Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

September 12th, 2011

“On August 17 the S&P 500 Index 50-EMA crossed down through the 200-EMA, declaring by our definition that the long-term trend was down and that we were in a bear market.  When this happens, we remind ourselves that “bear market rules apply,” and that we should expect negative outcomes more often than positive ones.”

-Carl Swenlin, DecisionPoint-

Seperti saya berjanji pekan yang lalu, dalam part 2 atau bagian kedua dari artikel ini akan saya bahas kondisi teknikal bursa saham, baik untuk Amerika Serikat dan Indonesia.  Disamping itu, saya juga akan coba memberikan rekomendasi investasi untuk 6 bulan hingga setahun kedepan dan memberitahu caranya bagaimana Anda dapat mengamankan portofolio Anda terhadap ketidakpastian yang makin meningkat.

Banyak orang bertanya kepada saya mengapa saya cenderung bearish terhadap arah pergerakan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang.  Pada dasarnya pertimbangan saya cukup sederhana, yaitu memburuknya data ekonomi di negara maju (Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Jepang) maupun kondisi teknikal dari mayoritas bursa saham – terutama bursa saham AS – mengindikasikan lajunya kedepan kemungkinan akan agak tertahan.

Saya mengakui bahwa memang lebih enak untuk membayangkan bahwa situasinya tidak seburuk itu, tetapi kita juga perlu menyadari suatu pemulihan ekonomi tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat.  Bahkan jika krisis hutang publik dan perbankan di Eropa tidak dapat diatasi dengan cara yang rapi, kejatuhan bursa saham dunia yang kita saksikan pada bulan Agustus mungkin hanya merupakan sebuah pemanasan untuk penurunan tajam yang menanti kita.

Apakah the bears akan mengalahkan the bulls?

“In our view, the Federal Reserve’s money printing is the main reason the S&P 500 just about doubled from March 2009 through June 2011. Now that the Fed has stopped goosing the markets, stock prices have tanked.  We do not see any source of money to take stock prices higher.”

-market research firm TrimTabs-

Pertama-tama saya ingin menampilkan beberapa grafik yang membuktikan bahwa the technical damage di bursa saham AS sungguh parah.  Misalnya dalam grafik dibawah ini, saya mempergunakan data bulanan untuk menunjukkan the primary trend atau tren utama/jangka panjang.

Ada dua hal yang sangat menarik pada grafik ini:

 

  • Moving Average Convergence Divergence (MACD) baru saja membentuk sebuah dead cross atau MACD line berpotongan signal line dari atas ke bawah, yang ditunjukkan oleh panah yang merah.  Pada umumnya ini merupakan suatu sinyal yang bearish, apabila bursa saham tidak segera dapat bangkit dalam beberapa pekan kedepan.  Pada tahun 2007 pun MACD memberikan peringatan dini, yang membantu investor dalam menghindari pelemahan yang dahsyat hingga kuartal pertama 2009, jika mengikutinya dengan baik.
  • Di bawah saya memperlihatkan a simple 12-month rate of change (ROC) indicator, yang kembali menunjukkan sebuah bearish divergence untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya juga muncul dari tahun 1997 hingga 1999 dan 2004 hingga 2007.  Lalu perlu dicatat pula bahwa suatu ROC line di bawah nol memaparkan downtrends seperti pada tahun 2000-2003 dan 2008-2009.  Kini ROC makin mendekati the zero line, jadi perhatikanlah indikator ini dengan seksama untuk menentukan apakah bull market akan bertahan atau tidak.

Kedua grafik dibawah ini pun membuktikan bull market, yang berlangsung dari kuartal pertama 2009 sampai kuartal kedua 2011, kemungkinan sudah berakhir.  Coba melihat grafik mingguan dari Dow Jones di bawah ini terlebih dahulu.

Ketika terjadi koreksi selama kuartal kedua 2010, pada waktu krisis hutang publik di Yunani untuk pertama kali mulai terkuak, indeks saham AS utama ini hanya turun sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 9400.  Namun, pelemahan bursa saham AS belakangan ini – yang berawal sesaat sesudah QE2 dihentikan – jauh lebih dalam dibanding tahun yang lalu (lihat grafik dibawah ini).

Kali ini koreksi telah melampaui 61.8% fibonacci retracement, sebelum mampu rebound secara terbatas.  Pada dasarnya, makin kecil retracement atau penurunan sebelum suatu bullish reversal, makin kuat bursa saham untuk meneruskan penguatannya.

Maka pelemahan dalam beberapa bulan terakhir ini sama sekali tidak menumbuhkan kepercayaan bahwa bull market akan bertahan, dan malahan memberikan tanda untuk awalnya bear market yang berkepanjangan.

Apabila Anda masih saja kurang mempercayai kenyataan bahwa bursa saham AS telah kehilangan momentum-nya, mungkin dua chart berikut ini akan menyadari Anda akan hal tersebut.  Grafik diatas ini misalnya memberikan bukti klasik untuk sebuah bear market, yaitu MA-50 (harga rata-rata selama 50 hari perdagangan terakhir) yang memotong MA-200 ke bawah.

Kemudian trend line yang terbentuk dari level terendah pada tahun 2009 di 6469.95, dan bertahan sampai awal kuartal ketiga, baru saja ditembus 6 pekan yang lalu (lihat grafik dibawah ini).  Berdasarkan sekian banyak sinyal, saya berani menyimpulkan bursa saham AS kemungkinan besar tidak akan mencetak rekor terbaru tahun ini, dan cenderung menuju ke kisaran antara 8917 dan 9672 dalam jangka menengah, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements dari kenaikan sebelumnya dari 6469 hingga 12876.

September yang kelabu?

Di kalangan investor, September memang dikenal sebagai bulan yang buruk untuk bursa saham.  Sejak Dow Jones Industrial Average diperdagangkan di tahun 1896, indeks tersebut rata-rata turun sebesar 1,07% pada bulan September, sedangkan Dow Jones naik rata-rata 0,71% dalam semua bulan lainnya.

Dan … lebih menakutkan lagi, bursa saham biasanya berkinerja buruk sekali pada bulan September jika selama bulan sebelumnya melemah secara signifikan.  Justru itulah yang terjadi, dimana S&P 500 jatuh 5,7% dan Dow Jones tergelincir 4,4%.  Selanjutnya 2 dari 10 hari terburuk sepanjang sejarah untuk Dow Jones terjadi di bulan lalu, yaitu sebuah kejatuhan sebesar 635 poin pada 8 Agustus dan suatu penurunan sebanyak 513 poin pada 4 Agustus.

Namun seperti dapat Anda lihat pada tabel dibawah ini, pelemahan sebesar 777.68 poin pada tanggal 29 September 2008 tetap saja merupakan kejatuhan terbesar yang pernah terjadi dalam sehari.  Penurunan tersebut juga menghilangkan kekayaan pemegang saham senilai lebih dari $1.2 trillion, dan sekaligus membuat sejarah sebab untuk pertama kali kerugian dalam satu hari perdagangan melebihi 1 trilyun dolar AS.

Memang bursa saham AS mungkin memperoleh sebuah dorongan dari the Fed jika bank sentral AS mengumumkan stimulus tambahan dalam bentuk quantitative easing, tetapi kita harus menunggu sampai 21 September untuk itu.  Sebaliknya apabila the Fed ternyata mengejutkan pelaku pasar dan tidak menerapkan QE3, bursa saham berpeluang jatuh bebas.

Maka perlu diingat bahwa secara historis Dow Jones seringkali mencetak major lows pada bulan September dan Oktober.  Oleh karena itu, Anda mungkin akan mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk mengakumulasi saham-saham dengan harga yang lebih murah – terutama di negara berkembang seperti Indonesia – selama dua bulan kedepan, asalkan perekonomian dunia tidak mengalami sebuah resesi ataupun depresi.

Kondisi teknikal terkini

“A counter-trend rally may be in the making, but it could be short-lived from the perspective of magnitude or duration.  Until the economy offers better clues of its recovery, we advise a cautious approach.”

-Sam Stovall, chief investment strategist at Standard & Poor’s-

Setelah pelonggaran moneter atau QE2 dari the Fed berakhir pada 30 Juni lalu, Dow Jones anjlok lebih dari 2000 poin (lihat grafik dibawah ini).  Meskipun demikian, Investors Intelligence mengatakan, “With the market down 11 percent in August alone, the idea that the market is not in full panic mode could indicate that there is more – significantly more – room to the downside.”

Saya sendiri sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut dari Investors Intelligence.  Masih terlalu banyak analis maupun investor merasa sangat optimis mengenai arah pergerakan bursa di masa yang akan datang, dan bahkan sama sekali tidak memikirkan skenario terburuk dapat terwujud dalam jangka pendek.

Walaupun bank sentral AS misalnya memutuskan untuk membeli US Treasuries, mortgage-backed securities atau aset yang lain, bisa saja bahwa kenaikan pasar hanya bertahan sebentar karena investor menurunkan estimasi mereka terhadap pendapatan perusahaan pada tahun 2012.  Jadi jangan menjadi lengah maupun berpuas hati, dan bertindaklah secara bijaksana.

Dalam jangka pendek, suatu flag atau bendera terlihat dengan jelas pada daily chart dibawah ini.  Pola harga tersebut pada umumnya merupakan sebuah periode dimana bursa “beristirahat” atau berkonsolidasi sebelum melanjutkan pergerakannya sesuai dengan arah sebelumnya.

Maka boleh dikatakan bahwa probabilitas cukup besar Dow Jones akan anjlok kembali ke target berikutnya di sekitar 9025 setelah menembus support dari flag secara signifikan.  Untuk menemukan target itu, Anda hanya tinggal mengambil kisaran dari penurunan sebelumnya (2147 poin dari 12751 hingga 10604), dan menguranginya dari level dimana benderanya pecah ke bawah.

Bagaimana dengan IHSG?

Investor di bursa saham Indonesia sungguh beruntung sekali, sebab hanya indeks saham Indonesia, Thailand dan the Philippines mampu bertahan di atas MA-200 masing-masing mereka.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik mingguan dibawah ini, sejak kuartal kedua 2009 setiap koreksi tertahan oleh SMA-40 – yang sebetulnya sama dengan MA-200 pada daily chart – dan tidak sekalipun IHSG ditutup di bawahnya.

Maka boleh dikatakan bursa Indonesia secara terus-menerus memperlihatkan keperkasaannya dibandingkan bursa yang lain.  Meskipun begitu, koreksi terbesar sejak tahun 2008 (dari sekitar 4200 hingga 3590 atau sekitar 14,5%) mengindikasikan suatu pemburukan teknikal yang perlu diwaspadai dengan seksama (lihat grafik dibawah ini).  Khususnya level tertingginya selama ini di sekitar 4200 harus dipecahkan terlebih dahulu, untuk memastikan koreksi yang lebih dalam tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Apakah nasib Amerika Serikat akan sama dengan Jepang?

“Technically speaking on the S&P 500 index, we should point out that twoof our longer-term moving averages were violated in bearish fashion – the 15-month and 45-month moving averages.  In fact, there are only two occurrences of the 45-month moving average being broken since 1980, which rather interestingly occurred during the past two bear markets – which suggests a bear market has indeed begun.  In each of the previous cases, the S&P 500 bottomed -27% and -33% below this level.  At present, the S&P stands a mere -4% below this level, which would lead one to believe that another 20% to 25% decline is in order.  This is serious stuff to be sure.”

-Richard Rhodes, The Rhodes Report-

Grafik dibawah ini membandingkan S&P 500 pada saat ini terhadap indeks saham Nikkei selama lost decade-nya di Jepang.  Menurut penghematan saya, chart ini pantas mendapatkan perhatian Anda.

Siapa tahu arah pergerakan bursa saham di Amerika Serikat akan mirip dengan bursa saham Jepang dari tahun 1979 hingga sekarang …  Mengapa demikian?

Karena AS telah dan sedang mengambil semua langkah sama seperti yang Jepang lakukan pada tahun 1990an-2000an, yaitu menyelamatkan bank yang seharusnya bangkrut, mempertahankan tingkat suku bunga di sekitar 0% (yang disebut ZIRP atau zero interest rate policy), maupun membanjiri sistem keuangannya dengan likuiditas yang tidak terbatas.  Jadi jangan heran apabila pergerakan kedua bursa ini memang searah, dan kini dibayangi koreksi yang tajam sekali setelah menyelesaikan bear market rally-nya selama 2,5 tahun terakhir.

Kemudian grafik diatas ini, yang menampilkan kejatuhan Dow Jones selama the Great Depression, anjloknya Nikkei 225 pada 1989, dan S&P 500 sejak mencapai puncaknya di tahun 2000, memberikan gambaran yang serupa.  Terlihat jelas bahwa the Fed mempunyai pengaruh yang besar dalam mempertahankan bull market yang berlangsung sekarang, tetapi sampai kapan?

Maka pada dasarnya kita dipaksa untuk mengikuti the QE game.  Dengan kata lain, apakah kita berada diambang sebuah market crash berikutnya atau tidak akan sepenuhnya ditentukan oleh tindakan the Fed maupun bank sentral lainnya di negara maju.

Berdasarkan kenyataan tersebut, saya berpendapat investor sebaiknya wait and see saja sampai ada keputusan dari bank sentral AS pada tanggal 21 September mendatang.  Hanya satu hal adalah pasti: VOLATILITAS tetap akan sangat tinggi selama beberapa tahun kedepan seperti awal abad ke-21 ini, yang secara rata-rata telah mengalami tiga kali lipat hari perdagangan dengan kenaikan atau penurunan yang lebih dari 2% dibandingkan 50 tahun sebelumnya (menurut S&P).

Untuk menutup bagian ini mengenai kondisi teknikal bursa saham AS yang sudah cukup panjang, saya hanya ingin menambah dua hal penting:

  • Jadilah terbiasa dengan volatilitas yang sangat tinggi, dan manfaatkannya dengan sebaik mungkin dengan membeli saham ketika terkoreksi secara dalam dan menjualnya secara parsial pada waktu terjadi kenaikan yang signifikan.
  • Kemungkinan besar akan paling aman untuk membeli saham setelah Dow Jones membentuk sebuah double bottom ataupun low lebih rendah, yang disertai dengan BULLISH DIVERGENCES di berbagai momentum indicators.  Baru setelah itu terjadi, akan saya berani untuk mengatakan bahwa indeks saham AS akan melanjutkan kenaikannya.

Rekomendasi investasi

Selalu ingat bahwa THERE IS ALWAYS A BULL MARKET SOMEWHERE jadi investor setiap saat berpeluang untuk mencari keuntungan lewat pasar keuangan, entah itu dari bursa saham, pasar valuta asing, pasar komoditas ataupun pasar obligasi.  Pada akhirnya uang selalu akan lari ke tempat dimana diberlakukannya paling baik dan/atau bisa memperoleh imbal hasil yang terbesar.

Saya berpikir sebagian besar diantara kita mungkin akan setuju bahwa suatu stock market collapse dapat terjadi setiap saat.  Kini cukup banyak BOM WAKTU yang dapat meledak secara tiba-tiba, seperti sebuah negara yang gagal bayar hutangnya (Yunani?), suatu bank besar di Eropa yang mengalami kebangkrutan, ataupun Amerika Serikat yang dilanda resesi kembali …  Maka investor perlu mencermati apa yang ditulis oleh Sam Stovall dalam weekly commentary-nya: “If the market action in 2008 taught us anything, it was: Be proactive and expect the worst.”

Nah, bagaimana kita mempersiapkan diri sendiri untuk situasi yang terburuk sekalipun, agar kita bisa mengharapkan yang terbaik untuk portofolio pribadi kita?  Berikut ini akan saya berikan beberapa rekomendasi, yang mudah-mudahan bermanfaat untuk Anda:

1) Jangan menanamkan 100% dari dana Anda di saham pada saat ini atau dengan kata lain, don’t get fully invested!  Alangkah baiknya simpanlah sedikit uang tunai (20% sampai 50%) yang bisa dialokasikan ketika bursa saham mengalami koreksi yang dalam.  Seringkali Anda akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk menambah saham dengan fundamental yang bagus selama suatu koreksi.  Kuncinya adalah KESABARAN karena dalam bull market yang terkuat sekalipun, harga saham kadang-kadang akan turun.

Pada intinya nilai dari sebuah perusahaan yang tercatat di bursa tidak akan berubah sebanyak bursa saham itu sendiri. Maka selama ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi dunia masih tinggi, Anda sebagai seorang investor cenderung akan menemukan perbedaan yang cukup besar antara harga saham dan nilai atau value dari sebuah perusahaan.

Oleh karena itu, jika Anda mau mengakumulasi kekayaan dalam jangka panjang sebagai seorang VALUE INVESTOR (bukan seorang TRADER), hal yang paling penting sekarang adalah menyusun “daftar belanja” Anda yang terdiri atas saham yang ingin dimiliki dalam portofolio pribadi.

Terutama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang paling menarik dalam 5 hingga 10 tahun kedepan, banyak saham menawarkan upside yang sangat menggiurkan.  Belilah perusahaan yang memiliki good earnings visibility, memberikan dividen secara regular maupun diperdagangkan pada P/E ratio yang rendah, dan Anda dipastikan akan menuju ke masa depan yang sejahtera!

Terakhir tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Anda harus membelanjakan semua dana Anda sekaligus, jadi Anda selalu bisa membeli sedikit demi sedikit atau menerapkan dollar cost averaging.  Dengan demikian Anda akan mempunyai harga rata-rata yang bagus dan tidak panik pada saat bursa saham turun tajam, sebab Anda justru akan dapat membeli lebih banyak saham pada harga yang jauh lebih rendah.

2) Akhir-akhir ini terasa seolah-olah sistem perbankan Eropa, dan sebagai akibatnya sistem perbankan global makin menuju kepada keruntuhan dahsyat yang berikutnya.  Berarti hanya dalam beberapa bulan yang akan datang, bursa saham dunia di negara maju dapat menyentuh kembali level terendahnya pada tahun 2009 atau bahkan jatuh lebih rendah, sementara harga emas berpeluang menguat ke inflation-adjusted high-nya di sekitar $2,400/oz.  Jadi untuk sementara waktu, belilah EMAS (sebagai asuransi) dan pertahankanlah CASH (sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok).

Saya pernah mengatakan sebelumnya, tetapi saya merasa perlu mengulanginya sekali lagi pada bagian ini: setiap investor seharusnya (memiliki/mempunyai) 5% hingga 10% dari portofolionya dalam bentuk emas sebagai suatu downside protection yang bantu meringankan tekanan mental maupun kerugian dari aset lainnya.  Makin banyak orang Barat yang cerdas pun berpikir demikian, apalagi dengan real interest rates yang tetap akan negatif dalam jangka waktu yang panjang.

Harga emas masih jauh dari puncaknya, dan saya masih berpendapat emas akan mencapai setidaknya $5,000/oz sebelum bull market ini berakhir.  Oleh karena itu, Anda sebaiknya menganggap setiap penurunan sebagai sebuah hadiah atau kesempatan untuk membelinya di harga yang lebih rendah.

Pendek kata, Anda harus melihat emas sebagai suatu mata uang yang merupakan sebuah alternatif terhadap dolar AS (maupun mata uang yang lain seperti euro, yen dan pound sterling) yang akan makin dilirik di masa depan seiring dengan pencetakan uang dalam jumlah yang tidak terbatas oleh Amerika Serikat dan berbagai pemerintahan lainnya (lihat grafik diatas ini).

3) Dengan negara maju yang makin membatasi stimulus fiskal dan cenderung menekankan penerapan austerity measures untuk mengurangi defisit anggarannya, the Federal Reserve bersamaan dengan bank sentral lainnya mungkin saja akan terpaksa untuk mengumumkan quantitative easing ketiga, keempat, dst.  Apabila hal tersebut terjadi, yakinlah bahwa dolar AS akan terpuruk dan pada gilirannya harga komoditas naik.

Seperti C. Martenson menulis dalam artikel yang berjudul Why Commodities Are the New Safe Haven, “For those looking to preserve the purchasing power of their wealth, it’s important to understand the growing momentum in the global mindshift away from paper assets towards more tangible stores of value.” Dengan kata lain investor secara pelan tetapi pasti akan memindahkan dananya dari PAPER ASSETS – khususnya uang kertas – kepada REAL ASSETS seperti komoditas, yang memiliki nilai intrinsik yang jelas.

Secara teknikal pun, the Continuous Commodity Index (CCI) menunjukkan pasar komoditas secara umum masih kuat, yang dibuktikan oleh pembentukan sebuah bull flag, yang disertai Relative Strength Index (RSI) dan MACD yang naik (lihat grafik dibawah ini).

Perhatikan juga bahwa indeks ini sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 43% selama 8 bulan dari Juli 2010 hingga April 2011, setelah berkonsolidasi dalam pola serupa.  Memang tidak ada jaminan apapun bahwa harga komoditas akan kembali melonjak, tetapi jika mesin cetak dijalankan tanpa henti lagi, jangan terkejut itulah justru yang akan terjadi.

Kesimpulan

“The whole current mess reminds me a lot of 1929-30.  After the crash of ’29, the stock market roared higher, even as the economy was simultaneously weakening.  When the great post-crash rally died in April 1930, the market turned down with a vengeance, and the Great Depression began.  … The market is probably now in the process of forming a complex top.  If the market now turns down convincingly, we could see the beginning of Great Depression No. 2.”

-Richard Russell-

Sebagai penutup dari artikel panjang ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk direnungkan:

Kini, hanya ada dua hasil akhir yang mungkin akan tercipta.  Pertama pembuat kebijakan bisa mendukung “quantitative easing to infinity”, yang akan menopang perekonomian dunia untuk sementara waktu tetapi pada akhirnya mengakibatkan HYPERINFLATION.  Atau … kedua, penghematan pengeluaran pemerintah menyebabkan sebuah deflationary economic collapse atau the GREATER DEPRESSION, yang kemungkinan akan membuat depresi selama tahun 1930an kelihatan kecil.

Comstock Partners dalam market commentary-nya yang tertanggal 18 Agustus 2011 menyampaikan analisa yang tajam: “We believe that the market has now entered a major downtrend.  It is a mistake to dismiss the slide we’ve seen to date as mindless and devoid of fundamentals as many strategists maintain.  These are not just scary headlines – they are scary fundamentals.  As usual, there will undoubtedly be some more sharp rallies that will be interpreted as new bull markets.  In our view, however, the bear market has only begun, and has a long way to go.” Kalau seandainya begitu, rupanya bursa saham benar-benar akan menguji kesabaran kita dalam beberapa bulan yang mendatang.

Masalah utama yang akan melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia adalah KELEBIHAN HUTANG.  Secara sederhana, banyak orang maupun negara menghadapi jumlah hutang yang mereka tidak bisa lunasi.  Meskipun begitu, berbagai pemerintahan dan bank sentral di seluruh negara Barat tanpa hentinya menampal bailouts, jaminan, paket penyelamatan dan restrukturisasi hutang, dan dengan demikian coba melawan hukum ekonomi. Namun semua orang yang masih waras mengerti bahwa negara, dan juga orang maupun perusahaan, yang berhutang secara berlebihan pada akhirnya akan bangkrut.  Jadi makin lama bank sentral dan pemerintahan dari negara Barat berusaha untuk menunda defaults yang tidak terhindarkan, makin lama dan menyakitkan investor akan menderita!

Dalam sebuah CNN poll yang belum lama dilaksanakan, 48% mengatakan Great Depression yang berikutnya kemungkinan akan terjadi pada tahun depan.  Ini merupakan persentase yang tertinggi yang pernah tercatat untuk prediksi suram tersebut.
Yang paling menyedihkan adalah bahwa tidak ada “pil ajaib” untuk memulihkan kondisi perekonomian.  Jika memang ada, bukankah sudah pasti “ditelan” dari dulu?  Memang the Fed dapat mencoba QE3 yang jauh lebih besar, tetapi itu hanya akan menaikkan tingkat inflasi maupun menambah jumlah hutang publik, dan mendongkrak ekonomi sebentar saja.
Apabila sebagian besar orang sedang mengharapkan QE3 dan berpendapat the Federal Reserve akan mengumumkan stimulus tambahan pada rapat FOMC berikutnya pada tanggal 20-21 September mendatang, bukankah seharusnya hal tersebut sudah mulai terdiskonto dalam harga pasar pada saat ini?

Bill Bonner belum lama ini mengatakan, “The Era of Financial Repression is here.  The financial world will be jumping from temporary crisis to temporary crisis.  The solution will always be to borrow and print more money.” Tentunya ini akan mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai asset markets kedepan.

Lebih lanjut Bill Bonner juga berkeyakinan bahwa “The bear market is back.  By our reckoning, the Dow should fall below 5,000 before it is over.  Most likely, it will not be a short, quick collapse.  Instead, it will be a long battle … stretched over many years … with the feds fighting over every inch.” Saya sendiri tidak dapat mengungkapkannya dengan kata yang lebih indah jadi saya mengutip beliau secara literal saja.  Dan … hal yang paling membuat saya penasaran adalah bahwa the inflation-adjusted Dow, yang selama 111 tahun terakhir diperdagangkan didalam an extremely long-term upward sloping trend channel (menurut www.chartoftheday.com), memang menunjukkan suatu target koreksi antara 4,000 dan 5,000 wajar sekali (lihat grafik dibawah ini).

Sebagai catatan, saya hanya mengamati pasar dan juga tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi apa yang saya melihat pada saat ini memang tidak begitu meyakinkan.  Sebaiknya hati-hatilah dan gunakan stop loss yang ketat untuk menghindari kerugian yang terlalu besar jika ternyata pasar benar-benar anjlok.

Selamat berinvestasi, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Salam sejahtera

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/09/12/waspadai-koreksi-lanjutan-di-bursa-saham-dunia-part-2/

Satu Tanggapan

  1. ikut nyimak gan,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: