Seperti inikah tugas saudaraku yang baru lulus Akmil….

Mengunjungi Pos Prajurit TNI di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Pacaran Jarak Jauh, Tunggu Sinyal Bagus

Salah satu konsekuensi prajurit TNI adalah harus siap ditugaskan ke mana saja di wilayah Indonesia. Termasuk di wilayah perbatasan yang jauh dari keramaian, keluarga, dan cenderung terisolasi. Salah satu tantangannya adalah menghadapi rasa sepi.

HELDHA, Tarakan

Setelah melihat barang bukti (BB) 10,353 ton solar yang disembunyikan di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia di Tarakan, Kalimantan Timur, Dansatgaspamtas 613/RjA Letkol Inf Robert Giri dan rombongan mengunjungi Pos TNI-AD di Kanduangan. Tercatat 18 prajurit TNI ditugaskan di pos tersebut.

Mengetahui kehadiran sang komandan, mereka menyiapkan hidangan istimewa. Menunya adalah jagung, kacang, dan singkong yang direbus dan digoreng kering.

Komandan pos tersebut, Letda Inf Ervianto Dilli Adi Prasetyo, menjelaskan bahwa bahan makanan yang disajikan itu adalah hasil kebun mereka sendiri. Menjelang kunjungan itu, personel Pos Kanduangan memang baru saja panen hasil kebun.

Di samping kanan Pos Kanduangan yang terletak sekitar 2,5 kilometer dari perbatasan Serudong Malaysia, memang terlihat kebun prajurit. Isinya jagung, singkong, kacang, dan semangka.

Di samping kiri pos, ada jalan setapak menuju helipad. Di depan pos ada lapangan voli yang biasanya digunakan prajurit untuk berolahraga.

Saat senggang, para prajurit yang kebanyakan mengaku masih bujangan itu berkebun. Dalam protap (prosedur tetap) pos, berkebun berada di urutan keempat setelah bangun pagi, apel, dan sarapan. Berkebun dimulai pukul 08.00 Wita dan diakhiri pukul 12.00 Wita sebelum apel siang.

“Dari pengalaman saya, berkebun itu yang paling asyik. Menanam dengan tangan sendiri dan menikmati hasilnya kemudian, puas rasanya. Itu juga yang dilakukan prajurit di sini biar tidak bosan,” kata Robert Giri.

Selain berkebun, mereka juga beternak ayam. Terlihat dari makanan utama yang dihidangkan, selain sayur lodeh dan ikan asin yang disambal goreng asam, juga ada ayam dan telur rebus yang dimasak bumbu kecap.

Dan Pos Kanduangan Ltd Dilli yang berumur 23 tahun itu menjelaskan bahwa sebenarnya mereka juga ingin memelihara ikan. Namun, itu sulit dilakukan karena airnya terbatas.

Bagaimana mereka memasaknya? Jangan bayangkan ada kompor gas di pos yang berjarak sekitar 30 menit ke Nunukan dengan mobil dan speedboat itu. Para prajurit itu memasak hasil kebun dengan cara tradisional dengan dapur sangat sederhana.

Setelah menyantap hidangan istimewa ditambah makanan utama dan semangka sebagai penutup, rombongan meninjau isi pos. Selain ruang nonton dan ruang tidur, ada dua ruang lagi yang terpisah dari ruang utama. Yakni ruang makan dan dapur.

Di ruang makan terdapat meja panjang yang ditempati piring-piring, termos nasi, dan air galon. Di belakangnya, terdapat dapur dengan tiga buah kompor tradisional berjejer.

Jika ingin memasak, mereka mempersiapkan kayu bakar dan korek api dulu. Setelah kayu menyala, memasaknya harus menunggu sampai api merata. Mungkin karena terbiasa dimasakkan istri atau orang tua, tak jarang, prajurit yang bertugas masak harus merelakan tangannya melepuh terkena minyak panas.

Begitulah hidup prajurit di perbatasan. Tidak pernah kekurangan, tetap apa adanya dan mandiri. Meskipun sudah beristri, hidup rasanya seperti seorang duda. Masak-masak sendiri dan cuci baju sendiri. Yang repot, prajurit yang belum menikah. Pacaran long distance (jarak jauh), menunggu sinyal telepon bagus, baru bisa menelepon sang pacar memberikan kabar.

===

semoga kamu kuat … demi bangsa dan negaramu NKRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: