Alasan Sederhana Mengapa Aku Pilih JK- Wiranto

Alasan Sederhana Mengapa Aku Pilih JK- Wiranto

Oleh bocahndeso – 17 Juni 2009 – Dibaca 750 Kali –
Awalnya di Pileg kemarin itu aku memilih menjadi Golput. Namun setelah SBY-JK bercerai, karena mungkin SBY tak lagi ragu-ragu untuk tak ragu-ragu dalam memilih Boediono sebagai cawapresnya. Aku merasa SBY seperti lebih mantap didampingi Boediono dibandingkan didampingi JK yang telah mendampinginya selama hampir 5 tahun lamanya. Lalu membaca dibeberapa postingan di milis-milis serta di blog-blog internet perihal rekam jejaknya Boediono. Kemudian aku menjadi tersadarkan karenanya, mungkin karena aku don’t understand saja, namun entah mengapa setelah membaca tulisan-tulisan itu aku merasa ada sesuatu yang menjadi terbuka dibenak pemikirannku.

Ada artikel yg kubaca, katanya pemaparnya ada kaitan erat peranan Boediono saat menjabat sebagai Menteri Keuangan dengan maraknya program Asingisasi dan penjualan Obralisasi BUMN. Juga kubaca tentang bagaimana peranan Boediono dalam soal kucuran BLBI dan sangkut pautnya dengan Obligor BLBI beserta tanda lunasnya yg kata orang namanya RD  (Release and Discharge ?, maaf jika salah, mohon maaf karena keterbatasan bahasa inggris sehingga tak fasih melafalkanya, seperti melafalkan I Love United States with All Its Faults. I consider it My Second Country). Serta beberapa yang lainnya, termasuk soal katanya masih menjabat sebagai salah satu Gubernur di Dewan Gubernur IMF.

Aku tak faham seluruhnya mengenai itu, juga tak sepenuhnya faham tentang tingkat kesahihan dan kadar kebenarannya, karena aku cuma membacanya di internet. Sama dengan tak fahamnya diriku mengenai apa itu Neoliberalisme, yang katanya hanya akan menjadikan rakyat bangsa ini menjadi pasar bagi produk Negara Asing dan tenaga buruh murah bagi Industri mereka saja.

Namun setelah aku membaca postingan-postingan di Kompasiana menjadi tersadarkanlah aku, bahwa negara ini tak selayaknya terus dipimpin oleh mereka-mereka yang tak berani mandiri untuk terlepas dari tekanan dan didikte oleh kepentingannya Negara Asing.

Saat aku mengetahui isterinya JK juga isterinya Wiranto beserta anak perempuannya telah mengenakan jilbab di kehidupan kesehariaannya, maka aku mulai tertarik dan jatuh hati sehingga aku mulai berfikir untuk tidak golput lagi Pilpres tanggal 8 Juli 2009 nanti.

Makin mantaplah diriku untuk tidak golput lagi, setelah aku membaca postingan di Kompasiana yang berjudul Di Balik Hasil Pemilu DPR 2009 (dapat dilihat dengan mengklik disini) serta aku membaca tentang rumor adanya indikasi agen inteljen Amerika Serikat yang kata rumornya akan ikut turut campur di Pilpres (dapat dilihat dengan mengklik disini).

Kemantapan pilihanku makin bulat setelah ku melihat betapa massif dan gencarnya publikasi hasil survey yang sepertinya buatku mengintimidasi bahwa Pilpres harus dapat dimenangkan dalam satu putaran saja. Aku teringat kembali sebuah artikel di Koran Kompas dengan judul ‘Delegitimasi Politik Citra’ (dapat dilihat dengan mengklik disini)

Teringat oleh sebuah pepatah Jawa, ojo nguyahi segoro. Jika aku yang belum 100% menentukan pasti akan memilih JK Wiranto saja sudah ada yang pasti akan menang mutlak 70%, maka bagaimana jika aku ikut anut grubyuk memilih mereka, jangan-jangan mereka akan menang mutlak 99%. Ih…ngeri, menurut pendapatku itu sangat takabur juga sombong dan arogan, di zaman orba saja pemilu tak sampai menang mutlaknya seperti itu, ini bisa melebihi kehebatannya Soeharto dalam membuat menang mutlak di pemilu, kata dalam hatiku.

Maka makin mantaplah diriku untuk memilih JK Wiranto, karena dengan begitu paling tidak bagi mereka yang merasa telah haqqul yakin akan menang mutlak di putaran pertama itu menjadi tak akan mutlak-mutlak banget kemenangannya, begitu nawaituku. Pertimbanganku pun sederhana, walau suaraku hanya bernilai satu namun jika dikumpul-kumpulkan dengan mereka yang juga tidak ingin nguyahi segoro maka lumayan juga untuk mengimbangi mereka yang merasa telah pasti mustahil untuk dikalahkan itu.

Setelah aku makin banyak membaca di Kompasiana juga di blognya JK, aku makin mengerti akan arti pentingnya figur pemimpin yang lebih cepat lebih baik untuk kemandirian ekonomi bangsanya dan pengasurtamaan produksi dalam negeri serta bebas dari tekanan intervensi dari Negara Asing.

Ah, walaupun aku bukanlah seorang pakar ekonomi, apalagi tentu aku bukan kelasnya jika dibandingkan dengan kepintarannya seorang dosen ekonomi UI misalnya, tapi aku merasa bahwa aku boleh punya keyakinan bahwa paham Neoliberalisme memang ada, dan memang ada ekonom yang berpaham seperti itu sehingga berwatak lebih mengabdi kepada kepentinga Negara Asing, seperti dituliskan Perkins dalam bukunya EHM, sang preman ekonom yang berwatak ekonom penjajah, begitu kata sebuah artikel menuliskannya.

Maafkan aku yang bukan pakar ekonomi tapi kok merasa sreg dengan pemikiran seperti yang dituliskan di artikel itu, walau aku tak mampu menjelaskannya, mengapa kenapa dan bagaimana. Sama seperti tak fahamnya aku apa itu Mafia Berkeley, kok seperti sebutan geng penjahat ‘mafioso’ yang sering kulihat di film-film Hollywood itu. Namun aku merasa itu sebenarnya ada nyatanya.

Tapi aku merasa yakin bahwa pemimpin tidak boleh menipu rakyatnya, tidak boleh membohongi rakyatnya, dia harus tampil apa adanya, satu kata satu perbuatannya. Aku merasa JK yang memakai sepatu produk Cibaduyut telah menunjukkan hal itu, inspirator dan motivator serta pelopor pengasurtamaan produksi dalam negeri. Begitu juga isterinya, tentunya jilbab yang dikenakannya bukan buatan Amerika Serikat, mungkin dari produk tasikmalaya, aku mencoba menebaknya.

Aku pun merasa sreg dengan Wiranto, yang setahuku tak menggebu ambisi berkuasanya. Karena katanya di zaman tahu 1998 jika Wiranto gila kuasa maka bisa saja mengambil alih kekuasaan negara. Tapi toh nyatanya itu tak dilakukannya. Bahkan mendirikan partai politik pun baru dilakukannya di tahun 2009 ini.

Jadi itulah alasan sederhanaku mengapa aku akan memilih JK Wiranto di Pilpres tanggal 8 Juli nantinya.

Aku tak mau nguyahi segoro, walau suaraku hanya bernilai satu, namun katanya tugu monas yang menjulang tinggi itupun juga dibangun dari kumpulan butiran pasir yang kecil-kecil, maka jika suaraku yang hanya bernilai satu ini dikumpulkan dengan banyak saudaraku lainnya yang juga tak ingin nguyahi segoro, hasilnya sangat bisa jadi akan mampu membuat perubahan bagi negeri ini, menjadi mandiri dan menyongsong hari esok dengan lebih baik.

Maafkan aku yang mempunyai pilihan berbeda dengan yang lainnya, apakah di negeri ini masih boleh untuk berbeda ?, atau harus diseragamkan dengan hasil survey itu ?.

Semoga suaraku yang walau hanya bernilai satu tak sia-sia, karena itu aku sangat berharap Pilpres akan dapat tetap Luber dan Jurdil.

Aku percaya dan haqqul yakin bahwa segala sesuatu yang mendatangkan barokah-Nya itu pasti karena mendapatkan izin-Nya juga ridho-Nya. Kemenangan yang didapatkannya dengan dinodai kecurangan itu pasti terjadi karena mendapatkan izin-Nya namun tidak mendapatkan ridho-Nya. Sesuatu yang tidak diridhoi-Nya hanya akan menantang murka-Nya dan azab-Nya, sehingga bisa mengundang datangnya bala bencana dan musibah serta duka yang akan beruntun dan silih berganti menerpa negeri ini. Tentunya itu tidak dikehendaki oleh bangsa ini.

Sehingga walaupun aku hanya rakyat jelata yang bukan jelita, izinkan aku turut berdoa kepada-Nya dan juga berharap agar KPU mampu melaksanakan Pilpres dengan Luber dan menjaganya agar tetap Jurdil.

Wallahualambishshawab.

http://public.kompasiana.com/2009/06/17/alasan-sederhana-mengapa-aku-pilih-jk-wiranto/

Iklan

Satu Tanggapan

  1. setuju banget bung … kalow gua, sby + budiono, ini si lamban ketemu neolib, lima taon lagi bisa bisa vietnam laos atau timor leste diatas indonesia.
    jk+wiranto, cepat ketemu tegas ya cuocok dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: