Saatnya Indonesia kembali ke Demokrasi Terpimpin

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Indonesia
OJ – Amerika

Zeverina yang baik, perkenankanlah saya menulis ini …..

Kepada Yth,

Para calon Presiden Indonesia,

Menjelang pemilihan presiden di Indonesia bulan Juli nanti, kita semua tentu sudah bersiap siap untuk memilih sang idola untuk menjadi Presiden.

Seandai nya anda seorang Soekarnois maka dapat di pastikan anda akan memilih ibu Megawati. Dan juga apabila anda menyukai lelucon lelucon konyol yang cukup memberi hiburan maka anda akan memilih Yusuf Kalla.

Namun, jika anda merindukan Indonesia di bawah pemerintahan Suharto, anda tentu akan memilih Prabowo Subianto.

Lalu jika anda ingin tetap memiliki presiden yang tidak berani untuk bertindak tegas, mudah dibohongi,tidak memiliki kapasitas baik dalam wawasan maupun dalam kewibawaan dalam pemerintahan, maka – anda jelas akan mempertahankan SBY.

Berhadapan dengan pilihan idola idola yang menyedihkan seperti saat ini, saya OJ sebagai seorang Indonesia yang saat ini sedang bermukim di Amerika, datang berkunjung untuk menyampaikan beberapa sari pemikiran.

Rindu Suharto, adalah point dari pada tulisan ini. Maka ada baiknya jika tulisan ini di cermati sebagai sebuah rasa sayang dan peduli seorang Indonesia yang pernah mengecap dan merasakan seluruh glora glori nya di jaman pemerintahan Suharto.

Ini lah yang saya rasa sebagai plot pemerintahan yang paling pas untuk selalu di terapkan di Indonesia pada saat ini.

Jika setelah hampir lebih dari 10 tahun gelora reformasi tidak juga kunjung di mulai dan juga malah ber akibat buruk, maka apakah tidak ada baiknya jika kita berbalik dan melihat sisi baik nya dari Suharto? atau plot pemerintahan cara Suharto (lebih tepat nya?).

Jaman Suharto, ada korupsi iya, tapi masih memperhatikan rakyat, rakyat hidup tidak seperti sekarang ini. Lalu jika saja ada yang bertanya, tapi demokrasi di matikan, rakyat tidak berani bicara apa apa ?.

Itulah kebohongan yang paling saya benci, mereka selalu saja menggunakan kata rakyat, jika ada yang mengatakan rakyat tidak bisa berkata kata apa apa, semuanya sudah di berangus oleh Suharto, lalu rakyat yang mana ?.

Rakyat atau orang seperti saya dan juga teman teman saya yang sebagian besar para pelaku usaha tidak akan peduli akan hal hal yang seperti itu, yang penting, cari uang mudah, hidup tenang, aman tenteram, mau jalan jalan hingga subuh tidak ada apa apa, nilai pertumbuhan ekonomi selalu di atas 5% (malah pernah hingga 2 digit), di segani oleh negara negara tetangga (dulu mana berani Malaysia bertingkah laku seperti sekarang) dan yang paling penting nilai dollar terhadap rupiah, murah. Waktu itu kita adalah raja di negeri orang.

Pokok permasalahan di negeri Indonesia pada era Suharto bukan hanya korupsi. Korupsi setelah era Suharto malah makin meraja rela dan makin berani, karena (maaf) presiden presiden nya ternyata lebih rakus dari pada Suharto inilah inti permasalahan nya.

Dan disamping itu semua, demokrasi ala reformasi sudah menjadi demokrasi yang ke “bablasan”. Rakyat Indonesia masih belum bisa dan siap di beri demokrasi seperti pada saat ini. Alhasil semuanya mau bicara, semua mau mengatur dan semua merasa paling benar.

Untuk saat ini yang paling benar adalah dengan demokrasi terpimpin. Tidak bisa demokrasi seperti saat ini. Belum juga apa apa, presiden juga baru sehari – dua hari terpilih, lalu sudah di obok obok, lalu jika si presiden terpilih merasa kertakutan akan kursi nya yang baru saja di duduki nya, maka konsentrasi nya bukan lagi kepada bagaimana menjalankan program program yang dulu telah di kampanyekan nya akan tetapi presiden malah menjadi repot dengan bagaimana cara untuk mempertahankan kursi kepresidean nya minimal untuk waktu 5 tahun. Dan jika sudah begitu, lalu sang presiden juga berpikir, ach kenapa tidak saya keruk saja semua nya selagi saya masih bisa karena sayalah sang presiden. Inilah yang selalu terjadi di Indonesia.

Pemerintahan SBY adalah salah satu contoh nya, SBY selalu bertindak atas nama untuk ketenaran dan keharuman namanya agar rakyat bisa terus memilih nya lagi setelah 5 tahun kedepan.

Program reformasi birokrasi adalah salah satu program yang dijanjikan untuk dilaksanakan oleh SBY pada saat kampanye. Namun, lambat laun program ini hanya terdengar sayup-sayup hingga akhirnya padam dengan sendirinya sampai saat ini.
Ini membuktikan satu hal, yang merupakan ciri paling khas manajemen SBY, yaitu selalu muluk muluk dalam wacana, lemah pada kenyataan nya. Kita semua mengetahui bahwa birokrasi kita punya banyak masalah. Dan akhir dari semua itu adalah birokrasi yang korup, seperti yang terjadi sekarang ini.

