencana Keuangan

Apa sebenarnya posisi properti dalam rencana keuangan? Apa fungsi mengetahui posisi properti ini? Artikel ini akan membahasnya.

Banyak teman saya yang sudah menikah atau merencanakan menikah dalam waktu dekat yang bertanya pada saya soal bagaimana memiliki rumah atau apartemen untuk tempat tinggal. Sebagian besar bertanya karena mereka bingung mau memulai dari mana.

Bagus yang mana Mi, beli rumah tinggal atau apartemen? Kira-kira cicilannya berapa ya? Dari data-data gue itu, kira-kira gue bisa punya rumah kapan, Mi?”

Dan banyak pertanyaan lainnya. Kok rasanya pusing sekali ya kalau mau beli properti? Ya wajar sih. Well, sekarang begini, siapa sih yang tidak ingin punya properti? Misalnya ruko, rumah tinggal, apartemen, atau mungkin sekedar lahan kecil untuk berkebun? Saya rasa hampir semua orang ingin memiliki properti sendiri, setidaknya properti untuk tempat tinggal. Sayangnya properti juga butuh dana yang lumayan besar.

Tidak cukup dengan satu atau dua juta saja. Bisa puluhan bahkan ratusan juta. Lalu properti juga sifatnya terbatas dan cocok-cocokan. Bisa saja sekarang saya sudah menemukan rumah yang disukai, tapi uangnya belum cukup. Kalau saya menunggu lagi, belum tentu rumah itu masih tersedia. Atau kebalikannya, saya sudah punya dananya tapi propertinya belum ada yang cocok di hati. Kalau sudah begini, siapa yang tidak pusing?

Sebenarnya semua itu bisa diatur kok. Dengan cara menerapkan strategi, dimana salah satunya adalah dengan cara mengatur strategi keuangan. Tapi, sebelum kita membahas mengenai bagaimana baiknya merencanakan keuangan untuk membeli properti, ada baiknya kita mengetahui fungsi dan posisi properti dalam rencana keuangan. Seperti kata Maslow, setiap manusia memiliki kebutuhan dasar dan salah satunya dalam bentuk rumah tempat berteduh.

Fungsi berteduh/tempat tinggal ini suatu saat bisa berkembang. Dari yang tadinya hanya rumah biasa, lalu dikembangkan menjadi rumah untuk tempat usaha. Hingga rumah akhirnya tidak hanya sebuah kebutuhan, namun juga bisa digunakan untuk mencapai keinginan yang lain seperti tambahan penghasilan. Nah, dalam rencana keuangan fungsi dasar properti dan perkembangannya ini bisa diterjemahkan menjadi dua hal yang berkaitan erat.

Yang pertama adalah ketika properti diterjemahkan terkait posisinya sebagai sebuah tujuan keuangan. Biasanya properti yang diterjemahkan menjadi sebuah tujuan keuangan adalah properti yang sifatnya sebuah kebutuhan dan tidak terlalu melibatkan niatan keuntungan. Misalnya keluarga muda yang selama ini mengontrak rumah. Atau keluarga mapan yang menginginkan rumah baru di lain kota untuk fasilitas anaknya yang sedang bersekolah. Saat itu, niat untuk memiliki rumah bagi keluarga muda atau keluarga mapan tersebut bukanlah sebuah niat investasi, tapi lebih didasarkan pada kebutuhan/keinginan untuk memilikinya. Rumah juga tidak diharapkan hasilnya dan pertumbuhan nilainya. Ketika properti memiliki ciri seperti itu, maka sebenarnya saat itu properti lebih condong sebagai sebuah tujuan keuangan.

Yang kedua adalah ketika properti lebih cocok diterjemahkan posisinya sebagai alat/produk investasi. Saat keinginan memiliki properti lebih difokuskan pada hasil investasi atau pemasukan yang bisa didapatkan setelah memilikinya, maka saat itulah properti berperan menjadi alat/produk investasi yang dapat kita pertimbangkan dalam portfolio investasi. Contohnya adalah keinginan untuk memiliki properti untuk disewakan seperti rumah, kost, apartemen, sawah dan lahan kosong. Atau keinginan untuk memiliki properti karena mengharapkan margin yang cukup besar bila dijual kembali. Tambahan pemasukan dari hasil properti ini bisa digunakan untuk membantu mencapai tujuan keuangan lain, seperti keinginan memiliki barang lain atau aset yang jauh lebih banyak. Lalu, apa gunanya mengetahui posisi properti ini dalam rencana keuangan? Ada banyak hal, dan ini semua menyangkut strategi umum yang lebih luas.

Setelah menentukan apa sebenarnya fungsi dan posisi properti yang akan dibeli, kita akan bisa lebih fokus saat mempertimbangkan beberapa aspek penting. Minimal ada tiga aspek yang akan bisa kita fokuskan setelah mengetahui fungsi dan posisi properti yang kita inginkan, yaitu:

1. Tipe properti Mau rumah, apartemen, atau cukup tanah kosong? Berdasarkan survei, apartemen biasanya akan memiliki nilai sewa yang lebih tinggi dibandingkan rumah sewa biasa. Namun tentu saja, uang yang dibutuhkan pun akan lebih banyak kalau kita hitung per meter perseginya. Dan ini berbanding terbalik dengan rumah. Nah, ketika posisi lebih pada investasi, maka tentu saja ada sebagian orang yang memang merasa bahwa prospek apartemen akan lebih bagus dibandingkan rumah sewa. Sebaliknya, bagi sebagian besar pasangan muda yang memposisikan properti sebagai tujuan keuangan (tempat tinggal) mungkin akan lebih memilih rumah/lahan kosong, karena keterbatasan dana dan pertimbangan bahwa rumah nantinya bisa diperluas sesuai dengan perkembangan jumlah anggota keluarga.

2. Lokasi dan fasilitas Jika memang keinginan memiliki properti lebih didasarkan atas hasil investasinya, kita akan lebih mempertimbangkan unsur-unsur bisnis didalamnya. Seperti: apakah properti yang akan kita beli berada pada daerah dengan prospek cerah, mudah diakses orang lain, dan tidak masuk dalam daerah yang akan terkena gusur. Tapi kalau kita menginginkan properti sebagai kebutuhan kita, kita lebih memikirkan fasilitas apa saja yang ada disana, lingkungan aman atau tidak, lokasi sekolah, pusat perbelanjaan, dan lainnya.

3. Strategi pembiayaan Kalau properti itu lebih ditujukan sebagai alat investasi, kita akan lebih mempertimbangkan untuk membeli properti yang cepat menghasilkan. Lalu mungkin kita bisa menggunakan hasil tersebut untuk sekaligus membayar pinjaman jika ternyata dananya dari meminjam. Besarnya uang muka, suku bunga, dan cicilan juga tentu harus dihitung sebagai pertimbangan untung rugi jika dibandingkan dengan hasil investasinya. Beda halnya bila kita menginginkan properti yang diposisikan sebagai tujuan keuangan.

Maka biasanya kita akan siap mengeluarkan uang murni dari kantong sendiri entah dengan cara tunai atau mencicil. Karena kalau untuk digunakan sendiri, apalagi sudah merasa sangat cocok, biasanya kita rela untuk mengesampingkan biaya yang sedikit lebih mahal. Jadi dengan mengetahui apa sebenarnya fungsi dan posisi properti ini untuk kita, kita akan bisa membuat rencana keuangan yang jauh lebih optimal dan terarah.

Selanjutnya, baru kita memikirkan hitung-hitungan keuangannya. Nah, apakah Anda sudah menentukan fungsi properti yang Anda inginkan?

Merencanakan Keuangan Untuk Membeli Properti

Setiap orang ingin memiliki properti. Namun diperlukan jumlah uang yang cukup besar untuk membeli properti.  Karena itu diperlukan beberapa hal yang perlu kita persiapkan sebagai strategi untuk mencapai tujuan keuangan membeli properti.

Properti sebagai sebuah tujuan keuangan memiliki ciri unik yaitu tidak terlalu pentingnya hasil investasi atau income yang bisa didapatkan darinya. Apakah properti itu harganya akan naik atau turun, yang terpenting adalah memilikinya dahulu. Karena itu ketika properti dianggap sebagai sebuah tujuan keuangan maka pos pembiayaan properti ini pasti akan berpengaruh pada kondisi keuangan dan porsi untuk kebutuhan lain secara keseluruhan. Mungkin ada yang bertanya, kalau begitu apa hubungannya dengan merencanakan keuangan? Kenapa harus repot? Mari kita lihat contoh kasus.

Misalnya, okelah saya saat ini mampu untuk membayar rumah dengan cicilan dan saya juga sanggup membayar  down payment (DP) saat ini juga. Tapi ternyata saya lupa memperhitungkan bahwa ternyata 8 tahun lagi saya pensiun dan saat itu saya tidak akan memiliki penghasilan lagi untuk membayar cicilan tersebut, padahal masa cicilan masih tersisa 7 tahun lagi. Di lain pihak, saya juga ternyata lupa mempersiapkan penghasilan setelah pensiun dan tabungan hanya seadanya. Wah, kalau sudah begini bagaimana?

