Separuh Timor Leste sudah tersambung WiMAX: Indonesia perlu belajar dari Timor Leste

Separuh Timor Leste sudah tersambung WiMAX: Indonesia perlu belajar dari Timor Leste

Oleh Onno W. Purbo (detik.inet)

Dili – Kami berempat, Pak Kemal Prihatman, Pak Muchlis, Pak Harry Sufehmi dan saya, Onno W. Purbo,  berangkat dari Indonesia dengan misi berkontribusi membantu IT di Timor Leste khususnya dalam bidang open source. Kami berada di Timor Leste antara tanggal 1-5 Juni 2009.

Istana Perdaan Menteri Timor LesteIstana Perdana Menteri Timor Leste

Kami di sambut oleh teman-teman dari Ministry of Infrastructure Timor Leste sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk masalah telekomunikasi, jalan dan energy. Teman yang menyambut kami adalah Pak Paulo Dacosta, Pak Hilman Akil dan dua orang staff wanita. Pak Paulo Dacosta yang merupakan salah seorang manajer di Ministry of Infrastructure. Sedang, Pak Hilman Akil merupakan advisor untuk Direktorat National ICT di bawah Ministry of Infrastructure.

Dalam obrolan awal kami dengan teman-teman dari Timor Leste ini, hal yang akan menarik bagi kita di Indonesia adalah keberhasilan Ministry of Infrastructure Timor Leste, yang di pimpin oleh Pak Pedro Lay da Silva salah seorang lulusan Atmajaya. Timor Leste sedang implementasi National Connevtivity Project (NCP) dilakukan oleh Directorate National ICT dari Ministry of Infrastructure, yang di pimpin oleh Pak Flavio C. Neves lulusan UGM.

Melalui NCP, Ministry of Infrastructure Timor Leste berhasil menyambungkan 5 distrik dari 13 distrik yang ada di Timor Leste menggunakan WiMAX. Hampir setengah dari Timor Leste tersambung WiMAX. Di samping itu mereka juga mengoperasikan VoIP atau lebih tepat-nya Next Generation Network (NGN) seperti yang kita kenal di VoIP Rakyat di atas  infrastuktur WiMAX mereka.

Hal ini menjadikan biaya telekomunikasi secara keseluruhan akan menjadi rendah. Naga-naga-nya Indonesia tertinggal jauh dan harus belajar ke Timor Leste dalam implementasi WiMAX & NGN.

Directorate National ICT di bawah Ministry of Infrastructure Timor Leste pada saat ini sedang mengimplementasikan National Connectivity Project (NCP) yang merupakan infrastruktur kunci untuk e-government Timor Leste yang akan datang. Dikawal oleh Pak Hilman Akil seorang Indonesia, seorang alumni MIT Amerika Serikat, yang menjadi advisor untuk Directorate National ICT proses tender hingga pengawalan implementasi national connectivity project dilakukan.

Pada dasarnya National Connectivity Project (NCP) ini lahir dari kebutuhan akan komunikasi data untuk seluruh jajaran pemerintah di Timor Leste. Proyek ini akan mendukung komnunikasi data antara departemen dengan departemen lainnya, maupun antara Dili dengan pemerintahan distrik.

Di dalam implementasinya, NCP ini ada tiga Phase, yakni Phase-1 untuk Dili, Oecusse dan Baucau, Phase-2 untuk Maliana, Ermera, Suai, dan Batugade (di perbatasan), dan Phase-3 Ainaro, Liquica, Aileu, Manatuto,Same, dan Viqueque dan Phase tambahan untuk Perbatasan, yakni Sakato, Salele dan Bobomento.

Seluruh distrik seluruh negara Timor Leste kemungkinan akan tersambung secara penuh paling tidak akhir tahun 2009 atau awal 2010. Antar Distrik digunakan infrastruktur VSAT menggunakan satelit Telkom-2. Dari ibu kota distrik, antar kantor pemerintah digunakan WiMAX versi 802.16d yang bekerja pada frekuensi 3.5GHz. Sedang di dalam gedung pemerintah digunakan WiFi dan jaringan LAN.

Yang lebih mengagumkan, seluruh proses National Connectivity Project (NCP) dilakukan dalam waktu yang singkat. Agustus 2008 konsep NCP mulai dimatangkan. Termasuk proses study banding terhadap berbagai negara yang telah melakukan implementasi WiMAX seperti di Nauru. Ada 18 peserta tender yang ingin berpartisipasi di NCP dari berbagai negara seperti Australia, Portugal, Singapore, Singapore, Indonesia, dengan 9 prakualifikasi, tapi hanya 7 peserta yang memasukan dokumen. Proses tender di menangkan oleh Telkom Indonesia International yang di pimpin oleh Pak Mulya Tambunan.

Proses transfer teknologi di lakukan dengan baik. Untuk tahap pertama, implementasi di tiga Distrik, Telkom Indonesia International yang melakukan implementasi sambil melakukan training terhadap orang Timor Leste.

Untuk dua (2) distrik selanjutnya, proses implementasi dilakukan oleh teman-teman dari Timor Leste sendiri dengan panduan dari Jakarta. Ada sekitar 30-an orang Timor Leste yang direkrut sebagai help desk dan call center untuk implementasi National Connectivity Project (NCP). Salah satu kunci sukses dari NCP adalah alokasi budget untuk capacity building, penaikan kapasitas dari kemampuan SDM, termasuk di dalamnya beasiswa untuk staff NCP untuk belajar ICT. Seperti Linda salah satu staff NCP ternyata lulusan STT Telkom (sekarang IT Telkom di Bandung).

Demikian laporan singkat dari perkembangan Timor Leste di bidang ICT yang tampaknya jauh lebih maju dari apa yang kita sangka di Indonesia. Kita tampaknya perlu belajar juga ke Timor Leste.

→ Leave a Comment

Iklan

Pensiun : Jadi Pengusaha Setelah Pensiun, Kenapa Tidak?

Jadi Pengusaha Setelah Pensiun, Kenapa Tidak?
Budi Cahyadi – detikFinance


Foto: Budi Cahyadi

Jakarta – Pensiun merupakan suatu proses perubahan yang besar dalam kehidupan kita. Mengubah kebiasaan bekerja sebagai karyawan yang selalu berhubungan dengan peraturan dan  budaya perusahaan selama puluhan tahun, menjadi individu yang bebas melakukan pilihan untuk mengisi sisa hidup ini tidaklah mudah. Apa mau dikata, kita harus menentukan pilihan.

Salah satu pilihan yang banyak diambil adalah melakukan bisnis  (wirausaha) untuk kegiatan setelah pensiun nanti. Mari kita bahas siasat jitu dalam menyikapi kehidupan baru sebagai pengusaha setelah pensiun.

Perubahan cara berpikir (mindset) mutlak harus dilakukan. Dari seorang pekerja yang terbiasa menggantungkan penghasilan dari gaji, tunjangan dan bonus dari perusahaan, kini harus mampu mengelola dana yang ada, baik dari tabungan selama masa kerja maupun dari uang pesangon, untuk mencukupi kebutuhan sisa hidup ini. Artinya, apapun usaha yang akan anda geluti, harus memiliki harapan baik akan menciptakan pendapatan (income) pengganti penghasilan anda.

Lantas, bagaimana kita memulainya? Pertama yang harus dilakukan adalah menguatkan keberanian anda.

Banyak orang mengurungkan niat menjadi pengusaha karena tidak mampu mengatasi rasa takut untuk memulai usaha. Takut gagal (bangkrut), takut tertipu dan masih banyak ketakutan-ketakutan yang lain.

Saya teringat  gurauan seorang teman menyikapi hal tersebut. Ketakutan yang berlebihan tidak akan membawa kita menuju sukses. Sukses diawali dengan tindakan. Bayangkan saja seperti kita buang air di WC. Kita tidak pernah berfikir, akan sukseskah buang air kita sekarang? Kita bertindak dan tiba-tiba semuanya mencapai titik akhir. Melegakan berarti sukses. Kalau belum sukses, siasati dengan makan pepaya atau obat pencahar. Sederhana kan?

Mulailah usaha anda dengan mengembangkan ide-ide yang orisinal dan unik. Yang terpenting anda menyukai ide-ide tersebut. Bagaimana unik dan orisinalnya ide anda, kalau anda tidak menyukainya, anda akan melakukannya dengan setengah hati. Sesuatu yang kita lakukan dengan setengah hati, hasilnya tidak akan maksimal. Kemudian ciptakan perbedaan dari produk usaha anda. Karena perbedaan itulah yang membuat langgeng usaha anda. Setelah itu rencanakanlah usaha anda dengan baik.

Perencanaan Usaha dimulai dengan melakukan perencanaan keuangan pribadi setelah menerima pesangon dari perusahaan untuk mempertahankan kualitas sisa kehidupan anda cukup terjaga.

Lunasi Hutang. Pastikan bahwa sudah tidak ada lagi kewajiban hutang kepada pihak lain. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat tidak ada lagi pendapatan rutin (gaji) seperti masa anda masih bekerja. Beban hutang hanya akan menjadi ‘hantu’ kehidupan yang akan selalu mengganggu ketenangan sisa masa hidup anda.

Sisihkan biaya hidup. Dalam  usaha, ada 2 hal yang akan terjadi, kalau tidak untung ya rugi. Awal usaha adalah proses awal belajar. Tentu resiko belum dapat mencetak keuntungan cukup besar. Disisi lain, kita sudah tidak ada lagi pendapatan rutin. Untuk itu, perlu kita menyisihkan biaya hidup kita paling tidak untuk 6 sampai 12 bulan mendatang. Biaya hidup diperhitungkan atas dasar rata-rata pengeluaran rutin kita setiap bulan. Dana untuk biaya hidup ini dapat kita simpan dalam instrumen keuangan yang mudah dicairkan (liquid). Tabungan biasa yang memiliki ATM misalnya.

Bentuk dana darurat. Usia yang sudah tidak muda lagi biasanya membutuhkan dana yang relatif lebih besar untuk menjaga kesehatan dibandingkan waktu kita masih muda.  Sisihkanlah sejumlah dana untuk keperluan tersebut, minimal setara dengan 3 bulan biaya hidup kita. Karena sifatnya yang tidak rutin, Dana Darurat dapat disimpan pada instrumen yang relatif liquid, namun memliki kemampuan perkembangan nilai yang cukup baik. Deposito misalnya.

