Krismon di Indonesia: Setelah Bank Century… Bank apa lagi…?

Nasabah Sayangkan Kondisi Bank Century Ditutup-tutupi
Indro Bagus SU – detikFinance


(Foto: Indro-detikFinance)

Jakarta – Nasabah PT Bank Century Tbk menyayangkan sikap manajemen dan otoritas moneter yang terkesan menutup-nutupi kondisi bank swasta tersebut yang sedang kesulitan likuiditas.

“Kenapa selalu beritanya baik-baik? Padahal bank ini sedang krisis. Kami nasabah kesulitan menarik dana. Jadi dalam seminggu ini ada apa?” tanya Silvia (40 tahun) nasabah Bank Century cabang Greenville, Jakarta Barat dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jumat (21/11/2008).

Silvia mengaku memiliki dana berupa deposan sejumlah Rp 700-800 juta di Bank Century. Dana itu sebagian kecil sudah dicairkan sekitar Rp 100 juta ditambah bunga menjadi Rp 111 juta. Sedangkan depositonya yang jatuh tempo tanggal 28 November masih ada sekitar US$ 50 ribu.

Kebanyakan nasabah memang sudah merasakan ada ketidakberesan di Bank Century sejak bank itu mengalami gagal kliring pada 13 November 2008. Alasan manajemen tidak bisa ikut kliring karena telat setoran dinilai cuma mengada-ada.

“Karena sebenarnya mereka sudah tidak punya kas lagi,” katanya.

Bukti bank tersebut tidak memiliki dana kas, kata Silvia terlihat dari kebijakan bank itu yang hanya bisa menarik dana maksimal Rp 5 juta selama periode 13-20 November 2008. Malah kadang-kadang hanya bisa menarik Rp 2 juta tergantung kas yang tersedia.

Selain itu, nasabah yang ingin mencairkan deposito disuruh masuk ke tabungan. Jadi mau tidak mau banyak nasabah yang pindah ke tabungan karena bisa diambil tanpa harus menunggu jatuh tempo. “Itu kan bukti dia tidak punya kas,” ulang Silvia.

Silvia mengaku sudah mencium beberapa kejanggalan sejak bank itu gagal kliring minggu lalu sehingga dia berinisiatif sendiri menelpon manajemen dan Lembaga Penjaminan Simpanan.

“Akhirnya mereka mencairkan deposito saya nilainya sekitar pokok Rp 100 juta plus bunga Rp 111 juta,” katanya.

Menurut Silvia dirinya sempat menghubungi LPS menanyakan kenapa lembaga ini tidak mengambilalih Bank Century. “Tapi LPS menjawab kalau belum dilikuidasi, LPS belum bisa masuk. Makanya saya kaget tadi pagi LPS masuk padahal belum dilikuidasi,” jelasnya.

Dengan masuknya LPS Silvia mengaku justru lebih tenang karena berarti dana nasabah aman. Silvia mengaku sebenarnya dirinya sangat puas menjadi nasabah Bank Century sebelum mengalami gagal kliring.

“Sebenarnya saya suka dengan Bank Century karena simpanan dalam bentuk dolar lebih mudah ditransaksikan dan Bank Century penukar uang dalam jumlah besar. Tapi sekarang malah begini,” pungkasnya.(ir/qom)

Kondisi Perbankan Diharap Segera Pulih Setelah Kasus Bank Century
Angga Aliya ZRF – detikFinance


Foto: Indro Bagus/detikFinance

Bandung – Pengambilalihan Bank Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membuat kaget banyak orang. Namun kondisi diharapkan sudah normal kembali pada Senin, 24 November.

Demikian disampaikan Direktur Risk Managenet Bank Mandiri Sentot Sentausa disela-sela acara pelatihan wartawan di Hotel Mason Pine, Bandung, Jumat (21/11/2008).

“Mudah-mudahan tidak ada pengaruhnya. Hari ini pasti banyak orang yang syok, tapi besok kan libur sampai Minggu, nah, Senin mudah-mudahan bisa kembal normal dan orang-orang tidak terlalu panik,” jelas Sentont.

Ia mengungkapkan, kondisi perbankan nasional sendiri saat ini masuk cukup solid dengan porsi kredit bermasalah atau NPL yang masih rendah. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) terus meningkat dengan CAR mencapai 14% atau jauh di atas target 8%.

“Jadi masih ada shock breaker yang kuat untuk menahan. Untuk sekarang, kondisi perbankan masih kuat, tapi untuk kedepannya kita belum tahu juga,” katanya.

BI juga telah menunjuk Maryono, Grup Head Jakarta Network Bank Mandiri sebagai Dirut baru Bank Mandiri. Sentot yakin penunjukan Dirut baru yang merupakan figur dari bank besar itu bisa membantu pemulihan Bank Century.

“Kalau ada pak Maryono, berarti ada figur Bank Mandiri di bank tersebut sehingga ada affordable-nya. Jadi diharapkan bisa membalik kepercayaan jika ada figur bank besar, tapi bukan berarti dari Mandiri saja tetapi bisa juga dari bank-bank besar lainnya yang memiliki likuiditas bagus. Maryono itu orang lapangan benar dan sudah teruji,” ungkapnya.

Ia berharap masalah ini memang harus diisolasi, jangan sampai jadi isu nasional supaya tidak merembet ke bank lain.

Pengambilalihan Bank Century Kasus Pertama Setelah Krisis
Alih Istik Wahyuni – detikFinance


Foto: Wahyu Daniel/detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia mengumumkan pengambilalihan Bank Century oleh pemerintah melalui LPS. Inilah kasus pertama pengambilalihan bank yang terjadi setelah krisis moneter 11 tahun silam.

“Ya, sepertinya yang pertama. Meski belum jelas strukturnya gimana, apakah akan disuntik dana segar atau bagaimana,” kata Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ikhsan ketika dihubungi detikFinance, Jumat (21/1/2008).

Menurut Fauzi, setidaknya ada tiga hal yang biasanya terjadi sampai akhirnya suatu bank diambil alih pemerintah. Pertama adalah deposan besar bank tersebut keluar dan mengambil semua simpanannya di bank tersebut.

“Bisa saja karena deposannya keluar. Terutama deposan di atas Rp 2 miliar. Kalau mereka keluar ramai-ramai tentu jadi bermasalah likuiditasnya,” katanya.

Ketika bank sudah mengalami kesulitas likuiditas seperti ini, biasanya mencari bantuan ke bank sentral seperti Bank Indonesia. Nah, penyebab kedua adalah kemungkinan bank tersebut tidak memiliki surat utang yang bisa direpokan ketika hendak meminjam dana ke bank sentral.

“Karena kalau mau pinjam dana ke BI kan harus punya surat utang untuk direpokan,” katanya.

Setelah tenggelam dalam kesulitan likuiditas namun tidak bisa mendapat pinjaman dana dari BI, maka cara ketiganya adalah mencari investor yang mau menyuntikkan dana segar.

“Tapi hari gini, mau cari investor dimana? Semua juga sedang sulit,” katanya.

Kasus Bank Century Berisiko Sistemik
Alih Istik Wahyuni – detikFinance


(Foto: Wahyu-detikFinance)

Jakarta – Kasus telat setoran kliring Bank Century minggu lalu memang bukan kasus biasa. Kini setelah Bank Century diambilalih pemerintah melalui LPS, Bank Indonesia dan pelaku perbankan pun membuka kemungkinan bahwa kasus ini akan berdampak sistemik.

Kemungkinan dampak sistemik diutarakan Kepala Ekonom BNI Tony Prasentiantono. Baginya, kasus Bank Century ini akan berisiko sistemik sehingga menyebabkan efek domino ke bank-bank lainnya.

“Ini berisiko sistemik. Bisa saja terjadi efek domino ke bank-bank lain yang lebih besar,” katanya ketika dihubungi detikFinance, Jumat (21/11/2008).

Sementara dalam bahan penjelasan Bank Century seperti dikutip dari situs Bank Indonesia, dikatakan bahwa untuk menangani kasus yang dinilai akan berdampak sistemik ini, pemerintah memutuskan untuk menyuntikkan modal sementara sekaligus pergantian manajemen Bank Century.

“Mengingat permasalahan yang dihadapi bank tersebut dinilai memiki dampak sistemik, pemerintah melalui KSSK (Komite Stabilisasi Sektor Keuangan) memutuskan agar LPS melakukan PMS (Penyertaan Modal Sementara) yang disertai dengan penggantian manajemen bank. Melalui upaya tersebut, kondisi bank diharapkan akan segera membaik,” demikian penjelasan BI.

Tony menegaskan anggapan kalau risiko sistemik hanya bisa dipicu oleh bank-bank besar sebenarnya sudah tidak berlaku lagi. Pada kondisi seperti ini, bank kecil sekalipun bisa memicu risiko sistemik jika mengalami default.

“Sejauh ini, tampaknya ada anggapan bahwa risiko sistemik hanya terjadi jika yang default adalah bank besar. Saya pikir persepsi ini keliru. Bank kecil jika default juga bisa memicu kejatuhan bank lain,” katanya.

Menurut Tony, kejadian seperti ini dipicu karena pemerintah hingga sekarang melakukan blanket guarantee. Karena itu, ia mendorong pemerintah segera melakukan blanket guarantee sebelum jatuh korban lagi.

Selain tiu, ia juga mengusulkan agar pemerintah meminjam dana dari IMF dan Bank Dunia masing-masing US$ 5 miliar agar cadangan devisa yang saat ini sekitar US$ 50 miliar menjadi kembali US$ 60 miliar.

“Ini yang akan membantu confidence, sehingga rupiah tidak terperosok lebih lemah. Ini harus cepat, dan kita tidak punya waktu lagi untuk “mengkaji”. Time is now running out. No privilege anymore to think and “mengkaji dulu kebijakan tersebut”, supaya market tidak makin nervous,” tegasnya.

(lih/qom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: