Seru juga ya baca buku ini….

Luncurkan Buku, Sintong Mengaku Bukan untuk Politik Praktis
M. Rizal Maslan – detikNews

Jakarta – Mantan Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus) Letjen (Purn) Sintong Panjaitan meluncurkan buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.’ Sintong mengaku penulisan buku itu bukan untuk kepentingan politik praktis dan bukan untuk menyakiti seseorang, walau mengungkap peristiwa yang tidak pernah terbuka ke publik.

“Bukun ini berisi tentang pengalaman saya sejak tahun 1964. Buku ini bukan untuk menyakiti orang lain atau untuk kepentingan politik praktis atau popularitas. Saya menulis buku ini hanya untuk membuka kebenaran,” kata Sintong dalam sambutan peluncuran bukunya di Balai Sudirman, Jl Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2009) malam.

Sintong terkesan dengan beberapa tokoh yang berani menulis sebuah buku dalam mengungkap kebenaran suatu peristiwa yang belum pernah diungkap kebenarannya. Oleh sebab itu, dalam bukunya yang disusun sebuah tim penulis yang dipimpin oleh mantan wartawan senior TVRI yang biasa liputan perang, Hendro Soebroto ini, Sintong mengunkapkan buruknya KKN di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sebelum diubah menjadi TNI.

“Dalam kehidupan ABRI di tahun 1980-1990an, selain ada kolusi dan korupsi juga ada nepotisme atau KKN. Inilah yang merusak semua sistem yang ada. Nepotisme merusak tatanan sistem sehingga merusak dan menghambat tugas prajurit,” jelasnya.

Dalam bukunya yang terbagi dalam 13 bab setebal 520 halaman ini, Sintong menceritakan pengalamannya dalam berbagai tugas seperti operasi militer di Papua, Timtim, G30S/PKI, penumpasan gerombolan komunis di Kalbar, operasi antiteror di Woyla (Thailand), insiden Dili 1991, kasus penculikan aktivis, hingga kasus Mei 1999. Sintong mengaku membuat buku berkat dorongan sang istri, teman, dan para seniornya untuk mengungkap kebenaran suatu peristiwa yang hingga kini masih samar-samar. (zal/sho)

Buku Sintong Panjaitan
Hanya Tulis Fakta, Sintong Tak Berniat Pojokkan Siapapun
Muhammad Nur Hayid – detikNews

Jakarta – Buku Letjen (Purn) Sintong Panjaitan tidak dimaksudkan untuk memojokkan siapapun. Sintong mengaku hanya membeberkan fakta yang sudah diketahui banyak orang.

“Saya tidak membuat kritik. Saya buat sejarah saja. Saya ingin bahwa buku ini dibaca dengan hati nurani, karena dalam buku ini jelas sekali. Tidak ada ‘katanya,’ karena ada suatu dialog jadi tidak ada yang direkayasa,” ujar Sintong.

Hal itu dia ungkapkan seusai peluncuran bukunya yang berjudul ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2009).

Sintong membenarkan jika dia meminta mantan Panglima Kostrad Letjen (Purn) Prabowo dan mantan Menteri Hankam/Panglima ABRI Wiranto bertanggung jawab atas tragedi Mei 1998 seperti yang ditulis dalam bukunya. Menurutnya, sebagai pemimpin keduanya harus siap bertanggung jawab kecuali mereka tidak merasa sebagai pemimpin.

“Seorang pemimpin harus bisa bertanggung jawab, apakah sekarang, nanti, atau besok. Tapi tanggung jawab itu ada kalau (mereka) pemimpin, kalau bukan pemimpin ya nggak usah,” ucapnya.

Sintong menegaskan, buku itu tidak diniatkan untuk memojokkan siapapun. Dia hanya menulis fakta apa adanya sebagaimana sudah diketahui oleh semua orang.

“Nggak ada fakta baru. Semua orang sudah tahu. (Hubungan saya dengan Wiranto dan Prabowo) baik, tidak ada masalah,” paparnya.

Lebih jauh Sintong meminta kepada pembaca agar bukunya dibaca menggunakan hati nurani. Karena kata dia, buku tersebut dibuat berdasarkan fakta yang dia pahami tanpa adanya rekayasa.

Dalam halaman 36 buku tersebut, Sintong mengatakan bahwa Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Hankam/Panglima ABRI telah gagal menangani pengamanan peristiwa 21 Mei 1998. Kegagalan itu merupakan blunder terburuk dalam sejarah ABRI sejak tahun 1945.

Sedangkan dalam halaman 34 dia mengungkapkan keheranannya mengapa tiada seorang pun dari para perwira tinggi ABRI yang mengambil tindakan pengamanan dalam peristiwa Mei 98 tersebut. Padahal waktu itu 90 persen kekuatan Kostrad di bawah komanda Letjen Prabowo Subianto berada di Jakarta.

“Tentara ada di mana-mana dan dapat digerakkan ke mana pun diperlukan. Tetapi mereka tidak mendapat perintah,” demikian bunyi paragraf pertama pada halaman 35 buku setebal 520 halaman tersebut. (mei/sho)

Buku Sintong Panjaitan
Gagalkan Penculikan Jenderal, Luhut Layak Dapat Bintang
Nurul Hidayati – detikNews

Jakarta – Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, Luhut Pandjaitan layak dapat bintang. Sebab Luhut adalah perwira yang menggagalkan upaya penculikan para jenderal yang hendak dilakukan Kapten Prabowo Subianto pada Maret 1983, sebagai upaya counter coup.

Kala itu, Mayor Luhut Pandjaitan adalah Komandan Den 81/Antiteror, sedangkan Prabowo adalah wakil Luhut dengan pangkat kapten. Suatu pagi, Luhut datang ke markasnya di Cijantung dan kaget karena pasukan dalam keadaan siaga. Ternyata pasukan siaga atas perintah Prabowo yang mendengar LB Moerdani akan melakukan kudeta. Luhut lalu membubarkan pasukan dan menegaskan tak ada kudeta.

Dalam buku Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, disebutkan, seandainya Luhut terlambat datang ke Mako Den 81/Antiteror pada pagi hari itu, dapat dipastikan penculikan para perwira tinggi ABRI terlaksana.

Seandainya rencana penculikan itu berhasil dilakukan, hal itu berpeluang membatalkan pelaksaan Sidang Umum MPR.

“Sebenarnya Luhut pantas mendapat ‘bintang’ karena dia telah berhasil menggagalkan rencana penculikan para perwira tinggi ABRI yang berdampak nasional,” komentar Sintong di halaman 463.

Namun faktanya karier Luhut mentok. Zaman Soeharto dia hanya sampai letnan jenderal dan tak pernah menjabat panglima. Baru setelah Soeharto lengser, Luhut mendapat anugerah bintang menjadi jenderal dan diangkat sebagai Dubes Singapura lalu Menperindag era Presiden Gus Dur.

Dalam buku itu tertulis bahwa Luhut juga sempat dituduh hendak melakukan kudeta pada Soeharto sehubungan dengan pembangunan proyek intelijen teknik Den 81. “Matilah aku…Waduh! Jadi rempeyeklah aku,” kelakar Luhut.

Luhut juga dituduh sebagau anak emas Benny Moerdani sehingga lantas disingkirkan. Luhut dilaporkan macam-macam kepada Soeharto sehingga ia menjadi pemegang kartu mati.

Buku Sintong Panjaitan
Prabowo, Counter Coup 1983 dan ‘Mengambil’ Para Jenderal
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Gosip kup 1965 dan 1998 sudah jadi rahasia umum. Tapi kup 1983? Kisah anyar inilah yang dituangkan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.

Sintong menuturkan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d’etat itu adalah Prabowo berencana ‘mengambil’ sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

“Di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono,” tutur Sintong dalam bukunya yang dia luncurkan Rabu (11/3/2009) malam.

Seperti dituturkan dalam halaman 445, saat itu Maret 1983, pasukan khusus Den 81/Antiteror telah bersiap namun segera dicegah Mayor Luhut Pandjaitan, komandan satuan tersebut.

“Enggak ada itu (kup). Sekarang kalian semua kembali siaga ke dalam. Tidak ada seorang pun anggota Den 81 yang keluar dari pintu tanpa perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan,” tutur Sintong menirukan Luhut kepada pasukannya.

Luhut sempat berbincang dengan Prabowo mengenai asal muasal datangnya kabar kup tersebut. Dalam percakapan keduanya, terekam bila Prabowo menyangka LB Moerdani telah memasukkan senjata dari luar untuk melaksanakan coup d’etat.

“Memang benar LB Moerdani memasukkan senjata. Tetapi senjata itu merupakan senjata dagangan yang disalurkan kepada para pejuang Mujahiddin Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Di antara senjata itu adalah serbu AK-47 dan senapan laras panjang SKS serta senjata antitanks buatan Prancis yang dibeli dari Taiwan,” tutur Sintong seperti yang diungkapkan Luhut.

Operasi intelijen LB Moerdani dilakukan dalam mencari dana dan memberi peran Indonesia dalam perjuangan di Asia. “Jadi Pak Benny memainkan peranan itu. But it is nothing to do with coup d’etat,” tutur Sintong.

Perdebatan sempat terjadi antara Luhut dan Prabowo, dan kemudian terpapar rencana selain mengamankan perwira tinggi ABRi, juga membawa Soeharto ke markas Den/81 Antiteror ke Cinjantung.

“Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan mayor,” tutur Prabowo kala itu.

“Kalau kata-kata itu dijabarkan, maka seorang Kapten Prabowo Subianto bertindak sebagai peran utama, sedangkan Mayor Luhut sebagai pemeran pendukung,” jelas Sintong. (ndr/nrl)

Counter Coup Prabowo Mirip Rekayasa Letkol Untung
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Rencana counter coup d’etat Prabowo pada Maret 1983, dinilai Letjen Purn Sintong Panjaitan, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Letkol Untung pada 1965.

Untung adalah orang yang berpengaruh di Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Kala itu Untung menyebut ada rencana kup dari Dewan Jenderal. Dia lalu melakukan counter coup dengan menculik para petinggi Angkatan Darat.

“Peristiwa Maret 1983 merupakan suatu rekayasa yang mirip dengan rekayasa counter coup yang dilakukan Letkol Untung,” tutur Sintong dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.

Mayor Luhut dan Kapten Prabowo lantas melaporkan isu kup yang dilakukan Asintel Hankam Letjen LB Moerdani itu ke Wakil Komandan Jenderal Kopassandha (sekarang Kopassus) Brigjen Jasmin.

Jasmin malah memberi cuti Prabowo 2 minggu karena menilai Prabowo stres.

Tidak lama kemudian Luhut menghadap ayahanda Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo, memberitahukan soal cuti bagi Prabowo.

“Prabowo agak stres karena situasi yang terjadi di Cijantung dan Prof Soemitro dapat memahaminya,” tutur Luhut kepada Sintong.

Hingga kemudian Prabowo disekolahkan di Jerman Barat. Sementara itu LB Moerdani yang mengetahui kejadian ini tidak berbicara banyak. (ndr/nrl)

Buku Sintong Panjaitan
Prabowo Berubah karena Dekat dengan Soeharto
Nurul Hidayati – detikNews

Jakarta – Wakil Danjen Kopassandha (kini Kopassus) Brigjen M Jasmin adalah salah satu orang yang dilapori Kapten Prabowo tentang rencana kudeta Letjen LB Moerdani pada Maret 1983. Jasmin tidak percaya mendengar penjelasan Prabowo.

“Prabowo pun marah-marah,” tulis Letjen Purn Sintong Panjaitan dalam bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komandan” di halaman 455.

Saat itu Prabowo menghadap Jasmin didampingi atasannya, Mayor Luhut Pandjaitan. “It must be something wrong with him,” pikir Luhut kala itu.

Setelah Luhut dan Prabowo keluar dari ruangan, Jasmin memanggil Luhut kembali. “Hut, untung kamu ada di sini. Ada apa dengan Prabowo? Kayaknya dia sedang stres berat,” ucap Jasmin.

Setelah menghadap Jasmin, Prabowo dan Luhut kembali ke markas mereka yaitu Den 81/Antiteror di Cijantung. Prabowo bilang bahwa di Den 81 tidak boleh ada dua matahari.

“Di Den 81 hanya saya yang menjadi matahari. Saya komandan. Kamu wakil saya,” tegas Luhut. Luhut menyatakan kekecewaannya pada Prabowo yang pernah menyiagakan pasukan Den 81 untuk melakukan counter coup tanpa sepengetahuannya

“Kamu minta saya mengambil Soeharto ke sini. Itu melakukan by pass garis komando berapa jauh?” sambung Luhut.

Sejak saat itulah hubungan keduanya menjadi retak.

Suatu ketika Jasmin berjumpa dengan Sintong. Jasmin bertanya apakah dia mendengar kasus Prabowo. “Prabowo sudah lain sekarang, karena ia dekat dengan Soeharto,” ujar Jasmin.

Jasmin juga mengungkapkan bahwa rumahnya diintai oleh Prabowo. “Bahkan Prabowo sampai melompati pagar rumah saya,” tambah Jasmin. Jasmin kecewa karena kesetiaannya pada negara dipertanyakan.

“Saya sudah menderita sejak Perjuangan Kemerdekaan 1945 tetapi Prabowo menuduh saya kurang setia pada negara dan bangsa sambil menuding-nudingkan telunjuk jarinya ke arah wajah saya. Luhut juga ada di situ. Malahan Luhut yang menurunkan tangan Prabowo yang menuding-nuding ke wajah saya,” cerita Jasmin yang jadi marah dan sakit hati.