Masih ada tanggungan Pendidikan Anak? Jika ya, sisihkanlah sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai pendidikan anak kita tersendat ditengah jalan. Bagi anda yang sudah memiliki dana pendidikan anak baik itu dalam bentuk asuransi dana pendidikan, reksadana pendidikan anak ataupun instrumen lain, pastikan jumlah yang tersedia sudah sesuai dengan kebutuhan aktual saat ini dan memenuhi nilai masa depan (future value) sampai si anak selesai kuliah. Jika belum cukup, sisihkan sebagian uang pesangon untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Setelah peta pertahanan finansial pribadi anda sudah terencana dengan baik, barulah sisa pesangon yang masih ada kita manfaatkan sebagai modal pengembangan aset yang kita miliki.
Kurang bijaksana bila seluruh dana yang tersedia di manfaatkan seluruhnya sebagai modal usaha. Harus ada dana cadangan untuk menghadapi kemungkinan usaha kita tidak berjalan dengan baik. Kami sarankan perbandingan antara Dana cadangan dan Modal usaha adalah sebagai berikut :

70 % sebagai dana cadangan. Manfaatkan dana cadangan ini untuk bisa berkembang melalui investasi.  Penempatan dana cadangan  bisa pada instrumen instrumen investasi yang bersifat konservatif, moderat, mengingat profil risiko investasi sebagai pensiunan (usia tidak muda lagi) yang anda miliki. Instrumen yang dapat dipilih antara lain Deposito berjangka, reksadana pendapatan tetap atau reksadana campuran.

30% sebagai modal usaha. Mengapa untuk modal usaha ‘hanya’ 30 %? Mengawali sebuah usaha yang notabene adalah kegiatan yang relatif baru bagi anda, akan menghadapi kemungkinan resiko terburuk, yaitu gagal. Kegagalan dalam usaha adalah salah satu proses pembelajaran. Pengalaman akan kegagalan inilah yang akan membuat anda semakin lihai dalam berbisnis. Yang berarti semakin dekat pada kesuksesan usaha anda. Ingatlah, Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan leh berapa kali ia mampu bangkit dari kegagalannya. Dengan adanya dana cadangan, kemampuan anda untuk bangkit kembali disisi finansial masih terbuka lebar.

Nah sekarang, peta pertahanan finansial pribadi anda sudah terbentuk. Anda dapat lebih fokus untuk melanjutkan perencanaan usaha anda setelah pensiun.
Ide-ide anda sebagai modal utama dapat anda sinergikan dengan kekuatan modal keuangan yang tersedia. Usahakanlah untuk menggunakan modal sendiri dulu untuk memulai usaha yang baru anda rintis. Setelah usaha berjalan sesuai dengan harapan, tambahan modal berupa kredit usaha dari bank layak untuk dipertimbangkan.

Perencanaan selanjutnya sangat bergantung pada jenis usaha yang akan anda geluti. Buatlah perencanaan serinci mungkin. Semakin rinci perencanaan anda, akan semakin mudah menyikapi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity) dan ancaman (threadness) usaha anda. Ini akan sangat membantu  pengelolaan usaha anda selalu berada pada jalur yang benar dan arah yang tepat. Jangan lupa untuk memperkaya kemampuan intelektual anda dengan membaca literatur-literatur terkait.

Anda telah menjatuhkan pilihan untuk menjadi pengusaha. Anda menjadi kepala bukan ekor. Apakah kemudian badan anda besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana anda mengelola usaha anda. Jangan khawatir, ilmu dan teknologi manajemen usaha dewasa ini sudah sangat maju dan mudah di dapat. Anda tinggal menerapkannya.

Dunia usaha dapat dianalogikan seperti antrian. Siapa yang datang lebih dulu, akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Jadi jangan menunda niat anda untuk menjadi pengusaha. Wujudkan segera.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda. Selamat datang di dunia Usaha, dan sukses untuk anda.

Budi Cahyadi, CFP®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services

(qom/qom)

Mahasiswa : Lomba Investigasi Korupsi Berhadiah Rp 30 Juta, Mau?

Ok setuju… sekali dari pada berantem terus… dan buktikan kalo kamu bisa…

Lomba Investigasi Korupsi Berhadiah Rp 30 Juta, Mau?
Ilustrasi: Budaya harus pula dilawan dengan pendekatan budaya. Yaitu, dengan membudayakan gerakan memberantas korupsi itu sendiri, khususnya di kalangan kaum muda, para mahasiswa, sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan masa depan bangsa ini.

Jumat, 19 Juni 2009 | 09:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mahasiswa tidak cukup hanya berdemonstrasi dan berteriak pemberantasan korupsi. Sebagai intelektual muda, mungkin ini saatnya bagi mereka berbuat lebih jauh memberantas “budaya” tersebut.

Hampir di semua sektor publik, korupsi di negeri ini sudah merajalela. Mulai bidang kesehatan sampai pendidikan, bahkan yang tak kalah marak adalah korupsi di sektor pengelolaan sumber daya alam, pertambangan, migas, penebangan kayu, perkebunan berskala besar, dan lain-lainnya.

Hebatnya, sampai hari ini korupsi sukar diberantas hingga ke akar-akarnya. Perbuatan korupsi yang satu hampir selalu diikuti tindak korupsi lainnya. Ya, korupsi benar-benar sudah membudaya.

Budaya harus pula dilawan dengan pendekatan budaya, yaitu dengan membudayakan gerakan memberantas korupsi itu sendiri, khususnya di kalangan kaum muda, para mahasiswa, sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan masa depan bangsa ini.

Anda mahasiswa? Tertarik membedah permasalahan korupsi lebih mendalam dan mencari pengalaman melakukan investigasi korupsi?

ICW, Ramon Magsaysay Foundation, dan JATAM bekerja sama mengundang para mahasiswa untuk mengirimkan proposal dalam Lomba Investigasi Korupsi; Anak Muda Berantas Korupsi.

Syarat utama lomba ini memang hanya untuk mahasiswa dengan usia maksimum 24 tahun. Syarat lainnya, proposal harus disusun beregu atau oleh tim yang beranggotakan minimal 2 (dua) orang dan maksimal 5 (lima) orang.

Tema proposal investigasi harus belum pernah dipublikasikan. Pengiriman proposal paling lambat 5 Juli 2009 dalam bentuk softcopy melalui lombainvestigasi@gmail.com.

Selain menambah pengalaman dan wawasan baru, pemenang lomba akan meraih hadiah total sebesar 30 juta. Keterangan lebih detail bisa dilihat di http://www.jatam.org atau http://jatam.org/forum.
LTF

Akankah terjadi setelah Pilpres 8 Juli : Kepentingan Politik dan Twitter

Melihat perkembangan kampanye pilpres 2009 yang semkain panas ini mungkinkah yang terjadi di Iran akan terjadi di Indonesia……?

Kepentingan Politik dan Twitter

Oleh Hendra W Saputro

twitter_logoKehadiran Twitter sebagai media online jejaring sosial cukup mendapat tempat dihati pengguna internet dunia. Fungsinya sebagai penyebar informasi yang singkat, padat, real time dan mudah penggunaanya sering dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Misalnya pertemanan, marketing, bisnis, pendidikan, dunia selebritis, dan bahkan dalam ranah politik.

Dalam kaitannya dengan dunia politik, Pemerintah Israel pun mengumumkan secara resmi bahwa mereka akan melakukan konferensi pers via Twitter sejak 30 Desember tahun lalu. Kemudian dalam bidang pendidikan dan teknologi, NASA juga menggunakan Twitter untuk memberi berita terbaru mengenai penemuan air di Mars pada Oktober 2007 silam.

Kabar terbaru, media online Twitter dapat dijadikan sarana demonstrasi besar-besaran seperti yang terjadi di Moldova, negara pecahan dari Uni Soviet. Menurut berita yang dilansir jurnalis BBC Oana Lungescu, adalah Natalia Morar, seorang jurnalis muda Moldova yang dituduh menjadi otak “Revolusi Twitter” di Moldova. Ditegaskan bahwa banyak demonstrator yang diingatkan untuk terlibat melalui tools sms dan social networking di internet.

Ibukota Moldova, Chisinau, diguncang oleh protes pada awal bulan April 2009 yang mengklaim bahwa pemilu yang mengembalikan Partai Komunis ke dalam kekuasaan adalah curang. Secara resmi Natalia Morar ditangkap Pemerintah Moldova karena menolong mengorganisasi kerusuhan massa. Natalia menghadapi tuntutan 15 tahun dipenjara, tetapi dengan kuat menyangkal segala keterlibatannya dalam kekerasan.

Pihak berwenang, ujarnya, tidak menunjukkan bukti apapun baik dalam bentuk foto, video, atau bukti lainnya sebagai ganti atas tuduhan melawan dirinya.

Dengan senyum simpul, Natalia menjelaskan “Itu semua terjadi melalui Twitter, blogosfer, internet, SMS, website-website dan semua hal-hal tersebut. Kami hanya bertemu, kami bertukar-pikiran selama 15 menit, dan memutuskan untuk melakuka flash mob (pertemuan publik spontan yang diatur melalui internet)

“Dalam beberapa jam, 15.000 orang turun ke jalan.”

Lantas apakah ia menyebut dirinya adalah seorang wanita yang berbahaya? Pertanyaan ini membuat ia tertawa. “Saya hanya wanita muda yang aktif (tertarik dengan Negara saya sendiri), tak ada yang lain. Saya hanya orang yang bebas dan saya ingin bebas.”

Pergolakan Politik Iran dan Twitter

Dibelahan dunia lain, keadaan pergolakan politik terjadi di Iran. Hasil pemilu pemilihan presiden Iran menuai protes keras dari masyarakatnya. Terjadi perbedaan pendapat yang keras antara pendukung calon presiden yang menang Mahmoud Ahamdinejad dan calon presiden yang kalah Mirhossein Mousavi, sehingga memaksa pemerintah Iran menutup akses berbagai media asing untuk publikasi ke dunia internasional.

Kementerian Kebudayaan Iran, Selasa (16/6), mengatakan, wartawan dapat terus bekerja dari kantor mereka, tetapi bahwa kementerian itu telah membatalkan akreditasi pers bagi semua media asing. “Tidak ada wartawan yang memiliki izin untuk melaporkan atau memfilmkan atau memfoto di kota ini,” kata seorang pejabat Kementerian Kebudayaan dilansir Reuters.

Akhirnya, para pemrotes di Iran dan beberapa media asing mulai Senin kemarin memanfaatkan “Twitter” dalam perjuangan dan publikasinya menyampaikan keluhan serta menyebarkan pernyataan mengenai bentrokan dengan polisi dan pendukung Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Pemerintah AS mengambil tindakan yang tidak biasa dengan meminta Twitter menunda rencana penghentian operasi agar jejaring sosial maya itu tetap menjadi alat komunikasi rakyat Iran, menyusul pemilihan umum ricuh di negeri itu.

Jaringan itu menghentikan operasi sementara, Selasa (16/6) pukul 17.00 (Rabu, pukul 04.00 WIB) untuk pemeliharaan. Pemerintah AS menyatakan, Twitter telah diminta menunda penghentian operasi, Senin, karena layanan blog tersebut dimanfaatkan sebagai “sarana penting komunikasi” di Iran.

Seperti dilansir oleh antaranews.com, pejabat itu mengatakan kepada wartawan bahwa Twitter menjadi lebih penting karena Pemerintah Iran telah menutup jaringan komunikasi lain seperti telepon genggam dan surat kabar. “Satu daerah tempat orang dapat menjangkau dunia luar melalui Twitter. Mereka mengumumkan akan mematikan sistem untuk pemeliharaan dan kami meminta mereka agar tidak melakukan itu,” kata pejabat tersebut.

Dari Twitter informasi singkat dari Iran mengalirkan berita-berita foto yang membuka mata dunia internasional.

Hasil publikasi berita dan gambar mengenai kondisi Iran yang berasal dari Twitter :

http://i.friendfeed.com/c3b511331254072c70d5af010af265cca1658936
http://www.boingboing.net/2009/06/17/ahmadinijad-sucks-at.html
http://twitpic.com/7ki6e
http://www.flickr.com/photos/fhashemi/
http://twitpic.com/7jgqk
http://reunifygally.wordpress.com/2009/06/17/help-iran/

Video : Iklan Mega-Prabowo Indonesia Bangkrut yang ditolak TV Nasional

http://www.youtube.com/watch?v=LIif12XtcN4&feature=channel_page

iklan lainnya bisa dilihat disini

http://www.youtube.com/user/creatorman333

Kamis, 18/06/2009 08:13 WIB
Penolakan Iklan Mega-Prabowo
KPI: Kalau Alasan Menolak Tak Jelas, Stasiun TV Bisa Kena Sanksi
Nograhany Widhi K – detikPemilu

Jakarta – Penolakan tayangan iklan peserta Pilpres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto berjudul ‘Harga’ harus disertai alasan yang jelas. Kalau alasan tak jelas karena ada deal-deal politik, lembaga penyiaran itu bisa kena sanksi.

“Kalau penolakan tidak jelas itu bisa diproses karena berarti dianggap tidak netral. Untuk lembaga penyiaran bisa kena sanksi adminsitratif, teguran sampai pencabutan izin kalau ketidaknetralannya terlalu berlebihan. Ada tahapan-tahapannya,” ujar anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Izzul Muslimin.

Hal itu disampaikan Izzul ketika berbincang dengan detikcom , Rabu (17/6/2009).

Izzul mengimbau apabila memang benar stasiun TV menolak menayangkan iklan Mega-Prabowo, maka harus ada alasan jelas dan rasional yang disampaikan kepada pemesan spot iklan itu.

“Kalau ada penolakan,  lembaga penyiaran harus bisa menjelaskan kenapa ditolak. Alasannya yang bisa diterima secara rasional dan berimbang. Dan tidak ada hal-hal yang tidak rasional yang sifatnya deal-deal politik di luar kepentingan bisnis,” imbuh Izzul.

Dalam hal spot iklan, setiap lembaga penyiaran dituntut netral kepada semua pasangan capres. Spot iklan yang ditujukan kepada ketiga peserta Pilpres harus sama dan berimbang.

“Dalam UU Penyiaran atau UU Pilpres, lembaga penyiaran wajib memberikan ruang yang sama kepada ketiga kandidat,” tegas dia.

( nwk / nrl )

Prabowo: Negara Demokrasi Kok Nolak-nolak Iklan!

PERSDA NETWORK/ BIAN HARNANSA
Prabowo Subianto.

Rabu, 17 Juni 2009 | 17:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ditolaknya beberapa versi iklan politik Megawati-Prabowo oleh sejumlah stasiun televisi dinilai sebagai bentuk ketidakadilan. Prabowo mengatakan, penolakan tersebut merupakan salah satu bentuk dari kolusi.

“Negara demokrasi kok nolak iklan. Bagi saya tidak adil. Ini berbau kolusi,” kata Prabowo, Rabu (17/6) di kediaman Mega, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Salah satu iklan pasangan yang diusung PDI Perjuangan-Gerindra yang ditolak untuk ditayangkan bertitel “Bangkrut”. SCTV, salah satu televisi yang menolak untuk menayangkan, menyatakan iklan tersebut berbau provokasi.

Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung mengatakan, iklan politik Mega-Prabowo hanya menyampaikan fakta dan data-data yang sebenarnya. “Kami sangat menyesalkan apa yang terjadi. Apa yang kami sampaikan adalah fakta. Mungkin karena dianggap bisa membangun opini sebenarnya sesuai fakta, ada yang resah sehingga melakukan intervensi,” kata Pramono.

Tim kampanye Mega-Prabowo, kata Pram, menyerahkan sepenuhnya pada penilaian rakyat. “Kita tidak tahu siapa yang melakukan pencegahan penayangan iklan itu. Kami menyerahkan pada rakyat untuk menilai. Tapi seharusnya ada perlakuan adil pada siapa saja,” ujarnya.

KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
SCTV: Iklan “Bangkrut” Mega-Pro Provokatif
Pasangan calon presiden-wakil presiden, Megawati Soekarnoputri- Prabowo Subianto, saat acara dialog publik ekonomi kerakyatan di Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah, Jumat (29/5). Selain pendukung Mega-Prabowo, dialog tersebut juga dihadiri pengusaha yang ada di eks Karisidenan Surakarta.

Rabu, 17 Juni 2009 | 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Stasiun televisi SCTV disebut-sebut sebagai salah satu media yang menolak untuk menayangkan materi iklan kampanye capres/cawapres Megawati-Prabowo.

Budi Darmawan yang membawahi departemen humas di SCTV mengakui, pihaknya menerima sejumlah materi iklan dari pasangan Megawati-Prabowo. Namun, karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, tidak semua materi iklan tersebut diterima untuk ditayangkan.

“Yang saya lihat waktu itu, ada dua materi iklan. Salah satunya menampilkan gambar incumbent yang bilang ‘bangkrut‘, padahal kalimat itu belum selesai, lalu iklan tersebut dilanjutkan dengan hal lain. Kami sih melihat ini ada potensi melanggar UU tentang Pemilu,” kata Budi Darmawan melalui percakapan per telepon, Rabu (17/6) sore.

Jika mengacu kepada UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres, memang terdapat pasal-pasal yang melarang sejumlah hal yang berkaitan dengan kampanye. Misalnya pada pasal 41 (1c) yang disebutkan bahwa kampanye tidak dapat mengandung unsur penghinaan terhadap pasangan lain. Atau, ada pasal yang melarang iklan yang dapat dikategorikan mengganggu pembaca/pemirsa (pasal 51).

“Jadi waktu itu karena kami dapat dua materi iklan yang roh-nya sama, maka kami tidak memilih yang ‘Bangkrut’ karena kami melihat ada potensi-potensi provokasi, potensi rame-lah. Kami memilih alternatif iklan yang satunya lagi,” sambung Budi lagi.

Lebih jauh Budi menegaskan bahwa proses pemilihan yang dilakukan terhadap materi iklan kampanye capres tidak hanya diberlakukan terhadap pasangan Megawati-Prabowo. “Kami juga melakukan proses pemilahan tersebut pada materi-materi iklan pasangan-pasangan lain. Pasangan JK-Wiranto pun sempat mengalami ini. Sebab, kami menilai iklan tersebut membanding-bandingkan pasangan satu dengan yang lain,” kata Budi.

Secara etika, dalam dunia periklanan, kata Budi, membandingkan sebuah produk dengan produk lainnya dalam iklan merupakan hal yang melanggar etika. “Misalnya kami bilang media ini lebih bagus dibanding media itu, atau mi ini lebih enak dibanding mi itu. Ya, capres-cawapres pun kami memandangnya seperti itu,” kata Budi.

Bahkan, untuk pasangan incumbent SBY-Boediono pun, SCTV pernah tidak meloloskan permintaan mereka terkait dengan masalah iklan kampanye. “Waktu itu tim mereka meminta agar iklan ditayangkan sebelum azan maghrib. Kami menolak, karena menurut kami, apa ya? Ya, semacam memadankannya dengan agama lah. Makanya kami tolak,” ujar Budi.

Budi menegaskan, pada dasarnya pihak SCTV menghormati dan menghargai tim-tim yang terkait dengan seluruh pasangan capres-cawapres. “Kami pun sebagai media tentu akan menjaga kredibilitas kami. Selain itu, kami pun harus bertanggung jawab untuk setiap materi yang tayang. Jangan sampai kami terseret dengan pelanggaran undang-undang,” tandas Budi.


Alasan Sederhana Mengapa Aku Pilih JK- Wiranto

Alasan Sederhana Mengapa Aku Pilih JK- Wiranto

Oleh bocahndeso – 17 Juni 2009 – Dibaca 750 Kali –
Awalnya di Pileg kemarin itu aku memilih menjadi Golput. Namun setelah SBY-JK bercerai, karena mungkin SBY tak lagi ragu-ragu untuk tak ragu-ragu dalam memilih Boediono sebagai cawapresnya. Aku merasa SBY seperti lebih mantap didampingi Boediono dibandingkan didampingi JK yang telah mendampinginya selama hampir 5 tahun lamanya. Lalu membaca dibeberapa postingan di milis-milis serta di blog-blog internet perihal rekam jejaknya Boediono. Kemudian aku menjadi tersadarkan karenanya, mungkin karena aku don’t understand saja, namun entah mengapa setelah membaca tulisan-tulisan itu aku merasa ada sesuatu yang menjadi terbuka dibenak pemikirannku.

Ada artikel yg kubaca, katanya pemaparnya ada kaitan erat peranan Boediono saat menjabat sebagai Menteri Keuangan dengan maraknya program Asingisasi dan penjualan Obralisasi BUMN. Juga kubaca tentang bagaimana peranan Boediono dalam soal kucuran BLBI dan sangkut pautnya dengan Obligor BLBI beserta tanda lunasnya yg kata orang namanya RD  (Release and Discharge ?, maaf jika salah, mohon maaf karena keterbatasan bahasa inggris sehingga tak fasih melafalkanya, seperti melafalkan I Love United States with All Its Faults. I consider it My Second Country). Serta beberapa yang lainnya, termasuk soal katanya masih menjabat sebagai salah satu Gubernur di Dewan Gubernur IMF.

Aku tak faham seluruhnya mengenai itu, juga tak sepenuhnya faham tentang tingkat kesahihan dan kadar kebenarannya, karena aku cuma membacanya di internet. Sama dengan tak fahamnya diriku mengenai apa itu Neoliberalisme, yang katanya hanya akan menjadikan rakyat bangsa ini menjadi pasar bagi produk Negara Asing dan tenaga buruh murah bagi Industri mereka saja.

Namun setelah aku membaca postingan-postingan di Kompasiana menjadi tersadarkanlah aku, bahwa negara ini tak selayaknya terus dipimpin oleh mereka-mereka yang tak berani mandiri untuk terlepas dari tekanan dan didikte oleh kepentingannya Negara Asing.

Saat aku mengetahui isterinya JK juga isterinya Wiranto beserta anak perempuannya telah mengenakan jilbab di kehidupan kesehariaannya, maka aku mulai tertarik dan jatuh hati sehingga aku mulai berfikir untuk tidak golput lagi Pilpres tanggal 8 Juli 2009 nanti.

Makin mantaplah diriku untuk tidak golput lagi, setelah aku membaca postingan di Kompasiana yang berjudul Di Balik Hasil Pemilu DPR 2009 (dapat dilihat dengan mengklik disini) serta aku membaca tentang rumor adanya indikasi agen inteljen Amerika Serikat yang kata rumornya akan ikut turut campur di Pilpres (dapat dilihat dengan mengklik disini).

Kemantapan pilihanku makin bulat setelah ku melihat betapa massif dan gencarnya publikasi hasil survey yang sepertinya buatku mengintimidasi bahwa Pilpres harus dapat dimenangkan dalam satu putaran saja. Aku teringat kembali sebuah artikel di Koran Kompas dengan judul ‘Delegitimasi Politik Citra’ (dapat dilihat dengan mengklik disini)

Teringat oleh sebuah pepatah Jawa, ojo nguyahi segoro. Jika aku yang belum 100% menentukan pasti akan memilih JK Wiranto saja sudah ada yang pasti akan menang mutlak 70%, maka bagaimana jika aku ikut anut grubyuk memilih mereka, jangan-jangan mereka akan menang mutlak 99%. Ih…ngeri, menurut pendapatku itu sangat takabur juga sombong dan arogan, di zaman orba saja pemilu tak sampai menang mutlaknya seperti itu, ini bisa melebihi kehebatannya Soeharto dalam membuat menang mutlak di pemilu, kata dalam hatiku.

Maka makin mantaplah diriku untuk memilih JK Wiranto, karena dengan begitu paling tidak bagi mereka yang merasa telah haqqul yakin akan menang mutlak di putaran pertama itu menjadi tak akan mutlak-mutlak banget kemenangannya, begitu nawaituku. Pertimbanganku pun sederhana, walau suaraku hanya bernilai satu namun jika dikumpul-kumpulkan dengan mereka yang juga tidak ingin nguyahi segoro maka lumayan juga untuk mengimbangi mereka yang merasa telah pasti mustahil untuk dikalahkan itu.

Setelah aku makin banyak membaca di Kompasiana juga di blognya JK, aku makin mengerti akan arti pentingnya figur pemimpin yang lebih cepat lebih baik untuk kemandirian ekonomi bangsanya dan pengasurtamaan produksi dalam negeri serta bebas dari tekanan intervensi dari Negara Asing.

Ah, walaupun aku bukanlah seorang pakar ekonomi, apalagi tentu aku bukan kelasnya jika dibandingkan dengan kepintarannya seorang dosen ekonomi UI misalnya, tapi aku merasa bahwa aku boleh punya keyakinan bahwa paham Neoliberalisme memang ada, dan memang ada ekonom yang berpaham seperti itu sehingga berwatak lebih mengabdi kepada kepentinga Negara Asing, seperti dituliskan Perkins dalam bukunya EHM, sang preman ekonom yang berwatak ekonom penjajah, begitu kata sebuah artikel menuliskannya.

Maafkan aku yang bukan pakar ekonomi tapi kok merasa sreg dengan pemikiran seperti yang dituliskan di artikel itu, walau aku tak mampu menjelaskannya, mengapa kenapa dan bagaimana. Sama seperti tak fahamnya aku apa itu Mafia Berkeley, kok seperti sebutan geng penjahat ‘mafioso’ yang sering kulihat di film-film Hollywood itu. Namun aku merasa itu sebenarnya ada nyatanya.

Tapi aku merasa yakin bahwa pemimpin tidak boleh menipu rakyatnya, tidak boleh membohongi rakyatnya, dia harus tampil apa adanya, satu kata satu perbuatannya. Aku merasa JK yang memakai sepatu produk Cibaduyut telah menunjukkan hal itu, inspirator dan motivator serta pelopor pengasurtamaan produksi dalam negeri. Begitu juga isterinya, tentunya jilbab yang dikenakannya bukan buatan Amerika Serikat, mungkin dari produk tasikmalaya, aku mencoba menebaknya.

Aku pun merasa sreg dengan Wiranto, yang setahuku tak menggebu ambisi berkuasanya. Karena katanya di zaman tahu 1998 jika Wiranto gila kuasa maka bisa saja mengambil alih kekuasaan negara. Tapi toh nyatanya itu tak dilakukannya. Bahkan mendirikan partai politik pun baru dilakukannya di tahun 2009 ini.

Jadi itulah alasan sederhanaku mengapa aku akan memilih JK Wiranto di Pilpres tanggal 8 Juli nantinya.

Aku tak mau nguyahi segoro, walau suaraku hanya bernilai satu, namun katanya tugu monas yang menjulang tinggi itupun juga dibangun dari kumpulan butiran pasir yang kecil-kecil, maka jika suaraku yang hanya bernilai satu ini dikumpulkan dengan banyak saudaraku lainnya yang juga tak ingin nguyahi segoro, hasilnya sangat bisa jadi akan mampu membuat perubahan bagi negeri ini, menjadi mandiri dan menyongsong hari esok dengan lebih baik.

Maafkan aku yang mempunyai pilihan berbeda dengan yang lainnya, apakah di negeri ini masih boleh untuk berbeda ?, atau harus diseragamkan dengan hasil survey itu ?.

Semoga suaraku yang walau hanya bernilai satu tak sia-sia, karena itu aku sangat berharap Pilpres akan dapat tetap Luber dan Jurdil.

Aku percaya dan haqqul yakin bahwa segala sesuatu yang mendatangkan barokah-Nya itu pasti karena mendapatkan izin-Nya juga ridho-Nya. Kemenangan yang didapatkannya dengan dinodai kecurangan itu pasti terjadi karena mendapatkan izin-Nya namun tidak mendapatkan ridho-Nya. Sesuatu yang tidak diridhoi-Nya hanya akan menantang murka-Nya dan azab-Nya, sehingga bisa mengundang datangnya bala bencana dan musibah serta duka yang akan beruntun dan silih berganti menerpa negeri ini. Tentunya itu tidak dikehendaki oleh bangsa ini.

Sehingga walaupun aku hanya rakyat jelata yang bukan jelita, izinkan aku turut berdoa kepada-Nya dan juga berharap agar KPU mampu melaksanakan Pilpres dengan Luber dan menjaganya agar tetap Jurdil.

Wallahualambishshawab.

http://public.kompasiana.com/2009/06/17/alasan-sederhana-mengapa-aku-pilih-jk-wiranto/

Mayoritas Anggota DPR 2009-2014 Warga Jakarta

Mayoritas Anggota DPR 2009-2014 Warga Jakarta
Petugas Pemasaran Ritel Kantor Pos Kota Solo Ria Hasan memperlihatkan produk direct mail berupa kartu pos berisi visi misi dan gambar Caleg, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (23/3). Dengan minimal pemesanan seribu lembar, para caleg dapat memaksimalkan penyampaian visi dan misi mereka langsung kepada konstituen di daerah pemilihan.

Selasa, 16 Juni 2009 | 08:00 WIB

Laporan wartawan LITBANG KOMPAS Bambang Setiawan

KOMPAS.com — Seberapa dekat anggota legislatif dengan konstituennya? Tidak ada ukuran yang baku untuk dipakai sebagai parameter menentukan kedekatan wakil rakyat dengan pendukungnya. Kedekatan anggota DPR dengan rakyat bisa tergantung dari waktu, biaya, dan kemauan untuk menyambangi mereka yang telah menempatkannya di kursi parlemen.

Kedekatan juga bisa dibina dengan alat telekomunikasi yang canggih saat ini.
Namun, satu hal yang mudah untuk memperkirakan seberapa jauh permasalahan-permasalahan riil yang dihadapi warga di daerah pemilihannya dapat ”dibaca” untuk mewarnai keberpihakannya dengan rakyat adalah seberapa jauh jarak fisik anggota legislatif dengan konstituennya.

Hasil analisis data anggota Dewan Perwakilan Rakyat terpilih menunjukkan bahwa 63,7 persen anggota terpilih ternyata tinggal (sesuai KTP) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta hampir separuh (45,5 persen) dari total jumlah anggota legislatif pusat bertempat tinggal di DKI Jakarta.

Tentu kondisi ini tidak terlalu mengherankan karena Jakarta memang menjadi lumbung sekaligus pangkalan bagi aktivitas politik di level pusat. Namun, di balik itu juga menyiratkan sebuah fakta bahwa Dewan Perwakilan Rakyat yang dihasilkan dari kompetisi antarpartai di 77 daerah pemilihan di 33 provinsi di seluruh Indonesia, setengahnya dikuasai oleh orang Jakarta!

Namun, kedekatan dengan pusat kegiatan politik parlemen (Jakarta) bukan satu-satunya alasan yang membuat kesenjangan fisik anggota dengan konstituen di daerah pemilihannya. Secara keseluruhan, fakta menunjukkan bahwa hanya 42 persen wakil rakyat yang tinggal di provinsi yang sama dengan daerah tempat ia terpilih. Sisanya, 58 persen, tinggal di daerah yang berbeda.

Meskipun banyak dari mereka yang terpilih memiliki akar kultural dan primordial dengan daerah pemilihannya, sistem demokrasi yang digelar juga memungkinkan terpilihnya wakil yang sama sekali tidak memiliki ikatan tradisional dengan daerah yang mengusungnya.

Bekal popularitas menjadi senjata utama meraih suara di daerah-daerah, dan bagi sejumlah nama selebriti, bukan perkara susah memenanginya. Angelina Sondakh, misalnya, yang lebih memiliki akar kultural dengan Sulawesi Utara, dapat meraih suara sangat signifikan (145.159 suara) di Daerah Pemilihan VI Jawa Tengah.

Jauhnya jarak antara wakil dan yang diwakilinya terjadi secara merata terhadap semua partai dan wilayah. Anggota terpilih dari Partai Demokrat, misalnya, dari 150 caleg yang terpilih, sekitar 56,7 persen bertempat tinggal di wilayah yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada semua partai yang berhak menempatkan wakilnya di parlemen.

Kecenderungan cairnya wilayah tempat tinggal juga bisa dibaca sebagai gejala umum yang terjadi pada anggota DPR, baik laki-laki, maupun perempuan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, dengan secuil gambaran tempat tinggal ini, apa yang nanti dipakai sebagai dasar bagi anggota legislatif yang baru untuk menangkap aspirasi masyarakat?

Apakah nanti lembaga perwakilan hanya menjadi sebuah komunitas elitis yang suaranya bergaung di ”menara gading”? Kita lihat saja nanti. (Litbang Kompas)