Apakah rumah saya harus disita, sementara saya sudah tidak memiliki tempat tinggal lainnya? Dari contoh kasus di atas, ternyata membeli properti terutama sebagai tujuan keuangan akan memiliki konsekuensi yang cukup besar dalam keseluruhan keuangan kita. Dan ini artinya kita sebenarnya dituntut untuk mengatur keseluruhan keuangan sebaik mungkin agar setelah pembelian properti (baik dengan cara tunai maupun mencicil) tersebut, hidup kita masih bisa berjalan dengan lancar dan tanpa masalah.

Lalu apa sih yang perlu kita lakukan untuk merencanakan keuangan ini? Setelah menentukan properti sebagai sebuah tujuan, maka selanjutnya adalah melakukan perencanaan yang matang terutama untuk porsi dan implementasi keuangannya. Beberapa langkah untuk merencanakan hal ini adalah:

1. Lakukan financial check up. Karena bagaimanapun pembelian properti selalu datang dengan konsekuensi keuangan. Entah itu membeli dengan cara tunai apalagi kredit, kita tetap harus menyesuaikan kondisi keuangan kita dengan keinginan. Analogi sederhananya seperti ini: seorang wanita yang ingin hamil disarankan untuk melakukan beberapa tes dulu seperti tes kandungan dan tes kesehatan lainnya. Ini perlu dilakukan agar nanti baik sang ibu maupun calon bayi bisa benar-benar terjamin keselamatannya. Hal tersebut juga berlaku untuk kondisi keuangan kita. Kita perlu memastikan bahwa keuangan kita saat ini memang sudah cukup sehat dan kuat untuk memiliki keinginan lain, yaitu membeli properti. Entah dengan cara tunai ataupun kredit, kita harus mulai mempersiapkan diri. Jangan sampai keinginan kita justru akan membahayakan kondisi keuangan baik dimasa sekarang maupun yang akan datang. Financial check up sendiri terdiri atas beberapa kegiatan antara lain adalah mendaftar semua kewajiban / hutang saat ini, mendaftar seluruh aset, dan melakukan pengecekan cash flow, mendaftar semua kebutuhan, keinginan dan rencana masa depan beserta waktu dan prioritasnya.

2. Perkirakan dana yang benar-benar dapat disisihkan untuk mencapai tujuan properti. Setelah melakukan financial check up, kita akan bisa memperkirakan kemampuan kita yang sesungguhnya untuk membeli properti. Setidaknya dari sisi cash flow dan aset yang kita miliki saat ini. Apakah memang bisa membeli secara tunai sekarang juga atau perlu mencicil? Untuk tahap ini jangan lupa mendata seluruh tujuan keuangan kita dan semua konsekuensinya. Lalu jangan lupa juga untuk mempertimbangkan seluruh penghasilan yang mungkin kita terima. Cara mudahnya adalah dengan menanyakan beberapa pertanyaan seperti: Punya penghasilan bulanan yang tetap? Besarnya berapa? Ada bonus tahunan? Berapa banyak dan berapa kali? Bagi yang berniat untuk mencicil, fokuskan untuk mempersiapkan DP terlebih dahulu. Disarankan untuk setidaknya miliki 5%-10% lebih banyak dari DP properti yang disyaratkan. Kelebihan ini akan digunakan sebagai dana cadangan untuk biaya lain-lain. Lalu, hitunglah agar total jumlah cicilan per bulan tidak lebih dari 30% penghasilan bulanan.

3. Sesuaikan kemampuan dana keseluruhan dengan tujuan properti dan atur strateginya. Kita memang sudah tahu kemampuan menyisihkan atau mencicil. Tapi itu saja belum cukup. Karena terkadang harga properti yang kita inginkan belum tentu sesuai dengan budget yang kita punya. Nah, setelah mengetahui kemampuan menyisihkan, kita juga perlu menyesuaikan kemampuan keuangan kita dengan harga properti dan seluruh biaya yang mungkin muncul. Karena merencanakan keuangan berarti juga mengatur strategi terbaik yang bisa kita terapkan. Setelah memiliki keyakinan bahwa memang kondisi dan strategi keuangan kita cukup baik, kita tentu akan melakukan implementasi strategi keuangan tersebut.

Nah, bagi yang memilih untuk melakukan strategi kredit, jangan lupa untuk selalu melakukan evaluasi secara berkala atau insidental. Terutama bila terjadi perubahan dalam kondisi cash flow sehari-hari, seperti perubahan dalam pola penghasilan dan konsumsi kita yang berpengaruh cukup signifikan terhadap besarnya cicilan ideal kita.

Jadi, sudah siapkah untuk mulai merencanakan keuangan Anda untuk membeli properti?

Yang Membingungkan Dan Dilupakan Saat Membeli Properti Dengan Cara Kredit Ke Bank

Cukup siapkan Down Payment (DP) 30%, dan Anda sudah bisa membeli rumah di perumahan XXX. Kenyataannya, ketika kita mengajukan kredit ke bank, DP 30% belum tentu cukup. Ada biaya provisi, biaya administrasi, dan sebagainya. Salah satu pertanyaan yang sering kali dilontarkan soal properti adalah bagaimana caranya menyiapkan dana untuk membeli properti dan kapan kira-kira dana itu bisa tercapai. Kalau memang ternyata keuangan kita tidak memungkinkan, maka biasanya yang menjadi fokus utama adalah bagaimana membeli rumah dengan cara meminjam dan biasanya pinjaman ini adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ke bank. Sebenarnya meminjam ke bank adalah alternatif yang baik. Dengan bunga yang tidak terlalu memberatkan, kita bisa membeli properti yang diidamkan. Yang menjadi masalah adalah apabila terdapat misinformasi atau mispersepsi antara bank dan kita. Selain ada beberapa istilah yang kadang sulit dimengerti oleh awam, bank juga memiliki kebijakan tersendiri yang sering kali lupa ditanyakan padahal kebijakan tersebut cukup penting. Nah, apa saja hal-hal yang berpotensi menjadi masalah namun cukup penting tersebut? Istilah dan Cara Perhitungan Bunga atau Margin Pernah mengalami kejadian ini?

  1. Bapak A merasa bahagia karena KPRnya disetujui oleh sebuah bank swasta dengan iming-iming “Bunganya murah cuma 13%, fixed*”. Di tahun ketiga, Bapak A terkejut karena tiba-tiba bunga KPRnya melonjak menjadi 17%. Lho, katanya fixed. Ternyata Bapak A tidak memperhatikan tanda bintang di belakang kata fixed, yaitu: “untuk tahun pertama dan kedua”.
  2. Bapak B membanggakan KPRnya yang katanya bunganya hanya 8% per tahun, karena Bapak C mendapatkan KPR di bank lain dengan bunga 14% pertahun. Tapi setelah dibandingkan nilai cicilan KPR Bapak B ternyata lebih besar dibandingkan dengan cicilan KPR Bapak C, padahal nilai kredit dan jangka waktunya sama saja. Setelah dicek, ternyata bunga 8% itu adalah bunga dengan perhitungan flat, sedangkan 14% adalah bunga dengan perhitungan efektif.

Perhitungan bunga seringkali menjadi hal yang salah dimengerti.  Karena itu perhatikan dan pahami dengan benar istilah-istilah yang berhubungan dengan hal ini. Kalau bisa, pahami juga cara perhitungannya. Jangan ambigu antara pengertian fixed, flat, efektif, floating dan annuitas. Sekedar penjelasan singkat, bunga fixed selalu disandingkan dengan bunga float dan berkaitan dengan penetapan persentase bunga. Jadi kalau dikatakan bunga 10% fixed 3 tahun, artinya bank akan tetap mempertahankan bunga 10% itu selama 3 tahun. Sedangkan floating adalah kebalikannya, persentase bunga bisa berubah setiap saat. Di bagian lain ada juga istilah flat yang bersanding dengan efektif, dan gabungan keduanya disebut sebagai annuitas. Istilah flat, efektif dan annuitas akan mengacu pada cara perhitungan bunganya. Bunga flat artinya komposisi nilai bunga dengan plafon kredit dihitung tetap selama masa kredit. Sedangkan efektif akan memperhitungkan bunga dari sisa kredit yang belum dibayar. Lalu annuitas akan memperlihatkan porsi dari bunga dan pokok cicilan yang terus berubah. Jadi jangan kaget mendengar bunga flat terlihat lebih kecil dari bunga efektif padahal plafon, jangka waktu dan total jumlah bunga kredit sama. Hal lain yang perlu diperhatikan mengenai bunga adalah sistem cicilan yang diterapkan masing-masing bank. Jangan mudah terjebak dengan asumsi umum. Contohnya: ternyata tidak semua Bank Syariah memberikan KPR yang jumlah cicilannya tetap. Ada lho pembiayaan Bank Syariah yang jumlah cicilannya berubah.

  • Biaya lain-lain untuk kredit Anda

Cukup siapkan DP 10%-30% dan sudah bisa mendapatkan rumah. Wow, like a dream come true? Eits, senang boleh, asal jangan berlebihan karena sebenarnya masih banyak biaya lain yang perlu diperhitungkan. Ketika mengajukan kredit, otomatis pihak bank menginginkan agar kreditnya cukup aman. Karena itu selain biaya administrasi, bank akan meminta Anda untuk mengikuti asuransi kebakaran dan asuransi jiwa. Jangan lupa, ada juga biaya pajak, pengikatan kredit secara hukum, provisi, appraisal dan notaris. Yang kalau ditotal akan cukup besar juga. Perhitungan biaya ini cukup penting dilakukan, karena bisa saja Anda tidak jadi meminjam hanya karena kekurangan dana untuk membayar biaya tersebut. Walaupun biaya lain-lain ini juga bisa dijadikan bagian dari kredit Anda, tapi Anda harus ingat bahwa ini juga berarti Anda akan membayar bunga dan cicilan yang jelas lebih banyak.

  • Opsi pembayaran atau pelunasan dimuka dan biayanya

Siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang? Bisa saja kan Anda tiba-tiba mendapat rejeki bagai durian runtuh? Misalnya hasil warisan, atau doorprize? Atau katakanlah bonus tahunan Anda ternyata dijadikan empat kali lipat oleh kantor karena kinerja Anda yang sangat bagus. Saat itu Anda mungkin menginginkan pembayaran Anda ditambah (pelunasan sebagian) hanya untuk bulan itu saja, atau mungkin langsung lunas. Nah, jangan sampai nanti Anda kaget dengan penalti atau biaya pelunasan yang akan dibebankan. Dan jangan kaget juga jika ternyata Anda tidak bisa melakukan top up, karena memang tidak semua bank memiliki fasilitas ini.

  • Opsi untuk melakukan over kredit

Ingin pindah KPR ke Bank Syariah? Atau mungkin saja Anda mendapatkan penawaran bunga yang jauh lebih rendah dari bank lain? Atau, Anda merasa bahwa pelayanan dari bank tempat mengajukan KPR sekarang terlalu menyulitkan? Karena itu, pahami benar persyaratan untuk over credit dan cara untuk melakukannya agar prosesnya bisa berjalan lancar.

  • Klausul perjanjian dengan pihak selain bank

Ada banyak pihak yang dilibatkan ketika mengajukan kredit ke bank. Baik dari pihak Asuransi atau Developer. Karena itu, bacalah semua klausul perjanjian yang ditawarkan setiap pihak agar Anda benar-benar merasa yakin. Ga lucu kan jika Anda marah-marah hanya karena Anda tidak mengerti benar term and condition masing-masing pihak. Nah, dengan mengetahui beberapa hal terpenting saat berhubungan dengan kredit, setidaknya Anda bisa mengurangi sedikit risiko agar nantinya tidak merasa terjebak. Jadi, apakah Anda yakin akan kredit yang diajukan?

Berapa Idealnya Cicilan Properti Anda?

Mari berhitung. Kira-kira berapa jumlah yang cukup baik untuk cicilan Anda, agar keuangan Anda tetap sehat? Kalau sudah memiliki keinginan yang sangat besar untuk membeli properti, kita kadang lupa bahwa keuangan kita memiliki batas sehingga terlalu memaksakan diri. Lalu tibalah masa ketika ekonomi sulit hingga kita juga bermasalah dalam melunasi cicilan tersebut. Bagaimana caranya agar bisa terhindar? Salah satunya adalah menghitung cermat cicilan dalam batas ideal umum. One thing for sure, saya selalu merekomendasikan agar total cicilan per bulan tidak lebih dari 30% penghasilan yang diterima. Tentu saja ada alasan mengapa sampai perlu diberikan batasan tersebut. Beberapa alasan diantaranya adalah:

  • Hidup Anda tidak melulu hanya hutang. Bayangkan jika total hutang Anda lebih dari 30%, ini bisa berarti bahwa hidup Anda sebagian besar dikendalikan oleh hutang.
  • Bertambahnya porsi hutang tentu saja akan menguras kemampuan kita untuk menyisihkan dan jelas mempengaruhi cash flow. Apalagi jika hutang ini hutang konsumtif yang tidak membuat Anda sejahtera nantinya.
  • Ada beberapa jenis hutang yang bunganya bisa berubah sewaktu-waktu. Yang menjadi masalah adalah penghasilan Anda belum tentu akan ikut berubah saat itu juga. Jadi, mengontrol hutang adalah salah satu solusi untuk menghadapi masalah ini.

Banyak orang yang sering bertanya pada saya, apa maksud dari maksimal 30%? Dihitung dari mana? Seperti yang dikatakan di awal, 30% itu total lho. Jadi jangan cuma menghitung satu hutang saja. Saya coba kasih ilustrasinya. Misalnya, ada seorang keluarga muda dengan penghasilan 5 juta perbulan suami istri. Ini adalah penghasilan tetap, karena memang keduanya bekerja sebagai karyawan. Mereka ingin memiliki rumah sederhana tahun ini. Setelah dihitung-hitung, 30% dari total penghasilan berarti mereka bisa mengusahakan untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan cicilan 1,5 juta per bulannya. Apa benar? Eits, nanti dulu. Ternyata, suami punya cicilan motor yang belum selesai Rp 500 ribu per bulan. Baru selesai kira-kira dua tahun lagi. Dan ternyata si istri pernah membeli handphone dengan cara mencicil Rp 200 ribu per bulan via kartu kredit, yang baru akan selesai 6 bulan lagi. Kalau begitu berapa sebaiknya nilai cicilan KPR keluarga tersebut? Mari kita hitung: Maksimal cicilan 30% dari total penghasilan = hutang kartu kredit + hutang motor + hutang KPR. Dari perhitungan diatas, bisa diketahui bahwa hutang KPR keluarga tersebut sebaiknya tidak lebih dari Rp 800 ribu per bulannya, dan bukan Rp 1,5 juta. Wah, ternyata jumlah ideal cicilan KPRnya jauh lebih kecil dari yang diperkirakan di awal. Nah, untuk memudahkan perhitungan ini, ada beberapa tips yang dapat dilakukan saat menghitung jumlah cicilan ideal KPR Anda:

  1. Catat semua hutang saat ini, termasuk hutang ke orangtua atau teman. Yang perlu dicatat adalah besarnya cicilan masing-masing hutang, sisa waktu untuk mencicil, tipe cicilan dan pemberlakuan bunga.
  2. Catat semua rencana pengeluaran yang akan memicu hutang di masa depan dan waktu mulai hutang tersebut.
  3. Jumlahkan semua cicilan hutang yang sedang berjalan saat ini. Hitung sisa porsi yang dapat digunakan untuk cicilan KPR.
  4. Atur strategi agar pengeluaran hutang masa kini dan yang akan datang agar bisa berjalan secara sinkron. Misalnya: jika ternyata porsi cicilan KPR sangat kecil, coba evaluasi hutang yang sebaiknya diselesaikan dalam waktu cepat, terutama hutang untuk barang-barang konsumtif dan harganya turun. Setelah hutang tersebut dilunasi, Anda bisa menambahkan alokasinya dalam porsi cicilan KPR. Begitu pula ketika ada tambahan penghasilan.
  5. Lakukan evaluasi berkala setelah implementasi.

Bagaimanapun seorang manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan. Sesempurna apapun rencana dan perhitungan akan selalu memiliki kemungkinan untuk meleset. Karena itu, jangan lupa melakukan evaluasi berkala kondisi keuangan.

Jadi, apakah cicilan hutang dan rencana cicilan Anda saat ini sudah cukup sehat?

Profil Penulis

Safir Senduk adalah seorang Perencana Keuangan yang mendirikan Safir Senduk & Rekan pada awal tahun 1998. Sejak September 1999, ia menulis sejumlah buku yang tergabung dalam Seri Perencanaan Keuangan Keluarga, yang merupakan seri buku pertama di Indonesia dalam bidang perencanaan keuangan. Dan pada tahun 2000, Safir juga menjadi pembicara publik di berbagai seminar, pelatihan dan serta radio. Situs http://www.perencanakeuangan.com yang dibangunnya, saat ini menjadi situs terlengkap di Indonesia mengenai perencanaan keuangan. (Sumber: www.perencanakeuangan.com) Anda yang ingin berkonsultasi langsung dengan Safir Senduk, bisa mengirimkan pertanyaan seputar masalah finansial di bidang properti ke: editor@propertykita.com. Jangan lupa cantumkan nama dan kota tempat tinggal Anda dengan email subject “Konsultasi Finansial”.

Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Friday, April 16th, 2010
oleh : Roy Tjahjo Suzanto

Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu tidak merasa puas menjadi seorang pegawai. Saat ini saya ingin sekali memulai usaha sesuai dengan pengalaman yang saya miliki menjadi seorang marketing. Apa saja yang harus saya persiapkan, mengingat modal yang saya miliki tidak besar.



Jawaban
Selamat untuk Bp Yana Supriatna karena anda selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan, ini suatu prestasi yang dapat dibanggakan. Kita juga mengucapkan selamat kepada Bp Yana karena anda sudah mempunyai keinginan yang kuat untuk memulai suatu usaha.

Pertama-tama, jika anda ingin sukes dalam berbisnis anda wajib menjawab beberapa pertanyaan kita terlebih dahulu :

  1. Sebutkan minimal 4 alasan yang menyebabkan anda ingin memulai bisnis ?
  2. Mengapa anda memilih ingin terjun di dunia bisnis ?
  3. Jika bisnis anda berhasil, apa yang akan anda lakukan dari hasil bisnis tersebut ?

  4. Jika bisnis tersebut gagal, apakah anda sudah siap menerima resikonya? Dan mengapa anda harus menerima resiko tersebut?
  5. Apa yang terjadi jika anda tidak segera memulai bisnis ?

  6. Kapan anda segera memulai bisnis anda ?

  7. Siapa yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan bisnis anda ?

  8. Dalam kondisi bagaimana anda akhirnya menghentikan bisnis anda ?

Langkah langkah yang wajib segera dilakukan oleh anda :

1. Sadari keberhasilan tergantung pada diri anda sendiri.

Assets paling berharga dalam menjalankan bisnis adalah diri anda sendiri. Diri anda sendiri perlu menjawab pertanyaan pertanyaan diatas. Anda wajib memiliki alasan yang kuat dan tidak tergoyahkan mengapa anda perlu berbisnis dan harus segera berbisnis. Tanamkan mental sebagai seorang juara di diri anda, anda akan berlatih terus menerus sampai anda meraih gelar sang juara.

2. Tekadkan bulat dan tindakan nyata

Keinginan yang kuat tidak cukup untuk berhasil, keberhasilan karena melakukan tindakan nyata yang akan saya pandu beberapa saat ini. Ambil kertas sekarang juga, cari tempat yang nyaman dan lakukan beberapa hal di bawah ini sekarang juga, jangan menunda nunda. Anda pasti bisa

3. Menentukan beberapa alternatif usaha.

Jangan terburu buru menentukan suatu usaha yang ingin anda geluti, lebih baik cari 3 bidang alternatif usaha yang akan anda geluti. Pertimbangan utama memilih bidang usaha adalah kondisi permintaan konsumen terhadap produk yang anda tawarkan. Berapa besar minat konsumen terhadap produk anda dan apakah minat konsumen ini dapat bertahan sampai 10 tahun kedepan. Analisa permintaan konsumen dan jumlah pesaing yang akan anda hadapi dari 3 bidang usaha tersebut. Permintaan konsumen bisa saja besar dan mungkin bertahan 10 tahun ke depan, tetapi jika sudah terlalu banyak pesaing, maka bisnis ini akan masuk ke red ocean (persaingan bisnis yang tidak sehat).

4. Memilih satu bisnis dari 3 alternatif bisnis diatas.

Pilih salah satu bisnis dari 3 alternatif bisnis yang telah ditentukan. Berikut adalah beberapa pertimbangan utama untuk membantu anda memilih 1 bisnis yang akan anda geluti, pertimbangan tersebut antara lain :

1. Cepat menghasilkan uang atau tidak.

2. Seberapa besar resiko yang akan anda hadapi jika produk tersebut tidak laku.

3. Seberapa besar keunikan produk anda dibandingkan pesaing yang ada.

4. Seberapa besar anda memiliki keahlian untuk menjual produk tersebut.

5. Perlu ruang usaha atau showroom yang besar atau tidak.

6. Apakah konsumen anda dapat melakukan pembelian berulang kali terhadap produk anda.

7. Produk anda mudah ditiru orang lain / tidak.

8. Berapa besar modal yang dibutuhkan untuk 6 bulan kedepan agar bisnis anda tetap berjalan dengan baik.

9. Apakah bisnis anda dapat diwariskan ke anak cucu anda.

5. Buatlah perencanaan bisnis dari bisnis yang sudah anda pilih.

The Queensland Small Business Corporation mensurvei sekitar 500 pengusaha yang memiliki bisnis plan dan menemukan beberapa fakta manfaat dari bisnis plan sebagai berikut : efektif menunjang goal 100%, membantu meningkatkan penjualan 91%, menunjang profit 81%, meningkatkan jumlah karyawan 79%, meningkatkan produktivitas beberapa kali lipat dari sebelumnya. Mari kita melihat bersama, hal apa saja yang seharusnya ada di dalam bisnis plan anda :

1.  Visi Perusahaan.

Visi adalah suatu keadaan bisnis anda di masa yang akan datang, mungkin sekitar 100 tahun ke depan. Visi wajib dapat menginspirasi team agar bersama sama bergerak mencapai visi perusahaan.

2. Tentukan target market anda.

Pelanggan anda dapat ditentukan dari berbagai sisi antara lain : usia, jenis kelamin, rata rata penghasilan, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, hobi, geografis, dimana mereka sering berkumpul, media apa saja yang sering mereka lihat.

3. Tentukan target.

Tentukan target omzet penjualan dan target jumlah customer anda dalam 1 tahun ke depan, kemudian dijabarkan target tiap bulan.

4. Komunikasi pemasaran.

Tentukan media komunikasi yang tepat dan efisien untuk mengkomunikasikan produk anda ke target market yang sudah ditentukan. Agar target market membeli produk anda maka isi dari komunikasi wajib memenuhi kriteria AIDA (Attention, Desire, Interest dan Action)

5. Action plan.

Tentukan detail pelaksanaan dari rencana komunikasi pemasaran, meliputi : siapa yang menjalankan, bagaimana menjalankan, budget yang diperlukan, siapa mengontrol pelaksanaannya dan kapan diselesaikan.

6. Jalankan setiap perencanaan bisnis anda.

Keberhasilan suatu bisnis bukanlah karena anda sudah membuat perencanaan yang hebat, tetapi seberapa anda konsisten dan komitmen menjalankan apa yang sudah anda rencanakan. Kesuksesan adalah karena tindakan kecil yang terus menerus anda lakukan. Sukses buat anda…

Kesukseskan tercipta jika “Plan your work and work your plan” Remember, people do not plan to fail, they fail to plan! So ensure your success by planning diligently! You deserve it!

http://swa.co.id/2010/04/12686/

Jabat Tangan, Salah Satu Penentu Sukses

Jabat Tangan, Salah Satu Penentu Sukses

Tahukah Anda, sebuah studi akademik yang dilakukan oleh Universitas Iowa, Amerika Serikat telah menyimpulkan bahwa jabat tangan yang mantap dan kuat adalah bagian dari sukses seseorang. Khususnya, saat ia berjuang melewati tahap wawancara dalam proses rekrutmen pekerjaan. Sebaliknya, jabat tangan yang dingin dan ragu-ragu bisa mengakhiri harapan diterima dalam sebuah pekerjaan, bahkan sebelum interview dimulai.

“Kita sudah sering mendengar bahwa para pewawancara membuat keputusan atas kandidat pada menit pertama atau kedua, meskipun wawancaranya sendiri bisa tetap berlangsung bermenit-menit,” ujar seorang peneliti.

Peneliti lain menegaskan, jabat tangan bahkan lebih penting dibandingkan dengan pakaian atau pun penampilan fisik seseorang. Ia menjadi bahan pertimbangan yang penting bagi pewawancara.

“Kami menemukan bahwa kesan pertama itu dimulai dengan jabat tangan, yang itu akan mempengaruhi proses wawancara selanjutnya,” tambah sang peneliti. Ia menjelaskan, jabat tangan menjadi penting karena itu salah satu dari sedikit hal yang secara cepat bisa mewakili individualitas seseorang.

Pada sisi lain, sebuah survei menemukan, mereka yang memiliki “skor tinggi” dalam hal jabat tangan adalah orang-orang yang terlihat memiliki sifat-sifat yang lebih terbuka. Itu artinya, mereka juga cenderung lebih supel, punya kontak mata yang kuat, dan keterampilan-keterampilan sosial lainnya.

Lalu, bagaimanakah jabat tangan yang baik dan benar itu? Apakah hanya cukup untuk disebutkan “mantap dan kuat”? Berikut ini definisinya, yang dirangkum daripada beberapa sumber.

1. Tataplah mata lawan bicara Anda saat berjabatan tangan dengannya. Dengan menatap lawan bicara saat berjabatan, Anda menumbuhkan keyakinan, sekaligus menampakkan kepercayaan diri dan sopan santun.

2. Berjabat tanganlah dari telapak ke telapak (jangan berjabatan tangan dengan mempertemukan jari ke jari, atau telapak dengan jari). Jabat tangan yang mempertemukan telapak akan memberikan perasaan bersahabat dan nyaman.

3. Jangan terlalu akrab. Beberapa orang bertindak berlebihan dengan menarik tangan lawan dan secara keras mengayunkan ke atas ke bawah. Hal ini bisa membuat orang lain kesal.

4. Sadarlah akan keterbatasan fisik seseorang. Lansia, orang cacat, atau penderita arthritis (rematik) mungkin memiliki tulang yang lemah dan keterbatasan gerak. Melukai seseorang saat berjabatan tangan bisa menutup pintu hubungan yang baik dengan seseorang.

5. Ingatlah untuk mencipatakan jabat tangan yang bermakna. Jika Anda berjabatan tangan lalu dengan segera menarik tangan Anda dan melanjutkan pembicaraan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, maka orang akan menganggapnya sebagai jabatan tangan yang tidak berarti dan tidak tulus. Maka, berikan perhatian melalui kontak mata atau sapaan (sekitar 3 detik) sebelum menarik tangan Anda.

6. Jika Anda memiliki keyakinan tidak membolehkan menyentuh tangan lawan jenis, lakukan jenis penghormatan menurut kebiasan yang biasa Anda lakukan atau kebiasaan yang umum (misalnya dengan mengatupkan ke dua lengan di depan dada atau juga dengan membungkukkan badan seperti orang Jepang). Orang-orang akan tetap menghormati Anda. Hal ini juga bisa dilakukan, bila Anda sedang mengalami gangguan kesehatan. Utarakan hal ini pada lawan bicara Anda, dengan didahului permintaan maaf.

by: AW