Sintong juga tak habis pikir mengapa Prabowo, seorang perwira Kopassandha yang semula penuh disiplin dan dedikasi, tiba-tiba berani bertindak demikian terhadap Wadan Kopassandha. “Apakah Prabowo berani bertindak demikian, seandainya ia bukan menantu Presiden Soeharto?” tanya Sintong.

Cerita Jasmin dikuatkan oleh Marsekal Muda TNI Teddy Rusdi yang menjabat Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI. Dia mengatakan, rumahnya juga diintai oleh Prabowo. Pengintaian itu karena disangka di rumahnya sedang dilakukan persiapan gerakan kudeta oleh Moerdani.

Teddy sendiri tidak percaya Moerdani akan kudeta. “Apa Pak Benny orang gila, kok beliau akan melakukan coup d’etat?” ujarnya.

Sejak itu hubungan Sintong dan Prabowo sudah berubah dan terasa asing.

Buku Sintong Panjaitan
Prabowo, Counter Coup 1983 dan ‘Mengambil’ Para Jenderal
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Gosip kup 1965 dan 1998 sudah jadi rahasia umum. Tapi kup 1983? Kisah anyar inilah yang dituangkan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.

Sintong menuturkan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d’etat itu adalah Prabowo berencana ‘mengambil’ sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

“Di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono,” tutur Sintong dalam bukunya yang dia luncurkan Rabu (11/3/2009) malam.

Seperti dituturkan dalam halaman 445, saat itu Maret 1983, pasukan khusus Den 81/Antiteror telah bersiap namun segera dicegah Mayor Luhut Pandjaitan, komandan satuan tersebut.

“Enggak ada itu (kup). Sekarang kalian semua kembali siaga ke dalam. Tidak ada seorang pun anggota Den 81 yang keluar dari pintu tanpa perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan,” tutur Sintong menirukan Luhut kepada pasukannya.

Luhut sempat berbincang dengan Prabowo mengenai asal muasal datangnya kabar kup tersebut. Dalam percakapan keduanya, terekam bila Prabowo menyangka LB Moerdani telah memasukkan senjata dari luar untuk melaksanakan coup d’etat.

“Memang benar LB Moerdani memasukkan senjata. Tetapi senjata itu merupakan senjata dagangan yang disalurkan kepada para pejuang Mujahiddin Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Di antara senjata itu adalah serbu AK-47 dan senapan laras panjang SKS serta senjata antitanks buatan Prancis yang dibeli dari Taiwan,” tutur Sintong seperti yang diungkapkan Luhut.

Operasi intelijen LB Moerdani dilakukan dalam mencari dana dan memberi peran Indonesia dalam perjuangan di Asia. “Jadi Pak Benny memainkan peranan itu. But it is nothing to do with coup d’etat,” tutur Sintong.

Perdebatan sempat terjadi antara Luhut dan Prabowo, dan kemudian terpapar rencana selain mengamankan perwira tinggi ABRi, juga membawa Soeharto ke markas Den/81 Antiteror ke Cinjantung.

“Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan mayor,” tutur Prabowo kala itu.

“Kalau kata-kata itu dijabarkan, maka seorang Kapten Prabowo Subianto bertindak sebagai peran utama, sedangkan Mayor Luhut sebagai pemeran pendukung,” jelas Sintong. (ndr/nrl)

Buku Sintong Panjaitan
Senjata Prabowo Dilucuti Saat Bertemu Habibie
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto bergegas. Bersama 12 pengawalnya dia tiba di Istana Presiden, untuk menemui BJ Habibie yang baru saja menerima tampuk kekuasaan dari Soeharto.

“Pada waktu Prabowo masuk, para petugas agak tegang,” tutur Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ yang dia luncurkan di Balai Sudirman, Jl Sahardjo, Jakarta, Rabu (11/3/2009) malam.

Saat itu 22 Mei 1998, sehari setelah Soeharto mengundurkan diri. Habibie mengeluarkan keputusan mencopot Prabowo dari jabatannya. Hal itulah yang membuat Prabowo buru-buru ke Istana.

Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4.

Namun Sintong, yang saat itu menjabat sebagai penasihat bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) Presiden Habibie, mendapat laporan dari ajudan bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.

“Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap,” jelas Sintong.

Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.

Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.

Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan.

“Lihat ke sana kau kenal Prabowo. Kau ambil senjata Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat,” perintah Sintong kepada seorang anggota pasukan pengawal kepresidenan.

Selain itu, Sintong juga telah menyiagakan anggota berpakaian preman bersenjata lengkap di lantai 4. “Untuk menurunkan Prabowo dengan paksa ke lantai dasar, seandainya ia menolak menyerahkan senjatanya,” jelas Sintong.

Petugas berpakaian preman yang ditugaskan mengambil senjata dari Prabowo itu pun lantas Prabowo dan terlibat pembicaraan singkat.

“Prabowo membuka kopelrim yang tertambat pistol, magasen, peluru, dan sebilah pisau rimba khas Kostrad,” tutur Sintong.

Melihat kejadian itu, Sintong merasa bersyukur di dalam hati. “Aduh terimakasih Prabowo, begitulah seharusnya tentara bersikap. Menaati peraturan,” jelas Sintong.

Akhirnya Prabowo bertemu Habibie empat mata. Hingga setelah beberapa jam kemudian Sintong mengingatkan Prabowo untuk mengakhiri pertemuan.

Soal pergantian jabatan Prabowo itu Sintong menulis hal itu sepenuhnya kewenangan Habibie dan dia tidak ikut terlibat dalam prosesnya.

Sintong juga menyebut, Habibie sempat khawatir terjadi sesatu akibat pergantian itu, namun Sintong meyakinkan bila semuanya akan berjalan normal. (ndr/nrl)

Buku Sintong Panjaitan
Kasus Penculikan Aktivis 1997-1998, Kenapa TNI Hukum Prajuritnya?
M. Rizal Maslan – detikNews

Jakarta – Siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus penculikan aktivis prodemokrasi era 1997-1998 silam, mungkin bagi keluarga korban penculikan sedikit terkuak. Mantan Pangdam Udayana Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” mengakui prajurit TNI sangat profesional dan taat perintah atasan.

Buku ini diluncurkan di Balai Sudirman, Jl Saharjo, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2009). Dalam bukunya yang setebal 520 halaman, khususnya di bab 13 tentang Peristiwa Maret 1983 di Mako Kopassandha dan Penculikan Aktivis pada Mei 1998, halaman 466, Sintong sedikit mengulas kasus yang saat ini masih diselidiki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu. Bahkan dalam buku yang disusun wartawan perang senior Hendro Soebroto ini, Sintong diacungi jempol sejumlah kalangan.

Misalnya dalam sambutannya, Menhan Juwono Sudarsono menuliskan, buku yang merupakan pengalaman dan pandangan Sintong sekitar peristiwa Mei 1998 ini akan memperkaya khasanah riset tentang perubahan politik di Indonesia saat itu. Pengamat militer, wartawan senior, dan mantan militer menilai buku ini adalah memoar purnawirawan TNI yang sangat jarang dibuat.

Selain itu buku tersebut juga bisa menjadi pustaka yang bisa menjawab teka-teki yang agak terang tentang misteri yang terjadi di kalangan TNI, seperti segitiga BJ Habibie-Wiranto-Prabowo, kasus penculikan aktivis prodemokrasi, dan seputar lengsernya Soeharto. Sintong merasakan peristiwa itu (kasus penculikan) merupakan pengalaman terpahit dalam sejarah TNI.

Sintong berharap, kasus serupa jangan terulang kembali. Kasus ini menurutnya harus yang pertama dan terakhir dalam sejarah kelam Korps Baret Merah itu. “Jangan sampai anak buah kita sendiri yang melaksanakan atasan secara legal diadili,” tulisnya mewanti-wanti.

Sintong sangat terpukul atas kasus penculikan yang terungkap di era Presiden Habibie itu. Sebab dialah yang paling tahu dan paham tentang anggota Detasemen 81/Anti Teror atau Tim Mawar yang merupakan pasukan andalan di Kopassus.

“Mereka dipilih dari pasukan infanteri terbaik untuk dididik dan dilatih menjadi Kopassus, di antaranya dipilih masuk Den 81/Anti Teror. Ternyata dalam melaksanakan tugas demi kesetiaan kepada negara dan bangasa, mereka harus masuk penjara,” ungkapnya kecewa.

Padahal, lanjut Sintong dalam bukunya itu, para prajurit yang diadili itu secara taktis dan teknis tidak melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugasnya. “Mereka hanya sebagai prajurit yang melaksanakan perintah atasan secara profesional. Mengapa TNI harus menghukum mereka?” tanyanya.

Sintong secara panjang lebar menjelaskan tentang dua macam tugas dalam organisasi militer, yaitu tugas perintah langsung dari atasan ke bawah dan tugas atas inisiatif sendiri. Memang dalam mengambil inisiatif sendiri, seorang prajurit di bawah ketika akan melakukan dan setelah melakukan tugas inisiatifnya harus segera meminta izin atau melaporkan ke pimpinannya.

“Dalam hal ini Prabowo (mantan Danjen Kopassus Letjen (Purn) Prabowo Soebianto) harus melaporkan kegiatan itu kepada Panglima ABRI,” katanya. Baru setelah tugas itu dilaporkan, berarti pimpinannya yang mengambilalih tanggung jawab tersebut.

Namun, ternyata operasi penculikan itu tidak pernah dilaporkan Prabowo kepada KSAD yang saat itu dijabat Jenderal TNI Wiranto dan Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Hal ini juga telah diakui Prabowo dalam sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang diketuai mantan KSAD Jenderal (Purn) Subayio HS, wakilnya mantan KASUM ABRI Letjen (Purn) Fachrul Razi, Irjen Dephankam Letjen (Purn) Yusuf Kartanegara. Anggota DKP di antaranya Kassospol yaitu SBY yang saat ini menjadi Presiden RI, Agum Gumelar (Gubernur Lemhanas), Djamari Chaniago (Pangkostrad) dan Achmad Sutjipto (Danjen AKABRI).

Diungkapkan Sintong, menjelang Pemilu 1997 dan Sidang Umum 1998, Danjen Kopassus yang saat itu dijabat Prabowo Soebianto menilai perlu ada langkah preventif terhadap kegiatan radikal. Prabowo memberikan perintah lisan kepada Komandan Karsayudha 42/Sandiyudha, Mayor Bambang Kristiono sebagai Komandsan Satgas Merpati untuk mengumpulkan data kegiatan kelompok radikal yang akan menggangu stabilitas nasional.

Atas perintah lisan itu, Bambang Kristino membentuk Tim Mawar yang berjumlah 10 orang perwira dan bintara dari Den 81/Anti Teror dengan tugas secara rahasia dengan metode hitam atau undercover (samaran). Setelah adanya kasus peledakan di rumah susun Tanah Tinggi, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Tim Mawar ini lebih meningkatkan kinerjanya.

Setelah melakukan pengumpulan data intelijen siapa pelaku kasus peledakan itu dan khawatir adanya peningkatan kegiatan kelompok radikal lalu diadakan
penangkapan-penangkapan. Penangkapan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan bahwa pelaku belum berkeluarga, jenis kelamin pria yang belum terkenal tapi memiliki intesitas kegiatan yang menonjol, tugas sendiri dilakukan dalam suasana tertib sipil.

Menurut Sintong, secara organisai Prabowo memang tidak memiliki wewenang operasional, tapi secara moral hal itu dilakukannya atas pertimbangan menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman. Dalam lingkungan ABRI (TNI) sering terjadi tindakan spontan untuk menyelamatkan negara dan bangsa, itupun jika ada ancaman nyata.

Namun, pelaksananya harus dilakukan secara hirarki sesuai prosedur militer yang berlaku. “Jika tidak demikian, hal itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari,” jelas Sintong.

Sayangnya, dalam buku ini Sintong tidak menjelaskan tentang motif kenapa Prabowo bisa melakukan tindakan insiatif tersebut, apakah semata-mata untuk
menyelamatkan bangsa dan negara atau memang atas perintah atasannya lagi? Seperti kita ketahui dalam sidang Mahkamah Militer, Bambang Kristiono dihukum 10 bulan penjara dan dipecat. Empat perwira juga dihukum satu tahun penjara dan dipecat, sedangkan tiga perwira dan tiga bintara lainnya dihukum satu tahun penjara.

(zal/sho)

Tanggapi Sintong
Wiranto: Menyalahkan Memang Paling Mudah
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Mantan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Purn Wiranto dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam insiden kerusuhan Mei 1998. Hal itu tertuang dalam buku mantan penasihat Presiden Habibie dalam bidang pertahanan keamananan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan.

Tapi Wiranto tegas-tegas membantah tuduhan itu. “Menyalahkan memang paling mudah,” ujar Wiranto pada detikcom, Kamis (12/3/2009).

Dalam buku berjudul ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ di halaman 36, Sintong menulis Jenderal TNI Wiranto harus memikul tanggung jawab atas kegagalan penanganan peristiwa Mei 1998. Kegagalan itu merupakan blunder terburuk dalam sejarah ABRI sejak 1945.

“Yang jelas kalau saya diamkan Indonesia sudah hancur lebur, dan mungkin demokrasi tidak seperti sekarang ini,” bela Wiranto.

Capres Hanura ini juga menegaskan saat itu kerusuhan massal dapat dipadamkan hanya dalam tempo 2 hari dengan penanganan yang tepat.

“Dengan mendatangkan pasukan dari Jawa Timur, itu yang seharusnya diapresiasi,” tutupnya.

Buku Sintong Panjaitan
Prabowo, Counter Coup 1983 dan ‘Mengambil’ Para Jenderal
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Gosip kup 1965 dan 1998 sudah jadi rahasia umum. Tapi kup 1983? Kisah anyar inilah yang dituangkan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.

Sintong menuturkan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d’etat itu adalah Prabowo berencana ‘mengambil’ sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

“Di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono,” tutur Sintong dalam bukunya yang dia luncurkan Rabu (11/3/2009) malam.

Seperti dituturkan dalam halaman 445, saat itu Maret 1983, pasukan khusus Den 81/Antiteror telah bersiap namun segera dicegah Mayor Luhut Pandjaitan, komandan satuan tersebut.

“Enggak ada itu (kup). Sekarang kalian semua kembali siaga ke dalam. Tidak ada seorang pun anggota Den 81 yang keluar dari pintu tanpa perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan,” tutur Sintong menirukan Luhut kepada pasukannya.

Luhut sempat berbincang dengan Prabowo mengenai asal muasal datangnya kabar kup tersebut. Dalam percakapan keduanya, terekam bila Prabowo menyangka LB Moerdani telah memasukkan senjata dari luar untuk melaksanakan coup d’etat.

“Memang benar LB Moerdani memasukkan senjata. Tetapi senjata itu merupakan senjata dagangan yang disalurkan kepada para pejuang Mujahiddin Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Di antara senjata itu adalah serbu AK-47 dan senapan laras panjang SKS serta senjata antitanks buatan Prancis yang dibeli dari Taiwan,” tutur Sintong seperti yang diungkapkan Luhut.

Operasi intelijen LB Moerdani dilakukan dalam mencari dana dan memberi peran Indonesia dalam perjuangan di Asia. “Jadi Pak Benny memainkan peranan itu. But it is nothing to do with coup d’etat,” tutur Sintong.

Perdebatan sempat terjadi antara Luhut dan Prabowo, dan kemudian terpapar rencana selain mengamankan perwira tinggi ABRi, juga membawa Soeharto ke markas Den/81 Antiteror ke Cinjantung.

“Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan mayor,” tutur Prabowo kala itu.

“Kalau kata-kata itu dijabarkan, maka seorang Kapten Prabowo Subianto bertindak sebagai peran utama, sedangkan Mayor Luhut sebagai pemeran pendukung,” jelas Sintong. (ndr/nrl)

Jakarta – Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Panglima Kostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto harus bertanggung jawab atas kerusuhan Mei 1998. Demikian komentar mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman setelah membaca buku Letjen (Purn) Sintong Panjaitan yang berjudul ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ .

“Wiranto harus bertanggungjawab atas kerusuhan Mei karena tidak dilaksanakannya perintah presiden untuk pemulihan keamanan dan Prabowo bertanggungjawab atas kasus penculikan,” kata Marzuki usai bedah buku Sintong di Balai Sudirman, Jl Dr Saharjo, Jakarta, Rabu (11/3/2009).

Marzuki menilai, buku ini sangat berarti untuk meluruskan problematika kekuasaan ke depan. Menurut dia, keputusan Wiranto yang menolak perintah presiden tersebut memunculkan pertanyaan, yakni apakah hal itu bisa dikategorikan membuka demokrasi atau merupakan jenis pelanggaran serius di tubuh TNI.

“Biarkan pertanyaan berkembang dan biar politik yang menyelesaikan mereka,” tambahnya.

Apakah peluncuran buku ini disinyalir untuk menjegal Wiranto dan Prabowo? “Itu teori konspirasi yang menandakan adanya kemalasan berpikir saja. Buku ini merupakan sumbangan yang berarti bagi sejarah Indonesia,” cetus Marzuki.

Dalam buku setebal 520 halaman yang ditulis wartawan senior Hendro Soebroto tersebut, Sintong menuturkan Wiranto boleh menolak perintah Panglima Tertinggi. Namun seharusnya Wiranto mengundurkan diri selambat-lambatnya dalam jangka waktu delapan hari sejak menolak perintah.

“Wiranto boleh menolak perintah Panglima Tertinggi. Tetapi karena hal itu merupakan subordinasi, maka selambat-lambatnya ia harus mengundurkan diri dalam jangka waktu delapan hari. Bahkan Sintong menegaskan bahwa setelah Wiranto menolak perintah Panglima Tertinggi ABRI, pada saat itu juga ia harus langsung mengundurkan diri,” demikian tertulis pada halaman 6.

Buku Sintong Panjaitan
Pengamat: Counter Coup Pengaruhi Kans Prabowo Jadi Presiden
Muhammad Taufiqqurahman – detikNews


Jakarta – Isu counter coup d’etat yang digulirkan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dinilai akan berpengaruh pada pencapresan Prabowo Subianto. Isu yang ditulis Sintong dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ itu, akan mempengaruhi perolehan suara Prabowo dan Gerindra dalam pemilu.

“Kalau buku itu benar membicarakan tentang Prabowo, sedikit banyak akan berpengaruh pada suara prabowo di pemilu/pilpres nanti,” ujar pengamat politik dan militer dari LIPI Jaleswari Pramodhawardani kepada detikcom, Kamis (12/3/2009).

Menurut Jaleswari, budaya bangsa indonesia adalah budaya yang gampang lupa. Jika Prabowo memang benar ingin ‘mengambil’ para perwira ABRI saat itu, maka harusnya kans Prabowo untuk menjadi jadi presiden menjadi sangat kecil.

“Beberapa puluh tahun kemudian kita lupa akan hal itu, buktinya perolehan suara dia (Prabowo) naik berdasarkan hasil beberapa lembaga survei,” terangnya.

Lebih lanjutnya, Jaleswari menjelaskan terbitnya buku Sintong Panjaitan yang berdekatan dengan Pemilu Legislatif 2009 mempunyai makna ganda bagi Prabowo dan masyarakat.

“Harus juga dicek, apakah Pak Sintong berafiliasi dengan parpol tertentu atau tidak? Dan buat publik, ini adalah masukan yang berharga tentang informasi capres, sehingga masyarakat punya pengetahuan tentang capres yang akan dipilihnya nanti,” jelasnya.

Dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’, Sintong menjelaskan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d’etat itu adalah Prabowo berencana ‘mengambil’ sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Menurut Sintong, di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil Prabowo adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono.
(fiq/lrn)

Luruskan Isu Counter Coup
Sintong dan Prabowo Perlu Debat dalam Satu Forum
Laurencius Simanjuntak – detikNews

Jakarta – Kisah yang diungkap Letjen (Purn) Sintong Panjaitan tentang isu counter coup d’etat oleh Prabowo Subianto telah mengusik capres Partai Gerindra tersebut. Untuk meluruskan hal yang dituturkan Sintong dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ itu, kedua pihak harus bertemu dan berdebat dalam satu forum.

“Mereka harus dipertemukan dalam satu forum, kalau perlu berdebat. Agar ini
tidak menjadi bola liar sejarah,” kata pengamat militer MT Arifin saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/3/2009).

Arifin juga meminta agar semua pihak yang menurut Sintong mengetahui isu counter coup itu bisa dihadirkan. “Berikut juga para ahli sejarah perlu didatangkan untuk menyelidiki pendapat-pendapat yang berbeda itu,” usulnya.

Mengenai rencana Prabowo yang akan mengeluarkan buku untuk menjelaskan tuduhan Sintong, Arifin memandang hal itu perlu untuk jangka panjang. “Namun untuk jangka pendek harus dipertemukan dalam suatu forum,” tegasnya.

Apakah buku ini bernuansa politis mengingat pencapresan Prabowo? “Ya itu kan
kebiasaan orang Jakarta. Penerbitan buku tidak hanya penerbitan. Tapi ada
target-target tertentu,” cetus Arifin tanpa menjelaskan lebih lanjut target yang dimaksud.

Dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’, Sintong menjelaskan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d’etat itu adalah Prabowo berencana ‘mengambil’ sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Menurut Sintong, di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil Prabowo adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono. (lrn/fiq)

4 Tanggapan

  1. Dalam pandangan saya, apapun isi buku itu tidak akan mengubah imaji masyarakat terhadap apa yang sedang dibangun Prabowo melalui iklannya di televisi. Setidaknya untuk 9 April 2009 nanti. Setelah itu, entahlah.

  2. iklan politik prabowo hebat. saya salut. Untunga ada buku Sintong ini, setidaknya masyarakat khususnya petani masih diingatkan, bahwa prabowo bukan malaikat yang akan mengantarkan indonesia menjadi lebih baik… dia pernah berbuat “kejam”.

  3. Heya! I just wanted to ask if you ever have any issues with hackers?
    My last blog (wordpress) was hacked and I ended up losing months of hard work due to no back up.

    Do you have any methods to protect against hackers?

  4. Excellent web site you have got here.. It’s difficult to find quality writing like yours these days. I truly appreciate people like you! Take care!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: