Harga BBM Harusnya Turun 10%

Harga BBM Harusnya Turun 10%
Alih Istik Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Harga BBM dalam negeri seharusnya sudah turun tanpa menunggu rata-rata ICP (Indonesia Crude Price) dibawah US$ 95 per barel. Dengan anjloknya harga minyak belakangan ini, harusnya harga BBM bisa turun sekitar 10%.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Institue Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi detikFinance, Selasa (14/10/2008).

“Jika pemerintah konsisten dengan alokasi anggarannya harga BBM dalam negeri sudah harus turun tanpa harus menunggu rata-rata ICP di bawah US$ 95 barel,” katanya.

Alasannya sebagai berikut. Sebelum pemerintah menaikkan harga BBM pada Mei 2008, APBN 2008 hanya sanggup menopang subsidi dengan asumsi ICP US$ 100 per barel.

Namun setelah harga BBM dinaikkan, ketahanan APBN 2008 dalam menopang subsidi BBM pun naik hingga ICP US$ 130 per barel. Dengan rata-rata ICP saat ini yang bekisar US$ 105-108 per barel, artinya ada alokasi subsidi BBM yang tidak terpakai.

“Alokasi yang tidak terpakai itu kira-kira 20-25% dari alokasi anggaran yang ada. Jadi, dengan kata lain, harga BBM pun sebenarnya bisa turun sebesar itu,” katanya.

Namun jika mempertimbangkan depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan volume BBM subsidi yang dikonsumsi, maka penurunan harga BBM berkurang menjadi hanya 10% dari harga sekarang.

“Intinya, sebenarnya harga BBM bersubsdidi mestinya bisa turun. Ini akan lebih rasional dan jauh lebih fair dibandingkan hanya menaikkan harga ketika minyak dunia melonjak dan tidak kunjung menurunkannya ketika harga sedang turun seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Menkeu Sri Mulyani sebelumnya mengungkapkan, ICP saat ini sudah mencapai US$ 77 per barel. Sementara rata-rata sejak Januari-10 Oktober 2008 ICP masih bertengger di kisaran US$ 108,85 per barel.

Sementara harga minyak mentah dunia yang sempat merosot tajam, akhirnya kembali pulih setelah pemerintah di berbagai belahan dunia mengumumkan rencana penyelamatan krisis finansial dunia.

Pada perdagangan di Singapura hari ini, kontrak minyak jenis light pengiriman November kembali naik 2,02 dolar ke level US$ 83,21 per barel, melanjutkan kenaikan 3,49 dolar pada perdagangan di New York sebelumnya. Sementara minyak jenis Brent juga naik 1,51 dolar ke level US$ 78,97 per barel.

Iklan
%d blogger menyukai ini: