KASUS REKSADANA ‘BODONG’ DI BANK CENTURY

PELAJARAN PENTING DARI KASUS REKSADANA ‘BODONG’ DI BANK CENTURY

Di pekan ini, cerita bank Century memasuki bab baru yang lebih menakutkan dari cerita horor. Ternyata selama ini, Bank Century dalam operasinya juga melakukan penjualan reksadana padahal bank ini tidak mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana. Ketika saya cek ke situs Bapepam, Bank Century tidak terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana).

Kisah seram ini lalu ternyata berkembang menjadi lebih menyeramkan lagi. Salah satu reksadana yang dijual oleh Bank Century merupakan reksadana ‘bodong’, alias reksadana yang dibuat tanpa seizin Bapepam. Reksadana yang bermasalah ini dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi dan dikeluarkan oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas. Hebatnya lagi, produk ini kabarnya sudah dijual sejak tahun 2001. Kini dikabarkan bahwa bahwa Rp 1 Triliun – Rp 1,5 Triliun milik nasabah bank Century terkena masalah seputar produk ini.

Jika teman-teman pembaca berpikir bahwa cerita ini berakhir di sini, maka anda salah besar, karena masih ada sisi menarik lainnya. Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%).

—–oOo—–

Cerita perkembangan terbaru Bank Century ini mengundang begitu banyak pertanyaan.

Yang pertama adalah bagaimana bisa sampai terjadi sebuah bank menjual reksadana tanpa mempunyai izin sebagai Agen Penjual Reksadana (APERD)? Bagaimana pertanggung-jawaban Bapepam sebagai badan PENGAWAS Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dalam hal ini? Bagaimana juga dengan pertanggung-jawaban BI sebagai PENGATUR dan PENGAWAS Bank? (Adegan berikutnya kemungkinan besar adalah acara saling tuding menuding dan lempar tanggung jawab antara kedua badan ini).

Pertanyaan kedua yang amat mengganggu adalah mengapa suatu produk reksadana ‘bodong’ tanpa izin bisa lolos dari pengawasan Bapepam, padahal seperti yang dikabarkan, produk tersebut sudah dijual sejak lama (2001)?

Pertanyaan lainnya yang saya rasa timbul di kepala banyak orang adalah, apakah dalam hal ini posisi PT. Antaboga sebagai salah satu pemegang saham utama Bank Century mempunyai andil dalam timbulnya kasus ini? Mungkin tidak sedikit yang akan berpendapat IYA. Jika kasusnya adalah demikian, bagaimana dengan potensi terjadinya kasus yang sama di bank-bank lain?

Dalam krisis finansial di tahun 97, terkuak fakta bahwa bank-bank seringkali hanya dieksploitasi oleh pemiliknya untuk mendukung anak usahanya yang lain. Pada akhirnya, yang menanggung malpraktek ini adalah nasabah bank. Kasus Bank Century ini meskipun berbeda dalam prakteknya, tetapi mempunyai ‘aroma’ yang sama. Pertanyaan terbesarnya kini adalah apakah kasus Bank Century ini unik (cuma satu) ataukah justru merupakan cerminan kondisi sektor perbankan?

—–oOo—–

Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang mengganggu, bagaimana harusnya seorang investor Reksadana di Indonesia bertindak?

Belajar dari kasus Bank Century ini, maka sebelum berinvestasi di suatu reksadana, ada baiknya kita:

I. Memeriksa apakah tempat kita membeli reksadana tersebut terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksadana).

Dari situs Bapepam, daftar Agen Penjual Reksadana yang terdaftar (per saat artikel ini ditulis) adalah:

  1. PT Bank CommonWealth
  2. American Express Bank Ltd.
  3. PT Bank Niaga
  4. Deutsche Bank AG
  5. PT Bank DBS Indonesia
  6. PT Bank Internasional Indonesia (BII)
  7. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  8. PT Citibank NA Cabang Indonesia
  9. Standard Chartered Bank Indonesia
  10. PT ABN AMRO Bank (yang sekarang tampil dengan nama baru RBS)
  11. PT BRI (Persero) Tbk
  12. PT Bank Buana Indonesia TBK (sekarang lebih dikenal dengan nama UOB Buana)
  13. Bank Permata Tbk
  14. PT HSBC Ltd
  15. PT Bank Lippo Tbk
  16. PT Bank Danamon Tbk
  17. PT Bank Bukopin Tbk
  18. Bank BCA Tbk
  19. Bank NISP Tbk
  20. PT Bank Mayapada Internasional Tbk
  21. PT Victoria Internasional Tbk
  22. PT Bank SinarMas
  23. PT Bank Pan Indonesia Tbk
  24. PT Bank Mega Tbk
  25. PT Bank Syariah Mandiri
  26. PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk
  27. PT BNI (Persero) Tbk

Jika selama ini anda membeli Reksadana tidak langsung dari Pengelola Reksadana tersebut, melainkan melalui agen penjual, periksalah apakah tempat anda membeli Reksadana masuk dalam daftar di atas. Jika tidak, ada baiknya diselidiki lebih lanjut.

PS: Sekali lagi saya ingatkan bahwa data di atas adalah data yang saya dapatkan di situs Bapepam pada saat artikel ini ditulis. Jika anda membaca artikel ini dalam kurun waktu yg lama setelah artikel ini ditulis, ada baiknya dikonfirmasikan kembali di situs Bapepam.

II. Memeriksa apakah reksadana yang kita beli telah terdaftar dan memiliki izin dari Bapepam LK

Ini bisa dilakukan melalui situs Bapepam. Link yang saya temukan ada dua:

  1. http://www.bapepamlk.depkeu.go.id/reksadana/
  2. http://www.bapepam.go.id/e-monitoring/Default.asp

Sayangnya, saat ini keduanya sedang down karena ada pengembangan sistem dan aplikasi baru. Sementara sistem online ini masih diperbaiki, mungkin pilihan yang tersisa adalah dengan konfirmasi langsung ke Bapepam (per telpon).

III. Ada baiknya juga mengkonfirmasi apakah orang yang menjual Reksadana kepada anda memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD)

Berdasarkan Peraturan Nomor V.B.2 (2006) tentang Perizinan Wakil Agen Penjual Efek Reksa, ditetapkan bahwa:

Untuk mencegah terjadinya kekeliruan penyampaian informasi dalam memasarkan produk Reksa Dana, maka penjualan Efek Reksa Dana hanya dapat dilakukan oleh orang perseorangan yang memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD)

Ini ditekankan lagi dalam Peraturan Nomor V.B.3 (2006) tentang Pendaftaran Agen Penjual Efek Reksa Dana bahwa:

Pegawai Agen Penjual Efek Reksa Dana yang melakukan penjualan Efek Reksa Dana wajib memiliki izin orang perseorangan sebagai WAPERD

Tidak ada salahnya memastikan bahwa orang yang melayani pembelian reksadana anda selama ini memiliki izin WAPERD untuk menghindari adanya informasi yang tidak akurat karena kurangnya kualifikasi orang tersebut.

IV. Jangan lupa untuk : BACA, BACA dan BACA KEMBALI prospektus reksadana yang diterima.

Ingat, pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas uang kita adalah kita sendiri. Membaca prospektus dengan teliti adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap investor.

Sumber :

http://portalreksadana.com/node/350

3 Tanggapan

  1. Saya Termasuk Korban Bank Century dan saat ini saya sangat berharap pihak BI mau membantu korban nasabah Bank Century. Dana Tabungan kami sekeluarga kita masukan semua di Bank Century sebanyak 100juta dengan tujuan untuk berjaga-jaga di hari depan, kami bukanlah keluarga yg kaya. Duit itu juga kami kumpulkan puluhan tahun sedikit demi sedikit, dan sekarang tiba saat – saat sulit seperti ini (krisis Global) malah tabungan yang seharusnya bisa diandalkan disaat sekarang malah di curi oleh pihak yang seharusnya sudah banyak uang namun tetap merasa kurang (serakah). Jika Bank Indonesia merasa tidak bersalah siapa lagi yang bisa kami salahkan, bagaimana keamanan negeri Indonesia ini dan tampaknya kredibilitas BI perlu dipertanyakan.. sebagai orang biasa yang hidup di indonesia kami diajarkan untuk menabung di bank, kami diajak menabung di Reksadana Terproteksi oleh Wakil Direktur Bank Century cabang Jogja, untuk ditabung di Reksadana milik PT.Antaboga dengan statment pasti AMAN, kalo dipikir-pikir kami juga bukan menabung di emperan atau pinggir jalan namun ini Bank yang sudah berdiri lama. Dan Tiba-tiba tabungan tersebut menjadi bermasalah dan dibawa kabur oleh kaum yang berbakat pencuri, dan nasib kami juga terkatung-katung. Saya sangat berharap bagi pihak BI untuk meringankan beban nasabah korba Century khususnya yg dibawah 1 Miliard karena akan sangat amat membutuhkan dana tabungannya tersebut di tahun yang berat ini, yg mana PHK dan pengusaha juga sangat terkena dampak serius. Semoga BI mau menebus kesalahan dalam kelalaian tindak pengawasan Bank Bermasalah minimal dengan cara :
    1. Membayar penuh uang nasabah yang berjumlah dibawah 1 milliard (karena disaat seperti sekarang ini akan sangat dibutuhkan untuk biaya makan, kuliah,dan melanjutkan usaha agar masih tetap hidup karena income biasanya merosot cukup tajam)
    2. Bagi Nasabah yang diatas 1 Miliard,maka akan diberi ganti sebesar 1 Miliard plus 10% dari sisanya (misal: dana simpanan 10M, maka nasabah tersebut mendapat : 1M + ( 10% * 9M ) = Rp.1,9Miliard ).

    Dengan begini Korban akan sangat terbantu dalam bertahan menghadapi kondisi Krisis Global yang menyakitkan ini, dan BI juga harus segera dengan cepat mengambil langkah dan tindakan untuk memberantas Bank bermasalah lainya agar tidak terulang kembali. Dengan cara demikian Indonesia akan menjadi negara yang semakin maju, karena perbankan akan dapat diandalkan ke depannya, dan masyarakat juga merasa aman dan percaya dengan peran BI yang bertanggung jawab dan kredibel.

  2. Hoho, polemik, hahehoh masalah duit. Money changes everything, debat duit kali ini saya garis bawahi sebagai sepak bola, harus diakhiri nantinya dengan peluit panjang wasit. Yang satu senang karena nyimpan kepentingan politis, mau kudeta katanya, yang satu lagi senang karena yakin bakal ngebuktiin kebenaran bahwa ada indikasi dampak sistemik, dengan sekolahnya yang di luar negeri, yang satu lagi yang sekolahnya lokal, lebih tau konteks katanya, bergembira sebagai pengamat karena bisa memberikan komentarnya, yang satu lagi merasa senang ketika menginvestigasi siapa sih yang paling bertanggung jawab, ada bakteri apa sih di neraca keuangan, yang satu lagi senang karena ada kerjaan demonstrasi dan bakar-bakar foto wajah, yang satu lagi senang dengan banyaknya iklan yang masuk, wartawan ada pekerjaan, yang satu senang produknya dibeli karena masang iklan di layar sinetron Century, yang satu lagi senang ada topik buat blognya. Hahehoh. Jadi intinya semua senang. Termasuk nasabah Century, senang karena banyak orang membicarakan duitnya.😉

    http://themiphz.wordpress.com/2009/12/16/senang-senang-bank-century/

  3. dahsyat.. bagaimana bisa bank century mengeluarkan reksadana tanpa adanya pernyataan efektif dari BAPEPAM..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: