Badai pasti berlalu di pasar emas

Badai pasti berlalu di pasar emas

August 26th, 2011

“Gold, unlike all other commodities, is a currency … and the major thrust in the demand for gold is not for jewelry.  It’s not for anything other than an escape from what is perceived to be a fiat money system, paper money, that seems to be deteriorating.”

-Alan Greenspan, August 23, 2011-

Berhubungan saya mendapatkan begitu banyak pertanyaan mengenai penurunan harga emas dalam tiga hari terakhir, saya memutuskan untuk memberikan sebuah update dengan grafik harian agar Anda mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang kondisi teknikal terkini.  Pada dasarnya ada tiga alas an utama mengapa emas anjlok:

1) Banyak orang telah membeli emas ketika harganya masih di $1,500an/oz sampai $1,700an/oz, jadi sebagian diantaranya menilai sudah saatnya untuk mengambil untung terlebih dahulu.  Jangan lupa bahwa emas memang naik dengan cepat dalam waktu yang sangat singkat, dimana harganya telah meningkat hampir 35% atau $500/oz sejak Januari 2011.  Bahkan dari 1 Juli hingga 23 Agustus harga emas melonjak dari $1,478.01/oz ke $1,911.46/oz!

2) Salah satu katalis yang juga menekan harga emas adalah kenaikan gold margins di Shanghai Gold Exchange sebesar 26%.  Selain itu the CME (Chicago Mercantile Exchange) Group Inc., yang merupakan perusahaan induk dari bursa-bursa utama yang memperdagangkan logam dan energi di Amerika Serikat, pun menaikkan margin requirements di pasar emas untuk kedua kalinya bulan ini.  Untuk bertransaksi kontrak emas investor pada saat ini memerlukan jaminan senilai $9,450 per 100-ounce contract, atau 27% lebih tinggi (dibandingkan/daripada) sebelumnya.

3) Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, harga emas mengalami akselerasi yang luar biasa dalam dua pekan terakhir sebelum mencapai level tertingginya sepanjang sejarah di $1,911.46/oz.  Bersamaan dengan itu, RSI menunjukkan sebuah bearish divergence dan MACD – pada grafik mingguan – tidak pernah setinggi itu dalam lebih dari 30 tahun.  Maka koreksi ini adalah sangat wajar, dan hanya bersifat sementara saja.

Target koreksi sendiri terletak antara $1,694.74/oz dan $1,745.88/oz, yang masing-masing merupakan 50% dan 38,2% fibonacci retracements.  Jadi low pada hari Kamis 25 Agustus di $1,703.90/oz kemungkinan adalah level terendah dari koreksi yang berlangsung sekarang.

Kesimpulan

Secara fundamental tidak ada perubahan sama sekali.  Tren utama pun tetap bullish, maka buy on weakness adalah siasat yang paling bijaksana.

Kepercayaan saya terhadap emas sebagai suatu investasi yang menjanjikan tidak tergoyah sedikitpun.  Pada akhirnya emas masih merupakan sebuah safe haven maupun inflation hedge yang terbaik dalam kondisi perekonomian yang mengarah kepada STAGFLASI (atau pertumbuhan ekonomi di negara maju yang stagnan dibarengi dengan inflasi yang tinggi).

Koreksi adalah hal yang biasa dan merupakan bagian dari uptrend.  Mudah-mudahan Anda dapat menerimanya secara tenang karena VOLATILITAS tetap akan tinggi sekali dalam beberapa tahun kedepan.

Dan … sebagai pengetahuan Anda saja, saya masih mempertahankan target emas di $1,935.15/oz untuk kuartal keempat tahun ini dan tidak akan terkejut apabila harga emas melebihi $2,000/oz sebelum tahun ini usai.

Selamat berinvestasi di pasar emas dan semoga sukses selalu!

Iklan

”Kereta emas” melaju terus

”Kereta emas” melaju terus

“Even though critics will not tire of discrediting gold as the barbarous relic and yesterday’s money that has no place in modern society, we would like to ask the question what timeline they have looked at. “Natural laws” such as “property prices don’t fall”, “US Treasuries are risk-free”, or “The Earth is flat” may have applied in the (recent) past, but if we broaden the (time) horizon, we find that the picture changes.  The mere extrapolation of the past leads to disastrous results in the long term.  Gold on the other hand has a track record of 6000 years as the currency of last resort and has never turned worthless.”

-Ronald-Peter Stöferle, In GOLD we TRUST-

Pagi ini emas kembali membukukan level tertinggi sepanjang sejarah di $1,911.46/oz, dan seolah-olah merupakan sebuah kereta yang telah meninggalkan stasiunnya dan tidak dapat dihentikan oleh apapun atau siapapun.  Meskipun volatilitasnya agak menurun pada awal pekan lalu dengan kisaran rata-rata sebesar $25, akhirnya emas breakout lagi pada hari Kamis dimana range harian meningkat hampir dua kali lipat ke $46 selama tiga hari perdagangan terakhir.

Ternyata trading plan yang saya berikan di artikel sebelumnya cukup mapan dan menghasilkan return yang memuaskan: “Maka ada dua opsi untuk investor yang ingin membeli emas pada saat ini, yaitu menunggu sampai emas terkoreksi antara $1,685/oz dan $1,735/oz atau membeli emas ketika resistance di sekitar $1,770/oz ditembus.

Pada kenyataan emas hanya memasuki buying zone tersebut pada 12 Agustus di $1,723.95/oz maupun 15 Agustus di $1,729.10/oz, dan cuman me-retrace sekitar 23,6% dari gerakan sebelumnya dari $1,478.01/oz hingga $1,813.79/oz.  Berarti the bulls are very strong belakangan ini dan mengendalikan pasar emas sepenuhnya!

Pertarungan antara emas dan uang kertas berlanjut

“In effect, there is nothing inherently wrong with fiat money, provided we get perfect authority and god-like intelligence for kings.”

-Aristotle-

Setelah emas berkonsolidasi selama 2 bulan antara Mei dan Juni, harganya beranjak naik terus karena makin banyak investor menyadari bahwa hanya ada satu mata uang yang mereka bisa percayai.  Coba saja menjawab pertanyaan berikut ini: “Mata uang apa yang tidak pernah akan menghilang dari muka bumi ini dan mempertahankan nilainya ketika suatu krisis global mengancam perekonomian dunia?”  Apabila jawaban Anda EMAS, Anda pun mulai memahami aset ini merupakan satu-satunya uang yang sesungguhnya!

Seperti saya katakan dalam artikel sebelumnya, emas lebih dari sekedar sebuah komoditas.  Selain itu, emas menawarkan suatu cara yang sederhana untuk mendiversifikasi maupun mengurangi volatilitas dari portofolio Anda sebab korelasinya dengan asset classes yang lainnya rendah.  Selanjutnya emas tidak mengandung liquidity risk atau credit risk, dan sama sekali tidak bisa default karena tidak ada counterparty risk.

Nah, mengapa emas akhir-akhir ini makin sedikit dipandang sebagai sebuah komoditas?  Jika Anda meneliti grafik dibawah ini, yang menampilkan harga emas dibandingkan harga komoditas secara umum, Anda pasti akan bisa menemukan jawabannya.

Jelas terlihat bahwa harga emas sudah naik lebih dari 100% sejak akhir tahun 2008, sementara sector komoditas hanya berhasil rebound secara terbatas.  Biasanya emas memang bergerak seirama dengan sektor komoditas secara umum, namun korelasi tersebut mulai terputus pada akhir 2008.  Dengan kata lain, kemerosotan pasar komoditas menunjukkan perekonomian global mengalami kesulitan, sedangkan harga emas yang membubung tinggi membuktikan dolar AS – dan juga uang kertas lainnya – sedang bermasalah.

Nasib US dollar kurang baik

“The U.S. dollar is an ‘I owe you nothing’ …   and the Euro is a ‘who owes you nothing.”

-Doug Casey-

Setelah the Fed mengatakan tingkat suku bunga akan dipertahankan antara 0% dan 0,25% setidaknya sampai pertengahan tahun 2013, bank sentral AS pada dasarnya memberitahu kepada pelaku pasar bahwa mereka tetap akan menerapkan sebuah kebijakan moneter yang sangat longgar selama 2 tahun kedepan.  Tentunya kebijakan tersebut secara tidak langsung akan menurunkan nilai tukar dolar AS, yang pada gilirannya akan memanfaati emas.

Di samping itu, kini ada dua BOM WAKTU yang dapat mengancam posisi dolar AS sebagai the world reserve currency, yaitu trilyunan US dollars yang berada diluar Amerika Serikat (yang bisa mengalir kembali ke AS dengan cepat) dan trilyunan dolar AS didalam Amerika Serikat yang dicetak untuk menyelamatkan sistem perbankan pada tahun 2008.  Mengapa demikian?

Pertama, trilyunan dolar AS yang diciptakan pada waktu ekonomi Amerika Serikat mengalami resesi hanya ditahan oleh bank saja.  Ini terjadi karena konsumen maupun perusahaan tidak mau menambah hutang lagi, dan bank pun takut untuk meminjamkan uang selama resikonya terlalu tinggi.  Maka pemberian kredit sangat minim pada saat ini, tetapi situasi itu tidak akan selalu demikian.  Ketika sekian banyak US dollars mulai membanjiri perekonomian, harga barang maupun jasa berpeluang naik secara tiba-tiba.

Lalu bagaimana jika investor asing memutuskan untuk melepas sebagian dari obligasi pemerintah AS yang mereka pegang?  Sekarang saja berbagai bank sentral dan investor institusi lainnya memegang sekitar 6 sampai 7 trillion US dollars jadi mereka makin gelisah setelah peringkat hutang Amerika Serikat di-downgrade.  Bayangkan apabila beberapa investor institusi yang besar secara mendadak menjual kepemilikan aset mereka yang berdenominasi dolar AS, dan menimbulkan suatu kepanikan global dimana semua pihak berbalap untuk “membebaskan dirinya” dari US dollars

Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Dollar Index akan rebound dalam waktu dekat.  Sejak awal bulan Mei lalu dolar AS hanya mampu berkonsolidasi terhadap mata uang utama dunia lainnya, dan masih tertahan di bawah SMA-50 maupun SMA-200.  Pendek kata, indeks dolar tetap bearish dan kemungkinan besar akan melanjutkan penurunannya pada saat support-nya ditembus.

Bulan September yang menggembirakan

Secara tradisional bulan September menandakan mulanya dari gift-giving season untuk emas.  Banyak hari raya maupun festival diadakan selama beberapa bulan kedepan, terutama di India maupun Cina, yang menyebabkan permintaan untuk emas melonjak (lihat gambar dibawah ini).

Selain faktor musiman tersebut, adapun siklus 2-tahunan yang mengulangi dirinya setiap tahun ganjil pada bulan September.  Lihat saja tabel dan grafik dibawah ini, yang menunjukkan fenomena itu dengan jelas.

Akan sungguh menarik untuk menyaksikan apakah pasar emas akan kembali menggeliat pada bulan September 2011 atau tidak, dan apakah kenaikan rata-rata sebesar 6,8% dapat dilebihi.  Only time will tell of course

Bubble oh bubble … dimanakah engkau?

“The run-up to the peak in markets like gold is between now and 2015. I think it will all be over by 2015, a lot of it depends on how aggressively paper monies get printed from here on in.  I think $3,000 is an absolute minimum target.  I can believe in targets certainly above $5,000 and it’s theoretically possible to go to $12,000, that’s dollars an ounce for gold. If Mr. Bernanke stays on his current agenda I think those higher numbers will be what you will see.  We’re looking at the trashing of the dollar.”

-Robin Griffiths of Cazenove-

Ketika saya memberikan sebuah seminar mengenai emas dan bertanya apakah investor telah membeli emas, kebanyakan orang malahan mengatakan bahwa mereka takut harganya sudah terlampau tinggi.  Banyak diantaranya juga menyampaikan ini kemungkinan hanya sebuah bubble atau gelembung yang sedang mencari sebuah jarum untuk dipecahkan.

Saya mengakui memang tidak mudah untuk membeli emas setelah harganya telah meroket lebih dari 500% selama dasawarsa terakhir.  Mungkin agak membuat hati berdebar-debar untuk membeli emas diatas $1,800/oz, tetapi saya secara pribadi lebih khawatir apabila tidak memilikinya sama sekali.

Sayang tapi nyata, meskipun sekian banyak faktor mendukung emas pada saat ini, mayoritas dari investor (profesional sekalipun) tetap menolak untuk menganggap emas sebagai suatu asset class yang pantas untuk dimiliki.  Berapa orang yang Anda kenal sudah mempunyai emas dalam bentuk koin atau batangan (kecil ataupun besar)?  Mungkin saja hanya Anda seorang diri diantara teman yang berinvestasi didalamnya.  Oleh karena itu, jumlah pembeli emas jauh mengungguli jumlah orang yang sedang memegangnya.

Anda pasti sudah seringkali membaca atau mendengar orang berseru bahwa emas terlalu beresiko atau mahal, dan pada dasarnya merupakan sebuah benda mati yang tidak memberikan penghasilan apapun.  Namun orang yang sama menyatakan hal demikian ketika harga emas mencapai $1,000/oz, lalu $1,500/oz dan awal pekan ini bahkan sudah $1,900/oz.  Saran ini terbukti sangat merugikan untuk orang yang mengikutinya sebab emas tetap saja melanjutkan uptrend-nya.

Jadi apakah pasar emas membentuk suatu bubble atau bagaimana?  Menurut penghematan saya, the mania phase atau tahap terakhir dari bull market baru saja dimulai dan harga emas masih akan jauh lebih tinggi dari sekarang.  Secara sederhana pasar emas tetap akan bullish kedepan karena investor sedang mencari suatu tempat yang aman untuk mempertahankan kekayaan mereka.

Semua bank sentral kini berupaya sekeras mungkin untuk melemahkan mata uang mereka agar dapat membayar hutang kembali dengan uang yang lebih “murah”.  Lagipula mereka juga hampir tidak menawarkan suatu return sama sekali – mengingat real interest rates pada saat ini negatif di negara maju – dan mencetak uang secara terus-menerus untuk menutupi defisit anggarannya.

Maka jangan heran apabila makin banyak investor ingin memiliki satu-satunya aset yang tidak bisa dimanipulasi, dicetak, didevaluasi maupun hilang dari peredaran dan/atau mengalami default, yaitu EMAS yang akan menjadi the last man standing atau aset yang terpilih ketika terjadi sebuah krisis global!

Bayangkan jika begitu banyak investor (individual maupun institusi), perusahaan dan bank sentral tiba-tiba ingin memborong emas pada saat yang sama dan apa dampaknya terhadap arah pergerakan harga …  Maka berdasarkan asumsi itu saya berani memprediksi bahwa bubble yang sesungguhnya masih berada didepan kita.

Belakangan ini saya juga mulai makin curiga bahwa kita kemungkinan akan menyaksikan kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan kedepan, yang mungkin mirip dengan periode kuartal ketiga 2007 hingga kuartal pertama 2008.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, dari 16 Agustus 2007 sampai 17 Maret 2008 emas menguat dari $641.10/oz hingga $1,030.80/oz atau sebesar 60,8%!

Jika emas kini mengalami kenaikan yang serupa dari $1,478.01/oz, harganya dapat (melaju/meroket) ke $2,376.64/oz.  Dan … kebetulan atau tidak, level tersebut hampir sama dengan inflation-adjusted high atau level tertinggi sepanjang sejarah yang disesuaikan untuk inflasi di sekitar $2,400/oz (lihat grafik dibawah ini).

Kesimpulan

“Up until August 15, 1971, there has never in history been an era when no paper currency was linked to Gold.  The history of money is replete with instances of coin clipping, printing, debt defaults, and the other attendant ills of currency debasement.  In all other eras of history, people could always escape to other currencies, whose Gold backing remained intact.  But since 1971, there is no escape because no paper currency has any link to Gold. All of the economic, monetary, and financial upheaval of  the past 40 years is a direct result of this fact. The global paper currency system is very young.  It depends for its continued functioning on the belief that the debt upon which it is based will, someday, be repaid.  The one thing, above all others, that could shake that faith, and therefore the foundations of the modern financial system itself, is a rise (especially a sharp rise) in the U.S. Dollar price of Gold.”

-Bill Buckler, The Privateer-

Apabila Anda masih belum yakin harga emas akan naik, naik, dan … naik lebih jauh lagi, coba saja meneliti tabel berikut ini:

Selama kebanyakan pemerintahan di dunia tetap tidak mampu untuk mengendalikan pengeluaran mereka, menumpuk hutang yang makin besar, membiarkan defisit anggaran membengkak dan mencetak uang dalam jumlah yang tidak terbatas, uang kertas akan kehilangan nilainya dan harga emas akan makin tinggi.  Dengan demikian cara yang paling ampuh untuk mengamankan portofolio maupun mempertahankan kekayaan Anda dari krisis moneter yang akan datang adalah logam mulia, baik emas dan perak.

Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu!

sumber

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/08/23/%E2%80%9Dkereta-emas%E2%80%9D-melaju-terus/

MENCERMATI TAWARAN ASURANSI KARTU KREDIT

MENCERMATI TAWARAN ASURANSI KARTU KREDIT
Pembayaran secara cicilan tak selalu menguntungkan
Share
dibaca sebanyak 510 kali

0 Komentar

JAKARTA. Menyusul berita ramai tentang tindak kekerasan oknum debt collector dalam menagih utang kartu kredit, bisnis asuransi kartu kredit menjadi primadona sejumlah perusahaan asuransi. Kabar terbaru, PT Asuransi Jiwa Sinarmas meluncurkan program perisai kartu kredit (credit shield) bertajuk Perlindungan Tanpa Sukar (PAKAR).

Ceruk pasar credit shield yang masih luas jadi salah satu alasan Asuransi Jiwa Sinarmas meluncurkan PAKAR. Paling tidak, saat ini sebanyak 60% dari total 40 juta pemegang kartu kredit belum memiliki credit shield. Di sisi lain, pangsa pasarnya pun sudah jelas, para pemegang kartu kredit.

Masuk akal kalau perusahaan asuransi mengincar pasar nasabah kartu kredit. Berdasarkan data Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, dari sekitar 250 juta rakyat di negeri ini, pemegang kartu kredit hanya 40 juta orang. Besarnya ceruk pasar kartu kredit ini menjadi alasan tersendiri bagi perusahaan asuransi meluncurkan produk yang dibundel (paket) kartu kredit.

Selain itu, biaya operasional penjualan relatif rendah. Perusahaan asuransi hanya memberi pelatihan kepada tenaga telemarketer yang sumber daya manusianya telah tersedia dari penerbit kartu kredit.

Cermat menimbang

Dus, jika Anda pengguna kartu kredit, tidak perlu kaget, bila kerap mendapat tawaran program asuransi yang dibundel dengan kartu kredit melalui telepon. Persoalannya, bagi pemegang kartu kredit, perlukah asuransi itu mereka ambil? Jika memang berminat, silakan. Namun, sebelum Anda menjatuhkan pilihan, ada baiknya mempertimbangkan secara matang.

Menurut Freddy Pieloor, perencana keuangan dari MONEYnLOVE, produk asuransi jiwa yang dipaket dengan kartu kredit merupakan produk yang dijual melalui telemarketing. “Saya tidak menyarankan nasabah dan masyarakat luas membeli produk asuransi apapun dari penawaran kartu kredit atau perbankan yang disampaikan melalui telemarketing,” saran Freddy.

Sebab, lanjut dia, nasabah tidak akan memperoleh penjelasan secara detail menggunakan contoh (dummy) polis asuransi yang ingin dibelinya, dan tidak dijelaskan secara langsung (tatap muka). “Nasabah tidak memperoleh polis asli dari kartu kredit atau perbankan. Premi yang harus dibayar juga lebih mahal dibandingkan membeli langsung produk asuransi dari perusahaan asuransi,” kata dia.

Apakah asuransi PAKAR termasuk produk asuransi telemarketing? PAKAR memang produk telemarketing. Jadi, nasabah tidak bisa melihat polis terlebih dahulu. “Tapi, kami akan memberikan penjelasan secara detail tentang fasilitas dan keunggulan produk ini,” tegas Gideon Vice President Direct Marketing & Telemarketing Asuransi Jiwa Sinarmas.

Oleh sebab itu, Freddy mengingatkan, jika ada tawaran produk credit shield atau proteksi nasabah atas tunggakan kartu kredit, Anda tak perlu membelinya. Silakan beli asuransi jiwa dan kecelakaan diri dari perusahaan asuransi dengan premi per tahun dan limit yang memadai. Jadi, jika Anda meninggal dunia, ada sejumlah dana untuk bayar tagihan kartu kredit.

Risza Bambang, perencana keuangan dari Shildt Financial Planning menimpali, uang pertanggungan (UP) yang ditawarkan credit shield atau proteksi nasabah atas tunggakan kartu kredit, biasanya tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan nasabah akibat menderita cacat tetap total. Produk ini hanya memberi manfaat melunasi sisa utang kredit. Sedangkan kebutuhan lain, seperti pengobatan, perawatan, tambahan living cost atau biaya hidup akibat tidak bisa melakukan aktivitas secara normal dan lain-lain, masih harus ditanggung sendiri oleh nasabah.

Kelemahan lain adalah proses pengajuan menjadi nasabah. Apakah perlu proses seleksi dalam pengajuan pembelian yang biasanya dilakukan perusahaan asuransi? Jika ada proses seleksi, apakah proses itu mudah atau sebaliknya. Begitu pula jika proses seleksi dipermudah, sambung Risza, apakah akan berakibat pada limitasi nilai perlindungan? Jika ada batasan manfaat yang tidak sama dengan nilai pagu kredit, maka bagaimana jika ada selisih nilai manfaat pelunasan dengan nilai total sisa kredit yang belum dibayar? Pertanyaan ini, hanya bisa terjawab bila Anda telah menerima manfaat dari produk ini.

Hanya saja, biasanya prosedur pembayaran pada jenis manfaat ini tidak sekaligus, tapi dibagi minimal dua kali pembayaran, yaitu 20% dan 80%. Nah, jika pelunasan tagihan kartu kredit bertahap, bisa timbul risiko beban bunga atas sisa tagihan utang yang belum terbayar. Jadi, sebelum membeli produk asuransi kartu kredit, Risza menyarankan memahami terlebih dahulu risiko atau kelemahan produk itu. Setelah itu, bandingkan dengan produk sejenis, baik produk asuransi yang melekat dengan kartu kredit atau produk rider yang tersedia lebih banyak di pasar.

Mike Rini, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory bilang, perlindungan yang diberikan asuransi credit shield hanya ditujukan untuk kematian atau cacat fisik nasabah akibat kecelakaan. Asuransi ini tidak bisa meng-cover kebutuhan jika nasabah terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaannya.

Jadi, menurut Mike, jika memang Anda mampu membeli produk asuransi dengan pembayaran premi tunai, sebaiknya Anda tidak perlu membeli produk asuransi yang pembayaran premi mencicil lewat kartu kredit. Yang perlu diwaspadai, ujar Mike, jika Anda tidak bisa melunasi tagihan kartu kredit tepat waktu, yang di dalamnya terdapat premi asuransi, maka akan menambah beban utang Anda.

Ingat, dalam program ini ada kewajiban yang harus Anda bayar. Jika kewajiban itu tidak dibayar, utang Anda akan menggulung. “Jadi, tidak perlu beli produk asuransi yang dibundel kartu kredit. Langsung saja beli produk asuransi jiwa ke perusahaannya,” kata Mike.

sumber :

http://personalfinance.kontan.co.id/v2/read/1305889193/68049/Pembayaran-secara-cicilan-tak-selalu-menguntungkan

Perencanaan Properti Melalui Investasi Reksa Dana

Perencanaan Properti Melalui Investasi Reksa Dana

Post berikut ini sekaligus menjawab pertanyaan ibu Nadya,

Pak, mohon pencerahannya. Saya Perempuan single umur 23 tahun, dalam bulan July ini rencana mulai invest di RD Saham Syariah dg metode DCA. Akan membuat Account 1 untuk Pensiun di umur 55thn dan skr let say biaya hidup 10 Jt/bulan. Account ke 2 untuk membeli rumah idamaan (hehe) sekitar 10thn – 15 thn dr skarang (re: range harga skr yg dalam Rp 2M sampai 5Milyar). Kira2 brapa per bulan saya harus invest kan ke acc 1 dan acc 2 ya pak? terimakasih banyak

Selain untuk kebutuhan sangat panjang seperti untuk persiapan Pensiun, investasi reksa dana juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terlalu panjang seperti untuk properti dan real estate. Bagaimana cara untuk membuat perencanaan properti melalui investasi reksa dana?

Langkah-langkah dalam membuat perencanaan properti melalui investasi reksa dana adalah sebagai berikut:

1. Menentukan properti yang anda inginkan. Properti yang anda inginkan sebaiknya jangan hanya berdasarkan harga, apakah terjangkau atau tidak, namun juga kenyamanan. Faktor kenyamanan yang bisa anda pertimbangkan antara lain, jarak dan akses tranportasi ke tempat kerja, lingkungan, prospek harga tanah di masa mendatang, dan faktor-faktor lainnya yang pokoknya membuat anda merasa nyaman tinggal disitu. Kalau untuk soal ini, tentu setiap orang memiliki pendapat dan selera yang berbeda-beda. Sebagai contoh, jika saya pribadi, pertimbangan untuk tempat tinggal yang paling utama adalah kedekatan dengan tempat kerja.

2. Setelah itu adalah melakukan perhitungan dana yang dibutuhkan. Pada bagian ini, penting untuk menentukan apakah properti yang diinginkan akan dicapai menggunakan KPR atau tidak. Dengan kondisi harga tanah dan properti yang sangat “menggila” di Jakarta, pilihan menggunakan KPR sepertinya tidak terhindarkan kecuali jika anda sudah memiliki sejumlah uang yang cukup besar. Nah, dengan asumsi menggunakan KPR, maka anda harus memiliki sejumlah DP berikut kemampuan membayar cicilan pada masa mendatang. Untuk kasus ibu Nadya, Harga Rumah Rp 2 Milliar, dengan DP 35% = Rp 700 juta. Nilai Pinjaman Rp 1.3 Milliar. Simulasi cicilan dengan jangka waktu KPR 10 tahun dan 20 tahun adalah sebagai berikut

3. Setelah perhitungan di atas selesai, maka PR anda ada 2. Pertama, bagaimana memiliki dana sebesar Rp 700 juta untuk 10 tahun yang akan datang. Tentunya angka ini disesuaikan lagi dengan inflasi. Kira-kira perhitungan dengan anggapan harga rumah naik 5% setiap tahun dan hasil investasi reksa dana adalah 16%, maka sebagai berikut:

Jadi PR pertama anda adalah investasi senilai kira-kira Rp 4 juta dan memastikan bahwa Reksa dana anda harus mendapatkan return 16% pertahun secara konsisten selama 10 tahun. Untuk hal ini, anda bisa menggunakan fitur Myplan yang ada di myplan.infovesta.com, jika diperlukan.

PR kedua adalah memastikan bahwa penghasilan anda / gabungan bersama calon suami minimal 3 kali dari nilai cicilan bulanan yang diharuskan untuk KPR dengan nilai pinjaman yang anda butuhkan. Jika anda membuka usaha, maka usaha anda sebaiknya memiliki laba bersih 3 kali dari nilai tersebut (paling tidak rata-rata setiap bulan selama 1 tahun). Misalnya jika cicilan yang dipilih adalah Rp 12 juta per bulan, maka paling tidak penghasilannya adalah Rp 36 juta per bulan.

Demikian untuk perencanaan properti anda. Hanya saja konsep mempersiapkan investasi untuk mencapai tujuan keuangan untuk membeli real estate yang ada disini sifatnya masih konvensional. Karena mengharuskan si investor untuk disiplin menabung dan mengambil KPR. Belakangan ini saya banyak sekali melihat seminar / iklan yang pada dasarnya menawarkan cara / ilmu untuk memiliki properti tanpa melalui utang dan KPR (atau paling tidak ini yang saya baca di iklannya). Jika anda ingin menggunakan cara yang tidak konvensional ini juga tidak ada salahnya. Namun terus terang cara tersebut bukan sesuatu yang saya kuasai, jika silakan bertanya kepada yang ahlinya.

Untuk pertanyaan anda soal pensiun, setelah dilakukan simulasi dengan myplan.infovesta.com, hasilnya kurang lebih seperti ini

Demikian kira-kira hasil perhitungannya. Perlu diperhatikan bahwa angka di atas merupakan angka perkiraan. Dengan berinvestasi sesuai dengan rencana sekalipun tidak menjamin bahwa tujuan keuangan akan tercapai karena tingkat return reksa dana berfluktuasi setiap harinya. Untuk memperbesar kemungkinan bahwa tujuan akan tercapai, perlu dilakukan monitoring secara berkala sekaligus memperhatikan kondisi perekonomian secara umum. Pilihan reksa dana juga harus tepat mengingat banyak produk reksa dana yang ada dan tidak seluruhnya memiliki kinerja yang bagus.

Semoga pertanyaan anda terjawab. Atas perhatiannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa lalu tidak akan selalu terulang pada masa mendatang.

sumber : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/22/perencanaan-properti-melalui-investasi-reksa-dana/

Yatai, “angkringannya” Jepang

Yatai, “angkringannya” Jepang

Kalo di Jogja ada Angkringan, di jepang ada Yatai, jajanan pinggir jalan ini merupakan alternatif makanan orang Jepang terlebih lagi pada musim semi.
Yatai adalah warung makan yang biasanya beraktifitas di musim semi di pinggir2 jalan, dan biasanya berjualan pada sore hari dan tutup pada malam hari atau bahkan biasanya ada yang sampai subuh.




Makanan yang dijual biasanya makanan tradisional Jepang , bir dan sake. Yatai ini bisa ditemukan hampir di semua daerah di Jepang, namun Fukuoka menjadi tempat yang paling terkenal akan Yatai ini. Biasanya makanan yang mereka sajikan adalah Yakitori, Oden dan Hakata Ramen yang merupakan makanan kebanggaan bagi masyarakat di Fukuoka.
Makan di Yatai ini menjadi sebuah alternatif yang bagus daripada makan di restoran apabila memperbandingkan harga, karena makan di yatai ini relatif lebih murah dibandingkan dengan makan di restoran. Bagaimana dengan tingkat kebersihan makanan nya? Jangan khawatir, karena yatai ini sudah mendapat izin mengenai kebersihan nya dari pemerintah kota.

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (1)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan Edisi 19- 25 Juli 2010. Hal. 21

Keceriaan festival Piala dunia 2010 akhirnya mengantarkan Spayol sebagai juara dunia baru. Jika Anda termasuk penggila bola, pasti setuju bahwa kombinasi antara strategi, kekompakan tim, dan kedisiplinan merupakan modal untuk menang. Sama halnya dengan urusan keuangan Anda. Jika hingga saat ini Anda masih sering mengeluh sulit menumpuk jumlah tabungan dan investasi, atau masih banyak tujuan keuangan yang belum tercapai pada waktunya, coba evaluasi kembali. Sudah tepatkah strategi yang Anda gunakan untuk tujuan Anda?

Saya yakin, Anda setuju bahwa pemilihan instrumen keuangan yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan uang yang Anda miliki saat ini. Sejak pertama kali mengisi konsultasi keuangan di sebuah tabloid wanita, saya setia dengan konsep keuangan yang diajarkan oleh ayah saya, yaitu berjaga-jaga, menyimpan, menabung, dan berinvestasi. Apakah menabung artinya harus di tabungan? Apakah berinvestasi artinya harus di properti? Belum tentu!

Rangkaian tulisan saya kali ini akan mengajak Anda untuk mengupas tentang konsep simpanan, tabungan, dan investasi. Saya juga akan menjelaskan secara singkat bagaimana menyesuaikan kegiatan-kegiatan tersebut dengan tujuan keuangan yang Anda punya. Tak lupa juga, saya berikan kiat-kiat untuk memilih instrumen keuangan yang sesuai. Yuk, simak rangkaian tulisan dibawah ini.

Simpanan, tabungan, investasi

Masih ingat dengan konsep ZAPFIN? Saya dan rekan-rekan di ZAP Finance berpendapat bahwa rezeki yang diterima oleh setiap orang harus dapat dikelola untuk membayar zakat atau sosial (Zakat), kebutuhan perlindungan keuangan (Assurance), kebutuhan hidup rutin bulan ini (Present consumption), memenuhi rencana hidup dalam 2 tahun hingga 5 tahun lagi (Future spending), dan juga kebutuhan hidup masa mendatang seperti saat pensiun (Investment).

Meski pun orang sering membicarakan tentang bagaimana bisa menabung atau berinvestasi dari penghasilan yang diterima, sayangnya, masih banyak yang salah mengartikan tujuan dari proses tersebut. Akibatnya? Salah memilih instrumen keuangan pun kerap terjadi. Saya yakin Anda tak mau hal ini terjadi, bukan?

Simpanan pada dasarnya menyisihkan dana untuk digunakan dalam waktu dekat, dalam hitungan bulan. Secara umum, simpanan ini terbagi dua, yaitu simpanan untuk berjaga-jaga dan simpanan bulanan.

Simpanan untuk berjaga-jaga, akrab kita sebut dengan istilah dana darurat. Sedangkan simpanan bulanan, biasanya pengeluarannya itu sudah hampir pasti akan dilakukan. Jika Anda mendapat gaji setiap tanggal 1, pengeluaran untuk berbagai pos pasti baru akan dilakukan secara bertahap. Oleh sebab itu, anggaran untuk bulan ini disebut simpanan bulanan.

Tabungan, merupakan hasil dari proses menabung yang ditujukan untuk keperluan beberapa tahun lagi. Pengeluarannya bisa saja tidak jadi dilakukan dan diganti dengan pengeluaran yang lain. Dengan demikian untuk semua tujuan keuangan yang akan dipenuhi dalam waktu 1 tahun hingga 5 tahun, Anda perlu menabung.

Sedangkan investasi, merupakan proses menyisihkan uang dengan tujuan memperoleh keuntungan dan kenaikan modal di masa mendatang. Nah, untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun, investasilah satu-satunya jawaban Anda. Hingga saat ini, masih sering saya mendapati orang berinvestasi di deposito untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun. Alasannya sederhana, bebas dari resiko pasar seperti resiko naik-turun IHSG, resiko nilai tukar, resiko likuiditas hingga resiko gagal bayar. Tapi ingat, Anda berarti akan terkena resiko inflasi, karena secara historis tingkat suku bunga tabungan selama 10 tahun terakhir selalu dibawah tingkat inflasi.

Lain tujuan, beda strategi

Jika saya tanya pada Anda, dimanakah Anda menyimpan uang untuk tujuan berjaga-jaga? Ada yang menjawab di tabungan, ada yang menjawab di emas, bahkan ada yang menjawab di asuransi!

Untuk setiap tujuan keuangan, maka Anda perlu strategi yang berbeda dalam perencanaannya. Lalu, apakah menabung tidak bisa di reksadana? Jawabannya salah! Tugas saya dan teman-teman perencana keuangan di ZAP Finance adalah memberikan penerangan bahwa yang terpenting itu bagaimana kecocokan antara jangka waktu menabung, profil resiko Anda, dan juga jenis instrumen keuangan yang tersedia.

Setiap instrumen keuangan memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari segi, potensi tingkat imbal hasil per tahun, seberapa cepat dapat dijadikan uang tunai (likuiditas), kemungkinan naik-turunnya nilai investasi dan kemudahan pengurusannya.

Secara fundamental, investasi dapat dibagi kedalam tiga kelas harta. Pertama, komoditas seperti emas, perak, dan koin dinar yang sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara satu tahun hingga diatas lima tahun. Kedua, properti seperti rumah, apartemen, lahan kosong, yang sangat sesuai untuk memperoleh penghasilan rutin dan tujuan keuangan diatas lima tahun. Ketiga, surat berharga, seperti deposito, saham, ORI, bahkan kepemilikan bisnis, yang memiliki varian terbesar sehingga dapat membantu tujuan keuangan untuk semua jangka waktu.

Di beberapa pekan depan, saya akan membahas tentang masing-masing kelas harta tersebut dan bagaimana mencocokan dengan proses menyimpan, menabung, serta berinvestasi. Tentu saja, saya juga akan memberikan berbagai kiat bagaimana memilih produk yang tepat serta kesesuaiannya dengan masing-masing profil resiko. Di bagian akhir, seperti biasa, saya akan berikan contoh kasus agar memudahkan Anda dalam menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (2)
Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.43 – XIV Edisi 26 Juli – 1 Agustus 2010. Hal. 21

 

Saat ini, di pasaran tersedia ratusan varian produk keuangan yang tentunya juga ikut membuat pusing calon investor. Terkadang, akibat pemasaran yang berlebihan, banyak produk keuangan yang salah sasar dan tidak tepat untuk tujuan keuangan Anda. Pekan lalu, kita sudah membahas tentang konsep dasar simpanan, tabungan, dan investasi. Sekarang, saya akan menjabarkan tentang mengapa Anda perlu simpanan dan tabungan, serta bagaimana memilih produk keuangan yang tepat.

Simpanan berjaga-jaga

Setiap orang wajib punya simpanan untuk urusan jaga-jaga yang biasa disebut Dana Darurat. Fungsinya ada dua, yaitu untuk membayar kebutuhan mendadak yang sifatnya insidentil seperti biaya rumah sakit, ban mobil pecah, kulkas rusak, genteng bocor, dan lainnya. Selain itu, sebagai dana talangan saat nilai investasi Anda sedang merosot, padahal Anda sudah akan menggunakan dananya dalam waktu dekat.

Dengan karakteristik yang sangat tidak terduga tersebut, Anda wajib menyimpan dana darurat di tabungan dengan nilai minimal satu bulan pengeluaran rutin. Kemudian, jika dana berlebih, bolehlah untuk menyimpan kelebihannya di deposito atau reksadana pasar uang.

Alasan utama kenapa tidak bisa semuanya di deposito adalah adanya resiko likuiditas. Bagaimana jadinya kalau Anda butuh dana cepat, namun bank sedang libur panjang (cuti bersama lebaran)? Sama halnya dengan reksadana pasar uang, meski menawarkan potensi imbal hasil lebih bagus, namun Anda butuh minimal empat hari kerja untuk pencairannya.

Bagaimana dengan emas mau pun berlian? Jelas bukan pilihan yang ideal untuk dana darurat. Nilainya bisa naik-turun serta belum tentu Anda mendapatkan calon pembeli yang bersedia membayar di harga yang Anda inginkan saat Anda butuh uangnya.

 

Bagaimana dengan asuransi? Nah, asuransi memiliki fungsi yang agak berbeda dengan simpanan berjaga-jaga. Asuransi pada dasarnya produk keuangan yang memberikan perlindungan terhadap kerugian finansial. Setiap orang, paling tidak membutuhkan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Hanya saja, sayangnya saat ini, produk yang ditawarkan semuanya dicampuraduk menjadi satu sampai-sampai ada yang memasarkan asuransi sebagai produk investasi. Kalau demikian, jangan pernah mau membeli produk tersebut.

Simpanan bulan ini

Selain simpanan untuk berjaga-jaga, maka Anda tetap harus menyimpan uang untuk kebutuhan bulan ini. Ingat, setiap Anda gajian, urusan bayar tagihan mau pun belanja di pasar tentu tidak dilakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga, untuk urusan ini, pilihan Anda adalah menyimpan di tabungan biasa dengan fasilitas ATM.

Tabungan untuk urusan hingga 5 tahun

Bisa jadi Anda ingin liburan ke Bali, sedang merencanakan pesta pernikahan, atau membuat dana pendidikan masuk SD untuk si kecil. Apa pun itu, bila jangka waktu yang Anda tuju berkisar antara 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun, saya yakin Anda akan berpikir dua kali untuk menempatkan dananya di saham.

Dengan jangka waktu yang lumayan pendek, Anda tidak sanggup mengambil resiko nilai investasi bisa menukik tajam setelah beberapa tahun menabung, dan juga Anda ingin bisa memastikan ketersediaan saldonya saat dibutuhkan. Jadi, kesimpulannya, untuk strategi menabung, syaratnya nilai investasi harus stabil dan bisa dijadikan uang tunai dengan nilai yang kita inginkan dengan mudah. Apa saja pilihan yang tepat untuk strategi menabung?

Pertama, deposito. Produk ini cocok untuk “tempat parkir” saat memperoleh uang dalam jumlah banyak seperti THR atau bonus dan belum dibutuhkan dalam waktu dekat. Atau juga, bila investasi Anda di reksadana, saham, atau emas sudah mencapai target kebutuhan dana, maka lebih baik langsung diuangkan dan ditempatkan di deposito sampai mau digunakan. Selain itu, jika Anda berinvestasi untuk mendapatkan arus kas, deposito juga sarana yang baik dalam memberikan arus kas pasif. Inilah yang disebut uang yang bekerja untuk Anda.

Kedua, tabungan berjangka. Tabungan biasa yang mengharuskan Anda untuk berkomitmen menyetor dana dengan nominal tertentu dan jangka waktu dari mulai 6 bulan hingga 5 tahun ini, sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara 1 tahun hingga 3 tahun. Meski imbal hasil kurang gurih, namun karena tabungan berjangka merupakan produk bank yang notabene dijamin pemerintah, maka cocok untuk Anda yang berprofil konservatif.

Ketiga, reksadana pasar uang. Jika Anda masih belum paham apa itu reksadana pasar uang, contoh sederhananya adalah kongsian para penabung. Jika Anda ke bank dengan uang Rp. 10 juta, bunga deposito yang diberikan paling banter 7% per tahun. Sedangkan, kalau Anda kumpulkan uang bersama 100 orang lain, maka hampir dipastikan Anda bisa bernegosiasi untuk mendapatkan bunga hingga 8,5% per tahun. Kumpulan uang yang diterjunkan ke produk-produk pasar uang inilah yang disebut reksadana.

Pada awalnya, reksadana pasar uang banyak digunakan oleh investor saham yang memarkirkan dananya diantara waktu trading. Namun, belakangan ini, reksadana pasar uang juga digunakan untuk keperluan dana darurat. Fitur tanpa ATM ternyata cukup menarik karena lebih memperkecil godaan untuk mensabotase dana untuk tujuan lain.

Keempat, Obligasi Ritel Indonesia atau Sukuk Ritel. ORI007 yang akan luncur dalam waktu dekat merupakan pilihan terbaik untuk menabung dana Anda yang akan digunakan dalam 3 hingga 4 tahun. Contohnya, jika Anda sudah punya sejumlah dana untuk uang pangkal masuk SMP untuk si kakak yang saat ini masih di bangku kelas 3 SD, ORI pantas dipilih untuk Anda yang berprofil lebih moderat.

Menabung bukan hanya di tabungan

Pesan terpenting dari tulisan ini adalah menabung bukan berarti harus di tabungan. Reksadana pun bisa menjadi sarana Anda untuk menabung karena saat ini sudah mulai dipasarkan melalui bank dengan pembelian minimal hanya Rp. 100,000. Pekan depan, kita masuk ke topik kesukaan saya yaitu investasi. Jangan putuskan produk keuangan yang mau Anda ambil sebelum membaca KONTAN minggu depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (3)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.45 – XIV Edisi 9 – 15 Agustus 2010. Hal. 21

Investasi merupakan aktivitas keuangan dimana si Investor menempatkan sejumlah dana ke sebuah instrumen keuangan dengan mengharapkan imbal hasil tertentu. Pada dasarnya, semua harta bisa digunakan untuk investasi. Hanya saja, Anda perlu tahu konsekuensinya bahwa potensi return yang diberikan bisa sangat bervariasi. Padahal, Anda punya banyak waktu untuk meningkatkan pundi-pundi uang Anda. Manakah pilihan yang paling tepat untuk Anda? Simak tulisan berikut ini.

Si Kilau Emas

Selain tabungan dan deposito, emas adalah pilihan populer untuk investasi bagi orang Indonésia hingga saat ini. Alasannya sederhana, semua orang paham apa itu emas dan bagaimana memperoleh keuntungan dari emas.

Data menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, harga emas cenderung meningkat 20%[1] secara rata-rata. Selain itu, kapan pun anda memutuskan untuk membeli atau menjual, anda tidak terhalang oleh adanya aturan jatuh tempo pencairan dana, proses hari kerja, ataupun penalti. Jadi, resiko likuiditas cukup rendah.

Meski pun dalam jangka menengah harga emas naik, Anda tetap tidak pernah tahu periode “diskon” harga emas. Oleh sebab itu, jangan menggunakan emas untuk tujuan investasi 1 tahun. Sebaiknya, emas digunakan untuk tujuan investasi diatas 3 tahun hingga 10 tahun. Contohnya untuk biaya uang pangkal sekolah anak, naik haji, modal usaha, untuk persiapan down payment pembelian rumah atau bahkan untuk masa pensiun.

Properti

Pembelian properti untuk investasi memiliki pertimbangan yang agak berbeda dengan rumah tinggal. Pahamilah bahwa yang penting properti yang dipilih disukai oleh pasar dan berpotensi memberikan harga jual tinggi dan cukup likuid. Properti cocok untuk berinvestasi dalam jangka panjang diatas 5 tahun atau sebagai investasi yang memberikan pemasukan rutin. Properti cocok untuk investor yang berprofil konservatif hingga agresif.

Bagaimana dengan berutang untuk membangun rumah kost? Anda perlu melakukan simulasi terlebih dahulu tentang potensi pemasukan dari rumah kost. Pembayaran cicilan haruslah dari pemasukan tersebut, dan sebaiknya mengambil kredit dari bank syariah agar cicilan flat hingga jatuh tempo. Saat utang lunas, maka investasi Anda sudah balik modal. Silahkan menikmati penghasilan pasif dari bisnis rumah kost tersebut.

Saham

Saham adalah investasi modal. Seiring dengan terus meningkatnya kinerja keuangan dari perusahaan yang dipilih, Anda akan menikmati berbagai keuntungan dalam bentuk pembagian deviden dan juga kenaikan dari harga saham tersebut. Harap diingat, dari kenaikan harga saham, keuntungan baru benar-benar di tangan jika Anda menjual saham. Jadi, tidak ada istilah “uang hilang” saat melihat harga saham jeblok, padahal Anda belum menjual sahamnya. Berhubung memiliki resiko pasar yang cukup tinggi, saham cocok untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif.

Hal penting dalam menaruh uang di saham, pastikan apakah Anda berinvestasi atau berdagang. Berdagang atau trading, artinya Anda memperlakukan saham seperti komoditas. Hari ini beli di harga Rp. 5,000, dua hari lagi jual di harga Rp. 5,025. Begitu seterusnya, hingga dalam sebulan bisa jadi transaksi jual-beli mencapai lebih dari sepuluh kali untuk satu jenis saham.

Nah, akan halnya berinvestasi, Anda memiliki tujuan untuk menahan uang di saham hingga periode tujuan investasi terpenuhi. Berhubung harga saham cukup fluktuatif, hampir tidak ada yang bisa meramal dengan akurasi 100% kapan harga saham sedang paling turun atau paling naik. Oleh sebab itu, sebagai investor, Anda sebaiknya melakukan dolar-cost averaging yaitu membeli saham yang sama dengan jumlah uang yang sama setiap bulan. Dalam berinvestasi di saham, pastikan bahwa tujuan keuangan Anda wajib diatas 5 tahun.

Apa dan mengapa reksadana

Reksadana adalah sebuah portofolio investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi. Sering disebut sebagai jagoan investasi untuk para investor retail, dan hampir bisa memuaskan keinginan segala jenis investor. Anda bisa mendapati reksadana yang berinvestasi di sertifikat Bank Indonesia hingga di perusahaan-perusahaan besar. Ada juga reksadana yang berinvestasi di proyek-proyek infrastruktur hingga mendanai proyek universitas.

Banyak yang berkata kepada saya, kenapa tidak langsung saja menanam uang di emas, properti, atau saham? Jika Anda punya modal besar, maka silahkan saja. Namun, jika dana Anda terbatas, mohon maaf, reksadana lah satu-satunya pilihan Anda. Untuk berinvestasi di emas, minimal modal adalah Rp. 3 juta, untuk di properti bisa mencapai ratusan juta. Sedangkan di saham, Anda wajib punya minimal 5 perusahaan yang berbeda, yang tentunya butuh modal awal puluhan juta. Akan halnya reksadana, bisa dimulai hanya dengan ratusan ribu saja!

Cara berinvestasi terbaik di reksadana dengan dolar-cost averaging atau mencicil investasi. Setiap bulan, tentukan tanggal untuk menyetor uang dari rekening gaji ke rekening investasi. Jika Anda takut uangnya tersabotase, buatlah instruksi debit otomatis dan mintalah perencana keuangan memberikan saran & rekomendasi jumlah serta pilihan reksadana. Pastikan setiap bulan Anda memonitor jumlah saldo investasi yang sudah terkumpul sebagai evaluasi kinerja dari manajer investasi. Jika reksadana pilihan hanya memberi hasil 5% di saat yang lain memberi 7%, maka diskusikan dengan perencana keuangan Anda, apa saran dan rekomendasi terbaik untuk kondisi Anda.

Reksadana sangat cocok untuk semua tipe investor dan semua jangka waktu investasi, asalkan disesuaikan dengan tujuannya. Pertama, tujuan membuat dana pendidikan masuk SMP 6 tahun lagi, pilihlah reksadana campuran untuk Anda yang berprofil konservatif dan reksadana saham untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif. Kedua, tujuan membuat dana pensiun 15 tahun lagi, pilihlah reksadana saham, apa pun profil resiko Anda.

Bagaimana prakteknya?

Saya yakin, pasti banyak sekali tujuan investasi yang membutuhkan lebih dari satu produk keuangan untuk mencapainya. Dari awal, saya selalu konsisten bahwa Anda butuh simpanan, tabungan , dan investasi dalam setiap tahapan kehidupan Anda, serta asuransi sebagai perlindungannya. Seperti apa kombinasi yang sesuai untuk Anda, simak bagian akhir dari rangkaian tulisan ini pekan depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (4)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.47 – XIV Edisi 23 – 29 Agustus 2010. Hal. 20

Apa yang Anda lakukan jika punya uang Rp. 100 juta? Banyak orang langsung berseru, Investasi! Padahal, salah satu syarat dasar sebelum memilih berinvestasi adalah tahu tujuan kita dan tahu siapa diri kita sebagai investor. Lain tujuan tentu saja beda strategi keuangannya. Pekan sebelumnya, Anda sudah paham bedanya simpanan, tabungan, & investasi. Mana strategi yang sesuai dan apa produknya? Simak tulisan berikut.

Kenali Profil Resiko

Secara umum, Anda akan tergolong dalam salah satu karakteristik berikut. Si konservatif, yang butuh rasa aman luar biasa tinggi dan tidak sanggup melihat resiko naik-turun investasi. Sebaliknya, Si Agresif, lebih mementingkan kenaikan nilai investasi meski harus berhadapan dengan resiko volatilitas. Nah, ditengah-tengah ada Si Moderat yang tahu bahwa untuk jangka panjang harus menanggung resiko volatilitas, tapi untuk jangka pendek hingga menengah tetap butuh yang aman-aman. Untuk mengetahui apa profil resiko Anda, silahkan coba periksa di www.zapfin.com.

Dana Darurat

Kasus pertama kita, adalah Taufik, seorang dokter yang baru lulus pendidikan Spesialis Anak. Berhubung sudah menikah, meski belum punya anak, Taufik wajib punya dana darurat dalam rencana keuangannya. Panduan umum untuk status menikah, harus punya saldo minimal 6x pengeluaran rutin bulanan. Berbeda untuk dokter Taufik, sarannya adalah punya saldo minimal 12x pengeluaran rutin bulanan. Alasannya, dokter Taufik tidak punya gaji bulanan, dan penghasilannya bervariasi tergantung jumlah pasien dan tindakan bedah yang dilakukan.

Dengan kondisi itu, bisa dipastikan ada bulan-bulan tertentu dimana uang masuk lebih sedikit dari uang keluar. Dus, penting bagi dokter Taufik punya strategi menyimpan di tabungan dan menabung perlahan-lahan di reksadana pasar uang. Jumlahnya? 2x pengeluaran rutin bulanan di tabungan, dan sisanya ditempatkan di reksadana pasar uang agar dana darurat tetap menikmati imbal hasil lebih besar dari deposito.

Dana Pendidikan

Jika kilas balik duapuluh tahun lalu, sepertinya orang tua mudah saja mencari sekolah terlebih membayarnya. Orang tua zaman sekarang dihadapkan dengan pilihan sekolah negeri, sekolah swasta unggulan, dan sekolah nasional plus, yang uang pangkalnya saja bisa untuk beli beberapa sepeda motor!

Kasus kedua, ada Rizki, 28 tahun, menikah dengan satu anak, Arya, 3 tahun. Tentu saja bijaksana jika Rizki mempersiapkan dana pendidikan sejak sekarang. Berdasarkan hasil diskusi dengan planner dari kantor kami, berikut rencana dana pendidikan untuk Arya.

Sekolah Arya Berapa Lama Lagi Durasi Sekolah Uang Pangkal Kebutuhan Dana Strategi Rate Investasi Investasi Bulanan Investasi Lump Sum Produk
TK Swasta 1 tahun 2 tahun 15,000,000 17,250,000 Menabung 6% 1,398,396 0 Tab Berjangka
SD Swasta 3 tahun 6 tahun 30,000,000 45,626,250 Menabung 11.5% 0 32,914,721 Sukuk Ritel 001
SMP Unggulan 9 tahun 3 tahun 30,000,000
105,536,289
Investasi 25% 265,832 0 RD Saham
SMU Unggulan 12 tahun 3 tahun 30,000,000 160,507,503 Investasi 25% 180,988 0 RD Saham
S1 Internasional 16 tahun 4 tahun 100,000,000 935,762,087 Investasi 30% 206,030 0 RD Saham

Sumber: ZAP Finance Consulting Research DivisionÓ2010

Setelah dihitung, total kebutuhan dana untuk sekolah-sekolah yang dipilih oleh Rizki untuk Arya sebesar Rp. 1,2 Milyar. Uang sebanyak itu secara matematis dapat diraih dengan 2 strategi yang berbeda. Pertama, kebutuhan dana masuk TK disiapkan dengan menabung Rp. 1,3 juta per bulan ke tabungan berjangka. Kemudian, dana Rp. 32 juta sudah tersedia untuk masuk SD, sehingga langsung diamankan di Sukuk Ritel 001 yang imbal hasilnya diatas deposito. Kedua, menyiapkan dana masuk SMP, SMA, dan Universitas. Karena target masih diatas 5 tahun lagi, maka saran terbaik adalah investasi di reksadana saham. Khusus untuk masuk Universitas, reksadana saham yang dipilih harus yang komposisinya paling agresif (minimal 90% di saham). Overall, dana pendidikan Rp. 1,2 Milyar hanya perlu Rp. 2 jutaan setiap bulan.

Lantas, bagaimana kalau dalam perjalanannya, Rizki meninggal dunia atau mengalami kecelakaan? Proteksi keuangan dipenuhi dengan membeli polis asuransi jiwa murni, bisa Term Life atau Whole Life. Setelah dihitung, kebutuhan uang pertanggungan senilai Rp. 1 Milyar dapat ditutup dengan premi Rp. 3 juta untuk jenis asuransi Term Life.

Dana Pensiun

Nah, kasus terakhir adalah Putra, 45 tahun, seorang direktur muda di perusahaan minyak dan gas. Telat menyadari belum punya dana untuk pensiun nyaman di usia 55 tahun kelak, Putra pun datang ke kami. Berhubung usia pensiun tinggal 10 tahun lagi, pilihan investasi tidak bisa terlalu agresif dibanding mereka yang masih usia 20an. Dengan biaya hidup bulanan sebesar Rp. 35 juta, modal pensiun yang dibutuhkan menjadi Rp. 2,5 Milyar untuk menyokong hidup hingga usia 75 tahun.

Berhubung Putra berprofil moderat dan istrinya berprofil konservatif, maka reksadana saham bukan pilihan yang menarik untuknya. Jadi, dana pensiun pun disiapkan dengan kombinasi membeli emas dan reksadana pasar uang setiap bulan dengan jumlah masing-masing Rp. 5 juta. Catatan penting, 2 tahun menjelang usia 55 tahun, setengah saldo investasi harus dikonversi ke deposito agar modalnya terjaga. Setengahnya lagi tetap diinvestasikan dalam bentuk emas.

Saat memperoleh dana lebih

Mungkin saja dalam perjalanannya, Anda memperoleh sejumlah dana dari bonus, komisi, atau pun kenaikan gaji yang besar. Bisa jadi Anda memperoleh sejumlah harta warisan dari orang tua atau kerabat. Atau juga Anda tiba-tiba ditelpon karena menang undian.

Jika ini merupakan situasi yang Anda hadapi, saran saya adalah membagi alokasi dana untuk investasi. Rumusan termudah adalah untuk yang berusia dibawah 50 tahun, maka 60% untuk emas, properti, atau saham dan 40% untuk deposito. Sedangkan untuk yang berusia diatas 50 tahun, maka 20% untuk emas dan 80% untuk deposito. Tapi, lain ceritanya ya kalau Anda masih punya utang. Prioritas utama adalah membayar utang.

Saat ini saya yakin Anda sudah lebih paham tentang strategi menyimpan, menabung, dan investasi, serta kapan strategi itu digunakan. Konsep ZAPFIN pun lebih gampang diterapkan. Ingatlah bahwa jumlah gaji tidak menentukan kesuksesan mencapai tujuan finansial. Salah pilih strategi beresiko rencana keuangan sulit terwujud. Semoga tulisan ini bermanfaat. Make your finance alive. Live a Beautiful Life!


Healthy Money, Better Living

Healthy Money, Better Living

Marie Claire Magazines Oktober 2010

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Diandra, sebutlah namanya begitu, seorang senior brand manager di perusahaan produk konsumer terkemuka, melangkah masuk ke sebuah restoran hip di daerah segitiga emas. Berjalan diatas sepatu bersol tinggi Christian Louboutin, ia tampak sangat percaya diri. Di salah satu meja di sudut restoran, telah menunggu tiga orang temannya yang tentu saja berpenampilan serupa. Jadual hari ini, arisan US$200an…

Singkat cerita, hari itu Diandra giliran menang arisan. Dalam hati ia berseru, “Yeah, akhirnya saya punya juga uang sisa untuk bayar tagihan kartu kredit itu. Lelah juga rasanya ditelpon terus oleh petugas call center.” Diam-diam, Diandra pamit sejenak ke kamar wanita sambil membawa tasnya. Ternyata, didalam tas Bottega warna coklatnya, terdapat sebuah amplop tagihan kartu kredit sebesar lima puluh juta rupiah! Alhasil, ia kembali lagi ke meja dengan muka terdiam. Mau ngobrol rasanya tidak mood, mau pulang duluan juga tidak enak. Dalam pikirannya hanya satu, “I need to take control of my own finances!”

It’s not how much you make, but how much you earn

Cerita diatas adalah kisah standar bagi perempuan moderen seperti Diandra. Bagaimana tidak, meski pun gaji terbilang lumayan untuk perempuan seusianya, standar dan tuntutan gaya hidup pun selangit. Perempuan zaman sekarang dihadapkan pada situasi kebutuhan yang sepertinya tak terbatas, dari mulai urusan rumah tangga, penampilan pribadi, urusan anak, hingga membantu saudara yang kurang beruntung. Orang banyak berpendapat bahwa solusi untuk itu semua adalah punya penghasilan yang jauh lebih besar lagi.

Statistik membuktikan bahwa secara rata-rata, 8 dari 10 orang wanita akan mengalami kenaikan pengeluaran sebesar 15% bila penghasilan naik 10%.

Padahal, berapa pun naiknya penghasilan Anda, jika terus diikuti oleh kenaikan standar hidup, tentunya tidak akan ada yang bersisa untuk ditabung dan diinvestasikan. Bahkan, yang sering terjadi, utang makin menumpuk seperti Diandra. Sehingga, perencana keuangan seperti saya, berpendapat yang terpenting adalah berapa besar dari penghasilan yang dapat Anda kelola untuk hidup hari ini, beberapa tahun lagi, dan masa mendatang.

Financial Check-up

Tahu dengan persis berapa angka-angka kita merupakan kunci penting dalam mengambil alih kendali keuangan Anda. Bila sampai detik ini Anda masih tidak perduli, maka Anda berasumsi bahwa Anda akan terus memiliki pekerjaan yang baik, bisnis Anda terus sukses, gaji Anda selalu meningkat lebih tinggi daripada inflasi dan Anda sama sekali tidak punya sanak saudara atau teman yang mungkin perlu bantuan Anda.

Jika Diandra mau tahu apa yang salah dalam manajemen keuangan pribadinya, maka langkah pertama harus melakukan financial check-up. Anda bisa melakukannya sendiri di website keuangan seperti www.zapfin.com atau minta bantuan perencana keuangan independen. Secara sederhana, Anda perlu membuat daftar harta dan utang apa saja yang Anda miliki saat ini, serta daftar seluruh penghasilan dan pengeluaran dalam setahun. Hasil dari financial check up akan mengeluarkan indikator sebagai berikut:

Indikator Apa Itu Pemula Sehat Ideal Gawat Darurat
Savings Ratio Berapa % dari penghasilan rutin yang bisa ditabung 10% 25%-30% 0% – 5%
Debt-Service Ratio Berapa % dari penghasilan rutin yang dipakai untuk bayar total cicilan utang 30% 0% – 20% Diatas 35%
Liquidity Ratio Berapa jumlah dana tunai yang bisa dipakai untuk menunjang hidup, jika kehilangan penghasilan 2x pengeluaran rutin bulanan 12x pengeluaran rutin bulanan 0

 

Memiliki Flexibel Budget

Hidup apa yang indah buat Diandra? Punya tas Bottega, sepatu Louboutin, ponsel iPhone, ke spa setiap bulan dan liburan ke Bali setiap tahun. Buatnya, tidak penting punya mobil yang mahal. Kondisinya mungkin berbeda dengan Sasa, temannya. Dengan prioritas yang berbeda-beda, pastinya Anda akan memiliki budget yang bervariasi dengan perempuan lain. Anda yang lajang tentu punya prioritas yang lain dengan yang sudah menikah. Anda yang tidak bekerja juga pasti punya prioritas berbeda dengan yang berkarir di kantoran.

Saya ingin mengajak Anda untuk membuat prioritas dengan menggunakan metode ZAPFIN. Penghasilan Anda harus bisa dialokasikan untuk;

  1. Zakat: memberikan kembali kepada komunitas.
  2. Assurance: melindungi keluarga untuk hal tak terduga.
  3. Present consumption: menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup bulan ini.
  4. Future spending: menabung untuk rencana-rencana cantik Anda di beberapa tahun mendatang.
  5. Investment: beirnvestasi untuk masa depan pensiun yang cantik, gaya, dan tetap kaya.

Berapa pun uang yang Anda peroleh dari hasil kerja, kelima elemen diatas jangan ditinggalkan. Komposisi ideal dari alokasi penghasilan sangat tergantung dari bagaimana Anda memandang hidup yang indah dan sejahtera. Namun, gambar berikut bisa jadi patokan umum.

 

Budget yang Anda buat, bisa berubah setiap tahun, karena hidup Anda tentu dinamis dan terus berubah prioritasnya. Namun, selalu ingat bahwa lima elemen diatas tidak boleh ditinggalkan. Supaya budget yang dibuat bisa diterapkan dengan mudah, ini dia caranya.

 

#1. Sesuaikan standar hidup dengan anggaran. Kesalahan terbesar dalam membuat budget adalah tidak realistis dan tidak sesuai dengan gaya hidup Anda. Biasanya, pemula akan mencoba berhemat secara sporadis di semua pos pengeluaran. Tahu apa yang terjadi? Seperti layaknya orang berdiet tanpa strategi, berat badan pasti turun drastis dalam sebulan, tetapi beberapa bulan berikutnya akan menanjak secara pasti hingga melebihi berat badan awal Anda.

Jika Anda merasa wajib punya tas branded baru setiap tahun, maka Anda harus punya rekening “My next branded bag” account. Coba sisihkan uang setiap bulan, sewaktu dananya terkumpul, silahkan membeli tas incaran Anda.

#2. Alokasikan penghasilan dengan ZAPFINÔ. Pernah dengar kan pepatah, money is never enough? Kita seringkali merasa uang yang dimiliki tidak pernah cukup. Misalnya Virna, 30 tahun, pertama kali bekerja setelah lulus kuliah di sebuah perusahaan Sekuritas dengan gaji bersih Rp. 5 juta. Meski pun sekarang gajinya sudah meningkat sampai 5x lipat, dia tetap merasa setiap bulan tidak pernah cukup untuk membayar keperluan hidup. Solusinya, alokasikan penghasilan untuk kelima elemen itu. Tidak benar bukan Anda sibuk berinvestasi, tapi tidak menikmati hidup bulan ini?

#3. Bandingkan pengeluaran aktual dengan budget. Suka atau tidak, kita harus bandingkan apa yang sudah kita anggarkan dengan apa yang benar-benar kita lakukan. Dengan perbandingan ini, kita tahu apakah mulut sama dengan perbuatan.

How to get me committed to my own money

1. Buat rekening-rekening terpisah untuk urusan belanja bulanan, bayar tagihan utilitas, rekening investasi, dan rekening khusus seperti “My shopping account” atau “Spa for me”. Anda minimal harus punya tiga rekening: Urusan rumah tangga, urusan pribadi, dan urusan bayar kartu kredit.

2. Tiga hari setelah gajian, buat instruksi debit otomatis ke rekening investasi. Kalau tidak begini, pasti Anda akan selalu sabotase uang sendiri.

3. Jika tidak terbiasa dengan transaksi elektronik, gunakan metode amplop. Isilah amplop sesuai dengan anggaran bulan itu. Kalau sudah mulai tipis, padahal belum akhir bulan, ya terpaksa berhemat dong!

http://www.zapfin.com/index.php?option=com_content&task=view&id=155&Itemid=81