18 September 1948, 60 Tahun Lalu di Madiun

madiun

madiun

60 Tahun Lalu di Madiun
Sabam Siagian
ergantung dari sudut pandang yang bersangkutan, sebutan apa yang dikaitkan pada kejadian 60 tahun lalu, 18 September 1948, di Madiun. Pemerintah RI di ibu kota perjuangan, Yogyakarta, dan mereka yang sepandangan, mengutuknya sebagai Pemberontakan Madiun. Sedangkan, Partai Komunis Indonesia dan para simpatisan mencapnya sebagai “Provokasi Madiun”. Tapi, mereka yang tidak ingin terlalu melibatkan diri secara emosional ataupun mau menunjukkan sikap tahan diri, memakai istilah “Peristiwa Madiun.”
Peristiwa apakah yang terjadi 60 tahun lalu itu, yang merupakan semacam pelatuk sampai timbul perang saudara pada awal berdirinya RI? Pada 18 September dini hari, mungkin pukul 02.00, se- orang tokoh Badan Kongres Pemuda RI bernama Soemarsono, veteran dari pertempuran Surabaya, memberikan aba-aba bahwa “Saat untuk Revolusi telah dimulai”.
Soemarsono memelihara hubungan akrab dengan Letkol Dachlan, Komandan Brigade 29 dan para komandan batalyon dalam jajaran brigade tersebut. Sebelum dimasukkan dalam jajaran TNI, mereka adalah teman-teman seperjuangan dalam pertempuran Surabaya melawan pasukan Inggris. Sebagian besar berasal dari organisasi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).
Yang bergerak di Kota Madiun pada 18 September 1948 adalah Batalyon Musyofa.. Sebagai gambaran padat, apa yang terjadi, berikut ini kutipan dari sebuah laporan intelijen yang dimuat dalam buku AH Nasution Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, jilid 8:”…. di kota Madiun, mereka memusatkan serangan-seranganny a kepada markas-markas TNI/CPM dan tangsi kepolisian. Dan terutama rumah Komandan Batalyon Mobil CPM Jawa/Siliwangi di Jl Dr Cipto, sehingga jatuh gugurnya Mayor CPM tersebut. Setelah mengadakan perlawanan yang membawa korban dua orang, juga di pihak pemberontak. Pada jam 09.00, mereka telah berhasil menduduki markas-markas Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT), STM Madiun, Batalyon CPM, dan tangsi-tangsi polisi dengan melucuti total anggota-anggota kepolisian, kemudian ditawanlah semua di rumah penjara Kletak. Semua alat-alat pemerintahan militer-sipil waktu itu telah lumpuh. Juga Sub Territorium setempat yang dipimpin oleh Letkol Sumantri, bekas
Komandan Resimen 31/V.
Perebutan kekuasaan dalam kota ini segera diikuti dengan rapat-rapat yang diselenggarakan di Balai Rakyat, yang dipimpin, antara lain, oleh Mr Amir Syarifuddin, Musso, Jenderal Mayor Joyosuyono, dll yang baru saja datang dari perjalanan kampanye di seluruh daerah Republik untuk menjelaskan “kebenaran” dari tindakannya itu”.
Laporan yang agak panjang itu menyebutkan, sejumlah pejabat sipil dan perwira yang ditahan. Nada politik dari aksi 18 September 1948 itu dicerminkan dalam siaran Radio Gelora Pemuda pada malam harinya. Berikut ini beberapa kutipan : “…Kita khawatir, bahwa pemerintah kita menjadi fasistis-militerist is, yaitu karena kekuasaan dipegang oleh satu orang, yang menjabat Wakil Presiden, Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.. .” (yang dimaksud Moh. Hatta). “Madiun telah bangun untuk membasmi semua musuh revolusi: Polisi, Polisi Tentara, dan Tentara telah dilucuti senjatanya oleh rakyat. Kaum buruh dan kaum tani telah membentuk suatu pemerintah baru”. Siaran itu diakhiri: “Saat untuk revolusi telah tiba”.
PKI melalui “Front Nasional”, wadah yang dibentuknya untuk menampung semua kekuatan pendukung, membentuk pemerintahan dengan menunjuk beberapa tokoh: Residen Madiun – Abdulmutalib; Gubernur Militer – Soemarsono (kemudian diganti); Komandan Militer – Djoko Sudjono (bekas Kepala Biro Perjuangan di Kementerian Pertahanan, dan dekat dengan Amir Syarifuddin) .
*
Soemarsono dalam berbagai keterangan dan tulisan selalu menonjolkan paling sedikit dua hal penting. Pertama, prakarsanya di Madiun pada 18 September 1948 telah dilaporkan sebelumnya kepada Musso, dan Amir Syarifuddin. Dalam suatu wawancara, ia bercerita: “Dari Madiun saya menyusul rombongan tur Musso ke Kediri. Jadi saya, Pak Musso, dan Amir Syarifuddin bertemu di Kediri membicarakan situasi di Madiun”. Soemarsono melaporkan tentang pasukan gelap yang pakai tanda tengkorak dan bersikap provokatif. Ia khawatir peristiwa di Solo akan terjadi juga di Madiun dengan aksi penculikan. Setelah diskusi, “Akhirnya diambil kesimpulan untuk bertindak saja. Lucuti saja! Bisa itu? Ya bisa saja! Dan saya dipeluk Pak Musso”. ( kutipan dari Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono, Pelaku Perjuangan” oleh Hersri Setiawan – 2002 ).
Kedua, Soemarsono menandaskan bahwa apa yang terjadi itu “tidak ada pikiran memberontak. Tidak ada pikiran mau kup, apalagi mendirikan suatu pemerintahan Soviet”. Pada kesempatan lain juga disebut bahwa tindakan di Madiun itu suatu “koreksi” terhadap kebijakan pemerintah di Yogya yang dianggap tidak benar.
Mungkin di luar perkiraan dan dugaan para pemrakarsa, pemerintah RI bersikap tegas dan cepat, baik pada aspek politik maupun di bidang militer. Kabinet bersidang dan segera mengambil beberapa keputusan penting. Perkembangan di Madiun dihadapi secara frontal. Kepada pemerintah diberikan kuasa penuh oleh Badan Pekerja KNIP. Presiden Soekarno berpidato dengan nada keras, mencap apa yang terjadi sebagai pemberontakan. “Pilih Musso/PKI atau Soekarno/Hatta. Madiun harus direbut kembali!” Secara berturut-turut Wakil Presiden/PM Moh. Hatta, Menteri Negara Hamengku Buwono IX berpidato. Masing-masing menyerukan bahwa RI sedang terancam, supaya rakyat membantu pemerintah sepenuhnya. Musso segera menjawab dari Madiun. Kata-katanya terhadap Soekarno dan Hatta amat kasar. Beberapa minggu sebelumnya, ketika tiba dari luar negeri di Yogyakarta, ia diterima Presiden Soekarno secara ramah. Sekarang sudah menjadi musuh frontal. “Kejadian di Madiun…adalah sinyal untuk
rebut kekuasaan negara..!” demikian seruan Musso.
*
Bukan tempatnya di sini untuk menggambarkan keseluruhan operasi militer, sehingga Madiun dalam waktu dua minggu dapat direbut kembali. Para peninjau militer PBB yang mengobservasi gerak cepat pasukan-pasukan Siliwangi menuju Madiun, kagum, betapa tanpa kendaraan bermotor dan komunikasi radio, suatu operasi militer besar-besaran demikian dapat dilangsungkan.
Setelah 60 tahun lalu, apa yang dapat dikatakan tentang peristiwa tragis pada awal hidup RI itu?
Kecurigaan dan kewaspadaan sudah amat tinggi pada waktu itu, sehingga masing-masing pihak bersiap-siap untuk saling mendahului. Soemarsono mengira bahwa prakarsanya itu dapat dibatasi dampaknya hanya pada tingkat lokal. Dengan mengakui bahwa dia sudah melapor pada “pimpinan partai paling tinggi” (Musso dan Bung Amir), tanpa disadari, ia mengangkat persoalannya pada tingkat nasional. Dan sejak Februari 1948, Front Demokrasi Rakyat (yang kemudian fusi dengan PKI) sudah beragitasi untuk menjatuhkan atau merombak kabinet Hatta.
Peranan Musso yang menonjol sebagai tokoh PKI dari Moskwa, yang tiba kembali pada pertengahan Agustus 1948, setelah absen selama 13 tahun (kalau dapat dipercaya bahwa pada tahun 1935, ia menyusup masuk ke Jawa Timur untuk mendirikan PKI ilegal) langsung mengimpor ketegangan Perang Dingin (konfrontasi terselubung AS – Uni Soviet) dalam dinamika politik RI.
Apa yang amat dikhawatirkan pimpinan pemerintah dan TNI di Yogyakarta adalah kemungkinan serangan umum Belanda setiap saat, sedangkan Musso/Amir sibuk menyusun kekuatan. Sungguh naïf jika diharapkan bahwa pimpinan di Yogya menunggu sampai Musso/Amir selesai dengan konsolidasi kekuatan, diperkirakan selesai pada November 1948. Mungkin juga Soemarsono dalam kesibukan mengamankan peranannya pada tingkat lokal kurang memperhatikan peta keseluruhannya, nasional dan internasional, sehingga kaget sendiri ketika melihat konsekuensi yang ditimbulkan demikian luasnya.
Sedangkan, Belanda memperkirakan bahwa RI itu sudah menjadi lemah, setelah dengan susah payah mengatasi krisis Madiun, sehingga memutuskan untuk melancarkan Serangan Umum pada 19 Desember 1948, untuk menghancurkan Republik Indonesia selama-lamanya.
Penulis adalah pengamat sejarah RI

Sumber
http://www.suarapem baruan.com/ News/2008/ 09/18/Editor/ edit01.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: