Biaya Kuliah ITB MURAH : ITB Hapus Biaya Pendidikan di Muka bagi Mahasiswa Baru Tahun 2013

ITB Hapus Biaya Pendidikan di Muka bagi Mahasiswa Baru Tahun 2013

Rabu, 27 – Maret – 2013, 21:52:14 |
 

Bandung, itb.ac.id – Pendidikan adalah sebuah hal utama yang harus terus dibenahi dan ditingkatkan untuk menjamin keberhasilan pembangunan di Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu dasar dari berbagai usaha ITB dalam menjalankan dan mengembangkan sistem pendidikan nasional. Salah satu usaha yang dilakukan ITB adalah membebaskan uang pangkal bagi mahasiswa baru di tahun 2013. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Kadarsyah Suryadi dan Direktur Hubungan Masyarakat dan Alumni, Dr. Marlia Singgih kepada Kantor Berita ITB.

Pada tahun 2012, ITB menerapkan biaya pendidikan di muka sebesar 55 juta rupiah kepada para mahasiswa barunya. Bagaimanapun, berdasarkan data yang didapat tahun 2012 lalu, mahasiswa yang membayar penuh biaya pendidikan di muka hanya berjumlah 20% dari jumlah keseluruhan mahasiswa baru yang diterima di ITB, dan 80% lainnya mendapatkan subsidi sebesar 0% – 80%. Artinya, untuk menempuh pendidikan di ITB, biaya yang dikeluarkan di muka disesuaikan dengan kemampuan ekonomi orangtua dari calon mahasiswa baru tersebut. Selain itu, biaya kuliah per semester di ITB adalah 0 – 10 juta rupiah, bergantung pada keadaan ekonomi keluarga dari calon mahasiswa. Tujuannya agar tidak ada putra-putri Indonesia yang tidak bisa menempuh pendidikan di ITB karena permasalahan ekonomi.

Langkah ITB untuk menghilangkan uang pangkal bagi mahasiswa baru di tahun 2013 merupakan tindak lanjut dari ketetapan yang dibuat oleh Direktorat Perguruan Tinggi (DIKTI) bahwa mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014 dibebaskan dari uang pangkal. Penghapusan ini dikarenakan Bantuan Operasional PTN (BOPTN) yang diterima oleh PTN meningkat. Untuk ITB sendiri, BOPTN yang diterima pada tahun ini mencapai 175 miliar rupiah.

Sedangkan, untuk program beasiswa “Bidik Misi”, 20% kuota dari jumlah keseluruhan mahasiswa baru yang diterima di ITB tahun 2013 akan diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari ekonomi lemah. Dengan beasiswa ini mahasiswa akan menerima bantuan biaya kuliah dan juga biaya hidup yang memadai.

Keberadaan ITB sebagai perguruan tinggi yang berkualitas tapi tetap menjangkau seluruh kalangan pun diperkuat dengan keterangan yang dibuat oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang juga sempat menjabat sebagai Rektor ITB pada tahun 2005 – 2010, Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., “ITB selama ini selalu dibilang menarik uang pangkal yang cukup mahal yaitu sekitar Rp 45 juta untuk tiap-tiap mahasiswa. Sementara itu, biaya per semesternya sendiri mencapai Rp 5 juta. Sebeneranya uang Rp 45 juta itu bukan uang pangkal, melainkan uang SPP yang dibayar di muka. Jadi kalau misalnya si anak DO di tahun pertama, uangnya dikembalikan, Apabila DO di tahun kedua, dikembalikan 50 persen. Kalau gagal di tahun keempat, dikembalikan 25 persen.” kata Djoko.

Dengan keringanan biaya pendidikan yang diberikan oleh ITB sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, tentunya semua pihak berharap bahwa tujuan mulia dari pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai.

Sumber foto: km.itb.ac.id

http://usm.itb.ac.id/snmptn-4.htm

Iklan

Baca ini dulu : Sebelum beli Apartemen di Pesisir View Laut Jakarta

Pesisir Jakarta Tidak Cocok untuk Bangunan Tinggi
Penulis : M Latief | Rabu, 27 Maret 2013 | 21:46 WIB

|
 

 

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Ilustrasi:

JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Robert M Delinom mengatakan, saat ini kondisi tanah pesisir Jakarta mudah ambles dan lebih rendah. Kawasan ini tidak cocok untuk pendirian bangunan tinggi.

Daerah pesisir utara Jakarta tidak cocok untuk didirikan gedung-gedung tinggi, lebih cocok bangunan ringan saja karena tanahnya rapuh.
— Robert M Delinom

“Solusi untuk mengatasi banjir, Jakarta memang perlu dibuat zona bangunan. Daerah pesisir utara Jakarta tidak cocok untuk didirikan gedung-gedung tinggi, lebih cocok bangunan ringan saja karena tanahnya rapuh,” kata Robert M Delinom di Jakarta, Selasa (26/3/2013).

