Pilih yang mana: emas atau uang kertas?

Pilih yang mana: emas atau uang kertas?

July 25th, 2011

“It’s taken almost two centuries for bankers to pull the wool over Americans’ eyes, but today you and I are working for intrinsically worthless paper that can be created by bureaucrats – created without sweat, without creative ability, without work, without anything but a decision by the Federal Reserve.  This is the disease at the base of today’s monetary system.  And like a cancer, it will spread until the system ultimately falls apart.  This is the tragedy

of the great lie.  The great lie is that fiat paper represents a store of value, money of lasting wealth.”

-Richard Russell-

Setelah emas turun ke level terendahnya bulan ini di USD1,478.01/toz pada tanggal 1 Juli, harganya melejit sebesar USD131.50/toz atau 8,9% dan membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD1,609.51/toz hari Selasa lalu (lihat grafik dibawah ini).

Dengan demikian emas mencatat rekor penguatan beruntun terpanjang dalam 11 sesi terakhir yang menyamai rekor pada 1975 silam.  Sejauh ini emas juga telah menguat sebanyak 13% selama 2011 dan potensial menjadikannya rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak 1920.

Penguatan kinerja emas disokong oleh maraknya aksi beli investor pada instrumen investasi safe haven, terutama emas, seiring berkembangnya kekhawatiran bahwa tidak segeranya solusi dari permasalahan hutang Eropa dan AS dapat menyebabkan sebuah KRISIS GLOBAL.  Harga emas bahkan terapresiasi bersamaan dengan penguatan dolar AS yang kemudian mendorong emas ke level tertingginya terhadap beberapa mata uang dunia termasuk euro, sterling, rand Afrika Selatan dan dolar Kanada.

Apakah ada potensi untuk pelonggaran moneter lanjutan?

“No bet in the centuries of the monetary history has been safer than the one that a gold coin, inaccessible to the inflationary policies of the governments, will maintain its purchase power better than a banknote.”

-Wilhelm Röpke-

Pada umumnya bulan Juni dan Juli merupakan sebuah periode dimana emas tidak terlalu kuat dan cenderung mengalami konsolidasi saja.  Namun tahun ini harga emas malahan break out keatas, dan sekaligus mencatatkan all-time highs dalam hampir semua mata uang.

Maka boleh dikatakan bahwa emas sedang bertindak sepenuhnya sebagai sebuah currency of last resort.  Artinya peranan sebagai suatu komoditas tidak terlalu signifikan pada saat ini, dan harganya terdorong naik karena permintaannya melonjak berdasarkan kehilangan kepercayaan dalam otoritas moneter dari negara maju.

Mengapa bisa sampai begitu?  Alasannya cukup sederhana, yaitu program QUANTITATIVE EASING yang diterapkan oleh berbagai bank sentral di negara Barat.  Misalnya untuk menanggulangi krisis hutang di Eropa, the European Central Bank atau ECB kemungkinan akan segera memulai program pelonggaran moneternya sendiri lewat pembelian obligasi dari negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol).  Dan … apabila ECB memutuskan untuk menerapkan program tersebut agar zona Eropa selamat, bukan tidak mungkin the Bank of England akan mempertimbangkan QE2 dan the Fed akan memiliki suatu dalih untuk QE3.

Dalam hal itu, the TREND is your FRIEND dan uptrend logam mulia tetap akan didukung oleh kebijakan moneter yang ultra longgar (lihat grafik diatas ini).  Kenyataan adalah bahwa hanya pencetakan uang dapat membiayai defisit anggaran yang besar dari banyak negara maju.  Jadi jangan heran emas begitu kuat, dan makin banyak orang maupun investor institusi mulai melirik logam yang mengkilap.

Dolar AS, euro, atau … emas saja?

“There is NO basis for confidence in ANY sovereign debt paper because there is NOTHING behind any of it except the promises to pay of future governments.  But how can they “pay” if they go on spending more than they take in.  And if they do pay, what will the stuff they pay with be good for?”

-Bill Buckler, Gold This Week, 09 July 2011-

Sejak 2007, bank sentral di AS, Eropa dan Inggris telah memperluas neraca mereka dengan lebih dari 4,5 trilyun dolar AS.  Disamping itu, suku bunga negatif secara riil (setelah disesuaikan untuk inflasi) dan kemungkinan besar akan tetap rendah karena suku bunga yang naik pasti akan mempunyai dampak yang fatal terhadap kondisi keuangan negara maju.

Biasanya positive real interest rates menekan harga emas, seperti pada tahun 1980an dan 1990an.  Sebaliknya, negative real rates merupakan sebuah stimulans untuk emas.  Maka sangat wajar jika investor memilih emas dibandingkan uang kertas mengingat logam mulia pada saat ini lebih mampu mempertahankan nilainya terhadap inflasi.

Sejarah juga membuktikan bahwa pada akhirnya semua mata uang mempunyai nasib yang sama: mereka menjadi tidak bernilai dan hilang sepenuhnya dari peredaran.  Coba saja melihat gambar dibawah ini, yang menampilkan beberapa mata uang yang hancur berkat penyalahgunaannya dari pembuat kebijakan.

Sekarang Anda kemungkinan berpikir hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi di AS, bukankah begitu?  Jika demikian, perlu saya sampaikan bahwa justru HUTANG yang berlebihan dan DEFISIT ANGGARAN yang besar selalu mendahului kejatuhan dari setiap mata uang yang ditampilkan diatas ini.

Peter Bernholz, seorang ahli mengenai hyperinflation, menyatakan secara tegas bahwa “hyperinflation atau inflasi yang sangat tinggi disebabkan oleh defisit anggaran pemerintah.”  Sebagai contohnya defisit anggaran AS untuk tahun ini akan berjumlah sekitar 1,5 trilyun dolar AS, dan diperkirakan tetap akan bertahan di atas USD1 trillion hingga tahun 2020.

Lalu sejak pendirian the Federal Reserve, dolar AS telah kehilangan 95% dari daya beli!  Dengan kata lain, Kepala bank sentral di Amerika Serikat tidak tahu, tidak mau, atau tidak mampu untuk menjaga mata uangnya sendiri (lihat gambar dibawah ini).

Oleh karena itu, investor harus melindungi kekayaannya dengan satu-satunya uang yang tidak dapat dimanipulasi, yaitu EMAS!

Kondisi teknikal terkini

“Gold still represents the ultimate form of payment in the world… Fiat money, in extremis, is accepted by nobody.  Gold is always accepted”

-Alan Greenspan-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, emas ternyata berhasil break out dari symmetrical triangle atau segitiga simetris setelah berkonsolidasi didalam pola tersebut selama 10 pekan.  Namun kenaikan sebesar USD131.50/toz terjadi dalam waktu yang singkat sekali dan RSI atau Relative Strength Index sudah berada dalam daerah yang overbought, jadi mungkin saja terjadi sebuah koreksi terlebih dahulu dalam beberapa hari kedepan sebelum emas melanjutkan penguatannya.

Apabila harga emas turun dulu, entry point atau titik masuk yang bagus akan tercipta pada saat harganya mendekati MA-50, yang kini akan berlaku sebagai support, dan/atau RSI bertengger disekitar middle line-nya (50).  Kejadian tersebut pun terlihat ketika emas terkoreksi pada pertengahan bulan Maret lalu, dimana harganya menyentuh MA-50 dan RSI turun hingga 49.15.  Maka Anda sebaiknya mengamati kedua indikator ini dengan seksama agar tidak ketinggalan peluang untuk membeli emas di harga yang lebih murah.

Salah satu ukuran lainnya yang bisa digunakan untuk mencari entry point yang bagus adalah fibonacci retracements.  Koreksi yang sehat pada umumnya akan berhenti antara 38.2% dan 50%, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Misalnya pada waktu emas melemah pada awal bulan Maret, fibonacci retracement sebesar 38.2% cukup kuat untuk menopang harganya.  Jadi kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz kini merupakan buying zone yang ideal dalam 1-2 pekan kedepan.

Tetapi … perlu dicatat juga bahwa harga tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz kini berlaku sebagai support pertama.  Makanya jangat terkejut harga emas pekan yang lalu terjebak antara USD1,581.78/toz dan USD1,609.51/toz maupun sekaligus membentuk sebuah flag atau bendera, yang merupakan suatu continuation pattern.

Trading plan dan target harga

“Currencies don’t float, they just sink at different rates”

-Clyde Harrison-

Kini ada dua kemungkinan:

  1. Apabila emas turun dibawah level tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz, buy on weakness adalah tindakan yang paling bijaksana, dengan entry point dalam kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz;
  2. Jika harga emas bertahan diatas USD1,580/toz dan hanya membentuk sebuah flag, suatu breakout diatas USD1,610/toz merupakan tanda untuk membeli emas.

Lalu berapa target harga dalam 2-3 bulan kedepan?  Untuk perhitungan tersebut, saya berasumsi bahwa pergerakan sebelumnya adalah patokan yang bagus:

  1. Dari awal bulan Februari hingga akhir bulan Mei, emas mengalami kenaikan sebesar USD267.79/toz atau 20,47%.  Jika harga emas sekarang naik dengan jumlah yang sama (dimulai dari USD1,478.01/toz), target harga terletak antara USD1,745.80/toz dan USD1,780.55/toz;
  2. Apabila emas ternyata hanya berkonsolidasi dalam jangka pendek dan membentuk sebuah bendera (yang biasanya terletak di tengah suatu gerakan naik atau turun), target harga adalah USD1,741.01/toz atau USD1,609.51/toz ditambah USD131.50/toz.

Maka secara garis besar TARGET HARGA selama 2-3 bulan kedepan adalah USD1,740/toz hingga USD1,780/toz.

Kesimpulan

“If you don’t trust gold, do you trust the logic of taking a pine tree, worth $4,000-$5,000, cutting it up, turning it into pulp, putting some ink on it and then calling it one billion dollars?”

-Kenneth J. Gerbino-

Selain berbagai faktor yang mendukung emas pada saat ini, secara musiman emas akan memasuki periode dimana permintaannya cenderung naik menyusul bulan suci Ramadan akan segera dimulai, yang diikuti oleh musim nikah dan festival Diwali di India maupun Natal dan Tahun Baru di Cina.

Akhirnya grafik dibawah ini membuktikan hal tersebut, dengan bulan Agustus dan September sebagai bulan dengan kenaikan yang paling konsisten.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

sumber http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/07/25/pilih-yang-mana-emas-atau-uang-kertas/

Iklan

Antara Inflasi, Suku Bunga dan Harga Reksa Dana

Antara Inflasi, Suku Bunga dan Harga Reksa Dana

June 21st, 2011 Rudiyanto

Artikel ini merupakan salah satu koleksi artikel Infovesta yang menjelaskan tentang cara kerja Makro Ekonomi terhadap investasi sekaligus mencoba menjawab pertanyaan pak Adrianus (komentar 7) mengenai hubungan antara inflasi dan reksa dana saham http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/06/14/apakah-ada-reksa-dana-yang-tidak-pernah-rugi/#comments

Dalam melakukan analisis terhadap pengambilan keputusan investasi, dikenal suatu metode yang disebut dengan Top Down Analysis. Secara umum, pengambilan keputusan menurut metode ini dilakukan dengan melihat kondisi perekonomian secara makro (umum), kemudian lebih lanjut ke sektor-sektor industri secara spesifik untuk melihat sektor mana yang diuntungkan dengan kondisi ekonomi makro yang ada, baru kemudian melihat ke salah saham secara individual untuk melihat saham mana yang paling bagus dalam industri tersebut. Metode ini merupakan metode yang umumnya digunakan oleh para Manajer Investasi dalam mengelola reksa dananya. Dan Kondisi perkembangan Inflasi merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian Manajer Investasi dalam pertimbangannya.

Pernahkah anda bertanya, apa sebenarnya hubungan antara membaiknya peringkat surat hutang indonesia, naik turunnya tingkat inflasi dan suku bunga, perubahan rasio hutang terhadap GDP, besar kecilnya cadangan devisa, harga minyak, panas dinginnya suhu politik, serta berita-berita makro ekonomi lainnya dengan perkembangan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana?

Berita-berita dengan topik di atas tentu sudah tidak asing bagi investor sekalian yang senantiasa mengikuti perkembangan melalui berbagai media massa di Indonesia. Berita tersebut kadang positif, kadang negatif, terkadang juga datar-datar saja. Tidak jarang sisi positif dan negatif dari berita baik yang berasal dari dalam negeri ataupun luar negeri dan dikaitkan dengan perkembangan investasi di Indonesia.

Berita baik dan berita buruk datang silih berganti. Terkadang berita tersebut datang begitu cepatnya sehingga situasi bisa berubah dengan cepat hanya dalam hitungan hari. Yang dibutuhkan untuk menjadi seorang investor yang baik adalah suatu pemahaman, mana berita yang memiliki dampak signifikan dan mana yang tidak? Kemudian, apakah dampak dari berita tersebut hanya sementara atau berdampak terhadap investasi jangka panjang?

Untuk memahami secara sederhana, bagaimana dampak makro ekonomi dalam mempengaruhi harga instrumen investasi di Indonesia, mari kita lihat bagan sebagai berikut:

 

1. Inflasi dan BI Rate

Inflasi berarti kenaikan harga barang secara umum. Lembaga yang menghitung besar kecilnya tingkat inflasi di Indonesia adalah BPS (Biro Pusat Statistik). Sementara BI Rate (Bank Indonesia Rate) adalah tingkat suku bunga yang dijadikan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan besar kecilnya tingkat deposito dan persentase bunga pinjaman. Lembaga yang berwenang dalam menetapkan besar kecilnya BI rate adalah Bank Indonesia (BI).

 

Pada saat tingkat inflasi terlalu tinggi, Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate. Secara teoritis, kenaikan BI rate akan menyebabkan bunga pinjaman bank menjadi meningkat. Akibatnya kegiatan produksi akan berkurang karena semakin mahal dan terjadi permintaan terhadap barang. Karena permintaan semakin kecil, maka harga barang akan turun. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi terlalu rendah dan suku bunga diturunkan. Biaya produksi akan semakin murah menyebabkan kegiatan produk semakin bertambah. Kenaikan produksi akan memicu kenaikan permintaan barang dan pada akhirnya menyebabkan harga barang menjadi naik (terjadi inflasi).

 

Dalam kaitannya dengan investasi, pada saat suku bunga dinaikkan, orang akan memilih alternatif deposito yang memberikan bunga lebih tinggi. Akibatnya instrumen saham dan obligasi dijual sehingga menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana turun. Sebaliknya pada saat suku bunga diturunkan, investor akan mencari alternatif yang memberikan hasil investasi lebih tinggi dibandingkan deposito yaitu saham dan obligasi. Akibatnya terjadi permintaan yang besar pada saham dan obligasi yang menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana naik.

 

2. Pertimbangan dalam memutuskan tingkat BI Rate

Perlu diketahui bahwa BI rate bukan satu-satunya alat bagi Bank Indonesia dalam mengendalikan tingkat inflasi. Selain itu, pertimbangan besar kecilnya BI rate juga bukan hanya didasarkan pada tingkat inflasi semata. Ada faktor-faktor lain yang menentukan seperti:

  • Kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Tingkat BI rate yang tinggi akan menyebabkan dana asing mengalir ke Indonesia dan sebaliknya tingkat BI rate yang rendah akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia.
  • Selisih dengan suku bunga AS antara tingkat suku bunga di Indonesia dengan tingkat suku bunga (Fed Fund Rate) di Amerika. Semakin besar selisihnya, maka semakin menarik pula negara Indonesia menjadi negara tujuan investasi. Dengan kata lain, apabila pemerintah AS menaikkan tingkat suku bunga sementara suku bunga Indonesia masih tetap, maka hal tersebut akan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
  • Peringkat Surat Hutang Indonesia. Peringkat surat hutang menyatakan kualitas kemampuan suatu perusahaan / negara dalam melunasi kewajibannya. Negara yang memiliki peringkat hutang yang lebih baik dapat memberikan tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan negara dengan peringkat hutang yang lebih rendah. Oleh karena itu, penurunan spread dengan fed fund rate belum tentu berdampak negatif asal diikuti dengan peningkatan peringkat surat hutang Indonesia.
  • Kondisi perekonomian negara yang ditentukan oleh indikator seperti GDP (Gross Domestic Product) dan Cadangan Devisa. Kedua indikator tersebut bisa diibaratkan sebagai penghasilan dan tabungan bagi suatu negara. Idealnya suatu negara yang sehat memiliki penghasilan yang terus bertambah (pertumbuhan GDP positif), hutang yang tidak terlalu banyak (rasio hutang terhadap GDP yang kecil), dan punya simpanan untuk kondisi ketidakpastian di masa mendatang (cadangan devisa yang banyak). Hal di atas akan menjadi pertimbangan positif saat penilaian terhadap peringkat surat hutang Indonesia dilakukan.
  • Faktor tidak tetap adalah faktor yang dapat mempengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam penetapan BI rate namun sifatnya tidak permanen dan berubah sewaktu-waktu. Contoh, lonjakan harga minyak yang signifikan, kondisi ekonomi global, atau yang sekarang sedang menjadi perhatian seperti perkembangan hutang Eropa, Perkembangan China dan kondisi US, dan faktor2 lainnya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Faktor inilah yang paling tricky, selain tidak jelas apa hubungannya terhadap keputusan BI Rate, efeknya juga bisa langsung ke harga saham, obligasi dan reksa dana. Terkadang logika dan hubungan antara kejadian tersebut dengan Indonesia hampir tidak ada, namun seolah-olah hal tersebut menjadi faktor utama yang menggerakan harga di pasar. Umumnya faktor ini yang menjadi perhatian investor dan analisa dalam meramalkan pergerakan harga dalam jangka waktu dekat.

Berdasarkan bagan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa data makro ekonomi yang menjadi pertimbangan utama dalam berinvestasi adalah BI Rate dan Inflasi. Dalam proses perjalanannya, penetapan besar kecilnya BI rate juga akan mendapat pengaruh-pengaruh baik dari faktor eksternal maupun internal. Hal yang harus dipahami oleh investor adalah bahwa Kenaikan BI rate dan Inflasi akan berdampak negatif bagi investasi dan sebaliknya penurunan BI rate dan inflasi akan berdampak positif terhadap investasi.

 

Meski demikian, efek Inflasi dan BI Rate terhadap inflasi menurut penelitian kami lebih memiliki pengaruh ketika bergerak sedang naik atau sedang turun. Jika kondisinya flat, kondisi cenderung lebih sulit untuk dianalisis karena perhatian investor terpaku pada faktor-faktor tidak tetap (seperti yang dijelaskan di atas) yang berubah setiap hari. Meski demikan, dalam prakteknya sangat mungkin sekali investor dalam jangka pendek akan menemui kondisi investasi yang bertolak belakang dengan kondisi BI rate dan Inflasi. Jadi memang faktor ini bukan satu-satunya hal yang menyebabkan naik turunnya harga instrumen investasi namun dalam pandangan kami merupakan faktor penting yang menjadi penggerak harga instrumen investasi.

 

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat dan bisa menjawab pertanyaan anda. Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Pak Rudiyanto, saya ingin bertanya tentang Reksa Dana Saham. Ada yang bertanya pada saya , apa kelebihan RD saham dibandingkan RD pndptan tetap , pasar uang dan campuran? Kemudian saya ingin bertanya , apakah efek dari inflasi terhadap Reksadana Saham ini ?

Terimakasih pak.

Pak Rudiyanto, saya ingin bertanya tentang Reksa Dana Saham. Ada yang bertanya pada saya , apa kelebihan RD saham dibandingkan RD pndptan tetap , pasar uang dan campuran? Kemudian saya ingin bertanya , apakah efek dari inflasi terhadap Reksadana Saham ini ?

Terimakasih pak.

http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/06/21/684/