Artinya, pembenahan birokrasi setidaknya harus memilki beberapa misi yaitu efisiensi pengelolaan negara, perbaikan kualitas layanan, serta pemberantasan korupsi. Semua itu adalah hal yang mendesak untuk dilaksanakan.

Sayangnya nyaris semua departemen dan lembaga non departemen tidak melaksanakan program reformasi. Ingat, reformasi bukan gagal, tapi tidak pernah dimulai. Bagi saya tiadanya minat SBY pada program reformasi birokrasi ini terutama disebabkan oleh beberapa hal yaitu ;

Tidak (mau) mampu.

Program pembenahan birokrasi adalah program yang butuh tenaga besar, konsentrasi besar, dan waktu yang lama. Model kepemimpinan SBY adalah model tabrak lari. Main tubruk, lalu kabur lagi ke masalah lain. Kita tidak pernah melihat SBY konsentrasi penuh pada satu hal sampai tuntas. Maka program reformasi yang akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga itu bukan prioritas nya.

Tidak Populer.

SBY dalam bertindak senantiasa memperhatikan pengaruh tindakan beliau pada citranya. Program pembenahan birokrasi tidak bisa menghasilkan citra positif secara instan. Karena itu bukan pilihan. Untuk good governance SBY sudah punya ikon, yaitu KPK. Dia mengandalkan sepak terjang KPK untuk menunjukkan bahwa dia sedang melakukan pembenahan. Padahal ini bukan pemberantasan korupsi akan tetapi MENGHUKUM PARA KORUPTOR. Lain permasalahan nya.

Tidak strategis dalam rangka membangun dukungan politik. Departemen umumnya dipimpin oleh menteri-menteri yang berasal dari berbagai partai politik. Pembagian jatah menteri ini dalah trik dagang kambing SBY untuk memperoleh dukungan partai-partai. Kompensasinya, tentu tidak sekedar jatah menteri. Partai yang diwakili menterinya juga punya jatah untuk menjadikan departemen sebagai lahan untuk menggali sumber dana dari berbagai proyek. Membenahi birokrasi berarti mengganggu sumber dana partai politik pendukung SBY, yang akan berakibat menurunnya dukungan. Suatu hal yang sangat tidak diinginkan SBY.

Kembali ke soal di atas, maka persoalan yang terpenting selain persoalan korupsi adalah masalah demokrasi. Kita semua haruslah belajar dari Suharto. Ia lah seorang politikus yang piawai. Kalau mau di katakan beliau seorang koruptor, maka presiden presiden setelah era Suharto tidak ada yang lebih baik dari Suharto dan malah makin buruk. Makin rakus …. inilah yang saat ini terjadi di Indonesia.

Indonesia semakin terpuruk setelah era reformasi, karena Indonesia masih belum siap untuk menjalani pure demokrasi ala Amerika (seperti di Amerika). Untuk Indonesia, model demokrasi yang paling tepat adalah demokrasi terpimpin.

Disamping itu semua, (kembali lagi ke soal korupsi), maka saya sangat setuju dengan pemikiran jika korupsi tidak bisa di berantas dalam waktu yang singkat. Yang ada adalah tekad dan contoh dari sang presiden terpilih, jadi yang terpenting adalah dari mental sang presiden yang terpilih. Harus ada revolusi total dalam memberantas korupsi.

Apakah sang calon presiden ini sudah kenyang dan sudah tidak mencari ke kayaan lagi, atau sang calon presiden ini sebetulnya orang yang sedang haus haus nya akan ke kayaan. Dan ini adalah yang paling berbahaya. Semuanya datang dari diri sang calon presiden itu sendiri.

Jika kita nanti kena sial lagi di tahun 2009, yaitu memperoleh presiden yang sedang rakus rakus nya akan harta ke kayaan, maka mati lah sudah kita. Sudah tidak bisa di apa apakan lagi. Jika sudah demikian mau apa?.

Suharto adalah yang terbaik hingga saat ini dan jujur saya katakan, bahwa banyak teman teman dan mungkin juga anda anda sekalian yang rindu akan Suharto. Banyak orang Indonesia yang menyesal akan adanya era reformasi.

Reformasi itu bukan untuk rakyat seperti yang selalu di dengung dengung kan selama ini akan tetapi hanya untuk segelintir orang yang lebih rakus dari Suharto yang mengatas namakan rakyat Indonesia.

Entah untuk yang keberapa kalinya jika saya katakan bahwa tahun 2009 adalah tahun yang paling riskan untuk siapa pun yang menjadi presiden terpilih.
Sang presiden terpilih haruslah bisa mengendalikan semua masalah masalah yang ada di dalam masyarakat yang sudah sangat memanas.

Semuanya tinggal menunggu waktu, mau di bawa ke mana Indonesia ?. Semuanya ada di tangan sang presiden terpilih.

God Bless Indonesia

Thanks be to Zeverina.

Salam sejahtera,

OJ
sumber : http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/2576

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: