Melirik Investasi di Indonesia dan USA

Sekedar berbagi cerita aku cuplikan dari forum tetangga … soal investasi di indonesia dan usa setelah melihat tanda-tanda ke- ekonomian indonesia.. spertinya pendapat saudara kita di forum sebelah ada baiknya kalo kita ikut hati-hati berinvestasi di saham saat ini..

=====

Melirik Investasi di Indonesia dan USA

DISCLAIMER : Yg saya tulis di sini adalah murni sekedar sharing pendapat pribadi saja. Jawaban saya akan selalu saya berikan dengan memberikan dasar pemikirannya, sehingga jika dasar pemikiran saya dianggap tidak valid, maka jawaban saya harap dicuekin saja. Segala pendapat saya, jika dipakai, maka keputusan investasi itu adalah sepenuhnya keputusan masing-masing sehingga resiko pun menjadi tanggung jawab masing-masing.

Ok, sekarang baru tenang jawabnya….hahaha. Saya coba jawab deh (walaupun pertanyaan-pertanyaan saya di post sebelumnya belum dijawab)

Mengenai Investasi di Indonesia

Bagi teman-teman yg rajin dengerin saya “ngoceh” (heran jg kok ada ya yg mau dengerin saya ngoceh), mungkin sudah tau kira-kira jawaban saya.

jika kita berbicara tentang reksadana saham di Indonesia, pendapat saya pribadi adalah bahwa Market saat ini berada pada tingkat yg “dangerous”/berbahaya. Kenaikan dalam 5 tahun terakhir terlalu “fantastis”, hingga sekarang IHSG bahkan performanya mengalahkan index China.

Saya pribadi tidak akan menaruh uang saya di instrumen saham Indonesia saat ini. Mengapa? Ada beberapa alasan.

Pertama, orang yg jarang baca berita ekonomi pun bisa tahu bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidaklah spesial, terlebih jika dibandingkan dengan China. Jika sampai IHSG bisa mengalahkan index bursa saham China, pasti ada yg tidak “beres”, krn seharusnya bursa itu merupakan cermin dari perekonomian suatu negara.

Bro dunkz, dalam postingnya di thread RD, sempat ngomong kalau IHSG tidak menggambarkan kondisi ekonomi indonesia karena hanya sedikit persentase perusahaan yang listed.

Tentunya ini juga mengandung resiko karena berarti IHSG itu hanya terdiri dari beberapa perusahaan yg umumnya bergerak di sektor-sektor tertentu saja (komoditi, perbankan dan telekomunikasi).

Ini yg menjadi alasan kedua mengapa saya kurang menganjurkan utk investasi di bursa saham Indonesia pada saat ini (ini tentunya dengan tingkat harga yg sekarang, jika market crash, maka tentu akan lain lagi kisahnya). Jika sektor-sektor ini “ambruk”, maka tidak ada sektor lain yg bisa menunjang IHSG itu.

Meskipun ada kemungkinan Mr. Market akan “semakin menggila” sehingga IHSG naik hingga ke level lebih tinggi, saya rasa kemungkinannya kecil. Sedangkan kemungkinan rugi (downside)-nya saya rasa cukup besar. Oleh karena itu saya tidak menyarankan utk menambah porsi investasi di instrumen saham Indonesia, baik langsung maupun melalui Reksadana.

——-

Bagaimana dgn reksadana Obligasi? Biasanya, jika investasi dalam instrumen saham dianggap “beresiko”, maka obligasi menjadi alternatifnya. Tentunya jika kita investasi di obligasi, salah satu harapan kita adalah suku bunga di kemudian hari akan turun, sehingga nilai dari obligasi kita naik.

Terus terang saja, saya juga ragu bahwa pemerintah RI akan dapat menurunkan suku bunga di saat ini. Jika dapat pun, penurunan suku bunga akan sangat terbatas dan kecil nilainya. Hal ini karena tangan pemerintah “terikat” oleh tingkat inflasi dan juga kurs yg akan melemah jika bunga diturunkan.

Satu kekhawatiran saya adalah justru jika tingkat inflasi semakin naik, sehingga pemerintah terpaksa menaikkan suku bunga utk menekan tingkat inflasi itu. Melihat kondisi di Indonesia saat ini, kemungkinan ini bukanlah sesuatu yg mustahil terjadi. Jika ini terjadi, maka investor obligasi akan mengalami kerugian dalam bentuk turunnya harga obligasi, terutama obligasi jangka panjang (yg sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga).

Untuk itu, pendapat saya pribadi, lebih baik utk investasi obligasi di Indonesia, pada saat ini, dibatasi kepada instrumen obligasi jangka pendek. Dan untungnya saat ini, sudah ada ORI, yg jangka waktunya pendek, sehingga pengaruh suku bunga kecil. Jika sampai turun harganya, nilai penurunannya pun tidak seberapa, dan jika kita mau, kita bisa menunggu hingga ORI itu cair, krn temponya hanya 3 tahun (atau 4 thn, tergantung serinya).

Kesimpulan: Pendapat pribadi saya, investasi di Indonesia saat ini yg tidak terlalu riskan adalah investasi di obligasi jangka pendek, baik terbitan pemerintah (ORI & SUN jangka pendek) atau juga obligasi perusahaan yg bagus, yg berjangka pendek juga.

Mengenai Investasi di Amerika

Utk investasi di Amerika, utk saham, terus terang saya tidak berani menyarankan utk masuk saat ini (Meskipun demikian, saya juga tidak berani utk bilang jangan masuk, di bagian belakang post ini saya ada cara yg mungkin bisa dipakai utk “masuk” ke bursa saham saat ini).

Hal ini karena pandangan saya tentang ekonomi amerika saat ini tidak terlalu bagus. Mungkin jika Mazel sempat, bisa baca posting-posting saya tentang kondisi amerika, misalnya ttg subprime, CDO, Credit Default Swap, dll (link di hal.1). Dari situ Mazel bisa melihat alasan mengapa saya agak meragukan kondisi bursa Amerika saat ini.

Pertumbuhan bursa pun dalam 3 tahun terakhir agak mengkhawatirkan tingkatnya. Dari tingkat Dow Jones 10000 hingga mencapai titik 11.000 (naik 10%), bursa membutuhkan waktu 2 tahun lebih (Dec 03-Jan 06). Tetapi dari 11.000 ke 12.100 (lagi lagi naik 10%), Dow Jones cuma butuh 10 bulan (Jan 06-Oct 06). Dari 12.100 ke 13.310 (naik 10%)?? Hanya butuh waktu 6 bulan (Oct 06-Apr 07).

Selama pengamatan saya dalam masa itu, pertumbuhan dalam index itu didorong oleh ramainya Merger dan Akuisisi (M&A) yg dilakukan oleh berbagai Hedge Fund dgn menggunakan instrumen hutang (leverage). Setiap kali terjadi merjer dan akuisisi, index langsung melonjak drastis. Pada kondisi saat ini, saya sangat meragukan ini bisa terjadi lagi, mengingat adanya krisis kredit di Amerika, sehingga bank-bank enggan memberikan pinjaman mengingat kondisi keuangan mereka sendiri sangat “riskan”.

——-

Bagaimana dengan obligasi? Lagi-lagi sama kasusnya dgn di Indonesia, pada saat ini, saya rasa pemerintah USA tidak bisa menurunkan suku bunga lebih banyak lagi. Paling-paling hanya sekitar 0,25% (ada yg berpendapat ada kemungkinan bisa turun 0,5%, tetapi saya agak ragu ini bisa terjadi).

Tingkat inflasi Core CPI USA (yg tidak menghitung kenaikan harga makanan dan BBM) saja sudah mencapai 2%, dan akan lebih jika menghitung kenaikan harga makanan dan BBM. Ini akan membatasi kemampuan pemerintah USA utk menurunkan suku bunga, bahkan jika inflasi semakin menggila, bukan tidak mungkin suku bunga bisa dinaikkan (meskipun akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi).

Jika sampai kasus ini terjadi, maka lagi lagi investor obligasi, terutama obligasi jangka panjang akan mengalami kerugian. Terlebih lagi harga obligasi amerika saat ini agak “mahal” (trading at premium), sehingga agak kurang menarik.

Jika memang tetap ingin investasi di obligasi di USA (baik langsung ataupun lewat Reksadana/mutual fund), saya sarankan utk invest di obligasi yg berjangka pendek juga (maturity < 2 thn)

Ada satu tambahan : Utk market USA mazel boleh mempertimbangkan utk mengadopsi metode DCA (Dollar Cost Averaging) dalam saham. Ini artinya setiap bulan (atau setiap kuartal) mazel komitmen utk investasi dalam jumlah yg sama (misalnya $100). Tentang keuntungan metode DCA ini sudah pernah saya posting…linknya ada di halaman 1. Di Indonesia setahu saya belum ada broker yg melayani ini.

Mungkin ada yg kepikir, $100 bisa beli saham apa??? Ada brokerage online yg mempunyai program scheduled investment spt ini. Mereka tidak pakai minimum account, lalu nilai investasi setiap kalinya pun tidak dibatasi ($50 pun bisa). Kita tetap bisa membeli saham-saham spt google, atau bahkan berskhire (milik Warren Buffet), tetapi yg kita beli di broker itu adalah “fractional share” (saham pecahan). Ibaratnya kita ramai ramai patungan beli 1 lembar saham..hahahaha…

Jika mazel tertarik dgn cara ini, mazel bisa coba lihat lihat di http://www.sharebuilder.com, atau http://www.buyandhold.com

(saya nggak ada terima komisi dari mereka loh..hahahaha)

Kesimpulan : (Menurut pendapat pribadi saya)

* Jika ingin masuk investasi dalam instrumen saham, gunakan metode DCA dgn menggunakan broker broker yg mempunyai layanan Scheduled Investment. Ini agar kita menghindari resiko mistiming (masuk ke market ke saat yg salah). Batasi pilihan stock pada ETF index spt DIA ataupun SPY.

* Jika ingin investasi obligasi amerika (melalui Reksadana ataupun membeli langsung), batasi pada obligasi jangka pendek, dan jika melalui reksadana masuk ke reksadana money market.

EDIT: Dalam posting ini saya ada menuliskan jatuh tempo/maturity ORI yg 3 thn. ORI seri 1 dan seri 2 jatuh tempo memang 3 thn, tetapi ORI seri 3 dan 4 jatuh temponya 4 thn. Thx buat antialias atas inputnya

sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=28981420&postcount=624

Satu Tanggapan

  1. Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/melirik_investasi_di_indonesia_dan_usa/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: