Senangnya Masuk Sekolah Lagi…

Senangnya Masuk Sekolah Lagi…
Sejak pagi murid-murid di SD. 02 Pagi Lebak Bulus, Jakarta Selatan telah berdatangan. Mereka sengaja datang pagi untuk mendapatkan kursi strategis di kelasnya

Senin, 13 Juli 2009 | 08:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pagi ini suasana SD Islam Terpadu As-safi’iyah Jatiwaringin Bekasi kembali riuh rendah dengan canda gurau anak-anak sekolah. Maklum, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, setelah para siswa mendapat libur panjang sejak beberapa minggu lalu.

Para orang tua yang menyempatkan diri mengantar anaknya, juga tak ketinggalan ikut menyemarakkan suasana hari pertama masuk sekolah ini. “Senang bisa ketemu temen-temen lagi,” kata Raiswari siswi kelas tiga di SD As-safi’iyah Bekasi ini, Senin (13/7) pagi.

Rani mengaku senang masuk sekolah kembali setelah selama liburan tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya di sekolah. Hal yang sama diungkapkan Rani siswi kelas tiga pindahan dari Surabaya. Meski masih takut-takut Rani mengaku senang bisa bersekolah di tempat yang baru ini. “Mau kenalan sama teman-teman baru. Aku belum punya teman di sini,” katanya malu-malu.

Suasana kegembiraan ini rupanya tak hanya dirasakan oleh para siswa. Para pedagang kantin di SD As-safi’iyah ini turut merasakan hal yang sama. “Kalau liburan sekolah kita kan enggak dapat duit. Jadi ya ikut senang karena bisa jualan lagi,: ungkap Siti Azzizah yang berjualan soto ini.

Siti mengaku selama liburan anak sekolah dirinya juga ikut meliburkan diri. “Soal biaya hidup, gantian anak-anak saya yang mbayarin, hehehe“, katanya sambil terkekeh.

Tingkah Anak di Hari Pertama Sekolah
Senin, 13 Juli 2009 | 09:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak tingkah lucu anak di hari pertama masuk sekolah dasar. Ada yang semangat dengan seragam, tas, dan sepatu barunya. Namun ada yang malu-malu, takut, bahkan menolak masuk kelas.

Paulus Angga Laksono (6), siswa kelas IA SD Santo Markus II, Jakarta Timur, misalnya, menangis keras ketika sudah berdiri tepat di depan kelasnya. Angga menolak masuk ke dalam ruang kelas meskipun 22 siswa lain sudah memulai perkenalan di hari pertama sekolah.

Di luar kelas, Yasinta (35), ibu Angga, harus membujuk anak semata wayangnya selama beberapa menit. Namun, hal itu tidak membuat Angga bergerak. Ia terus meronta-ronta hingga akhirnya harus dipaksa masuk ke ruang kelas dengan digendong.

Meski sudah berhasil membawa masuk anaknya, pekerjaan Yasinta belum selesai. Di dalam kelas, Angga menolak untuk duduk di bangku kecil yang sudah disediakan dan lebih memilih berdiri di samping bangku. “Enggak mau, enggak mau…,” ucap Angga sambil mendekap erat ibunda agar tidak meninggalkanya.

Akhirnya, Yasinta terpaksa menemani buah hatinya selama berada di dalam kelas, sedangkan suaminya, Yanis (38), yang ikut mengantarkan, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil sesekali mengintip dari balik jendela.

“Dia bangun pukul 05.00, terus berangkatnya tadi semangat banget. Tapi enggak tahu kenapa, pas lihat ruang kelas, langsung nangis,” ucap Yanis kepada Kompas.com, Senin.

Di hari pertama sekolah, kata Yanis, ia dan istrinya harus izin bekerja setengah hari untuk dapat menemani Angga. “Kita entar masuk kerja siang. Besok ibunya enggak bisa izin lagi, jadi saya sendiri yang anter Angga. Bingung besok gimana bujuknya kalau dia enggak mau masuk kelas lagi,” ungkapnya diiringi tawa.

Ibu Nety guru kelas I mengatakan, pemandangan tersebut biasa dilihatnya setiap tahun pada hari pertama sekolah. “Masih malu-malu. Hari pertama dan kedua masih diperbolehkan ditemani orangtua. Tapi hari ketiga sudah tidak boleh,” ujarnya.

Selama tiga hari di hari pertama sekolah, kata Nety, aktivitas siswa kelas I di sekolah hanya dari pukul 07.30 sampai pukul 08.00. “Hari keempat mulai normal sampai pukul 09.30. Sekarang mereka cuma perkenalan tentang sekolah dan sedikit belajar nulis buat ngelenturin tangan,” ujarnya.

Pengeluaran besar untuk sekolah swasta

Yanis, orangtua Angga, mengatakan, ia harus merogoh kantong cukup dalam untuk dapat memasukkan Angga ke sekolah tersebut. “Uang pangkal Rp 5,5 juta dan uang bulanan Rp 300.000,” ungkapnya.

Pengeluarannya bukan hanya itu, ia harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk biaya seragam serta buku yang jumlahnya sekitar Rp 500.000. “Kalau SD negeri gratis. Tapi mamanya maunya di sini (Santo Markus). Yah saya sih ikut aja,” ujarnya.

C8-09
Gugup, Deg-degan, Ada Juga yang Penuh Semangat…
Ilustrasi: Bocah kecil ini merasa gugup di hari pertamanya bersekolah di SD 02 Pagi Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (11/7). Sebelum kelas dimulai, Lamtara terus menempel pada ibunya, Dewi Illyas (31).

Senin, 13 Juli 2009 | 10:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – “Bunda, nanti aku diomelin Bu Guru, enggak? Ibu gurunya galak, enggak? Nanti aku duduknya sama siapa?”. Rangkaian pertanyaan itu meluncur dari mulut Lamtara Daif Ikbar (6).

Bocah kecil ini merasa gugup di hari pertamanya bersekolah di SD 02 Pagi Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sebelum kelas dimulai, Lamtara terus menempel pada ibunya, Dewi Illyas (31).

“Lamtara belum punya teman, dari TK Pertiwi ia hanya berdua,” ujar Dewi, Senin (13/7).

Dewi menuturkan, beberapa hari sebelum sekolah, putra pertamanya itu tak henti bertanya tentang apapun yang akan dipelajari di sekolah barunya. Tak terkecuali, pertanyaan ihwal calon guru-gurunya.

Melihat kegugupan putranya, Dewi terus membekali Lamtara dengan persiapan mental. “Saya bilang, Bu Guru enggak akan marah kalau abang enggak nakal,” terang Dewi.

Hal yang sama juga menghantui Jihan Ramadhani (6). Gadis kecil ini mengaku pukul 05.00 telah bangun dan menyiapkan makanan untuk dibawanya. “Tadi aku juga sarapan, biar bisa nanti belajarnya,” ujarnya polos.

Meski gugup, Jihan tetap bersemangat di hari pertamanya ini. Bayangan akan berkumpul lagi dengan teman-temannya di Taman Kanak-kanak membuatnya tidak akan merasa kesepian.

Perasaan gugup ternyata juga menghampiri orang tua murid lain, seperti yang dialami oleh Rudi Alamsyah (35). Pagi ini, Rudi sengaja mengantar Grafar Naufal Hemam (6) ke sekolah. Rudi tidak ingin melewatkan momen pertama saat putranya bersekolah.

“Agak deg-degan juga, maklum anak pertama. Makanya saya rela, enggak apa-apa nanti sedikit terlambat ke kantornya,” lontar Rudi.

Pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini merasa bangga pada Naufal. Pasalnya untuk bersekolah di SD 02 Pagi Lebak Bulus ini tidak mudah. Dari 275 pendaftar hanya 54 siswa yang diterima, para pendaftar harus mengikuti tes selama dua hari.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, di hari pertama sekolah ini, murid-murid kelas satu belum diberikan pelajaran. Wali kelas memanggil muridnya satu persatu, setelah itu mereka diajak bernyanyi bersama. Pada pukul 09.00 murid kelas I A keluar, kemudian selanjutnya giliran murid kelas I B masuk. Pukul 10.00 seluruh murid kelas I telah meninggalkan kelasnya.
RDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: