Satu lagi alasan kenapa sebaiknya kita menimbun emas

Saya jarang membaca koran atau majalah. Paling-paling hanya headlinenya
saja. Dan beberapa minggu lalu muncul hal baru yang menjadi headline
berjudul Visi 2030. Intinya ialah pendapatan perkapita, GDP Indonesia
akan mencapai $ 18.000 (delapan belas ribu US dollar) per tahun dan
Indonesia menjadi ekonomi dunia ke 5. Kemudian heboh antara SBY dan Amin
Rais dalam kasus dana sumbangan pemilihan presiden. Hal ini membuat saya
tergelitik untuk menulis opini ini, sekalian untuk menyambut ulang tahun
lahirnya Pancasila, yang dengungnya sudah pudar. Saya juga ingin
mengungkapkan kejahatan-legal yang berkaitan dengan kemakmuran dan tidak
pernah diungkapkan di media massa.

Dalam masalah kemakmuran GDP $18.000 per kapita, saya skeptis. Sebabnya
ialah sepanjang hidup saya, dengan pergantian tiga (3) jaman, yaitu
jaman Orde Lama Sukarno, Orde Baru Pembangunan Lepas Landas Suharto, dan
jaman Reformasi Otonomi Daerah, kemakmuran tidak beranjak kemana-mana,
bahkan turun. Saya juga skeptis terhadap adanya perbaikan karena
pergantian kabinet yang baru saja terjadi. Hal ini karena data ekonomi
mengatakan demikian dan itu akan kita lihat dalam seri tulisan ini.

Mengenai Visi 2030 butir pertama, bahwa GDP $ 18.000 per kapita mungkin
bisa tercapai. Tetapi GDP $ 18.000 per kapita tidak identik dengan
kemakmuran. Artinya, tingkat hidup dan tingkat kemakmuran bangsa
Indonesia tidak akan beranjak kemana-mana dengan kenaikan dari $1.490
GDP per kapita saat ini ke $18.000 di tahun 2030. Sedang untuk butir
kedua – ekonomi nomer 5 dunia, saya tidak yakin bisa tercapai. Saya akan
jelaskan berdasarkan sejarah dan akal sehat, kenapa saya skeptis. Saya
hidup di tiga (3) jaman yaitu Jaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba)
dan Jaman Reformasi. Jadi saya betul-betul mengenal ketiga jaman itu.
Jaman sebelumnya juga akan disinggung yaitu Jaman Normal (itu istilah
nenek kakek kita). Tetapi dasarnya hanya cerita para orang-orang tua
saja dan untuk hal ini pembaca boleh dipercaya atau tidak.

Sebelum melanjutkan kepada inti cerita, ada baiknya pembaca dikenalkan
dengan jenis-jenis mata uang rupiah yang pernah beredar di republik ini
dan kurs antar mata uang ini.

1. Rupiah ORI (Oeang Repoeblik Indonesia – Rp ORI)
2. Rupiah setelah Gunting Sjafruddin – GS, (Rp 5 GS = Rp 10 ORI)
3. Rupiah Orde Lama (Rp 1 Orla = Rp 10 GS)
4.Rupiah Orde Baru (Rp 1 Orba = Rp 1000 Orla)

Untuk mata uang jaman Belanda untuk mudahnya disebut rupiah kolonial,
gulden. Kurs uang jaman Normal (jaman Penjajahan) tidak sederhana karena
ada selingan jaman Jepang yang pendek dan kemudian ada NICA
(pemerintahan Belanda pendudukan). Tetapi hal itu tidak perlu dirisaukan
karena ada tolok ukur tandingan akan kita gunakan sebagai ikuran
kemakmuran, yaitu uang sejati, yang disebut emas. Saya katakan uang
sejati karena, jika anda beragama seperti Islam atau Kristen, maka hanya
emas dan perak saja yang disebut dalam kitab suci kedua agama tersebut.
Quran hanya menyebut dinar (uang emas) di surat Kahfi dan dirham (perak)
di surat Yusuf. Dan fulus tidak akan pernah dijumpai di Quran. Demikian
di Perjanjian Lama, akan anda jumpai banyak cerita emas dan perak
sebagai uang.

*Masa Sekarang – Jaman Reformasi = Jaman Jutawan Kere*

Kata jutawan saat ini tidak punya konotasi kaya raya. Misalnya seorang
supir taxi di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.100.000 Orba (terbilang:
satu juta seratus ribu rupiah uang Orba) per bulan bisa disebut jutawan
karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Kenyataannya bahwa
hidupnya masih penuh dengan keluhan karena untuk makan ukuran warung
Tegal saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia mempunyai istri
dan 2 anak, berarti harus punya 3 x Rp 40.000 per hari untuk makan.
Jangan heran jutawan ini tidak mampu makan di warung Tegal sekeluarga
setiap hari. Di samping mereka harus mengeluarkan 3 x Rp 1.200.000 per
bulan yang lebih besar dari penghasilannya, mereka juga punya keperluan
lain seperti bayar sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa rumah sangat
sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit (RSSSSSSSSS), rumah
petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000, ongkos
transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 – 200.000. Jadi bisa dimengerti
kalau saya sebut Jutawan Kere karena mempunyai karateristik bahwa makan
harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah
di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bisa
mencapai puluhan juta rupiah). Dan kalau perlu istri harus kerja untuk
memperoleh tambahan penghasilan keluarga.

Jaman reformasi ditandai oleh tumbangnya Orde Baru dan kobaran semangat
demokratisasi, kebebasan berpolitik dan otonomi daerah. Di bidang
ekonomi, baru 1 dekade setelah dimulainya era reformasi (tahun 1997 –
1998) baru muncul visi ekonomi ke depan yaitu visi 2030. Sebelumnya,
mungkin politikus menciptakan presepsi bahwa ekonomi akan membaik jika
jumlah anggota legislatif, team anti korupsi, dewan penasehat presiden
dan pelaku politik bertambah. Ekonomi (GDP) tumbuh sekitar 3% – 7% per
tahunnya dari US$ 880 per kapita menjadi US$ 1.490 (US$ 1 = Rp 9.150)
antara tahun 2000 sampai 2006. Kalau dihitung dengan US$ selama 6 tahun
GDP per kapita Indonesia naik 69%!!! Tetapi kenapa makin banyak yang
sengsara, beban hidup semakin berat, perlu adanya pembagian beras miskin
(raskin) dan operasi pasar? Harga bahan pokok dan non-pokok naik
berlipat ganda kendatipun tingkat inflasi hanya sekitar 5% (tetapi
pernah 17% sekali dalam kurun waktu 5 tahun itu). Dalam 5 tahun
belakangan ini beras sudah naik dua kali lipat. Juga gula, jagung, gula,
rumah, minyak goreng, minyak tanah, coklat, kedele, ikan asin dan
sederet lagi. Kalau tolok ukurnya diganti dengan emas maka GDP per
kapita tahun 2000 adalah 99 gram emas turun menjadi 71 gram emas. Emas
naik dari Rp 100.000 per gram di tahun 2000 menjadi Rp 200.000 per gram
di tahun 2007. Dalam ukuran emas, GDP per kapita Indonesia turun 29%!.
Kalau kita percaya bahwa emas mempunyai korelasi dengan harga barang
maka wajar kalau kualitas hidup, kualitas kemakmuran turun 29%.

Lalu bagaimana dengan angka-angka statistik yang mengatakan bahwa
inflasi Indonesia hanya sekitar 5%? Tanyakan saja pada yang membuat
statistik. Tetapi Mark Twain mengatakan: “There are lies, damn lies and
statistics- – Ada tipuan, ada tipuan canggih dan ada statistik. Pembaca
akan melihat lebih banyak lagi dalam tulisan ini bukti-bukti statistik
yang tidak lain kebohongan canggih. Kata-kata Mark Twain ini menjadi
nyata kalau kita melihat pertumbuhan ekonomi di jaman Orba.

*Masa Orde Baru – Jaman Pelita, Tinggal Landas dan Nyungsep*
Secara sederhana jaman Orba bisa disebut jaman dimana harga-harga
tinggal landas dan ekonomi akhirnya nyungsep. Mulainya Orde Baru (Orba)
ditandai dengan beberapa hal penting dibidang keuangan dan pembangunan.
Di bidang moneter, uang Orla dihapuskan dan Rp 1000 (Orla) menjadi Rp 1
(Orba) pada bulan Desember 1965. Sebabnya (mungkin) untuk mempertahankan
arti kata jutawan. Seorang jutawan seharusnya mempunyai status
sosial/ekonomi yang tinggi di masyarakat. Tetapi pada saat itu mengalami
penggerusan makna. Untuk menggambarkan situasinya, tahun 1964 uang Rp
1000 (Orla) bisa untuk hidup sekeluarga 1 hari. Tetapi tahun 1967 uang
itu hanya bisa untuk beli sebungkus kwaci. Sulit bagi orang awam untuk
menerima kenyataan yang sudah berubah dalam waktu yang demikian singkat.
Seorang jutawan tadinya berarti kaya raya berubah maknanya menjadi
pemilik 1000 bungkus kwaci. Hal ini hanya berlangsung dalam kurun waktu
3 tahun dari tahun 1964 sampai 1967, cepat sekali.

Pemotongan nilai nominal dari Rp 1000 (Orla) ke Rp 1 (Orba) bisa juga
dikarenakan gambar Sukarno pada design uang Orla itu sudah membosankan.
Itu hanya rekaan saya saja. Yang tahu pastinya hanya para pejabat di
Bank Indonesia pada saat itu.

Awal dari Orba, mahasiswa melakukan tuntutan yang dikenal dengan Tritura
(tiga tuntutan rakyat) yaitu Bubarkan PKI, Bentuk kabinet baru dan
Turunkan harga. Untuk membubarkan PKI dan membentuk kabinet sangat
mudah. Tetapi untuk menurunkan harga? Tidak pernah terjadi sampai Orba
tumbang 3.5 dekade kemudian. Bahkan walaupun beberapa mentri yang duduk
di kabinet Orba selama beberapa masa bakti dulunya adalah aktifis
mahasiswa yang meneriakkan Tritura, harga-harga tidak pernah turun. Itu
fakta. Saya tidak tahu apakah mereka lupa atau tuntutan itu tidak
penting bagi.

Pembangunan di jaman Orba direncanakan melalui tahapan 5 tahun yang
dikenal dengan Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Pertumbuhan ekonomi
melesat, 7% – 10% katanya. Karena tingginya angka pertumbuhan itu, maka
menjelang pertengahan dekade 90an, mulai dihembuskan istilah tinggal
landas, swasembada pangan, sawah sejuta hektar dan entah apa lagi.
Tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1997-1998, mungkin karena
keberatan beban, pada saat tinggal landas, terpaksa nyungsep, import
pangan, kurang pangan dan nasib sawah sejuta hektar entah bagaimana.

