Harga USD 118 per barel dijual USD 38 per barel harga jual gas LNG Tangguh, Papua

Siapa yang salah dinegeri ini, yang katanya banyak orang pinter….?? ??

Kontrak Gas Tangguh Rugikan Rp 36 Triliun

JAKARTA – Kebijakan penjualan gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dipertanyakan. Sebab, saat konsumen di dalam negeri tercekik oleh kenaikan bertahap harga elpiji sesuai harga keekonomian, harga penjualan ekspor justru di bawah pasar. Kontrak harga jual gas LNG Tangguh, Papua, menjadi salah satu contoh yang mencolok.

Anggota DPD Marwan Batubara mengatakan, kontrak penjualan gas Tangguh ke Fujian, Tiongkok, layak dipersoalkan. Sebab, harganya ditetapkan berdasar patokan harga minyak mentah USD 38 per barel. Padahal, harga minyak Indonesia sesuai data energi yang dirilis Departemen ESDM per 21 Agustus sudah di level USD 118 per barel.

Karena itu, sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla -yang pekan lalu baru pulang dari kunjungan ke Tiongkok- agar dilakukan renegosiasi dengan buyers didukung banyak pihak. Yang menjadi persoalan adalah sikap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan jajarannya yang sibuk memberikan justifikasi terhadap rendahnya harga tersebut.

“Sulit dipercaya, bagaimana mungkin, menteri ESDM, jajaran di Ditjen Migas, dan BP Migas tidak menindaklanjuti langkah progresif Wapres untuk melakukan renegosiasi kontrak penjualan gas Tangguh,” ujarnya kemarin.

Marwan menyesalkan sikap pejabat-pejabat di lingkungan migas yang sibuk menjustifikasi kesalahan-kesalahan yang dibuat di masa lalu. “Mereka bukannya merumuskan dan menegosiasikan revisi kontrak Tangguh, tapi berperan menyuarakan kepentingan pembeli gas dari Tiongkok,” sebutnya.

Marwan yang juga koordinator Penyelamat Kekayaan Negara itu menilai perlunya merombak personel di jajaran Departemen ESDM. “Mereka telah bertindak seolah-olah sebagai wakil asing dibanding wakil pemerintah. Purnomo adalah salah satu pejabat yang harus dituntut mempertanggungjawab kan kerugian kontrak Tangguh. Kita tuntut agar panitia angket BBM juga mengusut kasus ini,” katanya.

Harga jual LNG Tangguh saat kontrak disepakati pada awal 2000-an hanya USD 2,4 per MMBTU (million metric british thermal unit) dengan patokan harga minyak mentah USD 25 per barel. Kemudian, harga dinegosiasikan kembali pada 2006 dan diperoleh harga USD 3,8 per MMBTU.

Padahal, saat ini harga jual gas (seperti LNG Bontang yang dijual ke Jepang) mencapai USD 20 per MMBTU dengan harga patokan minyak di kisaran USD 120 per barel.

Pendapat Marwan diamini pengamat perminyakan Dr Kurtubi. Dia menilai pemerintah Indonesia harus siap mengambil opsi memutus kontrak jika pihak CNOOC (The China National Offshore Oil Corporation) , operator LNG Tangguh, enggan merenegosiasi kontrak LNG Tangguh.

“Kalau pembeli luar negeri tidak mau perbaiki formula harga jual, atau kenaikannya kecil, sebaiknya putus langsung, tidak usah kirim ke luar negeri. Lebih baik bayar default USD 300 juta daripada melanjutkan kontrak yang merugikan itu,” jelasnya.

Langkah tegas tersebut perlu dilakukan untuk mengakhiri kerugian negara yang diperkirakan mencapai USD 4 miliar (lebih dari Rp 36 triliun). “Di seluruh dunia kontrak itu harus menguntungkan kedua belah pihak. Perkiraan saya, paling tidak potensi kerugiannya USD 4 miliar,” kata saksi ahli hak angket BBM itu.

Di tempat terpisah, Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai berbagai pihak tidak perlu berpolemik. Yang harus menjadi perhatian utama adalah menaikkan harga kontrak gas tersebut.

“Negosiasi itu harus menghasilkan formula sesuai kewajaran dan dapat diterima kedua pihak. Sebab, cadangan gas sebesar 14 tahun konsumsi LNG domestik itu kok dijual dengan harga murah dan flat atau tidak sejalan dengan fluktuasi harga minyak,” imbuhnya.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro saat dikonfirmasi mempersilakan berbagai pihak melakukan investigasi. “Silakan saja investigasi. Kita tidak ada masalah, karena yang kita lakukan transparan. Jangan dilihat harga rendah tidak menguntungkan. Sebab, waktu itu harga rendah dan EPC kontrak rendah,” jelasnya.

Mantan presiden OPEC itu menambahkan, pembangunan LNG Tangguh cost-nya juga rendah, sehingga harga kontrak yang dianggap rendah itu masih menguntungkan Indonesia.

Sebelumnya, sikap ragu-ragu untuk menegosiasi ulang Tangguh juga ditunjukkan Dirjen Migas Evita H. Legowo. Mantan staf ahli Purnomo itu mengakui sulit mengetahui harga yang tepat untuk gas, karena harus memperhatikan banyak hal. Misalnya, lokasi sumber gasnya, dikirim ke mana, termasuk harus memperhitungkan biaya angkut. (iw/owi/el)

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: