Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (1)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan Edisi 19- 25 Juli 2010. Hal. 21

Keceriaan festival Piala dunia 2010 akhirnya mengantarkan Spayol sebagai juara dunia baru. Jika Anda termasuk penggila bola, pasti setuju bahwa kombinasi antara strategi, kekompakan tim, dan kedisiplinan merupakan modal untuk menang. Sama halnya dengan urusan keuangan Anda. Jika hingga saat ini Anda masih sering mengeluh sulit menumpuk jumlah tabungan dan investasi, atau masih banyak tujuan keuangan yang belum tercapai pada waktunya, coba evaluasi kembali. Sudah tepatkah strategi yang Anda gunakan untuk tujuan Anda?

Saya yakin, Anda setuju bahwa pemilihan instrumen keuangan yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan uang yang Anda miliki saat ini. Sejak pertama kali mengisi konsultasi keuangan di sebuah tabloid wanita, saya setia dengan konsep keuangan yang diajarkan oleh ayah saya, yaitu berjaga-jaga, menyimpan, menabung, dan berinvestasi. Apakah menabung artinya harus di tabungan? Apakah berinvestasi artinya harus di properti? Belum tentu!

Rangkaian tulisan saya kali ini akan mengajak Anda untuk mengupas tentang konsep simpanan, tabungan, dan investasi. Saya juga akan menjelaskan secara singkat bagaimana menyesuaikan kegiatan-kegiatan tersebut dengan tujuan keuangan yang Anda punya. Tak lupa juga, saya berikan kiat-kiat untuk memilih instrumen keuangan yang sesuai. Yuk, simak rangkaian tulisan dibawah ini.

Simpanan, tabungan, investasi

Masih ingat dengan konsep ZAPFIN? Saya dan rekan-rekan di ZAP Finance berpendapat bahwa rezeki yang diterima oleh setiap orang harus dapat dikelola untuk membayar zakat atau sosial (Zakat), kebutuhan perlindungan keuangan (Assurance), kebutuhan hidup rutin bulan ini (Present consumption), memenuhi rencana hidup dalam 2 tahun hingga 5 tahun lagi (Future spending), dan juga kebutuhan hidup masa mendatang seperti saat pensiun (Investment).

Meski pun orang sering membicarakan tentang bagaimana bisa menabung atau berinvestasi dari penghasilan yang diterima, sayangnya, masih banyak yang salah mengartikan tujuan dari proses tersebut. Akibatnya? Salah memilih instrumen keuangan pun kerap terjadi. Saya yakin Anda tak mau hal ini terjadi, bukan?

Simpanan pada dasarnya menyisihkan dana untuk digunakan dalam waktu dekat, dalam hitungan bulan. Secara umum, simpanan ini terbagi dua, yaitu simpanan untuk berjaga-jaga dan simpanan bulanan.

Simpanan untuk berjaga-jaga, akrab kita sebut dengan istilah dana darurat. Sedangkan simpanan bulanan, biasanya pengeluarannya itu sudah hampir pasti akan dilakukan. Jika Anda mendapat gaji setiap tanggal 1, pengeluaran untuk berbagai pos pasti baru akan dilakukan secara bertahap. Oleh sebab itu, anggaran untuk bulan ini disebut simpanan bulanan.

Tabungan, merupakan hasil dari proses menabung yang ditujukan untuk keperluan beberapa tahun lagi. Pengeluarannya bisa saja tidak jadi dilakukan dan diganti dengan pengeluaran yang lain. Dengan demikian untuk semua tujuan keuangan yang akan dipenuhi dalam waktu 1 tahun hingga 5 tahun, Anda perlu menabung.

Sedangkan investasi, merupakan proses menyisihkan uang dengan tujuan memperoleh keuntungan dan kenaikan modal di masa mendatang. Nah, untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun, investasilah satu-satunya jawaban Anda. Hingga saat ini, masih sering saya mendapati orang berinvestasi di deposito untuk tujuan keuangan diatas 5 tahun. Alasannya sederhana, bebas dari resiko pasar seperti resiko naik-turun IHSG, resiko nilai tukar, resiko likuiditas hingga resiko gagal bayar. Tapi ingat, Anda berarti akan terkena resiko inflasi, karena secara historis tingkat suku bunga tabungan selama 10 tahun terakhir selalu dibawah tingkat inflasi.

Lain tujuan, beda strategi

Jika saya tanya pada Anda, dimanakah Anda menyimpan uang untuk tujuan berjaga-jaga? Ada yang menjawab di tabungan, ada yang menjawab di emas, bahkan ada yang menjawab di asuransi!

Untuk setiap tujuan keuangan, maka Anda perlu strategi yang berbeda dalam perencanaannya. Lalu, apakah menabung tidak bisa di reksadana? Jawabannya salah! Tugas saya dan teman-teman perencana keuangan di ZAP Finance adalah memberikan penerangan bahwa yang terpenting itu bagaimana kecocokan antara jangka waktu menabung, profil resiko Anda, dan juga jenis instrumen keuangan yang tersedia.

Setiap instrumen keuangan memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari segi, potensi tingkat imbal hasil per tahun, seberapa cepat dapat dijadikan uang tunai (likuiditas), kemungkinan naik-turunnya nilai investasi dan kemudahan pengurusannya.

Secara fundamental, investasi dapat dibagi kedalam tiga kelas harta. Pertama, komoditas seperti emas, perak, dan koin dinar yang sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara satu tahun hingga diatas lima tahun. Kedua, properti seperti rumah, apartemen, lahan kosong, yang sangat sesuai untuk memperoleh penghasilan rutin dan tujuan keuangan diatas lima tahun. Ketiga, surat berharga, seperti deposito, saham, ORI, bahkan kepemilikan bisnis, yang memiliki varian terbesar sehingga dapat membantu tujuan keuangan untuk semua jangka waktu.

Di beberapa pekan depan, saya akan membahas tentang masing-masing kelas harta tersebut dan bagaimana mencocokan dengan proses menyimpan, menabung, serta berinvestasi. Tentu saja, saya juga akan memberikan berbagai kiat bagaimana memilih produk yang tepat serta kesesuaiannya dengan masing-masing profil resiko. Di bagian akhir, seperti biasa, saya akan berikan contoh kasus agar memudahkan Anda dalam menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (2)
Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.43 – XIV Edisi 26 Juli – 1 Agustus 2010. Hal. 21

 

Saat ini, di pasaran tersedia ratusan varian produk keuangan yang tentunya juga ikut membuat pusing calon investor. Terkadang, akibat pemasaran yang berlebihan, banyak produk keuangan yang salah sasar dan tidak tepat untuk tujuan keuangan Anda. Pekan lalu, kita sudah membahas tentang konsep dasar simpanan, tabungan, dan investasi. Sekarang, saya akan menjabarkan tentang mengapa Anda perlu simpanan dan tabungan, serta bagaimana memilih produk keuangan yang tepat.

Simpanan berjaga-jaga

Setiap orang wajib punya simpanan untuk urusan jaga-jaga yang biasa disebut Dana Darurat. Fungsinya ada dua, yaitu untuk membayar kebutuhan mendadak yang sifatnya insidentil seperti biaya rumah sakit, ban mobil pecah, kulkas rusak, genteng bocor, dan lainnya. Selain itu, sebagai dana talangan saat nilai investasi Anda sedang merosot, padahal Anda sudah akan menggunakan dananya dalam waktu dekat.

Dengan karakteristik yang sangat tidak terduga tersebut, Anda wajib menyimpan dana darurat di tabungan dengan nilai minimal satu bulan pengeluaran rutin. Kemudian, jika dana berlebih, bolehlah untuk menyimpan kelebihannya di deposito atau reksadana pasar uang.

Alasan utama kenapa tidak bisa semuanya di deposito adalah adanya resiko likuiditas. Bagaimana jadinya kalau Anda butuh dana cepat, namun bank sedang libur panjang (cuti bersama lebaran)? Sama halnya dengan reksadana pasar uang, meski menawarkan potensi imbal hasil lebih bagus, namun Anda butuh minimal empat hari kerja untuk pencairannya.

Bagaimana dengan emas mau pun berlian? Jelas bukan pilihan yang ideal untuk dana darurat. Nilainya bisa naik-turun serta belum tentu Anda mendapatkan calon pembeli yang bersedia membayar di harga yang Anda inginkan saat Anda butuh uangnya.

 

Bagaimana dengan asuransi? Nah, asuransi memiliki fungsi yang agak berbeda dengan simpanan berjaga-jaga. Asuransi pada dasarnya produk keuangan yang memberikan perlindungan terhadap kerugian finansial. Setiap orang, paling tidak membutuhkan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Hanya saja, sayangnya saat ini, produk yang ditawarkan semuanya dicampuraduk menjadi satu sampai-sampai ada yang memasarkan asuransi sebagai produk investasi. Kalau demikian, jangan pernah mau membeli produk tersebut.

Simpanan bulan ini

Selain simpanan untuk berjaga-jaga, maka Anda tetap harus menyimpan uang untuk kebutuhan bulan ini. Ingat, setiap Anda gajian, urusan bayar tagihan mau pun belanja di pasar tentu tidak dilakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga, untuk urusan ini, pilihan Anda adalah menyimpan di tabungan biasa dengan fasilitas ATM.

Tabungan untuk urusan hingga 5 tahun

Bisa jadi Anda ingin liburan ke Bali, sedang merencanakan pesta pernikahan, atau membuat dana pendidikan masuk SD untuk si kecil. Apa pun itu, bila jangka waktu yang Anda tuju berkisar antara 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun, saya yakin Anda akan berpikir dua kali untuk menempatkan dananya di saham.

Dengan jangka waktu yang lumayan pendek, Anda tidak sanggup mengambil resiko nilai investasi bisa menukik tajam setelah beberapa tahun menabung, dan juga Anda ingin bisa memastikan ketersediaan saldonya saat dibutuhkan. Jadi, kesimpulannya, untuk strategi menabung, syaratnya nilai investasi harus stabil dan bisa dijadikan uang tunai dengan nilai yang kita inginkan dengan mudah. Apa saja pilihan yang tepat untuk strategi menabung?

Pertama, deposito. Produk ini cocok untuk “tempat parkir” saat memperoleh uang dalam jumlah banyak seperti THR atau bonus dan belum dibutuhkan dalam waktu dekat. Atau juga, bila investasi Anda di reksadana, saham, atau emas sudah mencapai target kebutuhan dana, maka lebih baik langsung diuangkan dan ditempatkan di deposito sampai mau digunakan. Selain itu, jika Anda berinvestasi untuk mendapatkan arus kas, deposito juga sarana yang baik dalam memberikan arus kas pasif. Inilah yang disebut uang yang bekerja untuk Anda.

Kedua, tabungan berjangka. Tabungan biasa yang mengharuskan Anda untuk berkomitmen menyetor dana dengan nominal tertentu dan jangka waktu dari mulai 6 bulan hingga 5 tahun ini, sangat sesuai untuk tujuan keuangan antara 1 tahun hingga 3 tahun. Meski imbal hasil kurang gurih, namun karena tabungan berjangka merupakan produk bank yang notabene dijamin pemerintah, maka cocok untuk Anda yang berprofil konservatif.

Ketiga, reksadana pasar uang. Jika Anda masih belum paham apa itu reksadana pasar uang, contoh sederhananya adalah kongsian para penabung. Jika Anda ke bank dengan uang Rp. 10 juta, bunga deposito yang diberikan paling banter 7% per tahun. Sedangkan, kalau Anda kumpulkan uang bersama 100 orang lain, maka hampir dipastikan Anda bisa bernegosiasi untuk mendapatkan bunga hingga 8,5% per tahun. Kumpulan uang yang diterjunkan ke produk-produk pasar uang inilah yang disebut reksadana.

Pada awalnya, reksadana pasar uang banyak digunakan oleh investor saham yang memarkirkan dananya diantara waktu trading. Namun, belakangan ini, reksadana pasar uang juga digunakan untuk keperluan dana darurat. Fitur tanpa ATM ternyata cukup menarik karena lebih memperkecil godaan untuk mensabotase dana untuk tujuan lain.

Keempat, Obligasi Ritel Indonesia atau Sukuk Ritel. ORI007 yang akan luncur dalam waktu dekat merupakan pilihan terbaik untuk menabung dana Anda yang akan digunakan dalam 3 hingga 4 tahun. Contohnya, jika Anda sudah punya sejumlah dana untuk uang pangkal masuk SMP untuk si kakak yang saat ini masih di bangku kelas 3 SD, ORI pantas dipilih untuk Anda yang berprofil lebih moderat.

Menabung bukan hanya di tabungan

Pesan terpenting dari tulisan ini adalah menabung bukan berarti harus di tabungan. Reksadana pun bisa menjadi sarana Anda untuk menabung karena saat ini sudah mulai dipasarkan melalui bank dengan pembelian minimal hanya Rp. 100,000. Pekan depan, kita masuk ke topik kesukaan saya yaitu investasi. Jangan putuskan produk keuangan yang mau Anda ambil sebelum membaca KONTAN minggu depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (3)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.45 – XIV Edisi 9 – 15 Agustus 2010. Hal. 21

Investasi merupakan aktivitas keuangan dimana si Investor menempatkan sejumlah dana ke sebuah instrumen keuangan dengan mengharapkan imbal hasil tertentu. Pada dasarnya, semua harta bisa digunakan untuk investasi. Hanya saja, Anda perlu tahu konsekuensinya bahwa potensi return yang diberikan bisa sangat bervariasi. Padahal, Anda punya banyak waktu untuk meningkatkan pundi-pundi uang Anda. Manakah pilihan yang paling tepat untuk Anda? Simak tulisan berikut ini.

Si Kilau Emas

Selain tabungan dan deposito, emas adalah pilihan populer untuk investasi bagi orang Indonésia hingga saat ini. Alasannya sederhana, semua orang paham apa itu emas dan bagaimana memperoleh keuntungan dari emas.

Data menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, harga emas cenderung meningkat 20%[1] secara rata-rata. Selain itu, kapan pun anda memutuskan untuk membeli atau menjual, anda tidak terhalang oleh adanya aturan jatuh tempo pencairan dana, proses hari kerja, ataupun penalti. Jadi, resiko likuiditas cukup rendah.

Meski pun dalam jangka menengah harga emas naik, Anda tetap tidak pernah tahu periode “diskon” harga emas. Oleh sebab itu, jangan menggunakan emas untuk tujuan investasi 1 tahun. Sebaiknya, emas digunakan untuk tujuan investasi diatas 3 tahun hingga 10 tahun. Contohnya untuk biaya uang pangkal sekolah anak, naik haji, modal usaha, untuk persiapan down payment pembelian rumah atau bahkan untuk masa pensiun.

Properti

Pembelian properti untuk investasi memiliki pertimbangan yang agak berbeda dengan rumah tinggal. Pahamilah bahwa yang penting properti yang dipilih disukai oleh pasar dan berpotensi memberikan harga jual tinggi dan cukup likuid. Properti cocok untuk berinvestasi dalam jangka panjang diatas 5 tahun atau sebagai investasi yang memberikan pemasukan rutin. Properti cocok untuk investor yang berprofil konservatif hingga agresif.

Bagaimana dengan berutang untuk membangun rumah kost? Anda perlu melakukan simulasi terlebih dahulu tentang potensi pemasukan dari rumah kost. Pembayaran cicilan haruslah dari pemasukan tersebut, dan sebaiknya mengambil kredit dari bank syariah agar cicilan flat hingga jatuh tempo. Saat utang lunas, maka investasi Anda sudah balik modal. Silahkan menikmati penghasilan pasif dari bisnis rumah kost tersebut.

Saham

Saham adalah investasi modal. Seiring dengan terus meningkatnya kinerja keuangan dari perusahaan yang dipilih, Anda akan menikmati berbagai keuntungan dalam bentuk pembagian deviden dan juga kenaikan dari harga saham tersebut. Harap diingat, dari kenaikan harga saham, keuntungan baru benar-benar di tangan jika Anda menjual saham. Jadi, tidak ada istilah “uang hilang” saat melihat harga saham jeblok, padahal Anda belum menjual sahamnya. Berhubung memiliki resiko pasar yang cukup tinggi, saham cocok untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif.

Hal penting dalam menaruh uang di saham, pastikan apakah Anda berinvestasi atau berdagang. Berdagang atau trading, artinya Anda memperlakukan saham seperti komoditas. Hari ini beli di harga Rp. 5,000, dua hari lagi jual di harga Rp. 5,025. Begitu seterusnya, hingga dalam sebulan bisa jadi transaksi jual-beli mencapai lebih dari sepuluh kali untuk satu jenis saham.

Nah, akan halnya berinvestasi, Anda memiliki tujuan untuk menahan uang di saham hingga periode tujuan investasi terpenuhi. Berhubung harga saham cukup fluktuatif, hampir tidak ada yang bisa meramal dengan akurasi 100% kapan harga saham sedang paling turun atau paling naik. Oleh sebab itu, sebagai investor, Anda sebaiknya melakukan dolar-cost averaging yaitu membeli saham yang sama dengan jumlah uang yang sama setiap bulan. Dalam berinvestasi di saham, pastikan bahwa tujuan keuangan Anda wajib diatas 5 tahun.

Apa dan mengapa reksadana

Reksadana adalah sebuah portofolio investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi. Sering disebut sebagai jagoan investasi untuk para investor retail, dan hampir bisa memuaskan keinginan segala jenis investor. Anda bisa mendapati reksadana yang berinvestasi di sertifikat Bank Indonesia hingga di perusahaan-perusahaan besar. Ada juga reksadana yang berinvestasi di proyek-proyek infrastruktur hingga mendanai proyek universitas.

Banyak yang berkata kepada saya, kenapa tidak langsung saja menanam uang di emas, properti, atau saham? Jika Anda punya modal besar, maka silahkan saja. Namun, jika dana Anda terbatas, mohon maaf, reksadana lah satu-satunya pilihan Anda. Untuk berinvestasi di emas, minimal modal adalah Rp. 3 juta, untuk di properti bisa mencapai ratusan juta. Sedangkan di saham, Anda wajib punya minimal 5 perusahaan yang berbeda, yang tentunya butuh modal awal puluhan juta. Akan halnya reksadana, bisa dimulai hanya dengan ratusan ribu saja!

Cara berinvestasi terbaik di reksadana dengan dolar-cost averaging atau mencicil investasi. Setiap bulan, tentukan tanggal untuk menyetor uang dari rekening gaji ke rekening investasi. Jika Anda takut uangnya tersabotase, buatlah instruksi debit otomatis dan mintalah perencana keuangan memberikan saran & rekomendasi jumlah serta pilihan reksadana. Pastikan setiap bulan Anda memonitor jumlah saldo investasi yang sudah terkumpul sebagai evaluasi kinerja dari manajer investasi. Jika reksadana pilihan hanya memberi hasil 5% di saat yang lain memberi 7%, maka diskusikan dengan perencana keuangan Anda, apa saran dan rekomendasi terbaik untuk kondisi Anda.

Reksadana sangat cocok untuk semua tipe investor dan semua jangka waktu investasi, asalkan disesuaikan dengan tujuannya. Pertama, tujuan membuat dana pendidikan masuk SMP 6 tahun lagi, pilihlah reksadana campuran untuk Anda yang berprofil konservatif dan reksadana saham untuk Anda yang berprofil moderat hingga agresif. Kedua, tujuan membuat dana pensiun 15 tahun lagi, pilihlah reksadana saham, apa pun profil resiko Anda.

Bagaimana prakteknya?

Saya yakin, pasti banyak sekali tujuan investasi yang membutuhkan lebih dari satu produk keuangan untuk mencapainya. Dari awal, saya selalu konsisten bahwa Anda butuh simpanan, tabungan , dan investasi dalam setiap tahapan kehidupan Anda, serta asuransi sebagai perlindungannya. Seperti apa kombinasi yang sesuai untuk Anda, simak bagian akhir dari rangkaian tulisan ini pekan depan. Sampai jumpa!

Lain Tujuan, Beda Strategi Keuangannya (4)

Oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Mingguan No.47 – XIV Edisi 23 – 29 Agustus 2010. Hal. 20

Apa yang Anda lakukan jika punya uang Rp. 100 juta? Banyak orang langsung berseru, Investasi! Padahal, salah satu syarat dasar sebelum memilih berinvestasi adalah tahu tujuan kita dan tahu siapa diri kita sebagai investor. Lain tujuan tentu saja beda strategi keuangannya. Pekan sebelumnya, Anda sudah paham bedanya simpanan, tabungan, & investasi. Mana strategi yang sesuai dan apa produknya? Simak tulisan berikut.

Kenali Profil Resiko

Secara umum, Anda akan tergolong dalam salah satu karakteristik berikut. Si konservatif, yang butuh rasa aman luar biasa tinggi dan tidak sanggup melihat resiko naik-turun investasi. Sebaliknya, Si Agresif, lebih mementingkan kenaikan nilai investasi meski harus berhadapan dengan resiko volatilitas. Nah, ditengah-tengah ada Si Moderat yang tahu bahwa untuk jangka panjang harus menanggung resiko volatilitas, tapi untuk jangka pendek hingga menengah tetap butuh yang aman-aman. Untuk mengetahui apa profil resiko Anda, silahkan coba periksa di www.zapfin.com.

Dana Darurat

Kasus pertama kita, adalah Taufik, seorang dokter yang baru lulus pendidikan Spesialis Anak. Berhubung sudah menikah, meski belum punya anak, Taufik wajib punya dana darurat dalam rencana keuangannya. Panduan umum untuk status menikah, harus punya saldo minimal 6x pengeluaran rutin bulanan. Berbeda untuk dokter Taufik, sarannya adalah punya saldo minimal 12x pengeluaran rutin bulanan. Alasannya, dokter Taufik tidak punya gaji bulanan, dan penghasilannya bervariasi tergantung jumlah pasien dan tindakan bedah yang dilakukan.

Dengan kondisi itu, bisa dipastikan ada bulan-bulan tertentu dimana uang masuk lebih sedikit dari uang keluar. Dus, penting bagi dokter Taufik punya strategi menyimpan di tabungan dan menabung perlahan-lahan di reksadana pasar uang. Jumlahnya? 2x pengeluaran rutin bulanan di tabungan, dan sisanya ditempatkan di reksadana pasar uang agar dana darurat tetap menikmati imbal hasil lebih besar dari deposito.

Dana Pendidikan

Jika kilas balik duapuluh tahun lalu, sepertinya orang tua mudah saja mencari sekolah terlebih membayarnya. Orang tua zaman sekarang dihadapkan dengan pilihan sekolah negeri, sekolah swasta unggulan, dan sekolah nasional plus, yang uang pangkalnya saja bisa untuk beli beberapa sepeda motor!

Kasus kedua, ada Rizki, 28 tahun, menikah dengan satu anak, Arya, 3 tahun. Tentu saja bijaksana jika Rizki mempersiapkan dana pendidikan sejak sekarang. Berdasarkan hasil diskusi dengan planner dari kantor kami, berikut rencana dana pendidikan untuk Arya.

Sekolah Arya Berapa Lama Lagi Durasi Sekolah Uang Pangkal Kebutuhan Dana Strategi Rate Investasi Investasi Bulanan Investasi Lump Sum Produk
TK Swasta 1 tahun 2 tahun 15,000,000 17,250,000 Menabung 6% 1,398,396 0 Tab Berjangka
SD Swasta 3 tahun 6 tahun 30,000,000 45,626,250 Menabung 11.5% 0 32,914,721 Sukuk Ritel 001
SMP Unggulan 9 tahun 3 tahun 30,000,000
105,536,289
Investasi 25% 265,832 0 RD Saham
SMU Unggulan 12 tahun 3 tahun 30,000,000 160,507,503 Investasi 25% 180,988 0 RD Saham
S1 Internasional 16 tahun 4 tahun 100,000,000 935,762,087 Investasi 30% 206,030 0 RD Saham

Sumber: ZAP Finance Consulting Research DivisionÓ2010

Setelah dihitung, total kebutuhan dana untuk sekolah-sekolah yang dipilih oleh Rizki untuk Arya sebesar Rp. 1,2 Milyar. Uang sebanyak itu secara matematis dapat diraih dengan 2 strategi yang berbeda. Pertama, kebutuhan dana masuk TK disiapkan dengan menabung Rp. 1,3 juta per bulan ke tabungan berjangka. Kemudian, dana Rp. 32 juta sudah tersedia untuk masuk SD, sehingga langsung diamankan di Sukuk Ritel 001 yang imbal hasilnya diatas deposito. Kedua, menyiapkan dana masuk SMP, SMA, dan Universitas. Karena target masih diatas 5 tahun lagi, maka saran terbaik adalah investasi di reksadana saham. Khusus untuk masuk Universitas, reksadana saham yang dipilih harus yang komposisinya paling agresif (minimal 90% di saham). Overall, dana pendidikan Rp. 1,2 Milyar hanya perlu Rp. 2 jutaan setiap bulan.

Lantas, bagaimana kalau dalam perjalanannya, Rizki meninggal dunia atau mengalami kecelakaan? Proteksi keuangan dipenuhi dengan membeli polis asuransi jiwa murni, bisa Term Life atau Whole Life. Setelah dihitung, kebutuhan uang pertanggungan senilai Rp. 1 Milyar dapat ditutup dengan premi Rp. 3 juta untuk jenis asuransi Term Life.

Dana Pensiun

Nah, kasus terakhir adalah Putra, 45 tahun, seorang direktur muda di perusahaan minyak dan gas. Telat menyadari belum punya dana untuk pensiun nyaman di usia 55 tahun kelak, Putra pun datang ke kami. Berhubung usia pensiun tinggal 10 tahun lagi, pilihan investasi tidak bisa terlalu agresif dibanding mereka yang masih usia 20an. Dengan biaya hidup bulanan sebesar Rp. 35 juta, modal pensiun yang dibutuhkan menjadi Rp. 2,5 Milyar untuk menyokong hidup hingga usia 75 tahun.

Berhubung Putra berprofil moderat dan istrinya berprofil konservatif, maka reksadana saham bukan pilihan yang menarik untuknya. Jadi, dana pensiun pun disiapkan dengan kombinasi membeli emas dan reksadana pasar uang setiap bulan dengan jumlah masing-masing Rp. 5 juta. Catatan penting, 2 tahun menjelang usia 55 tahun, setengah saldo investasi harus dikonversi ke deposito agar modalnya terjaga. Setengahnya lagi tetap diinvestasikan dalam bentuk emas.

Saat memperoleh dana lebih

Mungkin saja dalam perjalanannya, Anda memperoleh sejumlah dana dari bonus, komisi, atau pun kenaikan gaji yang besar. Bisa jadi Anda memperoleh sejumlah harta warisan dari orang tua atau kerabat. Atau juga Anda tiba-tiba ditelpon karena menang undian.

Jika ini merupakan situasi yang Anda hadapi, saran saya adalah membagi alokasi dana untuk investasi. Rumusan termudah adalah untuk yang berusia dibawah 50 tahun, maka 60% untuk emas, properti, atau saham dan 40% untuk deposito. Sedangkan untuk yang berusia diatas 50 tahun, maka 20% untuk emas dan 80% untuk deposito. Tapi, lain ceritanya ya kalau Anda masih punya utang. Prioritas utama adalah membayar utang.

Saat ini saya yakin Anda sudah lebih paham tentang strategi menyimpan, menabung, dan investasi, serta kapan strategi itu digunakan. Konsep ZAPFIN pun lebih gampang diterapkan. Ingatlah bahwa jumlah gaji tidak menentukan kesuksesan mencapai tujuan finansial. Salah pilih strategi beresiko rencana keuangan sulit terwujud. Semoga tulisan ini bermanfaat. Make your finance alive. Live a Beautiful Life!


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: