Apakah Amerika Serikat bangkrut?

Apakah Amerika Serikat bangkrut?

Saya tidak akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, tetapi saya yakin Anda akan bisa menyimpulkannya sendiri berdasarkan fakta yang akan ditampilkan dalam artikel ini.  Pertama-tama, coba meneliti grafik dibawah ini, yang menunjukkan hutang Amerika Serikat dari tahun 1940 hingga sekarang.

Seperti dapat Anda lihat, hutang AS kini lebih dari US$14 trillion, dan sejak 2008 telah meningkat sebesar US$1 trillion setiap 7 bulan!  Sebagai perbandingan, dari 2002 sampai 2008, peningkatan hutang sebesar 1 trilyun dolar AS terjadi dalam 20 bulan.  Sementara di periode 1995-2000, peningkatan US$1 trillion tersebut terjadi dalam 5 tahun.

Selain itu, perlu dicatat bahwa pada awal abad ke-21, hutang Amerika Serikat tidak sampai setengah dari nilai hutangnya sekarang (lihat tabel diatas ini).  Dengan kata lain, pembuat kebijakan AS sudah meminjam lebih banyak uang selama dasawarsa terakhir dibandingkan seratus tahun sebelumnya!  Memang sulit untuk dipercaya, tetapi itulah kenyataan …

Produk Domestik Bruto atau GDP di AS kini hampir sama dengan jumlah hutang yang ditanggung oleh Amerika Serikat.  Lalu the Congressional Budget Office (CBO) telah menetapkan estimasi defisit untuk 2011 pada US$1.5 trillion.  Oleh karena itu, hutang AS diprediksi akan melebihi PDB-nya mulai tahun ini, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Defisit diprediksi sebesar 5% sampai 10% dari PDB selama beberapa tahun kedepan.  Bahkan mungkin untuk selamanya apabila kondisi perekonomian tidak segera pulih.  Apabila PDB misalnya bertumbuh antara 3% dan 4%, berarti jumlah hutang selalu lebih cepat membesar daripada pertumbuhan ekonomi.

Apakah suatu negara bisa menambah hutang lebih banyak dari PDB secara nominal untuk selamanya?  Tentu tidak, karena suatu saat pelaku pasar akan mulai meragukan kemampuannya untuk melunasi semua pinjamannya.  Ini sama sekali tidak berbeda dengan suatu rumah tangga yang juga tidak dapat menambah hutang lebih cepat daripada pendapatannya.

Ketika hutang sebuah rumah tangga ataupun negara semakin besar, beban bunga akan naik.  Dengan demikian biayanya akan lebih banyak menyedot anggaran dimana peningkatan hutang pada akhirnya akan menambahkan beban bunga yang diluar kemampuan.  Dan pada titik itulah, batasan akan tercapai …

Kondisi fiskal yang mengerikan

“When Franklin Roosevelt became president in 1933, the deficit was already running at 4.7% of GDP.  It rose to a peak of 5.6% in 1934.  The federal debt burden rose only slightly – from 40 to 45% prior to the outbreak of the second world war.  It was the war that saw the US embark on fiscal expansions of the sort we have seen since 2007.  So what we are witnessing today has less to do with the 1930s, than with the 1940s: it is world war finance without the war.”

-Niall Ferguson-

Hutang publik AS kini telah mencapai angka yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu sekitar US$14.1 trillion.  Namun ini pada dasarnya seperti peribahasa dimana kita hanya bisa memandang “ujungnya dari gunung es”.

Kenyataannya ternyata jauh lebih buruk dari yang dilaporkan oleh pemerintah karena jumlah tersebut tidak pernah memperhitungkan unfunded liabilities atau tanggungan pemerintah yang dananya belum tersedia (seperti Medicare, Social Security, Medicaid, maupun federal pension liabilities).

Jika semua tanggungan itu termasuk, hutang AS secara mengejutkan akan bernilai sebesar US$126.5 trillion.  Bahkan profesor Laurence Kotlikoff, seorang ekonomis dari Boston University, mengatakan hutang pemerintah AS sudah mencapai US$200 TRILLION! Ia berseru: “Let’s get real.  The U.S. is bankrupt.”

Maka dengan jumlah aset nasional yang hanya bernilai US$72 trillion, boleh disimpulkan bahwa Amerika Serikat telah “tenggelam” dalam seluruh kewajibannya.  Agar dapat mengikuti perkembangan posisi fiskal AS dengan baik, coba saja mengunjungi http://www.usdebtclock.org. Anda pasti akan merasa heran betapa cepat hutang naik secara terus-menerus.

Mengapa bisa begitu?

“History teaches us that such imprudent monetary and fiscal behavior has always led to economic disaster.”

-Jim Rogers-

Anda tidak perlu pemikiran yang cemerlang untuk memahami masalah ini.  Alasannya sangat sederhana; grafik dibawah ini dengan jelas menunjukkan mengapa hutang makin hari makin membengkak.

Saat pendapatan pajak turun dalam krisis ke level yang sama dengan 2004, pengeluaran malahan membubung tinggi. Sebagai catatan pendapatan pemerintah hanya bertumbuh rata-rata 0,9% selama dasawarsa terakhir, sedangkan pengeluarannya pada periode yang sama rata-rata meningkat 7,9%.  Jadi sulit sekali untuk mengurangi defisit negara.

Apa solusinya?

“America today looks like Russia in 1998.  Consumers, companies and the government are all highly indebted. America as a result is a bankrupt Mickey Mouse economy.”

-Jochen Wermuth, Chief Investment Officer at Wermuth Asset Management-

Anda tidak bisa menyelesaikan kelebihan hutang dengan meminjam makin banyak.  Anda juga tidak dapat meminjam jumlah uang yang melebihi pendapatan Anda terus, baik sebagai suatu rumah tangga maupun suatu pemerintahan, tanpa menjadi bangkrut pada akhirnya.

Maka hanya ada dua pilihan: Anda melunasi hutang Anda … atau Anda gagal membayarnya.  Apabila Anda menjadi bangkrut, tidak ada seorangpun yang akan meminjamkan uang kepada Anda lagi jadi Anda harus hidup sesuai dengan kemampuan Anda.  Namun jika Anda melunasi hutang, Anda terpaksa akan menguras pendapatan Anda dan menyisakan lebih sedikit uang untuk dibelanjakan.

Berbagai pemerintahan di dunia, termasuk Amerika Serikat, sekarang bertingkah laku seperti pecandu stimulus/hutang.  Lalu mereka lupa bahwa krisis ini BUKAN suatu masalah yang TEMPORER, TETAPI masalah yang STRUKURAL.  Oleh karena itu, mereka seharusnya mengikuti program rehabilitasi agar mampu mengurangi pengeluarannya dan/atau menaikkan pendapatannya.

Apa bahayanya?

“Highly indebted governments, banks, or corporations can seem to be merrily rolling along for an extended period, when bang! – confidence collapses, lenders disappear, and a crisis hits.”

-Professors Carmen Reinhardt and Ken Rogoff in their book This Time is Different

Amerika Serikat telah meluncurkan suatu kampanye yang sangat lihai untuk mengalihkan perhatian dari ekonomi maupun bank mereka yang bangkrut kepada negara kecil di Eropa seperti Yunani, Irlandia atau Portugal.  Meskipun negara tersebut memang mengalami kesulitan, kebutuhan pembiayaan mereka sebetulnya kecil dibandingkan masalah yang dihadapi oleh pemerintah pusat, negara bagian dan kota di AS (lihat grafik dibawah ini).

Peringkat hutang dari berbagai negara di Eropa sudah diturunkan oleh lembaga pemeringkat AS, sementara peringkat hutang AS tetap dipertahankan pada AAA.  Tanpa ragu saya berpendapat peringkat tersebut adalah sebuah PENIPUAN yang didorong oleh kepentingan politik.  Sama dengan subprime mortgages sebelumnya, lembaga pemeringkat hutang hanya akan menurunkan peringkat AS setelah hutangnya sudah menjadi junk atau “sampah”.  Maka saran saya adalah: Jangan teperdaya oleh peringkat hutang AS yang tinggi agar Anda tidak menderita kerugian yang fatal bagi portofolio Anda.

Kesimpulan

“The U.S. has no way of avoiding a financial Armageddon.”

-John Williams, shadowstats.com-

The solution to a hangover is not more alcohol atau pemecahan untuk orang mabuk bukan lebih banyak alkohol.  Coba memikirkan hal berikut ini dengan seksama: Jika sebuah bank kecil menjadi bangkrut, masalahnya selesai ketika bank itu diambil alih oleh bank lebih besar yang menyuntikkan modal baru kedalamnya.

Apabila sebuah bank yang lebih besar berada diambang kebangkrutan, persoalannya terpecahkan ketika bank tersebut diambil alih oleh pemerintah, yang menyuntikkan modal tambahan kedalamnya. Tetapi … seandainya sebuah negara dengan perekonomian terbesar di dunia menjadi bangkrut … kita akan mengalami goncangan yang dahsyat!  Dari mana dana baru akan datang untuk menyelamatkannya?

Kenyataan yang menyakitkan adalah bahwa kita sebenarnya sudah melewati the point of no return atau telah memasuki jalan buntu.  Secara sederhana pemerintah AS sama sekali tidak mempunyai cara apapun untuk melunasi semua kewajibannya tanpa gagal bayar ATAU menghancurkan dolar AS (yang pada dasarnya sama saja).  Dan itu tentu juga berlaku untuk berbagai pemerintahan yang lain.

Dalam artikel berikutnya akan saya bahas bagaimana Anda bisa memanfaatkan peluang investasi yang berhubungan dengan sovereign debt di negara maju, terutama di AS.  Yang penting adalah bahwa Anda sebagai seorang investor sadar akan soal ini, dan siap untuk menghadapi krisis yang jauh lebih buruk daripada tahun 2008-2009.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda dan sukses selalu dalam berinvestasi!

Sampai tahun 1970an, Amerika Serikat adalah kreditur terbesar di dunia.  Kemudian pada pertengahan 1980an AS menjadi sebuah debitur dan … sejak akhir 1990an merupakan DEBITUR TERBESAR di dunia.

Artinya pemerintah AS berhutang lebih banyak uang daripada negara manapun di dunia.  Kecuali bila penambahan hutang pemerintah tersebut pada akhirnya diselesaikan dengan menaikkan pajak dan mengendalikan pengeluaran, hanya dua pilihan yang tersisa: default (ketidaksanggupan memenuhi kewajiban) atau inflasi yang tinggi.

Namun hampir mustahil AS melunasi hutangnya dengan pajak yang lebih tinggi karena itu pasti menyebabkan a second Great Depression atau Depresi Besar yang kedua.  Jadi satu-satunya cara untuk mengatasi kelebihan hutang ini adalah melalui suatu DEVALUASI dolar AS yang hebat.

Menurut economists Joshua Aizenman dan Nancy Marion, inflasi bantu mengurangi hutang pemerintah AS dari 122% ke 25% terhadap PDB dari 1945 hingga 1973.  Maka jangan heran apabila the Fed (bank sentral AS) memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran moneternya agar pemerintah AS tetap dapat membiayai defisitnya.

Kesimpulan: rupanya QUANTITATIVE EASING to infinity atau PENCETAKAN UANG tanpa batas adalah pemecahan yang terbaik pada saat ini.  Namun investor tetap disarankan untuk mengingat bahwa pemerintah Amerika Serikat hanya dapat mencetak uang secara terus-menerus selama dolar AS tetap merupakan the world’s reserve currency.  Jika tidak, kita akan menyaksikan keruntuhan yang luar biasa dari mata uang utama di dunia.

Perang Dingin Cina lawan AS

“We are very concerned about the lack of stability in the US dollar.”

-Chinese Premier Wen Jaibao-

Untuk membiayai pengeluaran yang sangat besar, pemerintah AS terpaksa perlu menjual banyak surat hutang.  Berhubungan semua negara maju berada dalam kondisi yang serupa, mereka harus melaksanakan penjualan tersebut dalam lingkungan yang makin kompetitif.

Empat bulan yang lalu, the U.S. Treasury Department merilis data yang menunjukkan sebuah penurunan sebesar 11% dalam official Chinese holdings of U.S. government bonds dari US$938.1 billion ke US$843.7 billion antara September 2009 dan Juni 2010.  Itu suatu pengurangan senilai hampir US$95 billion selama 9 bulan (lihat grafik diatas ini).

Berarti pemerintah Cina tidak menambah obligasi AS, dan juga tidak memperpanjang pembelian yang sebelumnya.  Dengan kata lain, Cina mengurangi hutang AS maupun penyikapannya terhadap dolar AS, dan pada gilirannya kerawanannya terhadap perekonomian AS yang melambat.

Uang menjadi mahal

Amerika Serikat – negara yang berhutang paling banyak uang di dunia – tergantung pada kepercayaan investor untuk membiayai kebutuhan pinjaman yang sangat besar.  Maka jika kekhawatiran Cina makin meningkat, bersamaan dengan investor lainnya di dunia, kreditur akan meminta tingkat pengembalian yang lebih tinggi.  Dengan demikian bond yields akan naik, dan harga obligasi akan turun.

Teliti saja grafik diatas ini, yang memperlihatkan dengan jelas bahwa yields atau tingkat suku bunga telah naik sejak awal bulan Oktober tahun lalu.  Secara sederhana, kenaikan ini diperkirakan berlangsung terus sepanjang pencetakan uang, bailouts dan sosialisasi dari hutang privat di AS maupun negara Eropa tidak segera dihentikan.

Kesimpulan: apabila investor yang khawatir mengenai solvabilitas pemerintah dalam jangka panjang menyebabkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, nilai aset di neraca bank besar  dunia – yang memiliki banyak obligasi pemerintah – beresiko mengalami penurunan kembali.  Selain itu, kenaikan suku bunga tentunya juga akan menimbulkan biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk perusahaan, konsumen maupun bank, dan memberikan pukulan yang besar kepada pemulihan ekonomi global.

Apakah dolar AS akan bertahan?

“There is no subtler, no surer means of overturning the existing basis of society than to debauch the currency.”

-Lord John Maynard Keynes (1883-1946)-

Sekarang Ben Bernanke – Kepala bank sentral AS – sedang mencetak uang untuk memulihkan perekonomian.  Tetapi tidak lama lagi, dia kemungkinan besar akan mencetak uang hanya untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang makin besar.

Ketika investor akhirnya menyadari apa yang terjadi, mereka langsung akan mengurangi kepemilikan dolar maupun obligasi AS mereka.  Sebagai akibatnya, makin lama the Fed malahan akan mencetak makin banyak uang untuk menutupi defisit AS sampai … nilai tukar dolar AS jatuh lebih cepat daripada kemampuan bank sentral AS untuk mencetak uang baru.

Pada dasarnya the Federal Reserve sedang melakukan permainan yang sungguh berbahaya, yang dapat mengancam kestabilan dari sistem keuangan dunia.  Sekali pasta gigi telah keluar dari tabung, memang sangat sulit untuk memasukinya kembali.

Namun hutang publik dan kewajiban lainnya pada kenyataan sudah tidak mampu dibayar.  Oleh karena itu, tanpa jalan keluar penurunan nilai tukar dolar AS akan diteruskan (lihat gambar diatas ini).

Kesimpulan: the Fed mampu untuk monetize (membeli obligasi AS dengan uang yang baru dicetak) hutang pemerintah, dan sama sekali tidak perlu meminta bantuan dari siapapun di masa yang akan datang.  Tetapi … mencetak uang yang begitu banyak kemungkinan akan mengakibatkan KEJATUHAN NILAI DOLAR AS terhadap mata uang utama dunia, seperti the Russian ruble pada tahun 1998, dan hyperinflation atau inflasi yang tinggi sekali.

Selalu ingat bahwa reserve currency status bukan sebuah birthright (hak azasi).  Sekali kepercayaan menghilang sepenuhnya, kedudukan tersebut bisa lenyap secara tiba-tiba.

Greenback versus redback

“The United States would be mistaken to take for granted the dollar’s place as the world’s predominant reserve currency.  Looking forward, there will increasingly be other options to the dollar.”

-Robert B. Zoellick, World Bank president-

Tidak puas dengan devaluasi tukar dolar AS maupun euro, Rusia dan Cina telah sepakat untuk melunasi perdagangan bilateral mereka senilai US$50 billion dalam mata uang masing-masing.  Disamping itu penerbitan dim-sum bonds, yaitu obligasi dari peminjam non-Chinese yang berdenominasi renminbi sudah berkembang dengan pesat.  Sebagai contohnya, Caterpillar dan McDonald’s telah meminjam dana dalam mata uang Cina.

Berkat kepopulerannya yang meningkat, beberapa orang kini menyebut yuan the “hongbi” atau “redback”.  Pelan tapi pasti, pelaku usaha akan berpindah hati dari greenbacks ke redbacks.  Akhirnya, mata uang Cina akan diperdagangkan secara bebas.  Dan ketika itu terjadi, jumlah cadangan devisa yang signifikan diprediksi akan ditanamkan kedalamnya.

Logam mulia adalah uang

“Clueless governments still don’t understand that it is their ruinous actions that have created a credit infested and bankrupt world.  They will continue to prescribe the same remedy that caused the problem in the first place, namely more credit and more printed money.  The consequences are clear; we will have hyperinflation, economic and human misery as well as social unrest.”

-Egon von Greyerz, Matterhorn Asset Management-

Pada saat ini dunia penuh dengan ekonomi maupun mata uang yang “sakit”.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini emas telah mengalami kenaikan secara signifikan, yang disebabkan oleh hilangnya daya beli berbagai mata uang, terutama dolar AS.  Peredaran uang selama beberapa tahun terakhir nampaknya tidak terbatas, sedangkan persediaan emas tidak bisa ditingkatkan dengan mudah.

Sebagai akibat dari pencetakan uang yang makin dipercepatkan, semua uang kertas akan terkoreksi terhadap emas dalam 3 sampai 5 tahun kedepan.  Oleh karena itu, dolar AS, pound sterling dan euro sebaiknya dihindari.

Selain itu investor juga perlu mengingat bahwa ekspansi defisit yang cepat selama tahun 1970an disertai dengan tingkat inflasi yang kurang terkendali, sementara disiplin fiskal pada tahun 1990an menghasilkan suatu periode dengan tekanan inflasi yang rendah (lihat tabel dibawah ini).  Maka boleh disimpulkan bahwa dimanapun juga inflasi selalu merupakan a fiscal phenomenon!

Seperti Peter Bernholz mencatat dalam Monetary Regimes and Inflation, “there has never occurred a hyperinflation in history which was not caused by a huge deficit of the state.” (tidak pernah dalam sejarah terjadi suatu inflasi yang sangat tinggi yang tidak disebabkan oleh sebuah defisit pemerintah yang besar sekali)

Maka kita harus siap mengantisipasi kenaikan inflasi dalam beberapa tahun kedepan, dimana emas akan berfungsi sebagai INFLATION HEDGE yang menguntungkan.

Kesimpulan: saya tetap menyarankan investor  untuk mengalokasikan setidaknya 10% dari portofolio pada emas dan/atau perak.  Emas memang telah menguat lebih dari 400% selama dasawarsa terakhir, tetapi ketika dolar AS kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia, harga emas baru akan meroket puluhan persen.

Saya sungguh akan terkejut apabila emas tidak berhasil mencapai US$5,000/toz dalam beberapa tahun kedepan.  Jadi apakah Anda akan membeli emas, atau malahan “apes” (oleh inflasi yang mengerikan)?

Semoga Anda bisa memanfaatkan pelemahan dolar AS di masa depan dan menempatkan dana pada aset yang menjanjikan!

sumber http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/02/14/apakah-amerika-serikat-bangkrut-part-2/

Iklan

Saatnya Beli Emas ; Apakah hyperinflation bisa menghantam Amerika Serikat?

Apakah hyperinflation bisa menghantam Amerika Serikat?

Sekarang ada sejumlah indikator yang menunjukkan peningkatan dalam pencetakan uang dan ancaman permulaan sebuah periode yang hyperinflationary (dengan inflasi yang terlampau tinggi), seperti berikut ini:

  1. defisit yang makin besar di berbagai negara maju;
  2. suku bunga atas obligasi jangka panjang cenderung naik;
  3. banyak komoditas, baik itu hard maupun soft commodities, telah mencetak atau mendekati harga tertinggi sepanjang sejarah;
  4. mayoritas mata uang utama terkoreksi terhadap logam mulia;
  5. emas sudah berada diatas US$1,400/toz dan perak menguat lebih dari 80% tahun yang lalu.

Apa itu hyperinflation?

“By a continuing process of inflation, government can confiscate, secretly and unobserved, an important part of the wealth of their citizens.”

-John Maynard Keynes, Economic Consequences of Peace-

Pertama-tama, saya ingin menggarisbawahi bahwa hyperinflation bukan merupakan suatu pembesaran dari inflasi.  Inflasi dan hyperinflation adalah dua “binatang” yang sangat berbeda.  Sekilas mereka tampak sama, karena mata uang kehilangan daya belinya dalam 2 hal tersebut, tetapi pada kenyataannya mereka berbeda.

INFLASI terjadi pada waktu ekonomi terlampau panas.  Ketika permintaan terhadap sumber daya seperti tenaga kerja dan komoditi begitu tinggi, bersamaan dengan pemberian kredit yang makin banyak, harga sumber daya tersebut pasti akan meningkat.  Ini memaksa harga semua barang dan jasa ikut naik, agar produsen dapat mengimbangi pertambahan biaya.  Maka boleh dikatakan bahwa inflasi pada intinya merupakan sebuah peristiwa yang diakibatkan oleh permintaan.

Sedangkan HYPERINFLATION adalah turunnya kepercayaan terhadap mata uang.  Harga juga ikut naik saat hyperinflation sama halnya dengan suatu kondisi inflasi yang tinggi.  Namun kenaikan harga tersebut bukan karena tingginya permintaan, melainkan karena orang ingin segera membelanjakan uangnya.  Dengan kata lain orang lebih rela membayar berapa saja untuk suatu hal (barang atau komoditas) yang bukan mata uang mereka.

Jadi kita perlu membedakan antara inflasi dan hyperinflation.  Tingkat inflasi yang tinggi sering dialami oleh banyak negara.  Namun kondisi hyperinflation adalah suatu hal yang sangat istimewa, dimana tingkat inflasi bisa naik lebih dari 50% dalam sebulan.  Bahkan tingkat inflasinya bisa naik begitu tajam dengan angka yang kadang sungguh menakjubkan (lihat tabel diatas ini).

Apa yang menyebabkan hyperinflation?

“I’m convinced the US government will go bankrupt, but not tomorrow.  Before they go bankrupt, they’ll print money, and then you’ll get very high inflation rates.  Then you get a depression with high inflation.  Then eventually they’ll go to war.”

-Dr. Marc Faber-

Sejak 1920, dunia telah mengalami 29 kali hyperinflation – terakhir kali terjadi di Zimbabwe awal 2007.  12 diantaranya telah diteliti oleh Peter Bernholz dan ternyata ada kesamaan, yaitu hyperinflations selalu ditimbulkan oleh defisit anggaran yang sebagian besar dibiayai oleh pencetakan uang.

Selain itu, Bernholz juga mencari level dimana hyperinflations pada umumnya bermula.  Ia menemukan bahwa defisit yang mencapai 40 persen atau lebih dari pengeluaran tidak dapat dipertahankan, dan biasanya menuju ke inflasi yang tinggi sekali atau hyperinflations.  Yang menarik adalah bahwa Jepang maupun Amerika Serikat pada saat ini berada tidak jauh dari level yang mendahului hyperinflations, seperti dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.

Kesimpulan: hyperinflations tidak disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang longgar.  Namun mereka berasal dari pemerintah yang membelanjakan uang diluar kemampuan mereka, dan dibantu oleh bank sentral yang membiayai pengeluaran pemerintah tersebut.

Proses ini disebut MONETIZING THE DEBT.  Dengan demikian monetizing debt adalah sebuah proses dengan dua tahap: 1) pemerintah menerbitkan obligasi untuk membiayai pengeluarannya; 2) bank sentral langsung membelinya dengan uang yang baru dicetak.  Oleh karena itu, peredaran uang pada akhirnya meningkat secara signifikan dan mata uang melemah tajam.

Dua contoh yang menakutkan

“It was horrible.  Horrible!  Like lightning it struck. No one was prepared.  The shelves in the grocery stores were empty.  You could buy nothing with your paper money.”

-from Ralph Foster’s Fiat Paper Currency: The History and Evolution of Our Money, via Shadowstats.com-

Hanya untuk memperlihatkan betapa “gilanya” tingkat inflasi sekali mulai tidak terkendali, coba pandang saja gambar dibawah ini yang menunjukkan inflasi di Weimar Germany.  Anda dapat lihat bahwa menjelang akhir 1923, tingkat inflasi bahkan mencapai 16 juta persen per tahun!

Pada waktu itu mata uang Jerman menjadi begitu tidak bernilai sampai orang benar-benar menggunakannya untuk kertas WC atau kertas dinding.  Lalu Anda bisa pergi ke restoran yang bagus misalnya dimana Anda makan enak dan memesan sebuah botol anggur yang mahal.  Tetapi … hari berikutnya botol anggur yang kosong itu bernilai lebih tinggi dibandingkan malam sebelumnya ketika botolnya masih terisi dengan anggur mahal.

Belum lama kita juga menyaksikan hyperinflation yang luar biasa di Zimbabwe.  Bahkan tingkat inflasi tersebut kemungkinan yang paling ekstrem sepanjang sejarah (lihat gambar disamping ini).

Perbedaan antara Amerika Serikat ataupun Jepang dan negara yang telah mengalami hyperinflation adalah bahwa bank sentral kini belum mencetak banyak uang untuk menutupi sebagian besar dari defisit.  Tetapi jika mereka berencana untuk melakukan hal demikian, orang Amerika dan/atau Jepang harus siap-siap membayar ribuan untuk sebuah roti atau semangkok mie.

Mungkinkah terjadi di AS?

Kongres pada saat ini “menghamburkan” uang seperti tidak ada hari esoknya, dan the Fed (bank sentral AS) suka menyuntik uang kedalam ekonomi setiap suatu permasalahan muncul.  Berdasarkan kenyataan yang kurang bijaksana ini, kira-kira berapa besar probabilitas Amerika Serikat akan mengalami inflasi yang tinggi sekali atau malahan hyperinflation?

Sebagai contohnya, yang mungkin akan membuat banyak orang merasa keheranan, hanya Inggris kini terancam hyperinflation karena 100% dari defisit anggaran ditutupi oleh bank sentralnya.  Maka sejak itu, tingkat inflasi di Inggris secara terus-menerus melebihi prediksi yang ditetapkan oleh Bank of England sendiri, dan pada bulan Februari sudah sebesar 4,4% dalam basis tahunan.

Kita hanya dapat berharap bank sentral di AS kedepan akan bersikap cukup bijaksana pada waktu menghadapi krisis berikutnya.  Namun saya secara pribadi berpendapat bahwa the Fed tetap akan mencetak uang baru lagi ketika ekonomi melambat kembali.

Sebagai buktinya, bank sentral AS sudah membeli hampir 95% obligasi pemerintah selama beberapa bulan terakhir dengan QE2 (lihat tabel diatas ini).  Jadi pertanyaan yang penting adalah: “Apakah the Fed akan kembali menerapkan program pelonggaran moneter tambahan pada saat ekonomi AS terancam resesi?  Jika iya, hyperinflation akan menjadi suatu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh investor agar siap dalam menyesuaikan portofolio sebelum terlambat.

Emas adalah satu-satunya safe haven

“The Fed’s quantitative easing enables reckless federal spending like an accommodating bartender enables an alcoholic.”

-Rep. Ron Paul-

Pada tahun ini the Treasury atau Kementerian Keuangan AS perlu menerbitkan hutang baru dan membiayai ulang hutang lama sebesar US$4 trillion lebih.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini per September 2010, Cina dan Jepang memegang paling banyak obligasi pemerintah AS.

Apabila kedua negara tersebut mulai meragukan kemampuan Amerika Serikat untuk melunasi hutangnya dan mengkhawatirkan bank sentral yang akan mencetak uang terus untuk membayar hutang tersebut, maka dolar AS berpeluang anjlok dengan cepat.  Dan … jika dolar AS benar-benar jatuh karena berbagai negara menjual Treasuries (bahkan dengan rugi yang besar) secara bersamaan, emas kemungkinan besar akan “diborong” olehnya sebagai gantinya.

Kesimpulan: makin cepat jumlah hutang bertambah, makin besar tekanan the Fed untuk mencetak uang, yang tentunya akan meningkatkan peredaran uang.  Dan … makin jauh peredaran uang bertambah, makin besar desakan investor di seluruh dunia untuk membeli emas, perak, dan hard assets yang lainnya.

Dengan kata lain, permintaan untuk emas dalam jangka menengah-panjang seharusnya naik terus, menyusul Ben Bernanke dkk. dengan sengaja tidak mau tahu dampak dari tindakan mereka terhadap inflasi.

Selamat berinvestasi dan semoga artikel ini bisa membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

sumber http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/03/28/apakah-hyperinflation-bisa-menghantam-amerika-serikat/

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (1)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan Edisi 19- 25 Juli 2010. Hal. 21

Keceriaan festival Piala dunia 2010 akhirnya mengantarkan Spayol sebagai juara dunia baru. Jika Anda termasuk penggila bola, pasti setuju bahwa kombinasi antara strategi, kekompakan tim, dan kedisiplinan merupakan modal untuk menang. Sama halnya dengan urusan keuangan Anda. Jika hingga saat ini Anda masih sering mengeluh sulit menumpuk jumlah tabungan dan investasi, atau masih banyak tujuan keuangan yang belum tercapai pada waktunya, coba evaluasi kembali. Sudah tepatkah strategi yang Anda gunakan untuk tujuan Anda?

Saya yakin, Anda setuju bahwa pemilihan instrumen keuangan yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan uang yang Anda miliki saat ini. Sejak pertama kali mengisi konsultasi keuangan di sebuah tabloid wanita, saya setia dengan konsep keuangan yang diajarkan oleh ayah saya, yaitu berjaga-jaga, menyimpan, menabung, dan berinvestasi. Apakah menabung artinya harus di tabungan? Apakah berinvestasi artinya harus di properti? Belum tentu!

Rangkaian tulisan saya kali ini akan mengajak Anda untuk mengupas tentang konsep simpanan, tabungan, dan investasi. Saya juga akan menjelaskan secara singkat bagaimana menyesuaikan kegiatan-kegiatan tersebut dengan tujuan keuangan yang Anda punya. Tak lupa juga, saya berikan kiat-kiat untuk memilih instrumen keuangan yang sesuai. Yuk, simak rangkaian tulisan dibawah ini.

Simpanan, tabungan, investasi

Masih ingat dengan konsep ZAPFIN? Saya dan rekan-rekan di ZAP Finance berpendapat bahwa rezeki yang diterima oleh setiap orang harus dapat dikelola untuk membayar zakat atau sosial (Zakat), kebutuhan perlindungan keuangan (Assurance), kebutuhan hidup rutin bulan ini (Present consumption), memenuhi rencana hidup dalam 2 tahun hingga 5 tahun lagi (Future spending), dan juga kebutuhan hidup masa mendatang seperti saat pensiun (Investment).

Meski pun orang sering membicarakan tentang bagaimana bisa menabung atau berinvestasi dari penghasilan yang diterima, sayangnya, masih banyak yang salah mengartikan tujuan dari proses tersebut. Akibatnya? Salah memilih instrumen keuangan pun kerap terjadi. Saya yakin Anda tak mau hal ini terjadi, bukan?

Simpanan pada dasarnya menyisihkan dana untuk digunakan dalam waktu dekat, dalam hitungan bulan. Secara umum, simpanan ini terbagi dua, yaitu simpanan untuk berjaga-jaga dan simpanan bulanan.

Simpanan untuk berjaga-jaga, akrab kita sebut dengan istilah dana darurat. Sedangkan simpanan bulanan, biasanya pengeluarannya itu sudah hampir pasti akan dilakukan. Jika Anda mendapat gaji setiap tanggal 1, pengeluaran untuk berbagai pos pasti baru akan dilakukan secara bertahap. Oleh sebab itu, anggaran untuk bulan ini disebut simpanan bulanan.

Tabungan, merupakan hasil dari proses menabung yang ditujukan untuk keperluan beberapa tahun lagi. Pengeluarannya bisa saja tidak jadi dilakukan dan diganti dengan pengeluaran yang lain. Dengan demikian untuk semua tujuan keuangan yang akan dipenuhi dalam waktu 1 tahun hingga 5 tahun, Anda perlu menabung.

Sedangkan investasi, merupakan proses menyisihkan uang dengan tujuan memperoleh keuntungan dan kenaikan modal di masa mendatang. Nah, untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun, investasilah satu-satunya jawaban Anda. Hingga saat ini, masih sering saya mendapati orang berinvestasi di deposito untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun. Alasannya sederhana, bebas dari resiko pasar seperti resiko naik-turun IHSG, resiko nilai tukar, resiko likuiditas hingga resiko gagal bayar. Tapi ingat, Anda berarti akan terkena resiko inflasi, karena secara historis tingkat suku bunga tabungan selama 10 tahun terakhir selalu dibawah tingkat inflasi.

Lain tujuan, beda strategi

Jika saya tanya pada Anda, dimanakah Anda menyimpan uang untuk tujuan berjaga-jaga? Ada yang menjawab di tabungan, ada yang menjawab di emas, bahkan ada yang menjawab di asuransi!

Untuk setiap tujuan keuangan, maka Anda perlu strategi yang berbeda dalam perencanaannya. Lalu, apakah menabung tidak bisa di reksadana? Jawabannya salah! Tugas saya dan teman-teman perencana keuangan di ZAP Finance adalah memberikan penerangan bahwa yang terpenting itu bagaimana kecocokan antara jangka waktu menabung, profil resiko Anda, dan juga jenis instrumen keuangan yang tersedia.

Setiap instrumen keuangan memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari segi, potensi tingkat imbal hasil per tahun, seberapa cepat dapat dijadikan uang tunai (likuiditas), kemungkinan naik-turunnya nilai investasi dan kemudahan pengurusannya.

Secara fundamental, investasi dapat dibagi kedalam tiga kelas harta. Pertama, komoditas seperti emas, perak, dan koin dinar yang sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara satu tahun hingga diatas lima tahun. Kedua, properti seperti rumah, apartemen, lahan kosong, yang sangat sesuai untuk memperoleh penghasilan rutin dan tujuan keuangan diatas lima tahun. Ketiga, surat berharga, seperti deposito, saham, ORI, bahkan kepemilikan bisnis, yang memiliki varian terbesar sehingga dapat membantu tujuan keuangan untuk semua jangka waktu.

Di beberapa pekan depan, saya akan membahas tentang masing-masing kelas harta tersebut dan bagaimana mencocokan dengan proses menyimpan, menabung, serta berinvestasi. Tentu saja, saya juga akan memberikan berbagai kiat bagaimana memilih produk yang tepat serta kesesuaiannya dengan masing-masing profil resiko. Di bagian akhir, seperti biasa, saya akan berikan contoh kasus agar memudahkan Anda dalam menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (2)
Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.43 – XIV Edisi 26 Juli – 1 Agustus 2010. Hal. 21

 

Saat ini, di pasaran tersedia ratusan varian produk keuangan yang tentunya juga ikut membuat pusing calon investor. Terkadang, akibat pemasaran yang berlebihan, banyak produk keuangan yang salah sasar dan tidak tepat untuk tujuan keuangan Anda. Pekan lalu, kita sudah membahas tentang konsep dasar simpanan, tabungan, dan investasi. Sekarang, saya akan menjabarkan tentang mengapa Anda perlu simpanan dan tabungan, serta bagaimana memilih produk keuangan yang tepat.

Simpanan berjaga-jaga

Setiap orang wajib punya simpanan untuk urusan jaga-jaga yang biasa disebut Dana Darurat. Fungsinya ada dua, yaitu untuk membayar kebutuhan mendadak yang sifatnya insidentil seperti biaya rumah sakit, ban mobil pecah, kulkas rusak, genteng bocor, dan lainnya. Selain itu, sebagai dana talangan saat nilai investasi Anda sedang merosot, padahal Anda sudah akan menggunakan dananya dalam waktu dekat.

Dengan karakteristik yang sangat tidak terduga tersebut, Anda wajib menyimpan dana darurat di tabungan dengan nilai minimal satu bulan pengeluaran rutin. Kemudian, jika dana berlebih, bolehlah untuk menyimpan kelebihannya di deposito atau reksadana pasar uang.

Alasan utama kenapa tidak bisa semuanya di deposito adalah adanya resiko likuiditas. Bagaimana jadinya kalau Anda butuh dana cepat, namun bank sedang libur panjang (cuti bersama lebaran)? Sama halnya dengan reksadana pasar uang, meski menawarkan potensi imbal hasil lebih bagus, namun Anda butuh minimal empat hari kerja untuk pencairannya.

Bagaimana dengan emas mau pun berlian? Jelas bukan pilihan yang ideal untuk dana darurat. Nilainya bisa naik-turun serta belum tentu Anda mendapatkan calon pembeli yang bersedia membayar di harga yang Anda inginkan saat Anda butuh uangnya.

 

Bagaimana dengan asuransi? Nah, asuransi memiliki fungsi yang agak berbeda dengan simpanan berjaga-jaga. Asuransi pada dasarnya produk keuangan yang memberikan perlindungan terhadap kerugian finansial. Setiap orang, paling tidak membutuhkan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Hanya saja, sayangnya saat ini, produk yang ditawarkan semuanya dicampuraduk menjadi satu sampai-sampai ada yang memasarkan asuransi sebagai produk investasi. Kalau demikian, jangan pernah mau membeli produk tersebut.

Simpanan bulan ini

Selain simpanan untuk berjaga-jaga, maka Anda tetap harus menyimpan uang untuk kebutuhan bulan ini. Ingat, setiap Anda gajian, urusan bayar tagihan mau pun belanja di pasar tentu tidak dilakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga, untuk urusan ini, pilihan Anda adalah menyimpan di tabungan biasa dengan fasilitas ATM.

Tabungan untuk urusan hingga 5 tahun

Bisa jadi Anda ingin liburan ke Bali, sedang merencanakan pesta pernikahan, atau membuat dana pendidikan masuk SD untuk si kecil. Apa pun itu, bila jangka waktu yang Anda tuju berkisar antara 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun, saya yakin Anda akan berpikir dua kali untuk menempatkan dananya di saham.

Dengan jangka waktu yang lumayan pendek, Anda tidak sanggup mengambil resiko nilai investasi bisa menukik tajam setelah beberapa tahun menabung, dan juga Anda ingin bisa memastikan ketersediaan saldonya saat dibutuhkan. Jadi, kesimpulannya, untuk strategi menabung, syaratnya nilai investasi harus stabil dan bisa dijadikan uang tunai dengan nilai yang kita inginkan dengan mudah. Apa saja pilihan yang tepat untuk strategi menabung?

Pertama, deposito. Produk ini cocok untuk “tempat parkir” saat memperoleh uang dalam jumlah banyak seperti THR atau bonus dan belum dibutuhkan dalam waktu dekat. Atau juga, bila investasi Anda di reksadana, saham, atau emas sudah mencapai target kebutuhan dana, maka lebih baik langsung diuangkan dan ditempatkan di deposito sampai mau digunakan. Selain itu, jika Anda berinvestasi untuk mendapatkan arus kas, deposito juga sarana yang baik dalam memberikan arus kas pasif. Inilah yang disebut uang yang bekerja untuk Anda.

Kedua, tabungan berjangka. Tabungan biasa yang mengharuskan Anda untuk berkomitmen menyetor dana dengan nominal tertentu dan jangka waktu dari mulai 6 bulan hingga 5 tahun ini, sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara 1 tahun hingga 3 tahun. Meski imbal hasil kurang gurih, namun karena tabungan berjangka merupakan produk bank yang notabene dijamin pemerintah, maka cocok untuk Anda yang berprofil konservatif.

Ketiga, reksadana pasar uang. Jika Anda masih belum paham apa itu reksadana pasar uang, contoh sederhananya adalah kongsian para penabung. Jika Anda ke bank dengan uang Rp. 10 juta, bunga deposito yang diberikan paling banter 7% per tahun. Sedangkan, kalau Anda kumpulkan uang bersama 100 orang lain, maka hampir dipastikan Anda bisa bernegosiasi untuk mendapatkan bunga hingga 8,5% per tahun. Kumpulan uang yang diterjunkan ke produk-produk pasar uang inilah yang disebut reksadana.

Pada awalnya, reksadana pasar uang banyak digunakan oleh investor saham yang memarkirkan dananya diantara waktu trading. Namun, belakangan ini, reksadana pasar uang juga digunakan untuk keperluan dana darurat. Fitur tanpa ATM ternyata cukup menarik karena lebih memperkecil godaan untuk mensabotase dana untuk tujuan lain.

Keempat, Obligasi Ritel Indonesia atau Sukuk Ritel. ORI007 yang akan luncur dalam waktu dekat merupakan pilihan terbaik untuk menabung dana Anda yang akan digunakan dalam 3 hingga 4 tahun. Contohnya, jika Anda sudah punya sejumlah dana untuk uang pangkal masuk SMP untuk si kakak yang saat ini masih di bangku kelas 3 SD, ORI pantas dipilih untuk Anda yang berprofil lebih moderat.

Menabung bukan hanya di tabungan

Pesan terpenting dari tulisan ini adalah menabung bukan berarti harus di tabungan. Reksadana pun bisa menjadi sarana Anda untuk menabung karena saat ini sudah mulai dipasarkan melalui bank dengan pembelian minimal hanya Rp. 100,000. Pekan depan, kita masuk ke topik kesukaan saya yaitu investasi. Jangan putuskan produk keuangan yang mau Anda ambil sebelum membaca KONTAN minggu depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (3)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.45 – XIV Edisi 9 – 15 Agustus 2010. Hal. 21

Investasi merupakan aktivitas keuangan dimana si Investor menempatkan sejumlah dana ke sebuah instrumen keuangan dengan mengharapkan imbal hasil tertentu. Pada dasarnya, semua harta bisa digunakan untuk investasi. Hanya saja, Anda perlu tahu konsekuensinya bahwa potensi return yang diberikan bisa sangat bervariasi. Padahal, Anda punya banyak waktu untuk meningkatkan pundi-pundi uang Anda. Manakah pilihan yang paling tepat untuk Anda? Simak tulisan berikut ini.

Si Kilau Emas

Selain tabungan dan deposito, emas adalah pilihan populer untuk investasi bagi orang Indonésia hingga saat ini. Alasannya sederhana, semua orang paham apa itu emas dan bagaimana memperoleh keuntungan dari emas.

Data menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, harga emas cenderung meningkat 20%[1] secara rata-rata. Selain itu, kapan pun anda memutuskan untuk membeli atau menjual, anda tidak terhalang oleh adanya aturan jatuh tempo pencairan dana, proses hari kerja, ataupun penalti. Jadi, resiko likuiditas cukup rendah.

Meski pun dalam jangka menengah harga emas naik, Anda tetap tidak pernah tahu periode “diskon” harga emas. Oleh sebab itu, jangan menggunakan emas untuk tujuan investasi 1 tahun. Sebaiknya, emas digunakan untuk tujuan investasi diatas 3 tahun hingga 10 tahun. Contohnya untuk biaya uang pangkal sekolah anak, naik haji, modal usaha, untuk persiapan down payment pembelian rumah atau bahkan untuk masa pensiun.

Properti

Pembelian properti untuk investasi memiliki pertimbangan yang agak berbeda dengan rumah tinggal. Pahamilah bahwa yang penting properti yang dipilih disukai oleh pasar dan berpotensi memberikan harga jual tinggi dan cukup likuid. Properti cocok untuk berinvestasi dalam jangka panjang diatas 5 tahun atau sebagai investasi yang memberikan pemasukan rutin. Properti cocok untuk investor yang berprofil konservatif hingga agresif.

Bagaimana dengan berutang untuk membangun rumah kost? Anda perlu melakukan simulasi terlebih dahulu tentang potensi pemasukan dari rumah kost. Pembayaran cicilan haruslah dari pemasukan tersebut, dan sebaiknya mengambil kredit dari bank syariah agar cicilan flat hingga jatuh tempo. Saat utang lunas, maka investasi Anda sudah balik modal. Silahkan menikmati penghasilan pasif dari bisnis rumah kost tersebut.

Saham

Saham adalah investasi modal. Seiring dengan terus meningkatnya kinerja keuangan dari perusahaan yang dipilih, Anda akan menikmati berbagai keuntungan dalam bentuk pembagian deviden dan juga kenaikan dari harga saham tersebut. Harap diingat, dari kenaikan harga saham, keuntungan baru benar-benar di tangan jika Anda menjual saham. Jadi, tidak ada istilah “uang hilang” saat melihat harga saham jeblok, padahal Anda belum menjual sahamnya. Berhubung memiliki resiko pasar yang cukup tinggi, saham cocok untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif.

Hal penting dalam menaruh uang di saham, pastikan apakah Anda berinvestasi atau berdagang. Berdagang atau trading, artinya Anda memperlakukan saham seperti komoditas. Hari ini beli di harga Rp. 5,000, dua hari lagi jual di harga Rp. 5,025. Begitu seterusnya, hingga dalam sebulan bisa jadi transaksi jual-beli mencapai lebih dari sepuluh kali untuk satu jenis saham.

Nah, akan halnya berinvestasi, Anda memiliki tujuan untuk menahan uang di saham hingga periode tujuan investasi terpenuhi. Berhubung harga saham cukup fluktuatif, hampir tidak ada yang bisa meramal dengan akurasi 100% kapan harga saham sedang paling turun atau paling naik. Oleh sebab itu, sebagai investor, Anda sebaiknya melakukan dolar-cost averaging yaitu membeli saham yang sama dengan jumlah uang yang sama setiap bulan. Dalam berinvestasi di saham, pastikan bahwa tujuan keuangan Anda wajib diatas 5 tahun.

Apa dan mengapa reksadana

Reksadana adalah sebuah portofolio investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi. Sering disebut sebagai jagoan investasi untuk para investor retail, dan hampir bisa memuaskan keinginan segala jenis investor. Anda bisa mendapati reksadana yang berinvestasi di sertifikat Bank Indonesia hingga di perusahaan-perusahaan besar. Ada juga reksadana yang berinvestasi di proyek-proyek infrastruktur hingga mendanai proyek universitas.

Banyak yang berkata kepada saya, kenapa tidak langsung saja menanam uang di emas, properti, atau saham? Jika Anda punya modal besar, maka silahkan saja. Namun, jika dana Anda terbatas, mohon maaf, reksadana lah satu-satunya pilihan Anda. Untuk berinvestasi di emas, minimal modal adalah Rp. 3 juta, untuk di properti bisa mencapai ratusan juta. Sedangkan di saham, Anda wajib punya minimal 5 perusahaan yang berbeda, yang tentunya butuh modal awal puluhan juta. Akan halnya reksadana, bisa dimulai hanya dengan ratusan ribu saja!

Cara berinvestasi terbaik di reksadana dengan dolar-cost averaging atau mencicil investasi. Setiap bulan, tentukan tanggal untuk menyetor uang dari rekening gaji ke rekening investasi. Jika Anda takut uangnya tersabotase, buatlah instruksi debit otomatis dan mintalah perencana keuangan memberikan saran & rekomendasi jumlah serta pilihan reksadana. Pastikan setiap bulan Anda memonitor jumlah saldo investasi yang sudah terkumpul sebagai evaluasi kinerja dari manajer investasi. Jika reksadana pilihan hanya memberi hasil 5% di saat yang lain memberi 7%, maka diskusikan dengan perencana keuangan Anda, apa saran dan rekomendasi terbaik untuk kondisi Anda.

Reksadana sangat cocok untuk semua tipe investor dan semua jangka waktu investasi, asalkan disesuaikan dengan tujuannya. Pertama, tujuan membuat dana pendidikan masuk SMP 6 tahun lagi, pilihlah reksadana campuran untuk Anda yang berprofil konservatif dan reksadana saham untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif. Kedua, tujuan membuat dana pensiun 15 tahun lagi, pilihlah reksadana saham, apa pun profil resiko Anda.

Bagaimana prakteknya?

Saya yakin, pasti banyak sekali tujuan investasi yang membutuhkan lebih dari satu produk keuangan untuk mencapainya. Dari awal, saya selalu konsisten bahwa Anda butuh simpanan, tabungan , dan investasi dalam setiap tahapan kehidupan Anda, serta asuransi sebagai perlindungannya. Seperti apa kombinasi yang sesuai untuk Anda, simak bagian akhir dari rangkaian tulisan ini pekan depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (4)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.47 – XIV Edisi 23 – 29 Agustus 2010. Hal. 20

Apa yang Anda lakukan jika punya uang Rp. 100 juta? Banyak orang langsung berseru, Investasi! Padahal, salah satu syarat dasar sebelum memilih berinvestasi adalah tahu tujuan kita dan tahu siapa diri kita sebagai investor. Lain tujuan tentu saja beda strategi keuangannya. Pekan sebelumnya, Anda sudah paham bedanya simpanan, tabungan, & investasi. Mana strategi yang sesuai dan apa produknya? Simak tulisan berikut.

Kenali Profil Resiko

Secara umum, Anda akan tergolong dalam salah satu karakteristik berikut. Si konservatif, yang butuh rasa aman luar biasa tinggi dan tidak sanggup melihat resiko naik-turun investasi. Sebaliknya, Si Agresif, lebih mementingkan kenaikan nilai investasi meski harus berhadapan dengan resiko volatilitas. Nah, ditengah-tengah ada Si Moderat yang tahu bahwa untuk jangka panjang harus menanggung resiko volatilitas, tapi untuk jangka pendek hingga menengah tetap butuh yang aman-aman. Untuk mengetahui apa profil resiko Anda, silahkan coba periksa di www.zapfin.com.

Dana Darurat

Kasus pertama kita, adalah Taufik, seorang dokter yang baru lulus pendidikan Spesialis Anak. Berhubung sudah menikah, meski belum punya anak, Taufik wajib punya dana darurat dalam rencana keuangannya. Panduan umum untuk status menikah, harus punya saldo minimal 6x pengeluaran rutin bulanan. Berbeda untuk dokter Taufik, sarannya adalah punya saldo minimal 12x pengeluaran rutin bulanan. Alasannya, dokter Taufik tidak punya gaji bulanan, dan penghasilannya bervariasi tergantung jumlah pasien dan tindakan bedah yang dilakukan.

Dengan kondisi itu, bisa dipastikan ada bulan-bulan tertentu dimana uang masuk lebih sedikit dari uang keluar. Dus, penting bagi dokter Taufik punya strategi menyimpan di tabungan dan menabung perlahan-lahan di reksadana pasar uang. Jumlahnya? 2x pengeluaran rutin bulanan di tabungan, dan sisanya ditempatkan di reksadana pasar uang agar dana darurat tetap menikmati imbal hasil lebih besar dari deposito.

Dana Pendidikan

Jika kilas balik duapuluh tahun lalu, sepertinya orang tua mudah saja mencari sekolah terlebih membayarnya. Orang tua zaman sekarang dihadapkan dengan pilihan sekolah negeri, sekolah swasta unggulan, dan sekolah nasional plus, yang uang pangkalnya saja bisa untuk beli beberapa sepeda motor!

Kasus kedua, ada Rizki, 28 tahun, menikah dengan satu anak, Arya, 3 tahun. Tentu saja bijaksana jika Rizki mempersiapkan dana pendidikan sejak sekarang. Berdasarkan hasil diskusi dengan planner dari kantor kami, berikut rencana dana pendidikan untuk Arya.

Sekolah Arya Berapa Lama Lagi Durasi Sekolah Uang Pangkal Kebutuhan Dana Strategi Rate Investasi Investasi Bulanan Investasi Lump Sum Produk
TK Swasta 1 tahun 2 tahun 15,000,000 17,250,000 Menabung 6% 1,398,396 0 Tab Berjangka
SD Swasta 3 tahun 6 tahun 30,000,000 45,626,250 Menabung 11.5% 0 32,914,721 Sukuk Ritel 001
SMP Unggulan 9 tahun 3 tahun 30,000,000
105,536,289
Investasi 25% 265,832 0 RD Saham
SMU Unggulan 12 tahun 3 tahun 30,000,000 160,507,503 Investasi 25% 180,988 0 RD Saham
S1 Internasional 16 tahun 4 tahun 100,000,000 935,762,087 Investasi 30% 206,030 0 RD Saham

Sumber: ZAP Finance Consulting Research DivisionÓ2010

Setelah dihitung, total kebutuhan dana untuk sekolah-sekolah yang dipilih oleh Rizki untuk Arya sebesar Rp. 1,2 Milyar. Uang sebanyak itu secara matematis dapat diraih dengan 2 strategi yang berbeda. Pertama, kebutuhan dana masuk TK disiapkan dengan menabung Rp. 1,3 juta per bulan ke tabungan berjangka. Kemudian, dana Rp. 32 juta sudah tersedia untuk masuk SD, sehingga langsung diamankan di Sukuk Ritel 001 yang imbal hasilnya diatas deposito. Kedua, menyiapkan dana masuk SMP, SMA, dan Universitas. Karena target masih diatas 5 tahun lagi, maka saran terbaik adalah investasi di reksadana saham. Khusus untuk masuk Universitas, reksadana saham yang dipilih harus yang komposisinya paling agresif (minimal 90% di saham). Overall, dana pendidikan Rp. 1,2 Milyar hanya perlu Rp. 2 jutaan setiap bulan.

Lantas, bagaimana kalau dalam perjalanannya, Rizki meninggal dunia atau mengalami kecelakaan? Proteksi keuangan dipenuhi dengan membeli polis asuransi jiwa murni, bisa Term Life atau Whole Life. Setelah dihitung, kebutuhan uang pertanggungan senilai Rp. 1 Milyar dapat ditutup dengan premi Rp. 3 juta untuk jenis asuransi Term Life.

Dana Pensiun

Nah, kasus terakhir adalah Putra, 45 tahun, seorang direktur muda di perusahaan minyak dan gas. Telat menyadari belum punya dana untuk pensiun nyaman di usia 55 tahun kelak, Putra pun datang ke kami. Berhubung usia pensiun tinggal 10 tahun lagi, pilihan investasi tidak bisa terlalu agresif dibanding mereka yang masih usia 20an. Dengan biaya hidup bulanan sebesar Rp. 35 juta, modal pensiun yang dibutuhkan menjadi Rp. 2,5 Milyar untuk menyokong hidup hingga usia 75 tahun.

Berhubung Putra berprofil moderat dan istrinya berprofil konservatif, maka reksadana saham bukan pilihan yang menarik untuknya. Jadi, dana pensiun pun disiapkan dengan kombinasi membeli emas dan reksadana pasar uang setiap bulan dengan jumlah masing-masing Rp. 5 juta. Catatan penting, 2 tahun menjelang usia 55 tahun, setengah saldo investasi harus dikonversi ke deposito agar modalnya terjaga. Setengahnya lagi tetap diinvestasikan dalam bentuk emas.

Saat memperoleh dana lebih

Mungkin saja dalam perjalanannya, Anda memperoleh sejumlah dana dari bonus, komisi, atau pun kenaikan gaji yang besar. Bisa jadi Anda memperoleh sejumlah harta warisan dari orang tua atau kerabat. Atau juga Anda tiba-tiba ditelpon karena menang undian.

Jika ini merupakan situasi yang Anda hadapi, saran saya adalah membagi alokasi dana untuk investasi. Rumusan termudah adalah untuk yang berusia dibawah 50 tahun, maka 60% untuk emas, properti, atau saham dan 40% untuk deposito. Sedangkan untuk yang berusia diatas 50 tahun, maka 20% untuk emas dan 80% untuk deposito. Tapi, lain ceritanya ya kalau Anda masih punya utang. Prioritas utama adalah membayar utang.

Saat ini saya yakin Anda sudah lebih paham tentang strategi menyimpan, menabung, dan investasi, serta kapan strategi itu digunakan. Konsep ZAPFIN pun lebih gampang diterapkan. Ingatlah bahwa jumlah gaji tidak menentukan kesuksesan mencapai tujuan finansial. Salah pilih strategi beresiko rencana keuangan sulit terwujud. Semoga tulisan ini bermanfaat. Make your finance alive. Live a Beautiful Life!


Healthy Money, Better Living

Healthy Money, Better Living

Marie Claire Magazines Oktober 2010

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Diandra, sebutlah namanya begitu, seorang senior brand manager di perusahaan produk konsumer terkemuka, melangkah masuk ke sebuah restoran hip di daerah segitiga emas. Berjalan diatas sepatu bersol tinggi Christian Louboutin, ia tampak sangat percaya diri. Di salah satu meja di sudut restoran, telah menunggu tiga orang temannya yang tentu saja berpenampilan serupa. Jadual hari ini, arisan US$200an…

Singkat cerita, hari itu Diandra giliran menang arisan. Dalam hati ia berseru, “Yeah, akhirnya saya punya juga uang sisa untuk bayar tagihan kartu kredit itu. Lelah juga rasanya ditelpon terus oleh petugas call center.” Diam-diam, Diandra pamit sejenak ke kamar wanita sambil membawa tasnya. Ternyata, didalam tas Bottega warna coklatnya, terdapat sebuah amplop tagihan kartu kredit sebesar lima puluh juta rupiah! Alhasil, ia kembali lagi ke meja dengan muka terdiam. Mau ngobrol rasanya tidak mood, mau pulang duluan juga tidak enak. Dalam pikirannya hanya satu, “I need to take control of my own finances!”

It’s not how much you make, but how much you earn

Cerita diatas adalah kisah standar bagi perempuan moderen seperti Diandra. Bagaimana tidak, meski pun gaji terbilang lumayan untuk perempuan seusianya, standar dan tuntutan gaya hidup pun selangit. Perempuan zaman sekarang dihadapkan pada situasi kebutuhan yang sepertinya tak terbatas, dari mulai urusan rumah tangga, penampilan pribadi, urusan anak, hingga membantu saudara yang kurang beruntung. Orang banyak berpendapat bahwa solusi untuk itu semua adalah punya penghasilan yang jauh lebih besar lagi.

Statistik membuktikan bahwa secara rata-rata, 8 dari 10 orang wanita akan mengalami kenaikan pengeluaran sebesar 15% bila penghasilan naik 10%.

Padahal, berapa pun naiknya penghasilan Anda, jika terus diikuti oleh kenaikan standar hidup, tentunya tidak akan ada yang bersisa untuk ditabung dan diinvestasikan. Bahkan, yang sering terjadi, utang makin menumpuk seperti Diandra. Sehingga, perencana keuangan seperti saya, berpendapat yang terpenting adalah berapa besar dari penghasilan yang dapat Anda kelola untuk hidup hari ini, beberapa tahun lagi, dan masa mendatang.

Financial Check-up

Tahu dengan persis berapa angka-angka kita merupakan kunci penting dalam mengambil alih kendali keuangan Anda. Bila sampai detik ini Anda masih tidak perduli, maka Anda berasumsi bahwa Anda akan terus memiliki pekerjaan yang baik, bisnis Anda terus sukses, gaji Anda selalu meningkat lebih tinggi daripada inflasi dan Anda sama sekali tidak punya sanak saudara atau teman yang mungkin perlu bantuan Anda.

Jika Diandra mau tahu apa yang salah dalam manajemen keuangan pribadinya, maka langkah pertama harus melakukan financial check-up. Anda bisa melakukannya sendiri di website keuangan seperti www.zapfin.com atau minta bantuan perencana keuangan independen. Secara sederhana, Anda perlu membuat daftar harta dan utang apa saja yang Anda miliki saat ini, serta daftar seluruh penghasilan dan pengeluaran dalam setahun. Hasil dari financial check up akan mengeluarkan indikator sebagai berikut:

Indikator Apa Itu Pemula Sehat Ideal Gawat Darurat
Savings Ratio Berapa % dari penghasilan rutin yang bisa ditabung 10% 25%-30% 0% – 5%
Debt-Service Ratio Berapa % dari penghasilan rutin yang dipakai untuk bayar total cicilan utang 30% 0% – 20% Diatas 35%
Liquidity Ratio Berapa jumlah dana tunai yang bisa dipakai untuk menunjang hidup, jika kehilangan penghasilan 2x pengeluaran rutin bulanan 12x pengeluaran rutin bulanan 0

 

Memiliki Flexibel Budget

Hidup apa yang indah buat Diandra? Punya tas Bottega, sepatu Louboutin, ponsel iPhone, ke spa setiap bulan dan liburan ke Bali setiap tahun. Buatnya, tidak penting punya mobil yang mahal. Kondisinya mungkin berbeda dengan Sasa, temannya. Dengan prioritas yang berbeda-beda, pastinya Anda akan memiliki budget yang bervariasi dengan perempuan lain. Anda yang lajang tentu punya prioritas yang lain dengan yang sudah menikah. Anda yang tidak bekerja juga pasti punya prioritas berbeda dengan yang berkarir di kantoran.

Saya ingin mengajak Anda untuk membuat prioritas dengan menggunakan metode ZAPFIN. Penghasilan Anda harus bisa dialokasikan untuk;

  1. Zakat: memberikan kembali kepada komunitas.
  2. Assurance: melindungi keluarga untuk hal tak terduga.
  3. Present consumption: menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup bulan ini.
  4. Future spending: menabung untuk rencana-rencana cantik Anda di beberapa tahun mendatang.
  5. Investment: beirnvestasi untuk masa depan pensiun yang cantik, gaya, dan tetap kaya.

Berapa pun uang yang Anda peroleh dari hasil kerja, kelima elemen diatas jangan ditinggalkan. Komposisi ideal dari alokasi penghasilan sangat tergantung dari bagaimana Anda memandang hidup yang indah dan sejahtera. Namun, gambar berikut bisa jadi patokan umum.

 

Budget yang Anda buat, bisa berubah setiap tahun, karena hidup Anda tentu dinamis dan terus berubah prioritasnya. Namun, selalu ingat bahwa lima elemen diatas tidak boleh ditinggalkan. Supaya budget yang dibuat bisa diterapkan dengan mudah, ini dia caranya.

 

#1. Sesuaikan standar hidup dengan anggaran. Kesalahan terbesar dalam membuat budget adalah tidak realistis dan tidak sesuai dengan gaya hidup Anda. Biasanya, pemula akan mencoba berhemat secara sporadis di semua pos pengeluaran. Tahu apa yang terjadi? Seperti layaknya orang berdiet tanpa strategi, berat badan pasti turun drastis dalam sebulan, tetapi beberapa bulan berikutnya akan menanjak secara pasti hingga melebihi berat badan awal Anda.

Jika Anda merasa wajib punya tas branded baru setiap tahun, maka Anda harus punya rekening “My next branded bag” account. Coba sisihkan uang setiap bulan, sewaktu dananya terkumpul, silahkan membeli tas incaran Anda.

#2. Alokasikan penghasilan dengan ZAPFINÔ. Pernah dengar kan pepatah, money is never enough? Kita seringkali merasa uang yang dimiliki tidak pernah cukup. Misalnya Virna, 30 tahun, pertama kali bekerja setelah lulus kuliah di sebuah perusahaan Sekuritas dengan gaji bersih Rp. 5 juta. Meski pun sekarang gajinya sudah meningkat sampai 5x lipat, dia tetap merasa setiap bulan tidak pernah cukup untuk membayar keperluan hidup. Solusinya, alokasikan penghasilan untuk kelima elemen itu. Tidak benar bukan Anda sibuk berinvestasi, tapi tidak menikmati hidup bulan ini?

#3. Bandingkan pengeluaran aktual dengan budget. Suka atau tidak, kita harus bandingkan apa yang sudah kita anggarkan dengan apa yang benar-benar kita lakukan. Dengan perbandingan ini, kita tahu apakah mulut sama dengan perbuatan.

How to get me committed to my own money

1. Buat rekening-rekening terpisah untuk urusan belanja bulanan, bayar tagihan utilitas, rekening investasi, dan rekening khusus seperti “My shopping account” atau “Spa for me”. Anda minimal harus punya tiga rekening: Urusan rumah tangga, urusan pribadi, dan urusan bayar kartu kredit.

2. Tiga hari setelah gajian, buat instruksi debit otomatis ke rekening investasi. Kalau tidak begini, pasti Anda akan selalu sabotase uang sendiri.

3. Jika tidak terbiasa dengan transaksi elektronik, gunakan metode amplop. Isilah amplop sesuai dengan anggaran bulan itu. Kalau sudah mulai tipis, padahal belum akhir bulan, ya terpaksa berhemat dong!

http://www.zapfin.com/index.php?option=com_content&task=view&id=155&Itemid=81

Saatnya Beli EMAS : Apakah Emas ‘Mencari Nafas’ Terlebih Dahulu?

Apakah Emas ‘Mencari Nafas’ Terlebih Dahulu?

Bulan yang lalu emas ternyata berhasil membukukan kenaikan bulanan tertinggi sejak Agustus 2010 silam.  Kenaikan tersebut didukung oleh eskalasi kerusuhan di Libya dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong investor untuk membeli logam mulia sebagai safe haven atau aset aman.

Kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menumbangkan pemimpin di Tunisia dan Mesir sebelum menyebar ke Libya, Bahrain, Yaman dan negara-negara lain, memicu kenaikan sebesar 6% pada harga emas di bulan Februari.

Kenaikan emas juga dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia yang telah menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi.  Bahkan harga emas sempat mencatat rekor tertingginya di US$1,444.40/toz pada hari Senin 7 Maret, sebelum melemah pada dua hari perdagangan terakhir minggu kemarin.

Dolar AS di persimpangan jalan

“Gold is money.  Everything else is credit.”

-J.P. Morgan-

Selain faktor yang disebut diatas, emas pun diuntungkan oleh dolar AS yang merosot ke level terendahnya selama 3 ½ bulan terhadap sejumlah mata uang utama.  Kemungkinan koreksi tersebut akan berlanjut sepanjang Kepala the Fed Ben Bernanke melanjutkan program kebijakan moneternya (quantitative easing).

Namun dolar AS rupanya tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan sedikitpun, apalagi setelah dollar index kini berada dekat support-nya yang sudah bertahan selama 3 tahun lebih (lihat grafik dibawah ini).

Sekarang pertanyaan adalah apakah dollar index akan bertahan di atas sekitar 76.90, yang merupakan support kuat untuk saat ini, atau tidak.  Maka Anda sebaiknya perhatikan pergerakan dolar AS dengan seksama sebab nasibnya akan ikut menentukan langkah emas kedepan.

Kesimpulan: jika support dollar index dipecahkan dan dolar AS kembali melemah terhadap mata uang utama di dunia, emas kemungkinan besar akan melonjak ke US$1,500an/toz.

Waspadai koreksi dalam jangka pendek

“Gold has worked down from Alexander’s time …  When something holds good for two thousand years I do not believe it can be so because of prejudice or mistaken theory.”

-Bernard Baruch-

Berdasarkan grafik dibawah ini, emas pada umumnya mengalami suatu koreksi pada bulan Maret.  Jadi investor yang ketinggalan rally dari US$1,308/toz ke US$1,400an/toz kemungkinan akan diberikan peluang untuk buy on weakness atau membeli emas pada saat melemah.

Terutama periode dari 2001 hingga 2010 menarik karena jangka waktu tersebut mewakili bull market yang sedang berlangsung.  Menurut hemat saya, arah pergerakan harga emas sampai akhir tahun ini akan berjalan seperti berikutnya:

  • bulan Maret: pelemahan yang telah dimulai pada hari Kamis 10 Maret merupakan koreksi yang sehat, setelah harga emas naik lebih dari 10% hanya dalam 5 minggu.
  • bulan April dan Mei: sesuai dengan pola harga sebelumnya, kemungkinan emas akan berhasil menguat kembali pada dua bulan tersebut.
  • bulan Juni hingga Juli/Agustus: kuncinya pada bulan Juni adalah QE2 atau program pelonggaran moneter yang akan berakhir pada bulan Juni mendatang.  Apabila pembelian obligasi pemerintah benar-benar dihentikan oleh bank sentral AS, saya sungguh khawatir bursa saham maupun pasar emas akan anjlok secara signifikan. Terakhir kali terjadi koreksi yang besar adalah dari bulan Juli sampai Oktober 2008, dimana harga emas turun dari US$989.60/toz ke US$681/toz.  Apakah sejarah akan terulang?  Nanti pada bulan Juni akan saya coba mengangkat topik ini dan mengulasnya secara lebih dalam lewat analisa fundamental maupun teknikal.
  • bulan September hingga Desember: jika bursa saham terperosok dan tingkat suku bunga atas obligasi pemerintah melonjak, seiring dengan keengganan investor asing untuk menggantikan peran the Fed sebagai pembeli siaga selama stimulus moneter dilaksanakan, desakan untuk menerapkan QE3 atau program lanjutan akan meningkat. Maka pasar emas mungkin baru akan bangkit lagi pasca tambahan likuiditas oleh bank sentral dari AS dan juga negara-negara lain, dan memulai tahap terakhir dari bull market.

Kesimpulan: volatilitas diperkirakan akan lebih tinggi selama beberapa bulan yang akan datang.  Saya menyarankan investor untuk memusatkan perhatian kepada kebijakan the Fed dan pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama dunia kedepan karena kedua hal itu akan sangat mempengaruhi pasar emas.  Waspadai pula peluang koreksi pada harga emas yang cukup besar di akhir semester pertama bersamaan dengan selesainya QE2.

Technical outlook

Seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini, emas telah naik sekitar 10% dalam 6 pekan terakhir dari US$1,308/toz sampai US$1,444.40/toz pada hari Senin yang lalu.  Selama kenaikan tersebut, harga emas bergerak antara channel line, yang baru ditembus pada hari Kamis ketika support-nya berada di sekitar US$1,427/toz.

Sebelumnya memang sudah ada indikasi bahwa akan terjadi pelemahan, yang ditunjukkan oleh bearish divergence baik pada RSI maupun MACD.  Jadi pelaku pasar tidak terlalu terkejut pada saat koreksi berlangsung.

Lalu kalau kita meneliti grafik harian emas untuk mencari entry point atau titik masuk yang menarik (lihat grafik dibawah ini), zona beli yang pertama terletak antara 38.2% dan 23.6% fibonacci retracement yang masing-masing berada di US$1,392.30/toz dan US$1412.21/toz.

Kemungkinan pelemahan harga emas pada bulan ini akan cenderung terbatas, dan seharusnya pasar emas menjadi bullish lagi seusai konsolidasi.  Dan … jika faktor musiman tetap berlaku tahun ini, emas berpeluang menguat lebih lanjut pada bulan April dan Mei.

Supaya laporan ini lengkap, saya juga menambahkan satu grafik lagi dibawah ini yang menunjukkan bahwa pola harga sekarang sangat mirip dengan pola yang terbentuk antara bulan Juni dan September 2010.

Apabila kelanjutan dari pola tersebut kedepan sama dengan yang sebelumnya, investor dapat mengharapkan target emas sebesar US$1,550/toz.

Selamat berinvestasi di pasar emas dan semoga artikel ini bisa membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/03/14/apakah-emas-mencari-nafas-terlebih-dahulu/