GDP pada awal Orde Baru (katakanlah menjelang tahun 1970) adalah $ 70
per kapita. Pada saat Orde Baru digantikan Orde Reformasi GDP Indonesia
menjadi $ 880 per kapita (tahun 2000). Jadi selama 30 tahun naik 12,6
kali lipat!!! Hebat?? (dengan tanda tanya). Saya pertanyakan pujian
untuk Orde Baru karena selama 30 tahun itu keluarga saya, tetangga saya,
handai taulan tidak bertabah kemakmurannya sebanyak 12,6 kali lipat. Dua
kali lipat pun tidak. Bagaimana mungkin lebih makmur kalau pada awal
Orba tarif bus dalam kota di Jakarta adalah Rp 15 dan pada akhir Orba Rp
1000, naik 7500%!! (Sekarang, 10 tahun kemudian sudah Rp 2500).
Mungkin anda membantah bahwa rupiah tidak bisa dijadikan ukuran. Oleh
sebab itu kita gunakan tolok ukur uang yang tidak ada tanda tangan
gubernur bank sentral, yaitu emas. Tahun 1970 harga emas adalah $35/oz
atau $1.13/gram. Jadi dalam emas, GDP Indonesia adalah 79 gram per
kapita. Sedangkan 30 tahun kemudian, tahun 2000 beranjak ke 99 gram per
kapita. Hanya 25% selama 30 tahun. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan
super selama 30 tahun itu? Kok cuma 25% saja? Itulah statistik, bentuk
tipuan yang canggih, seperti kata Mark Twain.

Catatan: Tidak hanya rupiah yang tergerus nilainya tetapi juga US dollar!

*Masa Orde Lama- Jaman Revolusi Berkepanjangan*
Sebut saja uang Orde Lama untuk uang rupiah yang beredar sesudah
kejadian pemenggalan satu (1) angka nol. Dimulai pada 25 Agustus 1959,
dan ditandai dengan tindakan pemerintah menurunkan nilai uang Rp 500
menjadi Rp 50 dan Rp 1000 menjadi Rp 100. Uang rupiah yang beredar
sebelum tanggal 25 Agustus 1956 (sebut saja uang hasil rekayasa Gunting
Sjafruddin atau GS) ditukar dengan dengan uang rupiah Orla. Dan Rp 500
GS diganti dengan Rp 50 Orla. Jadi angka nol nya hilang satu. Bukan itu
saja, simpanan giro yang ada di bank dibekukan dan deposito di atas Rp
25.000 dijadikan deposito berjangka panjang. Saya menyebutnya sebagai
penyitaan untuk negara. Karena 8 tahun kemudian uang yang Rp 25.000 itu
hanya cukup untuk membeli 3 bungkus kwaci.

Slogan seperti “Revolusi belum selesai- pada saat itu sering terdengar.
Saya tidak tahu apakah slogan itu bermakna bahwa akhir dari revolusi itu
identik dengan kemakmuran “gemah ripah loh jinawi-. Dalam hal
kemakmuran, seingat saya, kalau di tahun 1960 anjing saya bisa makan
0,25 kg daging per hari dan tahun 1966 saya harus makan dengan lauk 1
telor ayam kampung dibagi 3 orang. Dengan kata lain, sebenarnya pada
awal-awal dekade 60an, boleh dikata kemakmuran cukup baik, tetapi
kemudian merosot terus, karena banyak tenaga dan usaha diarahkan ke
Trikora, Dwikora dan melanjutkan revolusi (apapun artinya). Puncak
penghancuran ekonomi menjadi lengkap ketika G30S meletus dimana banyak
petani dan pekerja yang tergabung dalam organisasi di bawah naungan PKI
dihabisi dan mesin ekonomi macet karena fokus masyarakat tertuju pada
ganyang PKI dan akibatnya ekonomi babak belur.

*Masa Uang Gunting Sjafruddin*
Masa uang rupiah “gunting Sjarifuddin- dimulai pada bulan Maret 1950
sampai dihapuskannya dan digantikannya dengan uang rupiah Orba tahun
1959. Yang dimaksud dengan gunting Sjarifuddin ialah keputusan
pemerintah untuk menggunting pecahan mata uang rupiah di atas Rp 5
menjadi dua. Potongan bagian kanan tidak berlaku dan potongan sebalah
kiri berlaku dengan nilai hanya setengahnya. Dan rupiah pun didevaluasi
dari Rp 11,40 per US$ menjadi Rp 45 per US$. Artinya harga emas naik
dari Rp 13 per gram menjadi Rp 51 per gram. Pada waktu itu keadaan jadi
heboh. Pengumuman sanering (pengguntingan uang) ini dilakukan melalui
radio dan pada saat itu tidak banyak yang memiliki radio. Sehingga
mereka yang tahu kemudian berbondong-bondong memborong barang. Yang
kasihan adalah para pedagang, karena barang dagangannya habis, tetapi
ketika mereka hendak melakukan kulakan uang yang diperolehnya sudah
turun harganya. Modalnya susut banyak. Tetapi, bukan hanya pedagang yang
rugi, tetapi semua orang yang memiliki uang. Nilai uang susut paling
tidak 50% dalam sekejap saja.

Antara tahun 1950 sampai tahun 1959, walaupun Bank Indonesia melakukan
pembantaian terhadap para pedagang, penabung, pemilik uang di tahun
1950, tetapi kalau saya lihat, Indonesia masih tergolong makmur,
dibanding dengan kondisi sekarang, jaman reformasi. Indikator saya ialah
banyaknya mahasiswa yang berani berkeluarga dan punya anak pada saat
mereka masih kuliah. Pada jaman reformasi ini, untuk berkeluarga,
seorang mahasiswa harus lulus dan bekerja beberapa tahun dulu. Artinya,
dulu lebih makmur dari sekarang dan indikasinya adalah banyak mahasiswa
bisa bekerja dan memperoleh penghasilan yang bisa menghidupi keluarga.

*Masa ORI dan Perang Kemerdekaan – Merdeka Mencetak Uang Semaunya*
Masa yang paling kacau adalah mulai dari pendudukan Jepang sampai masa
perang kemerdekaan. Terlalu banyak otoritas keuangan (baca: Bank
Sentral). Bermacam-macam uang dikeluarkan selama periode ini. Dari uang
pendudukan Jepang yang dikeluarkan beberapa bank, uang NICA (pendudukan
Belanda), uang daerah Sumatra Utara, Banten, Jambi, dan deret lagi di
daerah repupblik. Bahkan di Yogya ada paling tidak dua jenis, yaitu yang
dikeluarkan oleh Pakualaman dan oleh Kraton Yogya. Kita bicara saja uang
republik yang paling resmi yaitu ORI – Oeang Republik Indonesia,
walaupun sebenarnya uang-uang lainnya berlaku (kecuali uang pendudukan
Jepang yang ditarik pada tahun 1946). Ketika ORI dikeluarkan dengan
dektrit no 19 tahun 1946 pada tanggal 25 Oktober 1946 mempunyai nilai
tukar terhadap uang sejati (emas) Rp 2 = 1 gram emas. Jadi Rp 1 ORI pada
saat dikeluarkan punya nilai dan daya beli setara dengan Rp 100.000 uang
sekarang (tahun 2007).

Pada saat dikeluarkannya, mungkin bank sentral republik waktu itu masih
naif, (mungkin juga tidak) mereka membagikan Rp 1 kepada setiap warga
negara, anak-anak, pemuda, orang tua, semua dapat bagian. Mertua saya
menceritakan betapa senang dia mendapat uang itu bagai mendapat durian
runtuh. Dia pakai untuk jajan. Awalnya uang Rp 1 ORI bisa dipakai untuk
beli nasi dan lauk pauknya beberapa porsi. Setelah beberapa hari
pedagang menaikkan harga-harga. Tindakan para pedagang bisa dimaklumi
karena uang tidak enak dan tidak mengenyangkan, lain halnya dengan
makanan atau pakaian yang mempunyai manfaat yang nyata.

Saya katakan jaman itu sebagai jaman kebebasan mencetak uang, contohnya
ialah, pada tahun 1946 pecahan terbesar adalah Rp 100. Tahun 1947
pecahan terbesar naik menjadi Rp 250, kemudian dicetak lagi Rp 400 pada
tahun 1948. Tidak hanya itu, banyak daerah seperti Sumatra Utara, Jambi,
Banten, Palembang, Aceh, Lampung dan entah mana lagi juga mengeluarkan
uangnya sendiri. Bahkan, kata mertua saya, di Jogya, ada dua uang
daerah, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan yang dikeluarkan
Keraton Jogya. Tidak heran kalau harga-harga tidak terkendali. Sebagai
patokan, pada saat ORI dikeluarkan, nilai tukarnya terhadap uang sejati
(emas) 1gr emas = Rp 2 dan setelah gunting Sjafruddin diberlakukan 1 gr
emas = Rp 51 hanya dalam kurun waktu 4 tahun.

*Masa Jaman Nornal*
Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman
penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80
tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum
tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang
direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena
untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang
tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri.
Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu
adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan
sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat
pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada
pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak
anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit
nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang
konotasi negatif lainnya.

Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif,
kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal.
Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bisa
dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman
Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana
alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12
dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya
40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung).
Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk
membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang
pas-pasan.

Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan
kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar.
Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan
minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan
200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan
dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan
200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar.
Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau
rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bisa
makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8
juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harus
diperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50
gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini
mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi
rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak
perlu kerja.

Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi
nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.

Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu.
Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau
jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak
normal).

*Catatan Akhir dan Renungan*
Kalau ditanyakan mengenai kemakmuran kepada pelaku ekonomi, selama 80
tahun terakhir, yang disebut Indonesia atau dulunya Hindia Belanda,
tidak semakin makmur bahkan sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi yang
spektakuler yang dilaporkan data-data statistik mengikuti kaidah Mark
Twain: There are lies, damn lies and statistics. Kalau anda merasa
heran, kenapa orang percaya pada janji para politikus, kata Adolf
Hitler: “Make the lie big, make it simple, keep saying it, and
eventually they will believe it- (Buatlah kebohongan besar dan susunlah
sesederhana mungkin, dengungkan terus dan akhirnya orang akan percaya).
Setiap jaman di republik ini punya tema kebohongan. “Merdeka- dan
“revolusi- jaman Sukarno, “Pembangunan-, “Lepas Landas- di jaman
Suharto, dan “Demokrasi, Otonomi Daerah, Reformasi- jaman sekarang.
Kalau janji demi janji didengungkan terus menerus seperti yang dilakukan
Hitler dan mentri propagandanya Joseph Goebbels, orang akan percaya,
kecuali orang yang berpikir dan menganalisa.

Kemakmuran tidak bisa diciptakan dengan membuat undang-undang atau
aktifitas-aktifitas berpolitik. Apakah padi akan tumbuh lebih subur atau
minyak sawit keluar lebih banyak karena para politikus dan birokrat
bersidang lebih lama atau undang-undang bertambah banyak? Atau orang
lebih banyak ikut partai politik, organisasi kedaerahan? Untuk orang
berpikirnya sederhana seperti saya ini, padi hanya akan tumbuh subur,
kebun hanya akan berbuah lebih banyak, pabrik hanya bisa menghasilkan
sepatu yang lebih banyak dan baik kalau orang bekerja di sawah, kebun
atau pabrik lebih effisien dan lebih giat. Jadi kalau selama 6 dekade
trendnya bukan terfokus pada aktifitas langsung untuk menaikkan
kemakmuran, maka jangan mengharapkan hasil yang berbeda. Hanya orang
gila atau idiot yang mengharapkan hasil yang berbeda sementara apa yang
dikerjakan dan cara mengerjakannya sama. Itulah sebabnya saya skeptis
bahwa GDP US$ 18.000 per tahun identik dengan kemakmuran. Saya tidak
yakin kemakmuran akan dicapai dalam 2-5 dekade ke depan.

Nkristan

3 Tanggapan

  1. Duhhhh, panjangnya boss

  2. betul tuh…boozzz
    masalahnya emas dah g maen sbg hedging inflasi skrg
    maennya minyak…..energy

  3. Ya…emas menjadi investasi dari jaman purbakala…hanya saja negara kita sebagai bahan tamabang emas terbesar di dunia belum merasakan khususnya rakyat Papua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: