Dana Untuk Hobi

Anda pasti memiliki hobi, apa pun jenisnya. Lantas, apa hubungan hobi dengan uang?

Sederhana saja. Secara umum, hobi pasti membutuhkan dana. Sebut saja, kalau hobi membaca buku, Anda mesti mengalokasikan dana untuk membeli buku baru. Kalau Anda hobi jalan-jalan, kebutuhan dana akan lebih besar lagi. Apalagi, kalau hobi Anda berbelanja. Ini tidak saja membutuhkan dana besar, tetapi juga bisa membahayakan stabilitas keuangan Anda jika tidak dikelola secara arif.

Itu konsekuensi yang akan terjadi bila Anda menganggap hobi identik dengan pengeluaran. Padahal, dalam realitasnya, hobi tidak selalu mesti menghabiskan uang banyak, tetapi bisa juga malah menghasilkan uang. Atau paling tidak, kalaupun membutuhkan uang, dana yang dikeluarkan bisa tidak terlalu besar. Dengan kata lain, Anda mesti melakukan upaya pengelolaan dana untuk kegiatan hobi melalui suatu perencanaan keuangan. Bagaimana konkretnya?

Utamanya, pahami bahwa alokasi pengeluaran Anda adalah maksimal 70 persen untuk konsumsi. Nah, hobi sebenarnya adalah bagian dari pengeluaran konsumsi. Kalau Anda membeli makanan, itu berarti konsumsi perut Anda. Kalau Anda membeli CD atau kaset dan radio, itu adalah konsumsi telinga Anda. Ada lagi konsumsi untuk mata Anda dan bahkan konsumsi perasaan Anda.

Jadi, kalau Anda hendak menjalani hobi, misalnya, belanja buku, koleksi CD, jalan-jalan, atau taruhan sepak bola, dananya harus menjadi bagian dari pengeluaran untuk membiayai konsumsi.

Sekarang, berapa persen yang layak dialokasikan untuk membiayai hobi Anda?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pahami dulu bahwa menjalani hobi adalah untuk memenuhi kebutuhan tersier, bukan kebutuhan primer atau sekunder.

Artinya, kalaupun Anda tidak menjalani hobi itu, tidak apa-apa juga. Paling-paling perasaan Anda terganggu. Misalnya, Anda suka menonton film lalu tidak menonton film di bioskop, apakah Anda akan menderita sakit? Atau apakah tidak bisa menonton televisi?

Artinya, cukup banyak alternatif dalam menjalani hobi yang sebenarnya bisa mengurangi pengeluaran. Dengan kata lain, kalaupun ada alokasi dana untuk membiayai hobi, dana itu bukanlah keharusan. Dana tersebut hanya layak dipergunakan jika kebutuhan lain yang bersifat primer dan sekunder sudah terpenuhi.

Konkretnya, dari 70 persen alokasi penghasilan untuk konsumsi, harus dipilah lagi berapa persen untuk kebutuhan primer dan sekunder, sisanya baru bisa dipakai untuk konsumsi tersier, termasuk membiayai hobi.

Efisiensi

Setelah memahami alokasi dana untuk membiayai hobi, lakukan efensiensi dalam menjalani hobi dimaksud. Seperti contoh di atas, misalnya, Anda suka membaca buku dan selama ini selalu membeli buku baru. Memang tidak salah karena hobi membaca termasuk positif.

Namun, apakah buku-buku tersebut harus selalu semuanya dibeli? Apakah Anda tidak bisa meminjam dari perpustakaan? Atau kalaupun beli, apakah harus semuanya? Ingat, hobi biasanya juga bisa membentuk komunitas. Cukup banyak kalangan yang hobi membaca buku lantas membentuk komunitas penggemar buku. Kenapa Anda tidak bergabung dalam komunitas tersebut dan bertukar buku di antara sesama anggota. Jika ini dilakukan, bayangkan berapa banyak penghematan yang Anda lakukan.

Anda mungkin akan mengatakan, cara semacam itu hanya berlaku untuk hobi-hobi tertentu saja. Anda keliru. Semua hobi sebenarnya memiliki komunitas tersendiri. Dan semua kebutuhan dana untuk menjalani hobi tersebut bisa dibagi.

Sebut saja, misalnya, Anda hobi melakukan perjalanan. Kalau Anda berwisata sendiri, biayanya akan lebih besar ketimbang beramai-ramai. Ringkasnya, apa pun hobi Anda, sebenarnya jika dicari peluangnya, akan Anda temukan cara untuk mengurangi pengeluaran demi membiayai hobi tersebut.

Produktif

Paparan di atas baru sekadar upaya mengurangi biaya konsumsi dalam membiayai hobi. Lebih dari itu, sebenarnya ada pula strategi menjadikan hobi sebagai kegiatan produktif yang malah bisa menghasilkan uang.

Prinsipnya, hobi tersebut mesti ditekuni sungguh-sungguh dan Anda lakukan eksplorasi terhadap hobi dimaksud. Apa maksudnya?

Begini, jika memiliki hobi memasak, tentunya Anda akan mampu membuat masakan yang enak. Selanjutnya masakan yang enak itu bisa Anda tawarkan kepada handai tolan Anda. Suatu ketika mereka menginginkan masakan itu, Anda bisa menjualnya kepada mereka.

Lebih jauh lagi, hobi memasak tersebut bisa menjadikan Anda koki profesional yang kemudian berdampak komersial, apakah itu dengan membuka bisnis jasa boga atau bisnis kue.

Contoh lain, Anda penggemar musik. Atau suka bermain musik. Suatu ketika Anda bisa membuat musik yang bagus dan kemudian malah bisa dijual. Atau katakanlah Anda penggemar golf. Anda tekuni hobi itu, lantas berprestasi dan menjadi juara di mana-mana. Implikasinya, Anda mendapat hadiah uang dan lain sebagainya.

Pendeknya, hobi sebenarnya tidak selalu menjadi biaya sepanjang ditekuni serius dan dikelola sedemikian rupa sehingga suatu ketika malah menghasilkan pendapatan tambahan. Selamat mencoba.

Pertanyaan dapat diajukan kepada penulis melalui alamat

Sumber: Kompas Minggu, 27 April 2008 | 01:44 WIB

Oleh: Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Satu Tanggapan

  1. kalo saya hobi sepak bola…jadi dananya sedikit…hicks:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: