Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

September 12th, 2011

“On August 17 the S&P 500 Index 50-EMA crossed down through the 200-EMA, declaring by our definition that the long-term trend was down and that we were in a bear market.  When this happens, we remind ourselves that “bear market rules apply,” and that we should expect negative outcomes more often than positive ones.”

-Carl Swenlin, DecisionPoint-

Seperti saya berjanji pekan yang lalu, dalam part 2 atau bagian kedua dari artikel ini akan saya bahas kondisi teknikal bursa saham, baik untuk Amerika Serikat dan Indonesia.  Disamping itu, saya juga akan coba memberikan rekomendasi investasi untuk 6 bulan hingga setahun kedepan dan memberitahu caranya bagaimana Anda dapat mengamankan portofolio Anda terhadap ketidakpastian yang makin meningkat.

Banyak orang bertanya kepada saya mengapa saya cenderung bearish terhadap arah pergerakan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang.  Pada dasarnya pertimbangan saya cukup sederhana, yaitu memburuknya data ekonomi di negara maju (Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Jepang) maupun kondisi teknikal dari mayoritas bursa saham – terutama bursa saham AS – mengindikasikan lajunya kedepan kemungkinan akan agak tertahan.

Saya mengakui bahwa memang lebih enak untuk membayangkan bahwa situasinya tidak seburuk itu, tetapi kita juga perlu menyadari suatu pemulihan ekonomi tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat.  Bahkan jika krisis hutang publik dan perbankan di Eropa tidak dapat diatasi dengan cara yang rapi, kejatuhan bursa saham dunia yang kita saksikan pada bulan Agustus mungkin hanya merupakan sebuah pemanasan untuk penurunan tajam yang menanti kita.

Apakah the bears akan mengalahkan the bulls?

“In our view, the Federal Reserve’s money printing is the main reason the S&P 500 just about doubled from March 2009 through June 2011. Now that the Fed has stopped goosing the markets, stock prices have tanked.  We do not see any source of money to take stock prices higher.”

-market research firm TrimTabs-

Pertama-tama saya ingin menampilkan beberapa grafik yang membuktikan bahwa the technical damage di bursa saham AS sungguh parah.  Misalnya dalam grafik dibawah ini, saya mempergunakan data bulanan untuk menunjukkan the primary trend atau tren utama/jangka panjang.

Ada dua hal yang sangat menarik pada grafik ini:

 

  • Moving Average Convergence Divergence (MACD) baru saja membentuk sebuah dead cross atau MACD line berpotongan signal line dari atas ke bawah, yang ditunjukkan oleh panah yang merah.  Pada umumnya ini merupakan suatu sinyal yang bearish, apabila bursa saham tidak segera dapat bangkit dalam beberapa pekan kedepan.  Pada tahun 2007 pun MACD memberikan peringatan dini, yang membantu investor dalam menghindari pelemahan yang dahsyat hingga kuartal pertama 2009, jika mengikutinya dengan baik.
  • Di bawah saya memperlihatkan a simple 12-month rate of change (ROC) indicator, yang kembali menunjukkan sebuah bearish divergence untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya juga muncul dari tahun 1997 hingga 1999 dan 2004 hingga 2007.  Lalu perlu dicatat pula bahwa suatu ROC line di bawah nol memaparkan downtrends seperti pada tahun 2000-2003 dan 2008-2009.  Kini ROC makin mendekati the zero line, jadi perhatikanlah indikator ini dengan seksama untuk menentukan apakah bull market akan bertahan atau tidak.

Kedua grafik dibawah ini pun membuktikan bull market, yang berlangsung dari kuartal pertama 2009 sampai kuartal kedua 2011, kemungkinan sudah berakhir.  Coba melihat grafik mingguan dari Dow Jones di bawah ini terlebih dahulu.

Ketika terjadi koreksi selama kuartal kedua 2010, pada waktu krisis hutang publik di Yunani untuk pertama kali mulai terkuak, indeks saham AS utama ini hanya turun sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 9400.  Namun, pelemahan bursa saham AS belakangan ini – yang berawal sesaat sesudah QE2 dihentikan – jauh lebih dalam dibanding tahun yang lalu (lihat grafik dibawah ini).

Kali ini koreksi telah melampaui 61.8% fibonacci retracement, sebelum mampu rebound secara terbatas.  Pada dasarnya, makin kecil retracement atau penurunan sebelum suatu bullish reversal, makin kuat bursa saham untuk meneruskan penguatannya.

Maka pelemahan dalam beberapa bulan terakhir ini sama sekali tidak menumbuhkan kepercayaan bahwa bull market akan bertahan, dan malahan memberikan tanda untuk awalnya bear market yang berkepanjangan.

Apabila Anda masih saja kurang mempercayai kenyataan bahwa bursa saham AS telah kehilangan momentum-nya, mungkin dua chart berikut ini akan menyadari Anda akan hal tersebut.  Grafik diatas ini misalnya memberikan bukti klasik untuk sebuah bear market, yaitu MA-50 (harga rata-rata selama 50 hari perdagangan terakhir) yang memotong MA-200 ke bawah.

Kemudian trend line yang terbentuk dari level terendah pada tahun 2009 di 6469.95, dan bertahan sampai awal kuartal ketiga, baru saja ditembus 6 pekan yang lalu (lihat grafik dibawah ini).  Berdasarkan sekian banyak sinyal, saya berani menyimpulkan bursa saham AS kemungkinan besar tidak akan mencetak rekor terbaru tahun ini, dan cenderung menuju ke kisaran antara 8917 dan 9672 dalam jangka menengah, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements dari kenaikan sebelumnya dari 6469 hingga 12876.

September yang kelabu?

Di kalangan investor, September memang dikenal sebagai bulan yang buruk untuk bursa saham.  Sejak Dow Jones Industrial Average diperdagangkan di tahun 1896, indeks tersebut rata-rata turun sebesar 1,07% pada bulan September, sedangkan Dow Jones naik rata-rata 0,71% dalam semua bulan lainnya.

Dan … lebih menakutkan lagi, bursa saham biasanya berkinerja buruk sekali pada bulan September jika selama bulan sebelumnya melemah secara signifikan.  Justru itulah yang terjadi, dimana S&P 500 jatuh 5,7% dan Dow Jones tergelincir 4,4%.  Selanjutnya 2 dari 10 hari terburuk sepanjang sejarah untuk Dow Jones terjadi di bulan lalu, yaitu sebuah kejatuhan sebesar 635 poin pada 8 Agustus dan suatu penurunan sebanyak 513 poin pada 4 Agustus.

Namun seperti dapat Anda lihat pada tabel dibawah ini, pelemahan sebesar 777.68 poin pada tanggal 29 September 2008 tetap saja merupakan kejatuhan terbesar yang pernah terjadi dalam sehari.  Penurunan tersebut juga menghilangkan kekayaan pemegang saham senilai lebih dari $1.2 trillion, dan sekaligus membuat sejarah sebab untuk pertama kali kerugian dalam satu hari perdagangan melebihi 1 trilyun dolar AS.

Memang bursa saham AS mungkin memperoleh sebuah dorongan dari the Fed jika bank sentral AS mengumumkan stimulus tambahan dalam bentuk quantitative easing, tetapi kita harus menunggu sampai 21 September untuk itu.  Sebaliknya apabila the Fed ternyata mengejutkan pelaku pasar dan tidak menerapkan QE3, bursa saham berpeluang jatuh bebas.

Maka perlu diingat bahwa secara historis Dow Jones seringkali mencetak major lows pada bulan September dan Oktober.  Oleh karena itu, Anda mungkin akan mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk mengakumulasi saham-saham dengan harga yang lebih murah – terutama di negara berkembang seperti Indonesia – selama dua bulan kedepan, asalkan perekonomian dunia tidak mengalami sebuah resesi ataupun depresi.

Kondisi teknikal terkini

“A counter-trend rally may be in the making, but it could be short-lived from the perspective of magnitude or duration.  Until the economy offers better clues of its recovery, we advise a cautious approach.”

-Sam Stovall, chief investment strategist at Standard & Poor’s-

Setelah pelonggaran moneter atau QE2 dari the Fed berakhir pada 30 Juni lalu, Dow Jones anjlok lebih dari 2000 poin (lihat grafik dibawah ini).  Meskipun demikian, Investors Intelligence mengatakan, “With the market down 11 percent in August alone, the idea that the market is not in full panic mode could indicate that there is more – significantly more – room to the downside.”

Saya sendiri sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut dari Investors Intelligence.  Masih terlalu banyak analis maupun investor merasa sangat optimis mengenai arah pergerakan bursa di masa yang akan datang, dan bahkan sama sekali tidak memikirkan skenario terburuk dapat terwujud dalam jangka pendek.

Walaupun bank sentral AS misalnya memutuskan untuk membeli US Treasuries, mortgage-backed securities atau aset yang lain, bisa saja bahwa kenaikan pasar hanya bertahan sebentar karena investor menurunkan estimasi mereka terhadap pendapatan perusahaan pada tahun 2012.  Jadi jangan menjadi lengah maupun berpuas hati, dan bertindaklah secara bijaksana.

Dalam jangka pendek, suatu flag atau bendera terlihat dengan jelas pada daily chart dibawah ini.  Pola harga tersebut pada umumnya merupakan sebuah periode dimana bursa “beristirahat” atau berkonsolidasi sebelum melanjutkan pergerakannya sesuai dengan arah sebelumnya.

Maka boleh dikatakan bahwa probabilitas cukup besar Dow Jones akan anjlok kembali ke target berikutnya di sekitar 9025 setelah menembus support dari flag secara signifikan.  Untuk menemukan target itu, Anda hanya tinggal mengambil kisaran dari penurunan sebelumnya (2147 poin dari 12751 hingga 10604), dan menguranginya dari level dimana benderanya pecah ke bawah.

Bagaimana dengan IHSG?

Investor di bursa saham Indonesia sungguh beruntung sekali, sebab hanya indeks saham Indonesia, Thailand dan the Philippines mampu bertahan di atas MA-200 masing-masing mereka.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik mingguan dibawah ini, sejak kuartal kedua 2009 setiap koreksi tertahan oleh SMA-40 – yang sebetulnya sama dengan MA-200 pada daily chart – dan tidak sekalipun IHSG ditutup di bawahnya.

Maka boleh dikatakan bursa Indonesia secara terus-menerus memperlihatkan keperkasaannya dibandingkan bursa yang lain.  Meskipun begitu, koreksi terbesar sejak tahun 2008 (dari sekitar 4200 hingga 3590 atau sekitar 14,5%) mengindikasikan suatu pemburukan teknikal yang perlu diwaspadai dengan seksama (lihat grafik dibawah ini).  Khususnya level tertingginya selama ini di sekitar 4200 harus dipecahkan terlebih dahulu, untuk memastikan koreksi yang lebih dalam tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Apakah nasib Amerika Serikat akan sama dengan Jepang?

“Technically speaking on the S&P 500 index, we should point out that twoof our longer-term moving averages were violated in bearish fashion – the 15-month and 45-month moving averages.  In fact, there are only two occurrences of the 45-month moving average being broken since 1980, which rather interestingly occurred during the past two bear markets – which suggests a bear market has indeed begun.  In each of the previous cases, the S&P 500 bottomed -27% and -33% below this level.  At present, the S&P stands a mere -4% below this level, which would lead one to believe that another 20% to 25% decline is in order.  This is serious stuff to be sure.”

-Richard Rhodes, The Rhodes Report-

Grafik dibawah ini membandingkan S&P 500 pada saat ini terhadap indeks saham Nikkei selama lost decade-nya di Jepang.  Menurut penghematan saya, chart ini pantas mendapatkan perhatian Anda.

Siapa tahu arah pergerakan bursa saham di Amerika Serikat akan mirip dengan bursa saham Jepang dari tahun 1979 hingga sekarang …  Mengapa demikian?

Karena AS telah dan sedang mengambil semua langkah sama seperti yang Jepang lakukan pada tahun 1990an-2000an, yaitu menyelamatkan bank yang seharusnya bangkrut, mempertahankan tingkat suku bunga di sekitar 0% (yang disebut ZIRP atau zero interest rate policy), maupun membanjiri sistem keuangannya dengan likuiditas yang tidak terbatas.  Jadi jangan heran apabila pergerakan kedua bursa ini memang searah, dan kini dibayangi koreksi yang tajam sekali setelah menyelesaikan bear market rally-nya selama 2,5 tahun terakhir.

Kemudian grafik diatas ini, yang menampilkan kejatuhan Dow Jones selama the Great Depression, anjloknya Nikkei 225 pada 1989, dan S&P 500 sejak mencapai puncaknya di tahun 2000, memberikan gambaran yang serupa.  Terlihat jelas bahwa the Fed mempunyai pengaruh yang besar dalam mempertahankan bull market yang berlangsung sekarang, tetapi sampai kapan?

Maka pada dasarnya kita dipaksa untuk mengikuti the QE game.  Dengan kata lain, apakah kita berada diambang sebuah market crash berikutnya atau tidak akan sepenuhnya ditentukan oleh tindakan the Fed maupun bank sentral lainnya di negara maju.

Berdasarkan kenyataan tersebut, saya berpendapat investor sebaiknya wait and see saja sampai ada keputusan dari bank sentral AS pada tanggal 21 September mendatang.  Hanya satu hal adalah pasti: VOLATILITAS tetap akan sangat tinggi selama beberapa tahun kedepan seperti awal abad ke-21 ini, yang secara rata-rata telah mengalami tiga kali lipat hari perdagangan dengan kenaikan atau penurunan yang lebih dari 2% dibandingkan 50 tahun sebelumnya (menurut S&P).

Untuk menutup bagian ini mengenai kondisi teknikal bursa saham AS yang sudah cukup panjang, saya hanya ingin menambah dua hal penting:

  • Jadilah terbiasa dengan volatilitas yang sangat tinggi, dan manfaatkannya dengan sebaik mungkin dengan membeli saham ketika terkoreksi secara dalam dan menjualnya secara parsial pada waktu terjadi kenaikan yang signifikan.
  • Kemungkinan besar akan paling aman untuk membeli saham setelah Dow Jones membentuk sebuah double bottom ataupun low lebih rendah, yang disertai dengan BULLISH DIVERGENCES di berbagai momentum indicators.  Baru setelah itu terjadi, akan saya berani untuk mengatakan bahwa indeks saham AS akan melanjutkan kenaikannya.

Rekomendasi investasi

Selalu ingat bahwa THERE IS ALWAYS A BULL MARKET SOMEWHERE jadi investor setiap saat berpeluang untuk mencari keuntungan lewat pasar keuangan, entah itu dari bursa saham, pasar valuta asing, pasar komoditas ataupun pasar obligasi.  Pada akhirnya uang selalu akan lari ke tempat dimana diberlakukannya paling baik dan/atau bisa memperoleh imbal hasil yang terbesar.

Saya berpikir sebagian besar diantara kita mungkin akan setuju bahwa suatu stock market collapse dapat terjadi setiap saat.  Kini cukup banyak BOM WAKTU yang dapat meledak secara tiba-tiba, seperti sebuah negara yang gagal bayar hutangnya (Yunani?), suatu bank besar di Eropa yang mengalami kebangkrutan, ataupun Amerika Serikat yang dilanda resesi kembali …  Maka investor perlu mencermati apa yang ditulis oleh Sam Stovall dalam weekly commentary-nya: “If the market action in 2008 taught us anything, it was: Be proactive and expect the worst.”

Nah, bagaimana kita mempersiapkan diri sendiri untuk situasi yang terburuk sekalipun, agar kita bisa mengharapkan yang terbaik untuk portofolio pribadi kita?  Berikut ini akan saya berikan beberapa rekomendasi, yang mudah-mudahan bermanfaat untuk Anda:

1) Jangan menanamkan 100% dari dana Anda di saham pada saat ini atau dengan kata lain, don’t get fully invested!  Alangkah baiknya simpanlah sedikit uang tunai (20% sampai 50%) yang bisa dialokasikan ketika bursa saham mengalami koreksi yang dalam.  Seringkali Anda akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk menambah saham dengan fundamental yang bagus selama suatu koreksi.  Kuncinya adalah KESABARAN karena dalam bull market yang terkuat sekalipun, harga saham kadang-kadang akan turun.

Pada intinya nilai dari sebuah perusahaan yang tercatat di bursa tidak akan berubah sebanyak bursa saham itu sendiri. Maka selama ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi dunia masih tinggi, Anda sebagai seorang investor cenderung akan menemukan perbedaan yang cukup besar antara harga saham dan nilai atau value dari sebuah perusahaan.

Oleh karena itu, jika Anda mau mengakumulasi kekayaan dalam jangka panjang sebagai seorang VALUE INVESTOR (bukan seorang TRADER), hal yang paling penting sekarang adalah menyusun “daftar belanja” Anda yang terdiri atas saham yang ingin dimiliki dalam portofolio pribadi.

Terutama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang paling menarik dalam 5 hingga 10 tahun kedepan, banyak saham menawarkan upside yang sangat menggiurkan.  Belilah perusahaan yang memiliki good earnings visibility, memberikan dividen secara regular maupun diperdagangkan pada P/E ratio yang rendah, dan Anda dipastikan akan menuju ke masa depan yang sejahtera!

Terakhir tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Anda harus membelanjakan semua dana Anda sekaligus, jadi Anda selalu bisa membeli sedikit demi sedikit atau menerapkan dollar cost averaging.  Dengan demikian Anda akan mempunyai harga rata-rata yang bagus dan tidak panik pada saat bursa saham turun tajam, sebab Anda justru akan dapat membeli lebih banyak saham pada harga yang jauh lebih rendah.

2) Akhir-akhir ini terasa seolah-olah sistem perbankan Eropa, dan sebagai akibatnya sistem perbankan global makin menuju kepada keruntuhan dahsyat yang berikutnya.  Berarti hanya dalam beberapa bulan yang akan datang, bursa saham dunia di negara maju dapat menyentuh kembali level terendahnya pada tahun 2009 atau bahkan jatuh lebih rendah, sementara harga emas berpeluang menguat ke inflation-adjusted high-nya di sekitar $2,400/oz.  Jadi untuk sementara waktu, belilah EMAS (sebagai asuransi) dan pertahankanlah CASH (sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok).

Saya pernah mengatakan sebelumnya, tetapi saya merasa perlu mengulanginya sekali lagi pada bagian ini: setiap investor seharusnya (memiliki/mempunyai) 5% hingga 10% dari portofolionya dalam bentuk emas sebagai suatu downside protection yang bantu meringankan tekanan mental maupun kerugian dari aset lainnya.  Makin banyak orang Barat yang cerdas pun berpikir demikian, apalagi dengan real interest rates yang tetap akan negatif dalam jangka waktu yang panjang.

Harga emas masih jauh dari puncaknya, dan saya masih berpendapat emas akan mencapai setidaknya $5,000/oz sebelum bull market ini berakhir.  Oleh karena itu, Anda sebaiknya menganggap setiap penurunan sebagai sebuah hadiah atau kesempatan untuk membelinya di harga yang lebih rendah.

Pendek kata, Anda harus melihat emas sebagai suatu mata uang yang merupakan sebuah alternatif terhadap dolar AS (maupun mata uang yang lain seperti euro, yen dan pound sterling) yang akan makin dilirik di masa depan seiring dengan pencetakan uang dalam jumlah yang tidak terbatas oleh Amerika Serikat dan berbagai pemerintahan lainnya (lihat grafik diatas ini).

3) Dengan negara maju yang makin membatasi stimulus fiskal dan cenderung menekankan penerapan austerity measures untuk mengurangi defisit anggarannya, the Federal Reserve bersamaan dengan bank sentral lainnya mungkin saja akan terpaksa untuk mengumumkan quantitative easing ketiga, keempat, dst.  Apabila hal tersebut terjadi, yakinlah bahwa dolar AS akan terpuruk dan pada gilirannya harga komoditas naik.

Seperti C. Martenson menulis dalam artikel yang berjudul Why Commodities Are the New Safe Haven, “For those looking to preserve the purchasing power of their wealth, it’s important to understand the growing momentum in the global mindshift away from paper assets towards more tangible stores of value.” Dengan kata lain investor secara pelan tetapi pasti akan memindahkan dananya dari PAPER ASSETS – khususnya uang kertas – kepada REAL ASSETS seperti komoditas, yang memiliki nilai intrinsik yang jelas.

Secara teknikal pun, the Continuous Commodity Index (CCI) menunjukkan pasar komoditas secara umum masih kuat, yang dibuktikan oleh pembentukan sebuah bull flag, yang disertai Relative Strength Index (RSI) dan MACD yang naik (lihat grafik dibawah ini).

Perhatikan juga bahwa indeks ini sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 43% selama 8 bulan dari Juli 2010 hingga April 2011, setelah berkonsolidasi dalam pola serupa.  Memang tidak ada jaminan apapun bahwa harga komoditas akan kembali melonjak, tetapi jika mesin cetak dijalankan tanpa henti lagi, jangan terkejut itulah justru yang akan terjadi.

Kesimpulan

“The whole current mess reminds me a lot of 1929-30.  After the crash of ’29, the stock market roared higher, even as the economy was simultaneously weakening.  When the great post-crash rally died in April 1930, the market turned down with a vengeance, and the Great Depression began.  … The market is probably now in the process of forming a complex top.  If the market now turns down convincingly, we could see the beginning of Great Depression No. 2.”

-Richard Russell-

Sebagai penutup dari artikel panjang ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk direnungkan:

Kini, hanya ada dua hasil akhir yang mungkin akan tercipta.  Pertama pembuat kebijakan bisa mendukung “quantitative easing to infinity”, yang akan menopang perekonomian dunia untuk sementara waktu tetapi pada akhirnya mengakibatkan HYPERINFLATION.  Atau … kedua, penghematan pengeluaran pemerintah menyebabkan sebuah deflationary economic collapse atau the GREATER DEPRESSION, yang kemungkinan akan membuat depresi selama tahun 1930an kelihatan kecil.

Comstock Partners dalam market commentary-nya yang tertanggal 18 Agustus 2011 menyampaikan analisa yang tajam: “We believe that the market has now entered a major downtrend.  It is a mistake to dismiss the slide we’ve seen to date as mindless and devoid of fundamentals as many strategists maintain.  These are not just scary headlines – they are scary fundamentals.  As usual, there will undoubtedly be some more sharp rallies that will be interpreted as new bull markets.  In our view, however, the bear market has only begun, and has a long way to go.” Kalau seandainya begitu, rupanya bursa saham benar-benar akan menguji kesabaran kita dalam beberapa bulan yang mendatang.

Masalah utama yang akan melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia adalah KELEBIHAN HUTANG.  Secara sederhana, banyak orang maupun negara menghadapi jumlah hutang yang mereka tidak bisa lunasi.  Meskipun begitu, berbagai pemerintahan dan bank sentral di seluruh negara Barat tanpa hentinya menampal bailouts, jaminan, paket penyelamatan dan restrukturisasi hutang, dan dengan demikian coba melawan hukum ekonomi. Namun semua orang yang masih waras mengerti bahwa negara, dan juga orang maupun perusahaan, yang berhutang secara berlebihan pada akhirnya akan bangkrut.  Jadi makin lama bank sentral dan pemerintahan dari negara Barat berusaha untuk menunda defaults yang tidak terhindarkan, makin lama dan menyakitkan investor akan menderita!

Dalam sebuah CNN poll yang belum lama dilaksanakan, 48% mengatakan Great Depression yang berikutnya kemungkinan akan terjadi pada tahun depan.  Ini merupakan persentase yang tertinggi yang pernah tercatat untuk prediksi suram tersebut.
Yang paling menyedihkan adalah bahwa tidak ada “pil ajaib” untuk memulihkan kondisi perekonomian.  Jika memang ada, bukankah sudah pasti “ditelan” dari dulu?  Memang the Fed dapat mencoba QE3 yang jauh lebih besar, tetapi itu hanya akan menaikkan tingkat inflasi maupun menambah jumlah hutang publik, dan mendongkrak ekonomi sebentar saja.
Apabila sebagian besar orang sedang mengharapkan QE3 dan berpendapat the Federal Reserve akan mengumumkan stimulus tambahan pada rapat FOMC berikutnya pada tanggal 20-21 September mendatang, bukankah seharusnya hal tersebut sudah mulai terdiskonto dalam harga pasar pada saat ini?

Bill Bonner belum lama ini mengatakan, “The Era of Financial Repression is here.  The financial world will be jumping from temporary crisis to temporary crisis.  The solution will always be to borrow and print more money.” Tentunya ini akan mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai asset markets kedepan.

Lebih lanjut Bill Bonner juga berkeyakinan bahwa “The bear market is back.  By our reckoning, the Dow should fall below 5,000 before it is over.  Most likely, it will not be a short, quick collapse.  Instead, it will be a long battle … stretched over many years … with the feds fighting over every inch.” Saya sendiri tidak dapat mengungkapkannya dengan kata yang lebih indah jadi saya mengutip beliau secara literal saja.  Dan … hal yang paling membuat saya penasaran adalah bahwa the inflation-adjusted Dow, yang selama 111 tahun terakhir diperdagangkan didalam an extremely long-term upward sloping trend channel (menurut www.chartoftheday.com), memang menunjukkan suatu target koreksi antara 4,000 dan 5,000 wajar sekali (lihat grafik dibawah ini).

Sebagai catatan, saya hanya mengamati pasar dan juga tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi apa yang saya melihat pada saat ini memang tidak begitu meyakinkan.  Sebaiknya hati-hatilah dan gunakan stop loss yang ketat untuk menghindari kerugian yang terlalu besar jika ternyata pasar benar-benar anjlok.

Selamat berinvestasi, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Salam sejahtera

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/09/12/waspadai-koreksi-lanjutan-di-bursa-saham-dunia-part-2/

Badai pasti berlalu di pasar emas

Badai pasti berlalu di pasar emas

August 26th, 2011

“Gold, unlike all other commodities, is a currency … and the major thrust in the demand for gold is not for jewelry.  It’s not for anything other than an escape from what is perceived to be a fiat money system, paper money, that seems to be deteriorating.”

-Alan Greenspan, August 23, 2011-

Berhubungan saya mendapatkan begitu banyak pertanyaan mengenai penurunan harga emas dalam tiga hari terakhir, saya memutuskan untuk memberikan sebuah update dengan grafik harian agar Anda mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang kondisi teknikal terkini.  Pada dasarnya ada tiga alas an utama mengapa emas anjlok:

1) Banyak orang telah membeli emas ketika harganya masih di $1,500an/oz sampai $1,700an/oz, jadi sebagian diantaranya menilai sudah saatnya untuk mengambil untung terlebih dahulu.  Jangan lupa bahwa emas memang naik dengan cepat dalam waktu yang sangat singkat, dimana harganya telah meningkat hampir 35% atau $500/oz sejak Januari 2011.  Bahkan dari 1 Juli hingga 23 Agustus harga emas melonjak dari $1,478.01/oz ke $1,911.46/oz!

2) Salah satu katalis yang juga menekan harga emas adalah kenaikan gold margins di Shanghai Gold Exchange sebesar 26%.  Selain itu the CME (Chicago Mercantile Exchange) Group Inc., yang merupakan perusahaan induk dari bursa-bursa utama yang memperdagangkan logam dan energi di Amerika Serikat, pun menaikkan margin requirements di pasar emas untuk kedua kalinya bulan ini.  Untuk bertransaksi kontrak emas investor pada saat ini memerlukan jaminan senilai $9,450 per 100-ounce contract, atau 27% lebih tinggi (dibandingkan/daripada) sebelumnya.

3) Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, harga emas mengalami akselerasi yang luar biasa dalam dua pekan terakhir sebelum mencapai level tertingginya sepanjang sejarah di $1,911.46/oz.  Bersamaan dengan itu, RSI menunjukkan sebuah bearish divergence dan MACD – pada grafik mingguan – tidak pernah setinggi itu dalam lebih dari 30 tahun.  Maka koreksi ini adalah sangat wajar, dan hanya bersifat sementara saja.

Target koreksi sendiri terletak antara $1,694.74/oz dan $1,745.88/oz, yang masing-masing merupakan 50% dan 38,2% fibonacci retracements.  Jadi low pada hari Kamis 25 Agustus di $1,703.90/oz kemungkinan adalah level terendah dari koreksi yang berlangsung sekarang.

Kesimpulan

Secara fundamental tidak ada perubahan sama sekali.  Tren utama pun tetap bullish, maka buy on weakness adalah siasat yang paling bijaksana.

Kepercayaan saya terhadap emas sebagai suatu investasi yang menjanjikan tidak tergoyah sedikitpun.  Pada akhirnya emas masih merupakan sebuah safe haven maupun inflation hedge yang terbaik dalam kondisi perekonomian yang mengarah kepada STAGFLASI (atau pertumbuhan ekonomi di negara maju yang stagnan dibarengi dengan inflasi yang tinggi).

Koreksi adalah hal yang biasa dan merupakan bagian dari uptrend.  Mudah-mudahan Anda dapat menerimanya secara tenang karena VOLATILITAS tetap akan tinggi sekali dalam beberapa tahun kedepan.

Dan … sebagai pengetahuan Anda saja, saya masih mempertahankan target emas di $1,935.15/oz untuk kuartal keempat tahun ini dan tidak akan terkejut apabila harga emas melebihi $2,000/oz sebelum tahun ini usai.

Selamat berinvestasi di pasar emas dan semoga sukses selalu!

”Kereta emas” melaju terus

”Kereta emas” melaju terus

“Even though critics will not tire of discrediting gold as the barbarous relic and yesterday’s money that has no place in modern society, we would like to ask the question what timeline they have looked at. “Natural laws” such as “property prices don’t fall”, “US Treasuries are risk-free”, or “The Earth is flat” may have applied in the (recent) past, but if we broaden the (time) horizon, we find that the picture changes.  The mere extrapolation of the past leads to disastrous results in the long term.  Gold on the other hand has a track record of 6000 years as the currency of last resort and has never turned worthless.”

-Ronald-Peter Stöferle, In GOLD we TRUST-

Pagi ini emas kembali membukukan level tertinggi sepanjang sejarah di $1,911.46/oz, dan seolah-olah merupakan sebuah kereta yang telah meninggalkan stasiunnya dan tidak dapat dihentikan oleh apapun atau siapapun.  Meskipun volatilitasnya agak menurun pada awal pekan lalu dengan kisaran rata-rata sebesar $25, akhirnya emas breakout lagi pada hari Kamis dimana range harian meningkat hampir dua kali lipat ke $46 selama tiga hari perdagangan terakhir.

Ternyata trading plan yang saya berikan di artikel sebelumnya cukup mapan dan menghasilkan return yang memuaskan: “Maka ada dua opsi untuk investor yang ingin membeli emas pada saat ini, yaitu menunggu sampai emas terkoreksi antara $1,685/oz dan $1,735/oz atau membeli emas ketika resistance di sekitar $1,770/oz ditembus.

Pada kenyataan emas hanya memasuki buying zone tersebut pada 12 Agustus di $1,723.95/oz maupun 15 Agustus di $1,729.10/oz, dan cuman me-retrace sekitar 23,6% dari gerakan sebelumnya dari $1,478.01/oz hingga $1,813.79/oz.  Berarti the bulls are very strong belakangan ini dan mengendalikan pasar emas sepenuhnya!

Pertarungan antara emas dan uang kertas berlanjut

“In effect, there is nothing inherently wrong with fiat money, provided we get perfect authority and god-like intelligence for kings.”

-Aristotle-

Setelah emas berkonsolidasi selama 2 bulan antara Mei dan Juni, harganya beranjak naik terus karena makin banyak investor menyadari bahwa hanya ada satu mata uang yang mereka bisa percayai.  Coba saja menjawab pertanyaan berikut ini: “Mata uang apa yang tidak pernah akan menghilang dari muka bumi ini dan mempertahankan nilainya ketika suatu krisis global mengancam perekonomian dunia?”  Apabila jawaban Anda EMAS, Anda pun mulai memahami aset ini merupakan satu-satunya uang yang sesungguhnya!

Seperti saya katakan dalam artikel sebelumnya, emas lebih dari sekedar sebuah komoditas.  Selain itu, emas menawarkan suatu cara yang sederhana untuk mendiversifikasi maupun mengurangi volatilitas dari portofolio Anda sebab korelasinya dengan asset classes yang lainnya rendah.  Selanjutnya emas tidak mengandung liquidity risk atau credit risk, dan sama sekali tidak bisa default karena tidak ada counterparty risk.

Nah, mengapa emas akhir-akhir ini makin sedikit dipandang sebagai sebuah komoditas?  Jika Anda meneliti grafik dibawah ini, yang menampilkan harga emas dibandingkan harga komoditas secara umum, Anda pasti akan bisa menemukan jawabannya.

Jelas terlihat bahwa harga emas sudah naik lebih dari 100% sejak akhir tahun 2008, sementara sector komoditas hanya berhasil rebound secara terbatas.  Biasanya emas memang bergerak seirama dengan sektor komoditas secara umum, namun korelasi tersebut mulai terputus pada akhir 2008.  Dengan kata lain, kemerosotan pasar komoditas menunjukkan perekonomian global mengalami kesulitan, sedangkan harga emas yang membubung tinggi membuktikan dolar AS – dan juga uang kertas lainnya – sedang bermasalah.

Nasib US dollar kurang baik

“The U.S. dollar is an ‘I owe you nothing’ …   and the Euro is a ‘who owes you nothing.”

-Doug Casey-

Setelah the Fed mengatakan tingkat suku bunga akan dipertahankan antara 0% dan 0,25% setidaknya sampai pertengahan tahun 2013, bank sentral AS pada dasarnya memberitahu kepada pelaku pasar bahwa mereka tetap akan menerapkan sebuah kebijakan moneter yang sangat longgar selama 2 tahun kedepan.  Tentunya kebijakan tersebut secara tidak langsung akan menurunkan nilai tukar dolar AS, yang pada gilirannya akan memanfaati emas.

Di samping itu, kini ada dua BOM WAKTU yang dapat mengancam posisi dolar AS sebagai the world reserve currency, yaitu trilyunan US dollars yang berada diluar Amerika Serikat (yang bisa mengalir kembali ke AS dengan cepat) dan trilyunan dolar AS didalam Amerika Serikat yang dicetak untuk menyelamatkan sistem perbankan pada tahun 2008.  Mengapa demikian?

Pertama, trilyunan dolar AS yang diciptakan pada waktu ekonomi Amerika Serikat mengalami resesi hanya ditahan oleh bank saja.  Ini terjadi karena konsumen maupun perusahaan tidak mau menambah hutang lagi, dan bank pun takut untuk meminjamkan uang selama resikonya terlalu tinggi.  Maka pemberian kredit sangat minim pada saat ini, tetapi situasi itu tidak akan selalu demikian.  Ketika sekian banyak US dollars mulai membanjiri perekonomian, harga barang maupun jasa berpeluang naik secara tiba-tiba.

Lalu bagaimana jika investor asing memutuskan untuk melepas sebagian dari obligasi pemerintah AS yang mereka pegang?  Sekarang saja berbagai bank sentral dan investor institusi lainnya memegang sekitar 6 sampai 7 trillion US dollars jadi mereka makin gelisah setelah peringkat hutang Amerika Serikat di-downgrade.  Bayangkan apabila beberapa investor institusi yang besar secara mendadak menjual kepemilikan aset mereka yang berdenominasi dolar AS, dan menimbulkan suatu kepanikan global dimana semua pihak berbalap untuk “membebaskan dirinya” dari US dollars

Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Dollar Index akan rebound dalam waktu dekat.  Sejak awal bulan Mei lalu dolar AS hanya mampu berkonsolidasi terhadap mata uang utama dunia lainnya, dan masih tertahan di bawah SMA-50 maupun SMA-200.  Pendek kata, indeks dolar tetap bearish dan kemungkinan besar akan melanjutkan penurunannya pada saat support-nya ditembus.

Bulan September yang menggembirakan

Secara tradisional bulan September menandakan mulanya dari gift-giving season untuk emas.  Banyak hari raya maupun festival diadakan selama beberapa bulan kedepan, terutama di India maupun Cina, yang menyebabkan permintaan untuk emas melonjak (lihat gambar dibawah ini).

Selain faktor musiman tersebut, adapun siklus 2-tahunan yang mengulangi dirinya setiap tahun ganjil pada bulan September.  Lihat saja tabel dan grafik dibawah ini, yang menunjukkan fenomena itu dengan jelas.

Akan sungguh menarik untuk menyaksikan apakah pasar emas akan kembali menggeliat pada bulan September 2011 atau tidak, dan apakah kenaikan rata-rata sebesar 6,8% dapat dilebihi.  Only time will tell of course

Bubble oh bubble … dimanakah engkau?

“The run-up to the peak in markets like gold is between now and 2015. I think it will all be over by 2015, a lot of it depends on how aggressively paper monies get printed from here on in.  I think $3,000 is an absolute minimum target.  I can believe in targets certainly above $5,000 and it’s theoretically possible to go to $12,000, that’s dollars an ounce for gold. If Mr. Bernanke stays on his current agenda I think those higher numbers will be what you will see.  We’re looking at the trashing of the dollar.”

-Robin Griffiths of Cazenove-

Ketika saya memberikan sebuah seminar mengenai emas dan bertanya apakah investor telah membeli emas, kebanyakan orang malahan mengatakan bahwa mereka takut harganya sudah terlampau tinggi.  Banyak diantaranya juga menyampaikan ini kemungkinan hanya sebuah bubble atau gelembung yang sedang mencari sebuah jarum untuk dipecahkan.

Saya mengakui memang tidak mudah untuk membeli emas setelah harganya telah meroket lebih dari 500% selama dasawarsa terakhir.  Mungkin agak membuat hati berdebar-debar untuk membeli emas diatas $1,800/oz, tetapi saya secara pribadi lebih khawatir apabila tidak memilikinya sama sekali.

Sayang tapi nyata, meskipun sekian banyak faktor mendukung emas pada saat ini, mayoritas dari investor (profesional sekalipun) tetap menolak untuk menganggap emas sebagai suatu asset class yang pantas untuk dimiliki.  Berapa orang yang Anda kenal sudah mempunyai emas dalam bentuk koin atau batangan (kecil ataupun besar)?  Mungkin saja hanya Anda seorang diri diantara teman yang berinvestasi didalamnya.  Oleh karena itu, jumlah pembeli emas jauh mengungguli jumlah orang yang sedang memegangnya.

Anda pasti sudah seringkali membaca atau mendengar orang berseru bahwa emas terlalu beresiko atau mahal, dan pada dasarnya merupakan sebuah benda mati yang tidak memberikan penghasilan apapun.  Namun orang yang sama menyatakan hal demikian ketika harga emas mencapai $1,000/oz, lalu $1,500/oz dan awal pekan ini bahkan sudah $1,900/oz.  Saran ini terbukti sangat merugikan untuk orang yang mengikutinya sebab emas tetap saja melanjutkan uptrend-nya.

Jadi apakah pasar emas membentuk suatu bubble atau bagaimana?  Menurut penghematan saya, the mania phase atau tahap terakhir dari bull market baru saja dimulai dan harga emas masih akan jauh lebih tinggi dari sekarang.  Secara sederhana pasar emas tetap akan bullish kedepan karena investor sedang mencari suatu tempat yang aman untuk mempertahankan kekayaan mereka.

Semua bank sentral kini berupaya sekeras mungkin untuk melemahkan mata uang mereka agar dapat membayar hutang kembali dengan uang yang lebih “murah”.  Lagipula mereka juga hampir tidak menawarkan suatu return sama sekali – mengingat real interest rates pada saat ini negatif di negara maju – dan mencetak uang secara terus-menerus untuk menutupi defisit anggarannya.

Maka jangan heran apabila makin banyak investor ingin memiliki satu-satunya aset yang tidak bisa dimanipulasi, dicetak, didevaluasi maupun hilang dari peredaran dan/atau mengalami default, yaitu EMAS yang akan menjadi the last man standing atau aset yang terpilih ketika terjadi sebuah krisis global!

Bayangkan jika begitu banyak investor (individual maupun institusi), perusahaan dan bank sentral tiba-tiba ingin memborong emas pada saat yang sama dan apa dampaknya terhadap arah pergerakan harga …  Maka berdasarkan asumsi itu saya berani memprediksi bahwa bubble yang sesungguhnya masih berada didepan kita.

Belakangan ini saya juga mulai makin curiga bahwa kita kemungkinan akan menyaksikan kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan kedepan, yang mungkin mirip dengan periode kuartal ketiga 2007 hingga kuartal pertama 2008.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, dari 16 Agustus 2007 sampai 17 Maret 2008 emas menguat dari $641.10/oz hingga $1,030.80/oz atau sebesar 60,8%!

Jika emas kini mengalami kenaikan yang serupa dari $1,478.01/oz, harganya dapat (melaju/meroket) ke $2,376.64/oz.  Dan … kebetulan atau tidak, level tersebut hampir sama dengan inflation-adjusted high atau level tertinggi sepanjang sejarah yang disesuaikan untuk inflasi di sekitar $2,400/oz (lihat grafik dibawah ini).

Kesimpulan

“Up until August 15, 1971, there has never in history been an era when no paper currency was linked to Gold.  The history of money is replete with instances of coin clipping, printing, debt defaults, and the other attendant ills of currency debasement.  In all other eras of history, people could always escape to other currencies, whose Gold backing remained intact.  But since 1971, there is no escape because no paper currency has any link to Gold. All of the economic, monetary, and financial upheaval of  the past 40 years is a direct result of this fact. The global paper currency system is very young.  It depends for its continued functioning on the belief that the debt upon which it is based will, someday, be repaid.  The one thing, above all others, that could shake that faith, and therefore the foundations of the modern financial system itself, is a rise (especially a sharp rise) in the U.S. Dollar price of Gold.”

-Bill Buckler, The Privateer-

Apabila Anda masih belum yakin harga emas akan naik, naik, dan … naik lebih jauh lagi, coba saja meneliti tabel berikut ini:

Selama kebanyakan pemerintahan di dunia tetap tidak mampu untuk mengendalikan pengeluaran mereka, menumpuk hutang yang makin besar, membiarkan defisit anggaran membengkak dan mencetak uang dalam jumlah yang tidak terbatas, uang kertas akan kehilangan nilainya dan harga emas akan makin tinggi.  Dengan demikian cara yang paling ampuh untuk mengamankan portofolio maupun mempertahankan kekayaan Anda dari krisis moneter yang akan datang adalah logam mulia, baik emas dan perak.

Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu!

sumber

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/08/23/%E2%80%9Dkereta-emas%E2%80%9D-melaju-terus/

Setelah the Fed mencetak uang sebanyak 4 kali : QE3 berada didepan mata

QE3 berada didepan mata

So, here’s the bottom line on money printing, or QE if you prefer. If nothing happens, the whole thing was a waste of time.  If inflation takes off, the Fed will have to choose between holding bonds and letting inflation get worse or selling bonds and going bankrupt in the process.  Since no entity goes down without a fight, the Fed will naturally hold the bonds and let inflation take off.  Do not ask about the exit strategy from QE; there is no exit.”

-Jim Rickards… November 5, 2010-

Setelah the Fed mencetak uang sebanyak 4 kali untuk mendorong ekonomi AS (lihat gambar dibawah ini), kini banyak investor bertanya-tanya apakah mungkin bank sentral AS akan mengusulkan QE3 dalam waktu dekat.

Sampai saat ini saya tetap berpendapat the Fed akan segera mempertimbangkan program pelonggaran moneter berikutnya, entah itu dengan nama QE3 atau terminologi yang lebih terselubung.

Ada dua alasan utama mengapa saya mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap kebijakan tersebut:

1) The White House telah menghentikan kepura-puraannya dan mengakui dalam perkiraan terakhirnya untuk tahun fiskal 2011 bahwa defisit anggarannya kemungkinan akan bernilai $1.65 trillion, yang sekaligus merupakan suatu rekor tertinggi dalam sejarah.  Bahkan defisit sebesar 11,3% dari PDB adalah yang terbesar terhadap perekonomian secara keseluruhan sejak Perang Dunia Kedua.

Lalu menurut rencana dari Gedung Putih, hutang nasional secara resmi akan bertumbuh 50% dalam dasawarsa mendatang ke $21 trillion.  Maka mungkin saja Amerika Serikat akan mengalami sedikit kesulitan untuk meminjam begitu banyak uang, dan terpaksa MENCETAK UANG lagi.

Pada akhirnya, berbagai alasan yang diberikan oleh bank sentral AS untuk melanjutkan quantitative easing-nya hanyalah sebuah dalih saja.  Tujuan yang sesungguhnya dari QE2 (dan nanti QE3) adalah membunyikan ketidakmampuan dari the Treasury atau Kementerian Keuangan AS untuk membiayai hutangnya.

Dengan permintaan global untuk obligasi pemerintah AS yang turun secara terus-menerus, the Fed memang harus mencari sebuah alasan yang masuk akal agar dapat menggantikan pembeli dari luar negeri.  Jadi lewat penerapan QE2, QE3 dsb., bank sentral AS bisa monetize atau mencetak uang untuk membeli surat hutang AS supaya pelaku pasar tidak menyadari bahwa sebetulnya ada suatu masalah pendanaan.

Ketika the Federal Reserve baru saja menjalankan setengah dari QE2, data resmi menunjukkan bank sentral AS sudah melebihi Cina sebagai pemegang obligasi pemerintah AS terbesar didunia.  Maka jangan heran belakangan ini suatu lelucon muncul yang mengatakan the Fed sama dengan Fiat Excessively Distributed.

Seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini, dulu bank sentral asing pada umumnya membeli 50% dari surat hutang AS, sementara investor Amerika Serikat 40% dan the Fed 10% saja.  Namun sejak bank sentral AS mulai mencetak uang dalam jumlah yang besar, kebanyakan investor di Amerika Serikat telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap US dollar.

Oleh karena itu, selama QE2 diterapkan the Fed menyerap 70% dari Treasury Bonds sedangkan sisanya dibeli oleh investor asing.  Jadi yang paling mencekam kedepan adalah kenyataan bahwa negara lain, yang sebelumnya membeli 50% dari obligasi pemerintah AS, sedang mengurangi minatnya secara signifikan dan bahkan merasa fed up atau kesal dengan kebijakan moneter maupun fiskal AS.

Berarti jangan-jangan bank sentral AS pada akhirnya terpaksa harus MENCETAK UANG tanpa batas untuk menutupi defisit anggaran pemerintah yang tidak terkendali.

2) Data mengenai PRODUK DOMESTIK BRUTO AS, yang dirilis pada hari Jumat lalu, sama sekali tidak memberikan harapan pada investor untuk menghadapi masa depan penuh kepercayaan diri yang tinggi.  PDB untuk kuartal kedua misalnya hanya naik 1,3% dalam basis tahunan, sementara pertumbuhan dalam kuartal pertama direvisi turun tajam dari 1,9% ke 0,4% (lihat data dibawah ini)!

Percent change at annual rate                   Q-2     Q-1     Q-4     Q-3     Q-2

Gross domestic product                                            1.3       0.4       2.3       2.5       3.8

Personal consumption expenditures               0.1       2.1       3.6        2.6       2.9

Durable goods                                                              -4.4      11.8     17.2     8.8       7.8

Nondurable goods                                                      0.1       1.6       4.3       3.0       1.9

Services                                                                           0.8       0.8       1.3       1.6       2.5

Gross private domestic investment                7.1       3.8       -7.1      9.2       26.4

Fixed investment                                                       5.8       1.2       7.5       2.3       19.5

Exports                                                                           6.0       7.9       7.8       10.0     10.0

Imports                                                                         1.3       8.3       -2.3      12.3     21.6

Government consumption expenditures

and gross investment                                           -1.1      -5.9     -2.8      1.0       3.7

Real Final Sales                                                        1.1       0.0       4.2       1.7       3.0

Final Sales to Domestic Purchasers              0.5       0.4       2.7       2.3       4.9

Maka boleh dikatakan bahwa pemulihan ekonomi AS jelas-jelas telah kehilangan momentum-nya dan kemungkinan terancam mengalami resesi kembali pada kuartal ketiga.  Sebagai akibatnya bursa saham berpeluang anjlok lagi dalam waktu dekat, dan mendorong the U.S. Federal Reserve untuk segera mengumumkan putaran ketiga dari quantitative easing.

Peluang investasi

“With inflation heating up as far as American consumers are concerned, the pressure is on the Bernanke Fed to “cool it” on its quantitative easing. I think the stock market (now slumping) and the dollar (now rising) are reflecting this.  Thus the Fed might be setting off a temporary slump in the summer economy.  If so, Bernanke could announce, “See, if we ease up, the economy eases up as well.”  All of which strengthens the case for QE3.  Of course, President Obama would love a late pick-up in the US economy as the nation moves into the 2012 election period.”

-Richard Russell-

Harapan untuk QE3 belakangan ini merupakan suatu indikasi bahwa bursa saham pada dasarnya kecanduan terhadap likuiditas yang berlimpah dan stimulus tanpa henti.  Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan QE1 dan QE2, kemungkinan QE3 akan menjadi sebuah déjà vu dari kedua putaran terdahulu dimana aset yang berikut ini sangat menjanjikan:

1) Pertama-tama saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan oleh Robin Griffiths dari Cazenove di London: “Central banks, trying to stimulate growth, are printing paper money into oblivion, and we’ve simply got to hedge that risk by owning gold.” Kini investor nampaknya sudah mengerti bahwa jika lebih banyak uang dipompa kedalam perekonomian dunia, tingkat inflasi akan naik dan nilai dolar AS akan makin turun.

Oleh karena itu tindakan yang paling bijaksana pada saat ini adalah membeli EMAS, yang dianggap sebagai inflation hedge yang terbukti dapat mempertahankan nilainya selama berabad-abad terhadap inflasi.  Menurut penghematan saya semua investor seharusnya menanamkan setidaknya 5% sampai 10% dari portofolio mereka dalam emas, agar tenang dalam menghadapi masa kelam yang akan datang.

2) Amerika Serikat dan negara maju lainnya kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat disertai inflasi yang tinggi – atau dengan kata lain stagflasi – sedangkan PASAR BERKEMBANG seperti Indonesia diperkirakan akan tetap bertumbuh cepat.  Apalagi dengan berbagai bank sentral yang berencana mencetak uang terus, terlalu banyak dana akan mengejar saham di pasar berkembang yang kapitalisasi pasarnya masih relatif kecil.

Sebagai contohnya, net foreign buying di Indonesia telah berlangsung dari tahun 2003 hingga 2011, dan tahun ini bahkan melampaui pembelian bersih dari investor asing di negara berkembang lainnya di Asia diluar Cina.  Selanjutnya apabila Indonesia memperoleh investment grade, yakinlah bahwa investor institusi besar dari luar negeri akan makin memandang bursa saham di negeri tercinta ini sebagai tujuan investasi yang sangat menjanjikan.

3) Selama Ben Bernanke menjalankan mesin cetaknya untuk membeli surat hutang AS, KOMODITAS secara umum tentunya juga merupakan investasi yang tepat.  Coba saja melihat grafik dibawah ini, yang menunjukkan korelasi yang kuat antara harga komoditas dan pembelian obligasi pemerintah AS oleh the Fed.

Terutama di bursa saham Indonesia, saham dari sektor perkebunan (CPO) dan pertambangan (batu bara) secara valuasi masih murah, dan menawarkan upside yang cukup besar dalam setahun kedepan.

4) Berhubungan the Federal Reserve sedang “menghancurkan” dolar AS secara pelan tetapi pasti, beberapa negara di dunia sudah mulai menilai apakah mereka tetap ingin berdagang dalam US dollar dan menggunakannya sebagai suatu reserve currency atau bagian dari cadangan devisa mereka.

Sebuah artikel pada website dari The Market Oracle belum lama ini menjelaskan bagaimana hal tersebut telah terjadi:

“In September, China supported a Russian proposal to start direct trading using the yuan and the ruble rather than pricing their trade or taking payment in U.S. dollars or other foreign currencies.  China then negotiated a similar deal with Brazil.  And on the eve of the IMF meetings in Washington on Friday, Premier Wen stopped off in Instanbul to reach agreement with Turkish Prime Minister Erdogan to use their own currencies in a planned tripling Turkish-Chinese trade to $50 billion over the next five years, effectively excluding the dollar.”

Maka investor di pasar valuta asing pun berpindah hati ke currencies yang mempunyai yield yang lebih tinggi (seperti Indonesian rupiah dan Brazilian real) maupun commodity currencies yang didukung oleh ekspor komoditas yang besar (seperti Australian dollar, Canadian dollar, New Zealand dollar dan Norwegian krona).

Kesimpulan

“The Fed is telling a lot of lies to the market… it is telling all the politicians on Capital Hill you can issue unlimited debt cause it doesn’t cost anything. We have $9 trillion of marketable debt.  Upwards of 70% of that has maturities of 5 years or less down to 90 days.  All of those maturities are 1% down to 10 basis points.  So from the point of view of Congress, the cost of carrying the debt is essentially free.  When you tell politicians they can issue $100 billion of debt a month for free, how do you expect them to do the right thing, and ask their constituents to sacrifice… I think the Fed is injecting high grade monetary heroin into the financial system of the world, and one of these days it is going to kill the patient.

-David Stockman-

Berbagai negara maju kini kecanduan stimulus.  Maka Anda sebagai seorang investor perlu menyiapkan diri untuk quantitative easing jilid ketiga yang akan mempunyai dampak besar terhadap bursa saham, pasar komoditas dan pasar valuta asing.  Sekali lagi pastikan juga bahwa Anda membeli emas, karena saya berpikir banyak mata uang di dunia akan terdevaluasi terhadapnya secara signifikan.

Selain itu saham yang berhubungan dengan komoditas maupun properti di Indonesia seharusnya memberikan return yang memuaskan jadi jangan ketinggalan rally yang akan datang.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk yang menjalankannya dan semoga sukses dan sehat selalu!

sumber : http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/08/01/qe3-berada-didepan-mata/

Pilih yang mana: emas atau uang kertas?

Pilih yang mana: emas atau uang kertas?

July 25th, 2011

“It’s taken almost two centuries for bankers to pull the wool over Americans’ eyes, but today you and I are working for intrinsically worthless paper that can be created by bureaucrats – created without sweat, without creative ability, without work, without anything but a decision by the Federal Reserve.  This is the disease at the base of today’s monetary system.  And like a cancer, it will spread until the system ultimately falls apart.  This is the tragedy

of the great lie.  The great lie is that fiat paper represents a store of value, money of lasting wealth.”

-Richard Russell-

Setelah emas turun ke level terendahnya bulan ini di USD1,478.01/toz pada tanggal 1 Juli, harganya melejit sebesar USD131.50/toz atau 8,9% dan membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD1,609.51/toz hari Selasa lalu (lihat grafik dibawah ini).

Dengan demikian emas mencatat rekor penguatan beruntun terpanjang dalam 11 sesi terakhir yang menyamai rekor pada 1975 silam.  Sejauh ini emas juga telah menguat sebanyak 13% selama 2011 dan potensial menjadikannya rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak 1920.

Penguatan kinerja emas disokong oleh maraknya aksi beli investor pada instrumen investasi safe haven, terutama emas, seiring berkembangnya kekhawatiran bahwa tidak segeranya solusi dari permasalahan hutang Eropa dan AS dapat menyebabkan sebuah KRISIS GLOBAL.  Harga emas bahkan terapresiasi bersamaan dengan penguatan dolar AS yang kemudian mendorong emas ke level tertingginya terhadap beberapa mata uang dunia termasuk euro, sterling, rand Afrika Selatan dan dolar Kanada.

Apakah ada potensi untuk pelonggaran moneter lanjutan?

“No bet in the centuries of the monetary history has been safer than the one that a gold coin, inaccessible to the inflationary policies of the governments, will maintain its purchase power better than a banknote.”

-Wilhelm Röpke-

Pada umumnya bulan Juni dan Juli merupakan sebuah periode dimana emas tidak terlalu kuat dan cenderung mengalami konsolidasi saja.  Namun tahun ini harga emas malahan break out keatas, dan sekaligus mencatatkan all-time highs dalam hampir semua mata uang.

Maka boleh dikatakan bahwa emas sedang bertindak sepenuhnya sebagai sebuah currency of last resort.  Artinya peranan sebagai suatu komoditas tidak terlalu signifikan pada saat ini, dan harganya terdorong naik karena permintaannya melonjak berdasarkan kehilangan kepercayaan dalam otoritas moneter dari negara maju.

Mengapa bisa sampai begitu?  Alasannya cukup sederhana, yaitu program QUANTITATIVE EASING yang diterapkan oleh berbagai bank sentral di negara Barat.  Misalnya untuk menanggulangi krisis hutang di Eropa, the European Central Bank atau ECB kemungkinan akan segera memulai program pelonggaran moneternya sendiri lewat pembelian obligasi dari negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol).  Dan … apabila ECB memutuskan untuk menerapkan program tersebut agar zona Eropa selamat, bukan tidak mungkin the Bank of England akan mempertimbangkan QE2 dan the Fed akan memiliki suatu dalih untuk QE3.

Dalam hal itu, the TREND is your FRIEND dan uptrend logam mulia tetap akan didukung oleh kebijakan moneter yang ultra longgar (lihat grafik diatas ini).  Kenyataan adalah bahwa hanya pencetakan uang dapat membiayai defisit anggaran yang besar dari banyak negara maju.  Jadi jangan heran emas begitu kuat, dan makin banyak orang maupun investor institusi mulai melirik logam yang mengkilap.

Dolar AS, euro, atau … emas saja?

“There is NO basis for confidence in ANY sovereign debt paper because there is NOTHING behind any of it except the promises to pay of future governments.  But how can they “pay” if they go on spending more than they take in.  And if they do pay, what will the stuff they pay with be good for?”

-Bill Buckler, Gold This Week, 09 July 2011-

Sejak 2007, bank sentral di AS, Eropa dan Inggris telah memperluas neraca mereka dengan lebih dari 4,5 trilyun dolar AS.  Disamping itu, suku bunga negatif secara riil (setelah disesuaikan untuk inflasi) dan kemungkinan besar akan tetap rendah karena suku bunga yang naik pasti akan mempunyai dampak yang fatal terhadap kondisi keuangan negara maju.

Biasanya positive real interest rates menekan harga emas, seperti pada tahun 1980an dan 1990an.  Sebaliknya, negative real rates merupakan sebuah stimulans untuk emas.  Maka sangat wajar jika investor memilih emas dibandingkan uang kertas mengingat logam mulia pada saat ini lebih mampu mempertahankan nilainya terhadap inflasi.

Sejarah juga membuktikan bahwa pada akhirnya semua mata uang mempunyai nasib yang sama: mereka menjadi tidak bernilai dan hilang sepenuhnya dari peredaran.  Coba saja melihat gambar dibawah ini, yang menampilkan beberapa mata uang yang hancur berkat penyalahgunaannya dari pembuat kebijakan.

Sekarang Anda kemungkinan berpikir hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi di AS, bukankah begitu?  Jika demikian, perlu saya sampaikan bahwa justru HUTANG yang berlebihan dan DEFISIT ANGGARAN yang besar selalu mendahului kejatuhan dari setiap mata uang yang ditampilkan diatas ini.

Peter Bernholz, seorang ahli mengenai hyperinflation, menyatakan secara tegas bahwa “hyperinflation atau inflasi yang sangat tinggi disebabkan oleh defisit anggaran pemerintah.”  Sebagai contohnya defisit anggaran AS untuk tahun ini akan berjumlah sekitar 1,5 trilyun dolar AS, dan diperkirakan tetap akan bertahan di atas USD1 trillion hingga tahun 2020.

Lalu sejak pendirian the Federal Reserve, dolar AS telah kehilangan 95% dari daya beli!  Dengan kata lain, Kepala bank sentral di Amerika Serikat tidak tahu, tidak mau, atau tidak mampu untuk menjaga mata uangnya sendiri (lihat gambar dibawah ini).

Oleh karena itu, investor harus melindungi kekayaannya dengan satu-satunya uang yang tidak dapat dimanipulasi, yaitu EMAS!

Kondisi teknikal terkini

“Gold still represents the ultimate form of payment in the world… Fiat money, in extremis, is accepted by nobody.  Gold is always accepted”

-Alan Greenspan-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, emas ternyata berhasil break out dari symmetrical triangle atau segitiga simetris setelah berkonsolidasi didalam pola tersebut selama 10 pekan.  Namun kenaikan sebesar USD131.50/toz terjadi dalam waktu yang singkat sekali dan RSI atau Relative Strength Index sudah berada dalam daerah yang overbought, jadi mungkin saja terjadi sebuah koreksi terlebih dahulu dalam beberapa hari kedepan sebelum emas melanjutkan penguatannya.

Apabila harga emas turun dulu, entry point atau titik masuk yang bagus akan tercipta pada saat harganya mendekati MA-50, yang kini akan berlaku sebagai support, dan/atau RSI bertengger disekitar middle line-nya (50).  Kejadian tersebut pun terlihat ketika emas terkoreksi pada pertengahan bulan Maret lalu, dimana harganya menyentuh MA-50 dan RSI turun hingga 49.15.  Maka Anda sebaiknya mengamati kedua indikator ini dengan seksama agar tidak ketinggalan peluang untuk membeli emas di harga yang lebih murah.

Salah satu ukuran lainnya yang bisa digunakan untuk mencari entry point yang bagus adalah fibonacci retracements.  Koreksi yang sehat pada umumnya akan berhenti antara 38.2% dan 50%, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Misalnya pada waktu emas melemah pada awal bulan Maret, fibonacci retracement sebesar 38.2% cukup kuat untuk menopang harganya.  Jadi kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz kini merupakan buying zone yang ideal dalam 1-2 pekan kedepan.

Tetapi … perlu dicatat juga bahwa harga tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz kini berlaku sebagai support pertama.  Makanya jangat terkejut harga emas pekan yang lalu terjebak antara USD1,581.78/toz dan USD1,609.51/toz maupun sekaligus membentuk sebuah flag atau bendera, yang merupakan suatu continuation pattern.

Trading plan dan target harga

“Currencies don’t float, they just sink at different rates”

-Clyde Harrison-

Kini ada dua kemungkinan:

  1. Apabila emas turun dibawah level tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz, buy on weakness adalah tindakan yang paling bijaksana, dengan entry point dalam kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz;
  2. Jika harga emas bertahan diatas USD1,580/toz dan hanya membentuk sebuah flag, suatu breakout diatas USD1,610/toz merupakan tanda untuk membeli emas.

Lalu berapa target harga dalam 2-3 bulan kedepan?  Untuk perhitungan tersebut, saya berasumsi bahwa pergerakan sebelumnya adalah patokan yang bagus:

  1. Dari awal bulan Februari hingga akhir bulan Mei, emas mengalami kenaikan sebesar USD267.79/toz atau 20,47%.  Jika harga emas sekarang naik dengan jumlah yang sama (dimulai dari USD1,478.01/toz), target harga terletak antara USD1,745.80/toz dan USD1,780.55/toz;
  2. Apabila emas ternyata hanya berkonsolidasi dalam jangka pendek dan membentuk sebuah bendera (yang biasanya terletak di tengah suatu gerakan naik atau turun), target harga adalah USD1,741.01/toz atau USD1,609.51/toz ditambah USD131.50/toz.

Maka secara garis besar TARGET HARGA selama 2-3 bulan kedepan adalah USD1,740/toz hingga USD1,780/toz.

Kesimpulan

“If you don’t trust gold, do you trust the logic of taking a pine tree, worth $4,000-$5,000, cutting it up, turning it into pulp, putting some ink on it and then calling it one billion dollars?”

-Kenneth J. Gerbino-

Selain berbagai faktor yang mendukung emas pada saat ini, secara musiman emas akan memasuki periode dimana permintaannya cenderung naik menyusul bulan suci Ramadan akan segera dimulai, yang diikuti oleh musim nikah dan festival Diwali di India maupun Natal dan Tahun Baru di Cina.

Akhirnya grafik dibawah ini membuktikan hal tersebut, dengan bulan Agustus dan September sebagai bulan dengan kenaikan yang paling konsisten.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

sumber http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/07/25/pilih-yang-mana-emas-atau-uang-kertas/

Antara Inflasi, Suku Bunga dan Harga Reksa Dana

Antara Inflasi, Suku Bunga dan Harga Reksa Dana

June 21st, 2011 Rudiyanto

Artikel ini merupakan salah satu koleksi artikel Infovesta yang menjelaskan tentang cara kerja Makro Ekonomi terhadap investasi sekaligus mencoba menjawab pertanyaan pak Adrianus (komentar 7) mengenai hubungan antara inflasi dan reksa dana saham http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/06/14/apakah-ada-reksa-dana-yang-tidak-pernah-rugi/#comments

Dalam melakukan analisis terhadap pengambilan keputusan investasi, dikenal suatu metode yang disebut dengan Top Down Analysis. Secara umum, pengambilan keputusan menurut metode ini dilakukan dengan melihat kondisi perekonomian secara makro (umum), kemudian lebih lanjut ke sektor-sektor industri secara spesifik untuk melihat sektor mana yang diuntungkan dengan kondisi ekonomi makro yang ada, baru kemudian melihat ke salah saham secara individual untuk melihat saham mana yang paling bagus dalam industri tersebut. Metode ini merupakan metode yang umumnya digunakan oleh para Manajer Investasi dalam mengelola reksa dananya. Dan Kondisi perkembangan Inflasi merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian Manajer Investasi dalam pertimbangannya.

Pernahkah anda bertanya, apa sebenarnya hubungan antara membaiknya peringkat surat hutang indonesia, naik turunnya tingkat inflasi dan suku bunga, perubahan rasio hutang terhadap GDP, besar kecilnya cadangan devisa, harga minyak, panas dinginnya suhu politik, serta berita-berita makro ekonomi lainnya dengan perkembangan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana?

Berita-berita dengan topik di atas tentu sudah tidak asing bagi investor sekalian yang senantiasa mengikuti perkembangan melalui berbagai media massa di Indonesia. Berita tersebut kadang positif, kadang negatif, terkadang juga datar-datar saja. Tidak jarang sisi positif dan negatif dari berita baik yang berasal dari dalam negeri ataupun luar negeri dan dikaitkan dengan perkembangan investasi di Indonesia.

Berita baik dan berita buruk datang silih berganti. Terkadang berita tersebut datang begitu cepatnya sehingga situasi bisa berubah dengan cepat hanya dalam hitungan hari. Yang dibutuhkan untuk menjadi seorang investor yang baik adalah suatu pemahaman, mana berita yang memiliki dampak signifikan dan mana yang tidak? Kemudian, apakah dampak dari berita tersebut hanya sementara atau berdampak terhadap investasi jangka panjang?

Untuk memahami secara sederhana, bagaimana dampak makro ekonomi dalam mempengaruhi harga instrumen investasi di Indonesia, mari kita lihat bagan sebagai berikut:

 

1. Inflasi dan BI Rate

Inflasi berarti kenaikan harga barang secara umum. Lembaga yang menghitung besar kecilnya tingkat inflasi di Indonesia adalah BPS (Biro Pusat Statistik). Sementara BI Rate (Bank Indonesia Rate) adalah tingkat suku bunga yang dijadikan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan besar kecilnya tingkat deposito dan persentase bunga pinjaman. Lembaga yang berwenang dalam menetapkan besar kecilnya BI rate adalah Bank Indonesia (BI).

 

Pada saat tingkat inflasi terlalu tinggi, Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate. Secara teoritis, kenaikan BI rate akan menyebabkan bunga pinjaman bank menjadi meningkat. Akibatnya kegiatan produksi akan berkurang karena semakin mahal dan terjadi permintaan terhadap barang. Karena permintaan semakin kecil, maka harga barang akan turun. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi terlalu rendah dan suku bunga diturunkan. Biaya produksi akan semakin murah menyebabkan kegiatan produk semakin bertambah. Kenaikan produksi akan memicu kenaikan permintaan barang dan pada akhirnya menyebabkan harga barang menjadi naik (terjadi inflasi).

 

Dalam kaitannya dengan investasi, pada saat suku bunga dinaikkan, orang akan memilih alternatif deposito yang memberikan bunga lebih tinggi. Akibatnya instrumen saham dan obligasi dijual sehingga menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana turun. Sebaliknya pada saat suku bunga diturunkan, investor akan mencari alternatif yang memberikan hasil investasi lebih tinggi dibandingkan deposito yaitu saham dan obligasi. Akibatnya terjadi permintaan yang besar pada saham dan obligasi yang menyebabkan harga saham, obligasi dan reksa dana naik.

 

2. Pertimbangan dalam memutuskan tingkat BI Rate

Perlu diketahui bahwa BI rate bukan satu-satunya alat bagi Bank Indonesia dalam mengendalikan tingkat inflasi. Selain itu, pertimbangan besar kecilnya BI rate juga bukan hanya didasarkan pada tingkat inflasi semata. Ada faktor-faktor lain yang menentukan seperti:

  • Kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Tingkat BI rate yang tinggi akan menyebabkan dana asing mengalir ke Indonesia dan sebaliknya tingkat BI rate yang rendah akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia.
  • Selisih dengan suku bunga AS antara tingkat suku bunga di Indonesia dengan tingkat suku bunga (Fed Fund Rate) di Amerika. Semakin besar selisihnya, maka semakin menarik pula negara Indonesia menjadi negara tujuan investasi. Dengan kata lain, apabila pemerintah AS menaikkan tingkat suku bunga sementara suku bunga Indonesia masih tetap, maka hal tersebut akan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
  • Peringkat Surat Hutang Indonesia. Peringkat surat hutang menyatakan kualitas kemampuan suatu perusahaan / negara dalam melunasi kewajibannya. Negara yang memiliki peringkat hutang yang lebih baik dapat memberikan tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan negara dengan peringkat hutang yang lebih rendah. Oleh karena itu, penurunan spread dengan fed fund rate belum tentu berdampak negatif asal diikuti dengan peningkatan peringkat surat hutang Indonesia.
  • Kondisi perekonomian negara yang ditentukan oleh indikator seperti GDP (Gross Domestic Product) dan Cadangan Devisa. Kedua indikator tersebut bisa diibaratkan sebagai penghasilan dan tabungan bagi suatu negara. Idealnya suatu negara yang sehat memiliki penghasilan yang terus bertambah (pertumbuhan GDP positif), hutang yang tidak terlalu banyak (rasio hutang terhadap GDP yang kecil), dan punya simpanan untuk kondisi ketidakpastian di masa mendatang (cadangan devisa yang banyak). Hal di atas akan menjadi pertimbangan positif saat penilaian terhadap peringkat surat hutang Indonesia dilakukan.
  • Faktor tidak tetap adalah faktor yang dapat mempengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam penetapan BI rate namun sifatnya tidak permanen dan berubah sewaktu-waktu. Contoh, lonjakan harga minyak yang signifikan, kondisi ekonomi global, atau yang sekarang sedang menjadi perhatian seperti perkembangan hutang Eropa, Perkembangan China dan kondisi US, dan faktor2 lainnya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Faktor inilah yang paling tricky, selain tidak jelas apa hubungannya terhadap keputusan BI Rate, efeknya juga bisa langsung ke harga saham, obligasi dan reksa dana. Terkadang logika dan hubungan antara kejadian tersebut dengan Indonesia hampir tidak ada, namun seolah-olah hal tersebut menjadi faktor utama yang menggerakan harga di pasar. Umumnya faktor ini yang menjadi perhatian investor dan analisa dalam meramalkan pergerakan harga dalam jangka waktu dekat.

Berdasarkan bagan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa data makro ekonomi yang menjadi pertimbangan utama dalam berinvestasi adalah BI Rate dan Inflasi. Dalam proses perjalanannya, penetapan besar kecilnya BI rate juga akan mendapat pengaruh-pengaruh baik dari faktor eksternal maupun internal. Hal yang harus dipahami oleh investor adalah bahwa Kenaikan BI rate dan Inflasi akan berdampak negatif bagi investasi dan sebaliknya penurunan BI rate dan inflasi akan berdampak positif terhadap investasi.

 

Meski demikian, efek Inflasi dan BI Rate terhadap inflasi menurut penelitian kami lebih memiliki pengaruh ketika bergerak sedang naik atau sedang turun. Jika kondisinya flat, kondisi cenderung lebih sulit untuk dianalisis karena perhatian investor terpaku pada faktor-faktor tidak tetap (seperti yang dijelaskan di atas) yang berubah setiap hari. Meski demikan, dalam prakteknya sangat mungkin sekali investor dalam jangka pendek akan menemui kondisi investasi yang bertolak belakang dengan kondisi BI rate dan Inflasi. Jadi memang faktor ini bukan satu-satunya hal yang menyebabkan naik turunnya harga instrumen investasi namun dalam pandangan kami merupakan faktor penting yang menjadi penggerak harga instrumen investasi.

 

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat dan bisa menjawab pertanyaan anda. Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Pak Rudiyanto, saya ingin bertanya tentang Reksa Dana Saham. Ada yang bertanya pada saya , apa kelebihan RD saham dibandingkan RD pndptan tetap , pasar uang dan campuran? Kemudian saya ingin bertanya , apakah efek dari inflasi terhadap Reksadana Saham ini ?

Terimakasih pak.

Pak Rudiyanto, saya ingin bertanya tentang Reksa Dana Saham. Ada yang bertanya pada saya , apa kelebihan RD saham dibandingkan RD pndptan tetap , pasar uang dan campuran? Kemudian saya ingin bertanya , apakah efek dari inflasi terhadap Reksadana Saham ini ?

Terimakasih pak.

http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/06/21/684/

Ma Icih : Snack Paling HOT dari Bandung

Ma Icih : Snack Paling HOT dari Bandung

Bandung,review,Bandungreview

Wahai anak muda Bandung, apakah kamu mengaku pecinta kuliner yang super pedas dan dapat membuka matamu lebar-lebar? Artinya kamu wajib banget kenalan sama satu brand keripik pedas yang lagi hip banget di kalangan anak muda kota kembang ini, kawans! Namanya tidak lain dan tidak bukan adalah Ma Icih, keripik singkong dengan bumbu racikan yang pedas luar biasa – bahkan ada tingkat-tingkat kepedasan tersendiri – berhiaskan bungkus plastik dengan gambar grafis ala Ma Icih, digambarkan sebagai seorang wanita dengan style jadul banget. Konon katanya nggak gaul kalau nggak kenal sama keripik Ma Icih ini lho! Gimana ceritanya ya sampai Ma Icih ini terbentuk ke muka bumi, kawan-kawan?

Berawal dari pertemuan Axl – sang pemilik dari brand keripik pedas yang satu ini – dengan seorang ibu paruh baya yang biasa dipanggil Mak Elang, seorang pencipta keripik pedas dengan racikan yang super maknyus, pada tahun 2008. Keripik pedas tak bernama tersebut ternyata hanya dijual pada saat-saat tertentu dalam kuantitas yang cukup sedikit pula. Timbul lah ide brilian Axl untuk mencoba memasarkannya pada tahun 2010. Axl yang mengaku telah mendalami berbagai macam jenis bisnis dan sudah mengecap manis pahitnya menjadi seorang wirausahawan ini, ternyata memulai usaha Ma Icih ini dari nol. “Inget banget dulu kayanya dipandang sebelah mata saat saya bawa-bawa keripik Ma Icih yang waktu itu masih terbungkus plastik polos,” ujar Axl mengungkapkan masa lalunya bersama Ma Icih. Yaps, ternyata ia sanggup menepis segala anggapan sebelah mata tersebut, terbukti banget apalagi saat melihat omset Ma Icih yang terjual sekitar 2000 bungkus per hari. Waaw!

“Ma Icih terkenal dari Twitter sebenernya, para distributor yang disebut dengan Jendral Ma Icih ini lah yang membantu saya memasarkan keripik Ma Icih ini,” ujar Axl kembali. Ya, dengan cara pemasaran dari mulut ke mulut, para penggemar kuliner – apalagi anak muda – pasti sangat penasaran sama yang namanya Ma Icih. Lucunya lagi, Ma Icih ini tidak dipasarkan di spot-spot kuliner seperti brand keripik lainnya, tetapi malah didistribusikan melalui para Jendral Ma Icih – julukan gaul bagi para distributor Ma Icih – yang beredar di seantero kota Bandung bahkan tempat nongkrong anak muda seperti sebuah toko buku di Jalan Raden Patah (dekat Dipati Ukur). Meskipun kompetitornya sudah sangat banyak bertebaran di kota Bandung, tapi Ma Icih memang sudah menjadi bagian dari tren kuliner anak muda kota Bandung.

Ditanya tentang rencananya di masa mendatang, Axl mengungkapkan bahwa Ma Icih tidak hanya sekedar mengeluarkan level pedas baru atau produk cemilan baru, namun ia pun ingin mendirikan sebuah tempat makan yang unik, dengan Ma Icih sebagai ikonnya. Wah, patut ditunggu, nih! Bisa jadi kita jadi pelanggan setia di sana, hehehehe.

Dan sekedar informasi nih, ternyata di balik rasanya yang sangat maknyus, bertebarkan racikan-racikan rahasia ala Ma Icih, dan juga gurihnya sang keripik saat mengenai dinding mulut, Ma Icih pun mengandung suatu zat yang baik untuk jantung dan detoksifikasi. Takut sakit perut setelah menyantap keripik dengan racikan bumbu pedas dan khas ini? Jangan takut kawan, soalnya Axl pun membagi tips seru menyantap Ma Icihnya pada kami. “Pelan-pelan aja makan Ma Icihnya, ga usah terburu-buru, sama jangan minum terlalu banyak.Kalo ngerasa kepedesan, mending diemut aja rasa pedesnya daripada minum air putih, biar sang lada langsung larut dengan cairan enzim.”

FYI pembaca, rasa pedesnya yang super nampol ini juara banget dan akan membuat lidahmu ketagihan sampai seringkali merasa kurang bila sehari tidak menyantap keripik Ma Icih ini. Paling oke memang menyantap Ma Icih bareng makanan sehari-hari, apalagi sate Padang, mie rebus dan nasi kebuli. Hmm! Maknyus abis gak tuh pembaca? Psst.. sekedar bocoran nih, selain keripik pedas, Ma Icih pun sekarang mulai memperdagangkan basreng (baso goreng) dan gurilem pedas juga yang nggak kalah lezat lho! Ah, makin penasaran kan kaya apa sih keripik Ma Icih yang kabarnya sih udah terkenal sampai ke luar kota – seperti Jakarta, Bekasi, Sukabumi dan bahkan Malaysia? Pengen tahu dimanakah Ma Icih dan para jenderal berada? Makanya simak terus timeline mereka via Twitter di @infomaicih, jadi kamu juga bisa langsung beranjak berburu sang pikset gaul yang satu ini, pembaca! (CS)

Tags : Jajanan Bandung, Kuliner Bandung, Ma Icih

http://bandungreview.com/id/articles/index/detail/node/ma-icih-snack-paling-hot-dari-bandung-373

Toyota Kijang Innova Facelift, Menggoda di Jalanan Jakarta

Toyota Kijang Innova Facelift, Menggoda di Jalanan Jakarta

Jakarta – Toyota Astra Motor memang masih bungkam soal senjata-senjata barunya yang akan diluncurkan tahun ini, tapi penampakan produknya berbicara lain. Rumor sebelumnya, Kijang Innova sudah disiapkan ‘penyegarannya’. Benar saja, sosoknya pun tertangkap kamera.

Memang secara keseluruhan, sekilas tidak ada yang berbeda, namun meski pencahayaan malam yang remang di kawasan Jakarta, desain baru pada lampu depan dan belakangnya terlihat mencolok.

Terutama lampu depan yang kini terlihat lebih elegan dengan motif bergaris pada sisinya. Begitupun pada lampu belakang, konfigurasinya berubah. Sayang, kombinasi merah putih merahnya tidak membuat Innova facelift ini jadi istimewa dari belakang.

Desain bumper pun berubah, dan terlihat ada airflow ditengahnya, yang dipertegas dengan rombakan desain pada foglamp yang menyiku, membuat tampilan MPV berslogan ‘memang tiada duanya’ ini tampil makin modis.

Sayangnya, Toyota Astra Motor belum mau memberikan rinciannya lebih lanjut. Padahal, selain Innova, beberapa produk juga siap disegarkan, sebut saja Avanza, Fortuner, Altis, juga Camry.

Jakarta – Mobil MPV andalan Toyota yang satu ini memang selalu ditunggu-tunggu. Apalagi ketika rumor kedatangan versi facelift sudah santer sejak lama. Nah, PT Toyota Astra Motor pun mengkonfirmasi kehadirannya di bulan Juli 2011 ini.

Toyota Astra Motor akan memanfaatkan pameran Indonesia International Motor Show 2011 sebagai tempat perdana kemuncula Kijang Innova facelift. “Insya Allah saat IIMS nanti sudah diluncurkan,” ungkap GM Marketing Planing Customer Relation Division PT TAM, Widyawati Soedigdo.

Memang, Widya masih belum bisa menjanjikan kepastian tersebut, apalagi mengingat efek dari bencana Jepang yang masih terasa hingga kini. “Makanya, kalau impact bencana Jepang sudah teratasi, Innova bisa segera kita luncurkan,” tegas Widya.

Tidak banyak perubahan mencolok pada Kijang Innova yang sudah disegarkan ini. Paling kentara lampu depan dan belakangnya sudah mengalami permakan dengan desain baru, jadi lebih elegan dan mewah dari sebelumnya.

Sementara jeroan kabinnya, Widya masih belum mau memberikan rinciannya lebih lanjut. “Nanti sajalah, kita ada press converence tersendiri khusus untuk Innova facelift, sabar ya,” pintanya. (mobil.otomotifnet.com)

Info Gress Toyota Avanza Model Baru Hadir November 2011

Info Gress

Toyota Avanza Model Baru Hadir November 2011

Jakarta – Kalau kakaknya Toyota Kijang Innova facelift diluncurkan saat IIMS 2011 di bulan Juli mendatang, maka Avanza model baru akan hadir di akhir tahun 2011 ini, tepatnya di bulan November 2011. Penasaran?

Nantinya, sosok Avanza terbaru ini adalah benar-benar full model change, dan bukan sebatas facelift saja. Meski sampai saat ini bagaimana sosoknya belum juga bisa diketahui.

Sayang, Toyota Astra Motor masih benar-benar menutup rapat sosok MPV terlaris di Indonesia ini. “Kita belum bisa katakan sekarang, pokoknya semuanya sedang disiapkan, tahun ini Avanza model baru akan diluncurkan,” buka Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor, Johnny Darmawan.

“Atau kalau masih penasaran, coba saja tanyakan Daihatsu, kan Avanza diproduksi oleh Daihatsu,” ujar GM Marketing Planing Customer Relation Division PT TAM, Widyawati Soedigdo.

Maka, Linda Fatimah, Media Communication Astra Daihatsu Motor, akhirnya bersedia menjawabnya. “Avanza-Xenia terbaru rencananya di bulan November ini, mudah-mudahan tidak ada halangan,” ungkapnya.

Tuh kan, bersabar sedikit ya biar bisa membawa pulang Avanza model baru ke garasi rumah anda! (mobil.otomotifnet.com)

Apakah bubble di pasar properti Cina akan meletus?

Apakah bubble di pasar properti Cina akan meletus?

Belakangan ini, investor sedang dihantui oleh upaya pemerintah Cina untuk menahan spekulasi dalam pasar properti.  Masalahnya adalah bahwa orang Cina memiliki banyak uang, tetapi hanya mempunyai sedikit tempat untuk menanamkannya.

Oleh karena itu, mereka cenderung membeli real estate atau saham.  Ini telah mendorong harga properti naik sebesar 100% di berbagai daerah dalam setahun terakhir, dan pada gilirannya membuat pemerintah khawatir mengenai sebuah bubble atau gelembung.

Mengapa begitu banyak orang Cina memutuskan untuk membeli apartemen atau rumah?  Sebagian diantaranya membeli properti karena jika menyimpan uang di bank, mereka hanya memperoleh penghasilan yang sangat kecil.  Maka boleh dikatakan bahwa pada dasarnya mereka menganggap real estate sebagai suatu simpanan.

Sekarang pertanyaan adalah, “Apakah pasar properti Cina menggelembung atau tidak?”  Kemungkinan besar ya.  Dan … apakah gelembungnya akan pecah?  Kemungkinan besar juga ya.

Pada kenyataan angin rupanya mulai keluar perlahan-lahan dari bubble pada saat ini.  Tanda yang paling jitu dari sebuah puncak di pasar real estate Cina adalah hal berikut ini: meskipun harga properti tetap naik terus selama beberapa bulan terakhir ini, jumlah penjualan sudah mulai turun!

Misalnya harga rumah secara umum masih naik – terutama di kota pedalaman – tetapi pada bulan April nilai transaksi dari properti yang terjual jatuh 21,3% di seluruh negara dibandingkan bulan sebelumnya.  Bahkan beberapa agen telah meninggalkan bisnis properti, dan kini adapun cerita mengenai discounts tersembunyi yang ditawarkan kepada pembeli.  Jadi babak berikutnya kemungkinan besar adalah harga rumah yang mulai turun.

Apakah pasar properti akan mengalami pendaratan darurat?

Saya akan coba memberikan beberapa data yang menarik di bawah ini supaya Anda dapat menyimpulkan sendiri apakah housing market di Cina merupakan sebuah gelembung yang sedang mencari jarum untuk memecahkannya:

1)      The vacancy rate atau tingkat kekosongan untuk commercial real estate di Cina relatif tinggi, tetapi mereka masih membangun gedung perkantoran yang baru secara terus-menerus karena mereka berpikir akan selalu bertumbuh.  Oleh karena itu selama mereka mendirikan gedung maupun pusat perbelanjaan, kegiatan tersebut tetap akan tercatat sebagai pertumbuhan sampai … mereka berhenti.  Dan ketika mereka benar-benar berhenti, mereka akan terbenam dalam kapasitas berlebihan (overcapacity) dan tidak perlu membangun pencakar langit baru untuk waktu yang sangat lama.

Katanya Cina pada saat ini mempunyai sekitar 10 milyar square feet ruang perkantoran yang tidak dipakai, sedang dibangun, atau berada dalam tahap perencanaan.  Jadi sepertinya semua laki-laki, wanita dan anak-anak di seluruh negara akan memiliki sebuah kantor pribadi untuk “mengaduk-aduk” kertas seharian.

Salah satu contoh dari keputusan alokasi aset yang paling keliru adalah the South China Mall, yang merupakan shopping mall terbesar di dunia.  Meskipun telah dibangun pada tahun 2005, mall tersebut masih 99 persen kosong!

2)      Cina juga berserakan dengan KOTA HANTU.  Apabila Anda melakukan suatu Google search dan ketik “Chinese ghost towns”, Anda akan mendapatkan banyak gambar mengejutkan dari kota yang dibuat untuk jutaan orang, tetapi hanya dihuni oleh beberapa ribu:

●  Cina membangun kota yang lengkap, yaitu Ordos di Inner Mongolia, untuk 1 sampai 1,5 juta penduduk dan … sekarang kota itu kosong losong;

●  Dantu adalah kota hantu yang hampir kosong selama lebih dari sedasawarsa.  Didalam kebanyakan daerah dari Dantu, tidak ada mobil atau tanda hidup sama sekali;

●  Lalu ada kota Bayannao’er, yang membanggakan balai kota yang indah dan sebuah water reclamation building yang dibiayai oleh Bank Dunia;

●  Akhirnya, ada kampus raksasa baru untuk Yunnan University, yang didirikan untuk mengakomodasikan 2,3 juta mahasiswa.  Kini 11.000 orang terdaftar di universitas tersebut.

Itulah beberapa contoh klasik dari excesses atau kelebihan yang terjadi pada saat ini di Cina.

3)      Tingkat spekulasi di real estate adalah luar biasa.  Sekarang tersedia cukup banyak tempat tinggal yang kosong di Cina untuk menempatkan setidaknya setengah dari Amerika Serikat.

Data terkini menunjukkan bahwa ada sekitar 64 juta apartemen dan rumah yang tetap kosong selama enam bulan terakhir, menurut laporan dari media Cina.  Dengan anggapan bahwa setiap tempat tinggal berlaku sebagai sebuah rumah untuk suatu keluarga Cina yang secara khas terdiri dari tiga orang (orang tua dan satu anak), properti yang kosong dapat menyediakan tempat untuk 200 juta orang, yang merupakan lebih dari 15% populasi negara Cina sebesar 1,3 milyar.

Sementara China Daily memberitakan 70% dari semua rumah petak bertingkat di Hainan, 66% di Beijing, dan 51% di Shanghai kosong, berdasarkan pemakaian listrik.  Maka mereka cenderung dimiliki oleh investor dan spekulator, dan bukan oleh orang yang berencana untuk tinggal didalamnya.

Orang yang menanamkan dana di properti berpikir mereka telah membuat investasi yang aman, tetapi mereka mungkin saja bisa kehilangan sebagian dari uangnya.  Dengan sebuah oversupply atau kelebihan persediaan yang sudah membanjiri pasar properti Cina, banyak apartemen kemungkinan akan menjadi bangunan yang bobrok dan kurang terawat.

Berhubung kumpulan orang muda antara 20 dan 30 tahun pada saat ini sedang berkurang menyusul penetapan one-child policy, kelebihan persediaan properti ini terlihat sangat mirip dengan puncak dari bubble yang sebelumnya terjadi di Taiwan, Hong Kong, dan Singapura pada tahun 1990an.

4)      Jika dipandang dari kenaikan harga, pasar real estate hampir pasti “kepanasan”.  Misalnya suatu laporan yang ditulis oleh the National Bureau of Economic Research menyediakan data yang menarik mengenai pasar properti di Cina: sejak kuartal pertama 2007, harga rumah secara riil telah naik sebesar 140%, dan bahkan sebanyak 800% di Beijing selama delapan tahun terakhir.

5)      The affordability ratio, yang diperoleh lewat pembagian nilai properti dengan annual disposable income (pendapatan tahunan yang tersisa setelah membayar pajak), memberi tanda bahwa kita sesungguhnya berada dalam kondisi yang tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi (lihat grafik dibawah ini yang menampilkan data per Desember 2009).

Price-to-income ratios sudah mencapai 15 sampai 20 kali dalam kota besar dan sekitar 10 kali dalam kota regional, daripada 9x di Jepang dan 12x di Los Angeles pada puncaknya.

Sebagai contohnya, the China Daily mengabarkan harga sebuah apartemen di Beijing seluas 90 meter persegi adalah 1,6 juta yuan (236,000 US dollars) tahun lalu.  Sementara an average household disposable income hanya sekitar 71.000 yuan di 2009, menurut data dari ibu kota.

Berdasarkan uraian diatas, boleh dikatakan bahwa housing affordability sangat, sangat rendah dan harga rumah luar biasa tinggi.  Ini jelas-jelas merupakan suatu tantangan besar bagi Cina yang dituntut untuk menyediakan perumahan dengan harga yang pantas untuk kelas menengah.

6)      Property investment di Cina sebesar 10% dari PDB pada tahun 2009, atau naik dari 8% di 2007.  Di Jepang, pada puncak dari bubble-nya, investasi dalam properti tidak melebihi 9% dari PDB, sedangkan di AS tidak pernah melampaui 6%.

Selain itu, grafik dibawah ini barangkali dapat memberikan suatu gambaran kemanakah real estate market di Cina kemungkinan akan menuju.

Apa dampaknya?

Menurut Anda, apakah orang Cina akan mampu “mendaratkan pesawat” ini lebih baik daripada Ben Bernanke?  Apakah masih ingat ketika Kepala the Fed menyerukan masalah dengan subprime mortgages sepenuhnya terkendali?  Hmm … jadi saya berpendapat nasibnya Cina pun akan demikian.

Sebetulnya, sebuah bubble dalam pasar real estate hampir sama dengan suatu PONZI SCHEME. Selama ada seorang pembeli tambahan, harga properti akan naik secara terus-menerus, tetapi pada suatu waktu semua orang yang ingin membeli sebuah rumah sudah membelinya.  Maka pada saat tidak ada seorang pembeli tambahan lagi, harga mulai menurun dan penurunan tersebut makin hari menjadi makin dalam.

Beberapa analis bersikeras bahwa ini tidak mungkin sebuah bubble karena leverage tidak terlalu tinggi, mengingat pembelian rumah atau apartemen di Cina seringkali memerlukan down payments sebesar 30%.  Berarti apabila nilai real estate anjlok sebagai hasil dari kelebihan persediaan, bukankah orang akan kehilangan banyak uang?  Inilah sangat berbeda dengan keruntuhan dari pasar properti di Amerika Serikat, dimana banyak spekulator dan pemilik rumah mempunyai kurang dari 20% equity, dan kadang-kadang bahkan sekecil 0%.

Lalu bank besar di Cina telah menyalurkan banyak dana ke pasar properti selama beberapa tahun terakhir.  Pemberian KPR dan pinjaman ke developers merupakan dua bagian terbesar dari ekspansi kredit yang signifikan sejak tahun 2009.

Per akhir Maret 2010 saja, diperkirakan ada sekitar 9 trilyun yuan pinjaman secara langsung ke sektor real estate dari sistem perbankan.  Sejauh ini, analis menilai suatu penurunan dalam harga perumahan sebesar 20% seharusnya masih dapat diatasi oleh kebanyakan institusi keuangan.  Namun jika penurunannya lebih dari itu, tidak ada kepastian apa yang akan terjadi.  Maka jangan heran bank Cina belakangan ini dipaksa oleh lembaga pengawasan untuk menaikkan jumlah modal dan menyisihkan provisi yang lebih besar.

Terakhir pemerintah daerah mempunyai banyak hutang dan berpeluang memperoleh masalah keuangan karena mereka bergantung pada transaksi properti untuk pendapatannya.  Dengan demikian ini dianggap sebagai sebuah bom waktu, yang bisa menyebabkan pemerintah daerah gagal bayar jika pasar properti mengalami koreksi yang terlalu dalam.

Apapun angka yang tepat, jumlahnya besar dan berkisar antara 6 dan 11,4 trilyun yuan, atau sama dengan 71% dari PDB negara Cina secara nominal.  Dan … beberapa laporan mengindikasikan bahwa bank akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kembali sekitar 23% dari uang yang mereka telah meminjamkan.

Kesimpulan

Saya tidak tahu bagaimana Anda mengatakan bubble dalam bahasa mandarin, tetapi saya yakin bahwa pasar real estate di Cina sudah hampir pasti membentuk semacam gelembung.  Coba membayangkan betapa banyak kekayaan yang akan dihancurkan ketika harga properti turun.  Disamping itu, hal tersebut juga bisa mengakibatkan keresahan masyarakat maupun mengancam kestabilan politik.

Jika perekonomian Cina melemah – menyusul Cina adalah mesin pertumbuhan dari Asia – seluruh kawasan akan merasakan pengaruhnya.  Dan … komoditas seperti tembaga, besi, dan yang lain-lain kemungkinan akan terpukul.

Maka investor sebaiknya memperhatikan perkembangan pasar real estate di Cina dengan seksama agar tidak menderita kerugian yang dapat dihindari pada waktu bubble pada akhirnya meledak.  Meskipun masa depan Cina dalam jangka panjang cerah, dalam jangka pendek kita harus mewaspadai berbagai persoalan yang bisa menggoncangkan perekonomian dunia.

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/06/06/apakah-bubble-di-pasar-properti-cina-akan-meletus-2/

 

Berikut Pemandangan kota Ordos, yang di sebut-sebut kota Hantu, berikut cuplikan foto-fotonya:

Dikenal dengan nama “Kota Kosong”, Kangabashi district of Ordos dirancang sebagai rumah bagi lebih dari 1 juta warga Cina, namun saat ini kota tersebut hampir tak berpenghuni. Apa yang membuatnya bahkan lebih aneh adalah kenyataan bahwa daerah tersebut merupakan daerah koloni terkaya kedua di Cina. Ordos sebelumnya merupakan daerah miskin di daerah Mongolia Dalam, Ordos menjadi terkenal pada tahun 2003 berkat cadangan batu bara dan gas alam yg besar di dalamnya.

Daerah sekitar Ordos merupakan daerah yg memiliki seperenam dari cadangan batu bara dan sepertiga dari cadangan gas alam di China. Seperti sudah bisa diduga, pemerintah tidak bisa menahan godaan untuk memulai proyek mewah di daerah tersebut, dan kabupaten pengembangan Kangabashi adalah salah satunya.

Ordos memiliki pendapatan perkapita terbesar kedua setelah Shanghai, dan pemerintah berusaha meyakinkan penduduk setempat untuk menginvestasikan uang mereka lebih dekat ke rumah, daripada di tempat lain di mana masyarakat tidak dapat mendapatkan keuntungan. Kota tua tersebut telah cukup diperluas dan lingkungan yang baru dibangun dari awal. Kabupaten Kangabashi baru seharusnya menjadi rumah bagi sekitar 1 juta warga Cina, namun sejauh ini sebagian besar bangunan tetap kosong.

Tetapi meskipun menjadi sebuah kota hantu modern, pemerintah Cina tetap mengharapkan Ordos yang baru akan menjadi sukses. Dan untuk alasan yang baik, karena tujuan utama dari kabupaten Kangabashi adalah untuk membuat pengusaha batubara membeli properti baru di daerah tersebut. Dalam keprihatinan ini Kangabashi memang sukses, karena semua rumah dan kantor di daerah baru tersebut habis terjual. Hanya saja tak seorang pun hidup di dalamnya.

Ini mungkin tampak aneh bahwa tak seorang pun ingin bergerak di distrik baru terutama karena hanya setengah dari rumah di sini terlihat buruk. Tapi, mengingat Kangabashi terletak 25 kilometer dari Ordos lama, sangat mudah untuk memahami mengapa keluarga pekerja batubara enggan untuk meninggalkan rumah mereka dan pindah ke lokasi baru. Beberapa orang akan menyebutnya situasi ini sebagai hasil dari kesalahan perencanaan tetapi pihak berwenang memiliki alasan untuk memilih lokasi yang jauh untuk kabupaten yang baru.

 

 

 

 

These amazing satellite images show sprawling cities built in remote parts of China that have been left completely abandoned, sometimes years after their construction.

Elaborate public buildings and open spaces are completely unused, with the exception of a few government vehicles near communist authority offices.

Some estimates put the number of empty homes at as many as 64 million, with up to 20 new cities being built every year in the country’s vast swathes of free land.

The photographs have emerged as a Chinese government think tank warns that the country’s real estate bubble is getting worse, with property prices in major cities overvalued by as much as 70 per cent.

Ghost city: Kangbashi was meant to be the urban centre for wealthy coal-mining community Ordos and home to its one million workers, but its roads are eerily empty and the houses stand vacantGhost city: Kangbashi was meant to be the urban centre for wealthy coal-mining community Ordos and home to its one million workers, but its roads are eerily empty and the houses stand vacant

The mostly empty city of Bayannao¿er, which boasts a beautiful town hall and World Bank-sponsored water reclamation buildingThe mostly empty city of Bayannao¿er, which boasts a beautiful town hall and World Bank-sponsored water reclamation building

Of the 35 major cities surveyed, property prices in eleven including Beijing and Shanghai were between 30 and 50 per cent above their market value, the China Daily said, citing the Chinese Academy of Social Sciences.

Prices in Fuzhou, capital of the southeastern province of Fujian, had the worst property bubble with average house prices more than 70 per cent higher than their market value, according to the survey conducted in September.

The average price in the 35 cities surveyed was nearly 30 per cent above the market value, the report said.

Property prices have remained stubbornly high despite the government adopting a slew of measures since April including hiking minimum downpayments to at least 30 per cent and ordering banks not to provide loans for third home purchases.

Prices in 70 major cities were up 0.2 per cent in October from the previous month and 8.6 percent higher than a year ago, official data showed.

The increase came after prices gained 0.5 per cent month on month in September, which was the first increase since May.

Property to let: Zhengzhou New District is China's biggest ghost city, complete with entire blocks of totally empty accomodationProperty to let: Zhengzhou New District is China’s biggest ghost city, complete with entire blocks of totally empty accommodation

 

ZhengzhouProperty bubble: Zhengzhou New District features vast public buildings that have never been used

Half of Erenhot is empty. The other half is unfinishedHalf of Erenhot is empty. The other half is unfinished

 

Now here's Kangbashi, a new city with capacity for 300,000 -- that houses 30,000Now here’s Kangbashi, a new city with capacity for 300,000 — that houses 30,000

Massive stimulus measures taken since 2008 to fend off the financial crisis injected huge amounts of liquidity in the market and have been blamed for fuelling real estate prices.

‘The government target is not clear and policy is incoherent,’ CASS senior research Ni Pengfei was quoted saying.

According to research carried out by Time magazine, fixed-asset investment in the Asian country accounted for more than 90 per cent of its overall growth – with residential and commercial real estate investment making up nearly a quarter of that.

Regional governments across China have been building massive real estate projects, including Kangbashi in Inner Mongolia and Zhengzhou New District, which have remained empty, because of the high prices and interest in investment.

Kangbashi, which was built in just five years, was meant to be the urban centre for Ordos City – a wealthy coal-mining hub home to 1.5million people.

It was filled with office towers, administrative centres, museums, theatres and sports facilities as well as thousands of homes, but remains virtually deserted.

The ghost city of Dantu has been mostly empty for over a decadeThe ghost city of Dantu has been mostly empty for over a decade

 

The orange area to the north-east of the Xinyang has yet to be occupiedThe orange area to the north-east of the Xinyang has yet to be occupied

No cars in the city except for approximately 100 clustered around the government headquartersNo cars in the city except for approximately 100 clustered around the government headquarters

 

ZhengzhouZhengzhou New District residential towers: Soaring property prices in China and high levels of investment has fuelled the construction of up several new cities. Experts fear a subsequent property crash could damage the global economy

Prices have continued to soar, investors have increasingly turned to property speculation fuelling the continued bubble.

The onset of the 2008 global recession was the bursting of the real estate bubble in the U.S. and experts fear a similar situation in China could prove catastrophic for still struggling economies and banking systems.

Beijing has introduced measures to cool ‘ridiculous’ property prices, but the risks of a crash mean the campaign is unlikely to ease up in the next year.

Public discontent has been fuelled by high prices in China’s cities and the measures, introduced in April, have made it more difficult for speculators and developers to hoard land and chase up prices as lending has been restricted.

Wang Shi, chairman of China Vanke – the country’s largest property developer – said: ‘Tightening measures will not loosen next year.

‘If we can control the pace of property price gains within a reasonable range, it’s already an achievement.’

In most neighbourhoods of Dantu, there are no cars, no signs of lifeIn most neighbourhoods of Dantu, there are no cars, no signs of life

 

A giant empty hotel sits in the city of ErenhotA giant empty hotel sits in the city of Erenhot

 

This city was built in the middle of a desert: Erenhot, Xilin Gol, Inner MongoliaThis city was built in the middle of a desert: Erenhot, Xilin Gol, Inner Mongolia

Property sales for Vanke already exceeded $15billion so far this year, but Mr Shi has insisted China will not end up in a worse place than Dubai – where a property price bubble imploded during the global financial crisis.

He said: ‘It could be really, really bad without the government stepping in.

‘If the bubble bursts, Japan’s past will be China’s present.’

But short-seller Jim Chanos has issued a more dire warning, and said he expected China’s economy to implode in a real estate bust.

He said the country was ‘on an economic treadmill to hell’ and the country’s bubble was ‘Dubai times 1,000′.

In the 1980s, Tokyo saw a massive rise in property prices and a subsequent crash. The Hong Kong property market experienced a similar phenomenon in the 1990s.

This $19 billion development is packed with blocks of empty housesThis $19 billion development is packed with blocks of empty houses

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.