Dia mengatakan, pada dasarnya daerah Depok hingga Jakarta merupakan cekungan yang memang menyimpan air. Penyedotan air tanah berlebih, pembangunan sangat intensif, dan tingginya kegiatan sehari-hari manusia di wilayah tersebut selama ini mengakibatkan perubahan signifikan terhadap kondisi lingkungan bawah permukaan cekungan Jakarta.

Amblesan tanah yang meluas menyebabkan daerah luapan banjir bertambah. Hal tersebut karena air yang mengalir dari daerah hulu tidak terbendung dan air rob dari laut semakin tinggi karena penurunan tanah. Robert menuturkan, berdasarkan penelitian ambles tanah juga terjadi di wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK) meski tidak terjadi banjir.

“Karena sistem manajemen air yang baik di daerah sana (PIK) tidak tergenang air, tapi pada dasarnya daerah sana pun turun tanahnya,” katanya.

“Dari hasil penelitian, banjir tahun 2012 bukan karena curah hujan di daerah hulu yang tinggi, tetapi justru hujan di Jakarta yang tinggi, dan air tidak terserap di Jakarta tetapi justru ’parkir’” katanya.

Karena itu, menurut dia, solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi banjir di Jakarta yakni membuat zona bangunan sesuai dengan kondisi tanah.

“Wilayah pesisir kondisi tanahnya lebih cocok untuk zona sarana umum dengan bangunan ringan, wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Timur lebih cocok untuk zona bisnis dan perumahan dengan bangunan bertingkat. Daerah Jakarta Selatan sangat baik untuk dijadikan zona penyangga air tanah dengan bangunan berhalaman luas,” ujar Robert.

Sebelumnya, ia mengatakan penyedotan air tanah secara berlebihan terbukti membuat beberapa lokasi di Jakarta mengalami tanah ambles hingga 25 sentimeter (cm) per tahun.

“Data GPS (Global Positioning System) hasil penelitian dengan ITB menunjukkan subsidence rate (tanah ambles) bisa sampai 25 cm per tahun. Itu cukup tinggi untuk dislocation dari suatu bangunan,” katanya.

Berdasarkan data GPS tersebut, ia mengatakan ambles tanah tercepat antara 20 hingga 25 cm per tahun terjadi di sekitar Senayan, Gedung DPR di kawasan Jalan Gatot Subroto, Joglo. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab meluasnya banjir pada awal 2013.

http://properti.kompas.com/read/2013/03/27/21462032/Pesisir.Jakarta.Tidak.Cocok.untuk.Bangunan.Tinggi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kppwp

Apakah Bottom Emas sudah (hampir) dekat?

Apakah Bottom Emas sudah (hampir) dekat? (Bagian III)

“The catalyst for a spike into the $2,500 to $3,000 price range will be an announcement by China, probably in late 2013 or 2014, that they have acquired 4,000 tonnes or more in their official reserve position.  This will put China on an equal footing with the US in terms of a gold-to-GDP ratio and validate gold as the real foundation of the international monetary system. Once that position is validated, gold will move to the $7,000 range in 2015 and beyond.  Any lower price level is deflationary and must be avoided at all costs by central banks.  The key is that the US and IMF do not want gold to achieve its full potential price until China has acquired its appropriate “share” of official gold reserves.  Any other outcome is unacceptable to China.”

– Jim Rickards

“My advice is to hold all gold positions and wait patiently for the correction to end.  Just before the huge 1979-80 surge, we saw a big ‘clean out’ correction in gold.  I believe history is about to repeat.”

– Richard Russell

Setelah 2 hari lalu membahas kemungkinan level rendah yang dicapai pada fase tekanan emas saat ini, selanjutnya mari kita sejumlah target yang mungkin dicapai emas dalam jangka pendek dan menengah ke depan. Jika memang harga emas mampu bangkit untuk naik kembali, seberapa jauh pergerakan yang akan dilaluinya?

Bagi yang belum mengetahui proyeksi dari Dr. Stephen Leeb, seorang Chairman & Chief Investment Officer di Leeb Capital Management, yang mengatakan bahwa emas akan menuju ke level $20.000!  Maka dapat membaca penjelasannya berikut, dari sebuah wawancara dengan King World News (www.kingworldnews.com) pada 26 Februari 2013:

“There is no question that Bernanke pulled the rug out from under the gold bears today. Their argument has been that the Fed is starting to turn a little bit more hawkish. We had some propaganda coming out which indicated the Fed was going to end QE at some point this year.

 

All of the sudden Ben Bernanke is in front of Congress today basically saying, ‘Hey, wait a minute, this (QE) thing is working. Risks of deflation have gone down dramatically, and we don’t see any major risk of getting out of these bonds.’ Well, give me a break.

The Fed is going to continue with its easy money policy for as long as the eye can see. This is important when looking at the recent action in gold.

90% to 95% of the smash in gold was related to the propaganda coming out of the Fed that they would end QE, and that is complete nonsense. It’s just not going to happen no matter how much disinformation and propaganda comes out of the Fed.

But Bernanke is also trying to say, ‘We have a plan for getting rid of it (QE).’ Well, I’d love to have a dollar for every politician that’s said they have a plan. There is no plan. Who is going to buy $3 trillion worth of US debt? There is an old saying, ‘You can always get out if you want to. The question is what the price is?’ The price in this case will most likely be 20% interest rates and inflation that goes through the roof. The Fed can fool some of the investors some of the time, but not all of them all of the time.

I think the gold market is waking up to this. There is no plan for getting out of this. There can’t be a plan for getting out of this. The reality is the Fed is getting deeper and deeper into trouble here. So the Fed will continue doing what it’s doing, and that’s a recipe for some sort of Armageddon, meaning some sort of point where the Fed ultimately can’t sell their bonds. At that point we will see massive inflation. I hate to say it, but that’s where we are headed.

This is when the real bull market in gold will start. If you look at gold as a percentage of reserves, it has remained at only about 1.5% of reserves since the beginning of the century. If you go back to the 1970s, gold was about 10% of overall reserves. This time around, because the conditions are much worse than in the 1970s, it’s possible that gold could reach 20% of reserves.

Because there is a compounding effect each year from the money printing, this takes gold to levels you don’t even want to talk about. We are talking about $20,000 gold, and possibly more. This is why when people look back on this gold correction it will just be a blip on a chart that you will need a magnifying glass to see.”

Namun tak lengkap rasanya melihat outlook emas tanpa mengetengahkan pandangan dari seorang profesional, dan sekaligus seorang analis terkemuka di Citigroup, Tom Fitzpatrick.  Dia adalah salah satu analis favorit saya dan prediksinya saat bull market emas senantiasa dinanti pelaku pasar.

Fitzpatrick yakin bahwa prospeknya untuk kenaikan ganda harga emas dari levelnya saat ini mungkin akan terlalu ‘konservatif’. Dalam tulisan terbarunya mengetengahkan 6 grafik emas yang menarik yang menggambarkan potensi kenaikan emas luar biasa ke depannya:

“We continue to maintain our bullish medium-to-long-term view on gold against not just the USD but paper currencies in general. At the same time, we believe that the equity market rally is very mature and susceptible to a deeper correction. Within this dynamic we believe we are closing in on a period that will see Gold significantly outperform most currencies and asset classes going forward.

We continue to believe that the present pattern in gold over the past 17 months remains similar to that seen during the 16 month consolidation in 2006-2007 before it moved higher again. Very strong support continues to exist in the $1,520-$1,530 area and we still believe this to be a platform for the next leg higher (see chart above).

 

A move back above the $1,625-1,640 area is the first objective in this respect, followed by $1,670- 1,700. However, it is a break of the $1,790-1,800 area on a weekly close basis that would signal a topside breakout. A move towards $2,055-2,060 would be the target on that break.

 

A move similar to that seen in the 2007-2008 breakout would suggest as high as $2,400-2,500, while our longer term target (3-4 years’ time) remains in the $3,400-3,500 area. This target comes from extrapolating the percentage change of the 1970-1980 bull market in gold, but extracting the final 5 week surge in Dec. 1979 – Jan. 1980 caused by the Russian invasion of Afghanistan.

Without fiscal responsibility, as forced on Congress by Volcker in the early 1980’s, it is hard to see how one can argue for a sustainable down move in Gold. As it stands, the present chart suggests that gold should return to the high of the trend. What if you believe, as some people suggest, that by the end of this political cycle in late 2016 we are looking at a debt limit around USD 21 to 22 trillion (see chart below)?

Correlates amazingly closely to our $3,400-3,500 target on Gold in a similar timeframe.

This is important in showing that the gold trend is one of appreciating against paper currencies (Not just the USD). If one looks at the low of the USD-index posted in March of 2008, it is now over 15% higher. During the same period gold is over 70% higher against the USD. Bottom line is that gold has outperformed an appreciating USD over that time.

 

This also serves to emphasize that our view of both the USD-Index and gold heading higher in the future is not inconsistent. We expect gold to continue to outperform paper currencies but for the USD to be a relative outperformer in the paper currency world.

 

(Japanese yen gold) has already traded to new trend highs in recent weeks although remains far from the all-time high posted in January 1980 (see chart below) above 200,000 (Over 35% above here).

Gold has strongly outperformed a very bullish fixed income market over more than a decade with the present pattern once again looking like a consolidation before higher (see chart below).

So bottom line: We expect the medium to long term trend of Gold appreciation to continue. We expect this appreciation to be not just against the USD, but most paper currencies as the World continues to try and print their way out of this mess.

 

We expect gold to in fact outperform most asset classes although crude (Brent) looks like it could perform even better. It is worth noting that even absent that final surge (in 1980), the gold price went up by a multiple of 5 from 1976-1979 which makes our expectation of a doubling in price over the next 3 years look, if anything, conservative.”

Laporan emas terakhir kali ini datang dari Approximity di Jerman, yang berisi 2 grafik emas yang juga menarik untuk diperhatikan beserta ulasan-ulasan mengapa harga emas diproyeksikannya akan naik hingga $4.866 dalam 2 tahun ke depan.

“They say history does not repeat, but it rhymes sometimes.  Ever since gold assumed its multi-decade low in 1999 (the infamous Brown Bottom) and then, a year or two later, started its rise in a now more than a decade long bull market, there have been five prominent price spikes: May of 2001 with $288.35, on February of 2003 with $385.00, on May of 2006 with $725.75, on March of 2008 with $1,023.50, and on September of 2011 with $1,896.50.

Expressed differently, they seem to come in pairs.  Furthermore, the rise within the pairs (1 to 2 and 3 to 4) was 34% and 41%, while from one pair to the next (2 to 3 and 4 to 5), if we assume that the most recent fifth spike belongs to a pair as well, it was 89% and 85%.  If we take the middle of these respective moves, and also extrapolate the times between them into the future, we could try and guess what a sixth and a seventh price spike could look like (see also chart below).  Our guess would be June of 2013 at $2,603.37 (spike 6) and January of 2015 at $4,865.73 (spike 7).  So, should you be surprised if you would see a $1,000 move in gold in the first half of 2013?  We think you shouldn’t.

The chart below shows one of the potentially most important cycles in macroeconomics.  It plots the Blue Chips of the U.S. industry (the Dow Jones Industrial Average) priced in ounces of gold.  The chart shows that when one real asset (industry) is priced in another real asset (gold), one does not get ever increasing prices, but instead major price CYCLES.  The chart implies that the amplitude of these DJIA:Gold cycles (possibly due to the increasing degree of leverage in the system) has ever grown since December 23, 1913, when the Federal Reserve Act established the second U.S. central bank, the “Federal Reserve” as we know it today.  A target of the DJIA:Gold ratio below 1:1 seems possible.”

Dan di akhir laporan ini, saya kembali menghadirkan sebuah gambar lucu agar tetap ceria menjalani hari ini walaupun apa yang terjadi:

Dibuat Tanggal 06 Maret 2013

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2013/03/08/apakah-bottom-emas-sudah-hampir-dekat-bagian-iii/

 

Apartemen bisa menjadi investasi yang baik

Apartemen bisa menjadi investasi yang baik, dengan catatan pemilihannya benar dan karakter jenis investasi ini memang sesuai dengan kondisi investasi yang Anda cari. Nilai terbesar dari apartemen adalah bangunan dan fasilitas yang diberikan.

Berbeda dari rumah yang harga tanahnya cenderung terus naik, sementara nilai bangunan susut dari waktu ke waktu, nilai ‘naik’ yang Anda dapat harapkan melalui apartemen hanya melalui bangunannya. Karena itu, lokasi apartemen, kualitas konstruksi apartemen, dan jenis fasilitas yang tersedia, menjadi kunci penting untuk melihat apakah investasi di apartemen tersebut dapat menjadi baik. Bila ketiga hal di atas baik, nilai apartemen cenderung stabil, bahkan naik dari waktu ke waktu.

Hal lain yang kerap membuat investasi apartemen menarik adalah rental income (penghasilan yang didapatkan melalui uang sewa). Bila Anda tidak berniat menempati apartemen itu, Anda dapat menyewakannya, baik dalam kondisi kosong (unfurnished) ataupun terisi lengkap (furnished). Uang sewa biasanya Anda terima secara tahunan (terkadang sekaligus 2 tahun atau 3 tahun) dan diterima di muka. Apartemen yang baik (lokasi, kualitas bangunan dan penyediaan fasilitas) dapat memberikan rental income di kisaran 7%-9% per tahun. Bagaimana? Tertarik investasi apartemen? (f) Kunci sukses investasi apartemen, tidak hanya ditentukan oleh lokasi yang baik dan tingginya capital gain. Ada satu faktor yang sering dilupakan dan luput dari perhatian para investor apartemen.

“Banyak investor yang tidak menyadari pentingnya keberadaan pasar sewa di sekitar lokasi apartemen mereka,” kata Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch. “Pasar sewa merupakan sumber pendapatan jangka panjang. Stabilnya neraca investasi apartemen ditentukan oleh keberadaan pasar sewa.”

Menurutnya, tidak semua properti di lokasi premium memiliki pasar sewa. Ali memberi contoh kawasan CBD Sudirman, Jakarta. “Di sana harga jual unitnya terlalu tinggi, yakni berkisar Rp5 miliar, sehingga harga sewanya tidak terjangkau lagi oleh pasar. Jadi, pasar sewa di kawasan CBD Sudirman dipastikan hampir tidak ada,” ujarnya.

Ali memberi kriteria kawasan yang memiliki pasar sewa menjanjikan:

1. Dekat dengan kampus yang berdaya beli tinggi

2. Dekat dengan fasilitas kesehatan

3. Dekat dengan kawasan ekspatriat

4. Berada di dekat kawasan CBD.

Semakin berkurangnya lahan dan tingginya harga rumah di kawasan yang bagus, dan memiliki akses yang mudah tentu banyak orang akan berebutan untuk mendapatkan kemudahan ini, meski harus di bayar dengan mahal. Lokasi menjadi hal yang menjadikan suatu area premium dengan memberikan kemudahan dan penghematan waktu. Selain itu apartemen juga bias memberikan passive income cukup menarik. Anda mendapatkan apartemen yang menghasilkan keuntungan investasi terbesar – Return on Investment (ROI),

Berikut adalah tipsnya :
1. Lokasi nomor satu
Sama seperti pemilihan jenis properti lainnya, penentuan lokasi terbaik menjadi syarat utama memilih apartemen. Anda sebaiknya mencari lokasi yang berada di jalan kelas 1 (utama), karena tingkat kenaikan harga propertinya lebih tinggi bila dibanding dengan lokasi di jalan kelas 2 atau kelas 3. Lokasi nomor satu memiliki segala penunjang untuk percepatan proses pertumbuhan nilai property tersebut.

2. Pilih Beli Apartemen di kawasan pusat bisnis
Dari pemilihan lokasi terbaik ini, Anda akan memperbesar kemungkinan kenaikan harga property dengan kemudahan seperti akses terdekat dengan berbagai fasilitas umum seperti pusat perdagangan dan perkantoran, perbankan, sekolah, rumah sakit, pasar, hotel, terminal busway serta sarana hiburan. Intinya, semakin dekat akses hunian Anda ke tempat-tempat ini maka potensi kenaikan harganya dan nilai investasi makin tinggi.

3. Perhatikan fasilitas
Berbagai fasilitas umum ini juga sebaiknya dilengkapi dengan tersedianya mal. Karena keberadaan mal penting untuk menjamin tersedianya semua kebutuhan kita sebagai pemilik maupun bagi penghuni apartemen nantinya. Dalam satu mal, kita tak perlu jauh-jauh jika ingin berbelanja, makan, berolahraga, mengunjungi sarana bermain anak, hingga menonton film layar lebar.

4. Apartemen dikelola berpengalaman oleh manajemen terbaik
Cari tahu dan cermati pihak pengelola apartemennya, apakah memiliki reputasi terbaik. Anda bisa mengetahuinya dengan melihat jaringan yang dibangun oleh pihak tersebut. Pilih pengelola yang mempunyai jaringan internasional karena biasanya mereka mempunyai jaminan kesuksesan memasarkan apartemen dan menaikkan nilai investasi.

5. Pilihlah apartemen minimal 2 kamar tidur
Ketika ekspatriat berencana untuk tinggal menetap di apartemen, kebanyakan dari mereka akan menggunakan minimal dua kamar tidur. Karena mereka biasanya akan membawa keluarga ataupun relasi. Jadi jika Anda dapat menyediakan dua kamar tidur ini, nilai apartemen Anda akan lebih tinggi untuk diinvestasikan daripada apartemen dengan satu kamar tidur.

6. Pilih kawasan yang aman
Keamanan tentu nomor satu bagi anda, tempat tinggal yang aman dengan security system dan petugas tentu akan menjadikan anda lebih nyaman untuk menempatinya begitu pula dengan orang lain yang akan berlomba untuk menempati kawasan tersebut.

7. Perhatikan status tanah
Ini hal yang tidak bias lupakan status tanah di apartemen tersebut. Karena jika Anda lengah, Anda bisa saja mendapati lahan apartemen sedang dalam sengketa atau merupakan sewa lahan. Pastikan dokumen property tersebut tidak bermasalah (dalam agunan bank, sengketa dll), meminta bantuan notaris atau Pemerintahan setempat sebelum melakukan transaksi. Selamat berinvestasi.

Saat bunga deposito dan tabungan tidak menarik, investasi apartemen merupakan alternatif yang bagus. Kita bisa membelinya untuk dijual lagi atau disewakan. Ada beberapa hal yang perlu dicermati :

  • Lokasi apartemen harus strategis, dekat dengan fasilitas umum, sarana hiburan, dan lain-lain, serta lingkungannya nyaman dan mudah diakses.
  • Kenali pengembangnya. Semakin kredibel pengembang, semakin kecil resikonnya.
  • Pilih apartemen yang dijual secara strata title atau hak milik, karena kekuatan hukumnya lebih baik bila terjadi persoalan dengan pengelola apartemen atau pengembang. Apartemen pun bisa dijual lagi, bukan hanya dipindahtangankan atau dialihsewakan saja.
  • Pilih pengembang yang bertanggung jawab akan kelangsungan hidup apartemennya, dengan jaminan sewa tau menyediakan service apartment.
  • Usahakan membeli kontan. Tidak sedikit pengembang memberi diskon kepada pembeli kontan.
  • Investasi kondominium atau apartemen lebih menjanjikan daripada investasi yang lain. Prediksi bisnis itu disampaikan beberapa pakar properti menyingkapi tren investasi sepanjang 2012. Mereka mengatakan,  investasi kondominium berpotensi mendapatkan keuntungan 200 persen dan memiliki tingkat risiko paling kecil.
  • “Investasi properti merupakan yang terbaik untuk saat ini, harganya tidak akan pernah turun tetapi justru naik dan naik terus,” kata Assosiate Director Research & Advisory PT Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo di 1Park Residence Jakarta, (14/5).

    Arief menjelaskan investasi dibidang properti kondominium hanya memiliki risiko paling kecil yakni jika kondominiumnya tidak terbangun atau hold. “Tetapi, di Jakarta dan sekitarnya ini hanya segelintir developer yang meng-hold pembangunan apartemennya, bisa dihitung dengan jari,” tuturnya.

    Hal yang sama juga dikemukakan Evi Susanti, Senior Associate Director PT Leads Property Service Indonesia. Evi mengaku investasi kondominium beresiko kecil dari investasi saham, obligasi, atau deposito. Menurut Evi, tiap investor selalu bertanya apakah sebaiknya investasi kondominium untuk jangka panjang atau pendek. “Kami sebagai advisor akan mengatakan jika untuk investasi jangka pendek, si investor ada niatan tidak untuk menjualnya kembali atau kalau untuk jangka panjang apakah si investor ada niat untuk menyewakan apartemen yang dibelinya. Nilainya (baik sewa atau jual kembali) bisa berlipat-lipat,” jelas Evi.

    Dia mengaku benar jika faktor resiko paling menonjol dan merugikan dalam investasi kondominium adalah apartemen tak terbangun/ di-hold. “Tetapi paling hanya segelintir, tidak banyak developer yang menghentikan pembangunan apartemennya,” kata Evi. Menanggapi itu, Susan Pranata, corporate marketing director PT Intiland Development Tbk mengatakan pihaknya pernah menghentikan pembangunan suatu apartemen dimana konsumen sudah banyak yang mulai mencicil.

    Menurut Susan, yang terpenting adalah developer itu memiliki etika. “Maksudnya etika untuk mengembalikan uang yang sudah dibayarkan beserta bunganya,” kata Susan. Baginya, menghentikan pembangunan apartemen tidak selamanya jelek. “Pasti ada alasan-alasan mengapa developer menghentikan atau bahkan tidak jadi membangun apartemennya. Misalnya capital marketnya tidak bagus atau ternyata lokasinya tidak layak, dan lainnya,” tutur Susan.

    Olehkarenanya, investor memang harus memilah investasi kondominium seperti apa yang sesuai dan bisa memberikan return bagus. Senior Associate Director PT Leads Property Service Indonesia, Evi menjelaskan, ada beberapa tips dan trik untuk memilih kondominium yang tepat. Pertama, kata Evi, lokasinya harus strategis atau premium. Kemudian, jangan membeli kondominium milik developer yang memiliki unit diatas 500. “Mengapa?Karena jika ingin dijual kembali atau disewakan, Anda akan berhadapan dengan banyak kompetitor,” tuturnya.

    Tak kalah cerdiknya, tambah Evi, investor juga dapat membeli kondominium saat launching atau produk pertama kali dipasarkan (earlybird). “Saat itu potensi keuntungan sangat besar karena nilai belinya jauh lebih rendah dengan nilai jual kembalinya nanti, bisa untung sampai 80 persen,” kata Evi.

    Investasi kondominium juga tidak lepas dari kecerdikan developer dan tim marketingnya. “Developer harus mengerti target pasarnya, konsepnya harus berbeda dari kompetitor dan tim marketing yang bagus. Itu semua menunjang kesuksesan suatu kondominium karena yang banyak mendapatkan pertimbangan konsumen,” kata Lukas Bong, Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) DKI Jakarta. Lukas menambahkan developer juga harus mengerti kondisi keuangan pangsa pasarnya. Harus dihitung betul cicilannya seperti apa, target kenaikan harganya 30-40 persen dan lainnya.

  • Kemacetan dan gaya hidup modern belakangan ini membuat penjualan apartemen kian meningkat. Umumnya, orang membeli apartemen agar dapat tinggal dekat dari tempat beraktivitas, seperti kantor atau kampus.
  • Berikut ini kelebihan dan kekurangan investasi apartemen yang dikutip dari buku “Menjadi Kaya Melalui Properti” tulisan Panangian Simanungkalit:
  • Kelebihan
    Pertama, permintaan (demand) tinggi, terutama di area bisnis, kawasan pemukiman ekspatriat, dan lingkungan kampus. Kawasan pemukiman ekspatriat di Jakarta misalnya kawasan Kemang.
  • Kedua, jangka waktu sewa menengah (2-3 tahun). Apartemen atau kondominium biasanya disewa untuk mendekatkan penyewa dengan lokasi kegiatannya, terutama lokasi kantor. Dengan demikian, jangka waktu sewanya rata-rata sekitar 2-3 tahun.
  • Ketiga, risiko kekosongan rendah. Artinya, jika lokasi tersebut sudah nyaman sebagai tempat tinggal, biasanya penyewa akan terus menempati apartemen tersebut. Di lain pihak, calon penyewa pun berdatangan mencari unit-unit yang kosong untuk disewa. Salah satu faktor rendahnya risiko kekosongan apartemen adalah mulai terbiasanya masyarakat kita dengan budaya tinggal di hunian vertikal.
  • Keempat, capital rate tinggi (7-10 persen). Dengan risiko kekosongan unit yang rendah, maka pendapatan yang datang dari sewa unit pun otomatis menjadi lancar. Hal ini tentu saja membuat Cap Rate tinggi, lebih tinggi dari rumah sewa atau rumah toko dan rumah kantor.
  • Kekurangan
    Pertama, pemilik harus jeli memilih lokasi apartemen atau kondominium yang prospektif. Belakangan, banyak pengembang yang membangun apartemen jauh dari pusat kota atau pusat keramaian. Kawasan seperti ini umumnya tidak layak dijadikan lokasi apartemen, dan tentu saja tidak prospektif sebagai investasi.
  • Kedua, pemilik harus memilih manajemen gedung yang baik. Banyak apartemen di kawasan prospektif CBD yang sepi penyewa karena dikelola manajemen gedung yang kurang baik.
  • Manajemen gedung yang baik selalu memperhatikan faktor kenyamanan penghuni. Mereka juga memperhatikan perbaikan fasilitas umum, seperti kolam renang, lift, dan lain-lain.
  • Bila mana kondisinya setara dalam segi prospek ke depan, tidak ada faktor eksternal seperti banjir, kemacetan, dll, sehingga kita dapat memilih secara “bebas”, maka bagi saya, urutan “prioritas” pemilihan jenis investasi adalah :
  • 1. Tanah
  • Kepemilikan tanah adalah salah satu jenis investasi yang memang menjanjikan return yang cukup positif. Harga kenaikan tanah tiap tahun meningkat di hampir semua kawasan di Indonesia. Rata-rata kenaikan harga tanah berkisar 20 – 25 % per tahun. Pada umumnya kepemilikan tanah akan hanya digunakan masyarakat sebagai jenis instrumen investasi jangka panjang karena sifatnya yang tidak liquid (tidak dapat bersifat cash/tunai kapanpun kita mau).
  • Cara paling mudah untuk memulai investasi ini adalah membeli sebidang tanah (kavling) pada areal perumahan. Biasanya surat-surat legalitas, maupun aspek keekonomiannya cukup menjanjikan.
  • (+) :
    Kenaikan harga (ROI) > 20% per tahun
    Tidak ada biaya maintenance/perawatan
    Resiko kepemilikan atas barang sangat rendah
  • (-) :
    Jarang dapat digunakan sebagai instrumen pendapatan tambahan (disewakan)
  • Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pemilihan investasi “tanah” saya letakkan sebagai pilihan utama untuk investasi jangka panjang, sesuai dengan prinsip low risk high return.
  • 2. Rumah (Landed House)
  • Kepemilikan unit rumah tinggal di atas tanah (Landed house) merupakan keinginan mayoritas orang. Sayangnya keterbatasan lokasi perumahan di pusat kota membuat sebagian orang harus membeli unit rumah di daerah pinggiran kota.
    Jenis imbal balik investasi yang diharapkan bila mana ingin berinvestasi di sektor perumahan ada dua, yaitu Capital Gain maupun Investment Yield.
  • Capital Gain
  • Capital gain adalah return yang diperoleh dari hasil investasi kepemilikan unit barang setiap tahunnya. Artinya jika sebuah barang/tanah/rumah/apartemen, dll didiamkan begitu saja tetap akan menghasilkan kenaikan harga dikarenakan adanya permintaan. Rata-rata kenaikan harga rumah (Capital Gain) sebuah unit rumah berkisar antara 15 – 20% per tahun.
  • Investment Yield
  • Investment yield adalah pendapatan tambahan yang diperoleh dengan memberdayakan barang/rumah/apartemen/dll untuk diutilize/dipergunakan sebagai instrument pendapatan tambahan, seperti disewakan/dikontrakkan dalam kurun waktu tertentu. Harga sebuah rumah sewa biasanya berkisar antara 5 – 7 % per tahun dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
  • Kepemilikan bangunan biasanya akan mengakibatkan adanya biaya penyusutan (depresiasi), namun hal ini akan tertutupi dengan adanya kenaikan harga bahan bangunan (besi, semen, dll) pada unit bangunan baru sehingga unit bangunan lama harganya akan tetap stabil.
  • (+) :
    Dapat dijadikan instrument investasi ataupun tempat tinggal
    Capital Gain : ± 20% per tahun
    Dapat digunakan sebagai unit tambahan penghasilan,Investment yield : 5-7 % per tahun
    Dapat direnovasi sesuai dengan keinginan pemilik
  • (-) :
    Harus dialokasikan dana khusus untuk maintenance (perawatan rumah)
    Adanya resiko kepemilikan unit (biasanya dicover dengan asuransi)
  • 3. Apartemen
  • Tinggal di apartemen saat ini bukan lagi sekedar life style, melainkan sudah merupakan kebutuhan akan tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerja. Keterbatasan lahan mengakibatkan satu-satunya solusi adalah membuat hunian secara vertikal.
  • Layaknya landed house, investasi di bidang hunian apartemen akan menghasilkan 2 jenis pendapatan, yaitu investment yield yang kurang lebih hampir sama dengan kepemilikan sebuah rumah, maupun capital gain sebesar 15 % per tahun, sedikit lebih rendah dari landed house karena tidak menikmati kenaikan harga tanah.
  • Resiko terbesar dalam kepemilikan apartemen adalah ketiadaan tanah, sehingga bila bangunan kurang perawatan maka kenaikan harga unit apartemen akan sangat kecil bahkan stagnan, dikarenakan tidak ditopang oleh kenaikan harga tanah.
  • Bila mana ingin dijadikan instrument investasi jangka panjang dengan harapan dapat menikmati investment yield dari harga sewa unit, usahakan sistem kontrak jangka panjang dapat diperoleh. Karena bila dalam kurun waktu tertentu tidak terdapat penyewa, maka sang pemilik harus membayar biaya tambahan maintenance yang cukup besar dengan kisaran Rp. 8000 – 12.000/m2 untuk apartemen kelas menengah.
  • (+) :
    Dapat dijadikan instrument investasi ataupun tempat tinggal
    Capital Gain : ± 15% per tahun
    Investment yield : 5-7 % per tahun
    Biasanya dekat dengan lokasi kerja, dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap
  • (-) :
    Biaya perawatan cukup besar
    Tidak memiliki tanah (Hak Guna Bangunan – HGB)
    Tidak dapat direnovasi sesuka hati (biasanya hanya terbatas pada design interior)
  • Namun apapun itu, kenaikan hasil investasi semua kembali lagi bergantung kepada hukum ekonomi Supply vs Demand, permintaan vs penawaran. Kepemilikan apartemen akan jauh lebih baik bila mana prospek apartemen tersebut sangat bagus sehingga permintaan tinggi, mengakibatkan harga melejit naik secara signifikan. Begitupun sebaliknya, harga tanah tidak akan memiliki porsi kenaikan yang cukup signifikan bila mana di daerah tersebut bukanlah daerah yang potensial untuk dijadikan daerah hunian atau lokasi usaha. Saran saya survey dahulu apakah apartemen, rumah, atau tanah yang akan dibeli memiliki prospek jangka panjang yang “menjanjikan” atau daerah tersebut malah akan stagnan dikarenakan faktor bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dll ataupun faktor kemacetan yang parah sehingga orang tidak berkenan untuk berinvestasi di daerah tersebut.